Elvan melempar ponselnya ke atas kasur, matanya memanas oleh rasa kesal. Berita tentang Randy dan Viona kini menghiasi setiap sudut media sosial. Mereka tertangkap kamera keluar dari sebuah klub malam bersama, dengan Viona terlihat memapah Randy masuk ke mobilnya. Kini semua orang menduga kalau Randy memiliki hubungan khusus dengan artis cantik tersebut.
Ini bukan pertama kalinya Randy diisukan dekat dengan Wanita cantik. Sepanjang kariernya, gosip soal kedekatannya dengan artis, penyanyi, atau model selalu menjadi bahan berita. Tapi tidak ada yang tahu kalau Randy tidak pernah merasakan jatuh cinta lagi setelah kepergian istri rahasianya, Sheilla. Elvan menyadari bahwa Randy begitu mencintai Sheilla, sampai-sampai ia harus berpura-pura membenci Sheilla untuk menyembunyikan fakta bahwa hatinya begitu hancur atas kematian Sheilla. Tapi satu hal yang Elvan tak mengerti. Kenapa Randy bersikap dingin kepadanya? Elvan tahu wajar bagi Randy untuk menyembunyikannya dari publik, karena ia adalah aib bagi Randy. Sebuah kesalahan yang harus disembunyikan selamanya demi reputasi Randy. Elvan tak pernah menuntut Randy untuk mengakuinya di hadapan dunia. Tapi setidaknya Elvan ingin Randy menganggapnya ada saat mereka hanya berdua di apartemen, tanpa sorotan dari media. Elvan merasa tidak ada salahnya bagi Randy untuk bersikap sebagai seorang ayah saat tidak ada yang melihat. Tapi Randy selalu dingin, selalu menghindar.
Andai saja Sheilla masih ada, mungkin hidup Elvan tidak akan terasa sepi dan terabaikan seperti ini. Elvan tidak bisa mengingat kenangannya dengan ibunya itu. Dia masih terlalu kecil saat Sheilla meninggalkan apartemen, sekitar dua tahun. Hanya foto Sheilla yang ia dapatkan dari Mario yang memberinya sedikit koneksi dengan sosok ibu yang kini hanya menjadi bayangan.
Tak lama kemudian, ponsel Elvan berdering. Layar menunjukkan nama yang membuat hatinya sedikit tenang—Kirana. Perempuan itu dulu adalah baby sitter yang menjaga Elvan ketika dia masih kecil. Meskipun sekarang Kirana sudah memiliki karier yang mapan sebagai pegawai kantoran, perhatian dan kasih sayangnya tak pernah luntur. Bagi Elvan, Kirana adalah secercah cahaya di tengah kesepiannya—sosok yang selalu membuatnya merasa dipedulikan, meskipun hubungan mereka bukan darah.
"Kak Kirana," suara Elvan terdengar lesu saat ia mengangkat panggilan itu.
"Hei, kamu baik-baik aja El?" suara lembut Kirana di seberang telepon terasa menenangkan.
"Ya... gitu."
Kirana tertawa renyah mendengar jawaban Elvan yang tidak jelas itu, "ya gitu gimana?"
Elvan tak menjawab lagi, hanya ikut tertawa.
"Kamu minum obat setiap hari kan?" tanya Kirana kemudian.
"Iya, minum kok Kak."
"Kakak hari ini pulang cepat, kamu mau kakak datang kesana?" tawar Kirana dengan nada penuh perhatian.
Elvan terdiam. Di satu sisi, ia tidak ingin merepotkan Kirana, apalagi mengganggu kesibukannya. Namun, di sisi lain, ia sangat merindukan sosok yang bisa membuatnya merasa sedikit lebih utuh, sedikit lebih dicintai.
"Boleh," jawab Elvan akhirnya, sedikit lega.
Kirana tersenyum lembut dari seberang telepon. "Oke, Kakak bakal segera ke sana. Kita bisa bicara lebih banyak nanti. Mana tahu kamu mau curhat kan? Hehehe..."
Elvan kembali ikut tertawa. Sepertinya Kirana tahu suasana hati Elvan tidak baik saat ini karena berita yang beredar di media sosial. Kirana memang selalu penuh perhatian dan selalu pengertian.
Setelah panggilan berakhir, Elvan duduk di tepi tempat tidurnya, memandangi ponsel di tangannya. Kehadiran Kirana selalu membawa kehangatan di tengah kekosongan hidupnya—seolah-olah, setidaknya untuk sementara waktu, ia tidak perlu memikirkan dinginnya sikap ayahnya.
Di luar jendela, langit mulai berwarna oranye, menandai matahari yang hampir tenggelam. Elvan berharap, meskipun hanya sejenak, kedatangan Kirana dapat memberi sedikit kehangatan yang hilang dari kehidupannya selama ini.
***
"Gimana rasanya jadi murid SMP? Seru nggak?" tanya Kirana dengan nada ceria saat ia duduk di samping Elvan, meletakkan es doger kesukaan remaja yang memiliki wajah yang cukup tampan itu di atas meja. Mereka kini duduk bersebelahan di area bar kecil dekat dapur apartemen.
"Lumayan," jawab Elvan singkat sambil memainkan sendok es dogernya.
Kirana menyipitkan mata, memperhatikan ekspresi Elvan. "Haduh... Sama Kakak nggak usah sok cool gitu, deh. Ini pasti latihan biar bisa tebar pesona ke cewek-cewek, ya?" godanya sambil tersenyum jahil, mencoba mencerahkan suasana.
"Ih, enggak lah!" Elvan merespons cepat, sedikit memerah karena digoda. Ia melirik Kirana dengan ekspresi setengah kesal, tapi senyum kecil terselip di sudut bibirnya, meski ia berusaha menutupinya.
Kirana tertawa pelan, senang karena akhirnya berhasil membuat Elvan tersenyum meski hanya sedikit. "Iya-iya, Kakak percaya kok," balasnya, masih tersenyum jahil. "Tapi kalau ada cewek yang kamu suka, jangan lupa cerita ke Kakak ya. Siapa tahu Kakak bisa kasih tips."
Elvan menggeleng sambil menunduk, kembali memainkan es dogernya. "Nggak ada cewek yang aku suka, Kak."
"Oke..." Kirana memutuskan berhenti untuk menggoda, suaranya berubah lebih lembut, "tapi ada yang mau kamu certain nggak?"
Elvan terdiam sesaat, sendoknya kini berhenti bergerak. Ia menatap Wanita anggun berjilbab di sampingnya itu dengan ekspresi penuh keraguan, seolah-olah sedang mempertimbangkan apakah harus membuka diri atau tidak. Kirana tahu, di balik tatapan itu ada banyak beban yang Elvan bawa, terutama tentang papanya.
"Biasa. Papa," kata Elvan akhirnya, suaranya datar, tapi di baliknya terdengar kekecewaan yang mendalam.
Kirana tahu kisah Elvan. Kirana tahu bagaimana saat dulu Elvan masih balita dan Randy tidak pernah memberikan perhatian yang seharusnya kepada Elvan. Kirana ingat Elvan kecil yang selalu bersemangat saat tahu Randy pulang, dan akan berlari menyambut Randy, mengharapkan sebuah pelukan hangat dari papanya itu. Tapi tak pernah Randy berikan. Kirana menyaksikan bagaimana Randy senantiasa bersikap dingin kepada Elvan, hingga membuat keceriaan Elvan hilang dan Elvan tumbuh menjadi anak yang sulit untuk terbuka serta diliputi kesedihan.
"Kakak udah lihat berita tentang papa kamu. Tapi kamu nggak usah terlalu pikirin, ya. Namanya juga artis, selalu nggak jauh-jauh dari gosip. Yang terpenting, kamu jangan menyerah untuk membuka hati papa kamu. Supaya hubungan kalian bisa lebih baik."
Elvan menghela napas panjang, rasa frustasi terlukis jelas di wajahnya. "Perempuan itu tadi malam ke sini, Kak. Dia nganterin papa pulang. Papa mabuk, dan dia... dia mau berbuat sesuatu yang nggak baik ke papa. Dia cuma manfaatin papa." Suaranya gemetar, jelas betapa marah dan khawatirnya dia dengan situasi tersebut.
Kirana terkejut dan menutup mulutnya, tak menyangka Elvan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri saat Randy sedang berada di situasi yang tak sepantasnya terjadi. Ia mengulurkan tangan, mengusap punggung Elvan dengan lembut, mencoba memberikan sedikit ketenangan.
"Aku khawatir dengan papa, Kak. Ada banyak orang yang mendekati papa cuma untuk memanfaatkan popularitas papa, cuma untuk berbuat yang nggak baik ke papa. Tapi papa bilang kalau hidupnya bukan urusanku. Papa selalu nggak mau aku masuk ke dalam hidupnya. Seandainya aku punya kekuatan untuk bisa melindungi papa..." Elvan berkata penuh keputusasaan.
"Elvan..." Kirana memanggilnya lembut, tangannya masih di punggung Elvan. "Kamu memang masih terlalu muda untuk terlibat dalam urusan dewasa seperti itu. Tapi bukan berarti kamu nggak bisa membantu. Do'akan papa kamu, supaya papa kamu bisa menjaga dirinya dan tahu batasan."
Elvan menunduk, matanya berkaca-kaca. "Tapi apa do'a aja cukup, Kak?"
Kirana tersenyum lembut. "Terkadang, do'a adalah cara kita mengungkapkan cinta dan perhatian kita yang paling dalam. Dan waktu papa kamu pulang, kasih papa kamu perhatian. Buat dia merasa dihargai. Siapa tahu, dari situ dia mulai membuka hatinya."
Elvan mengangguk pelan, meskipun hatinya masih terasa berat. Setidaknya, dengan Kirana di sisinya, dia merasa ada orang yang benar-benar peduli.
"Elvan...." Tiba-tiba secara samar terdengar suara seseorang dari luar memanggil Elvan. Pintu apartemen itu terbuka dari luar, dan wajah Mario muncul dari balik pintu itu.
"Elvan, ayah bawain makan ma... eh..." perkataan Mario terhenti saat ia menemukan Kirana di samping Elvan, "kamu kesini Kirana?"
Kirana tersenyum sopan, mengangguk. "Iya, Mas. Kebetulan hari ini nggak banyak kerjaan, jadi bisa pulang cepat. Makanya mampir ke sini sekalian lihat Elvan," jawabnya lembut.
Mario tersenyum mendengar jawaban Kirana. "Ya udah, sekalian aja makan malam bareng kita," katanya, sembari berjalan menuju meja makan dan meletakkan bungkusan makanan yang dibawanya.
"Nggak usah, Mas," Kirana menolak dengan halus. "Itu pasti makanannya cuma buat kalian berdua."
"Ah, gampang tinggal pesan lagi. Nggak masalah kok, sekali-sekali kamu ikut makan di sini. Biar lebih ramai," Mario bersikeras, mencoba menghilangkan rasa canggung Kirana. "Elvan pasti juga bosan makan malam cuma berdua sama aku terus. Iya kan, El?"
Elvan yang sejak tadi mendengarkan percakapan itu, mengangguk. "Iya, Kak. Makan di sini aja. Biar seru!"
Kirana tersenyum ragu, masih merasa sungkan. "Tapi... nggak enak kalau nanti Mas Randy pulang dan lihat aku makan di sini," katanya, merasa posisinya yang dulu hanya seorang baby sitter membuatnya sedikit canggung. Apalagi Randy adalah orang yang dingin.
Mario tertawa kecil, berusaha membuat Kirana lebih nyaman. "Nggak usah khawatir soal Randy. Dia nggak bakal masalahin itu, kok. Lagipula dia pulangnya selalu larut malam."
Elvan menimpali dengan suara polos, "Iya, Kak. Papa biasanya pulang pas aku udah tidur."
Meski masih merasa sedikit sungkan, Kirana akhirnya menyerah pada ajakan Mario dan Elvan. "Ya udah, aku ikut makan malam di sini. Tapi ngomong-ngomong maaf ya, aku cuma bawain dua es doger. Aku nggak tahu kalau Mas Mario bakal ke sini," ujarnya dengan nada menyesal.
Mario tertawa hangat. "Santai aja, nggak masalah. Aku pesenin makanan buat kamu ya? Mau apa?"
"Apa aja boleh, Mas," jawab Kirana tersenyum kecil, mencoba untuk tidak merepotkan.
"Ya udah, samain aja sama aku dan Elvan ya," Mario berkata ringan, membuat Kirana sedikit lebih nyaman.
"Iya Mas," jawab Kirana.
Setelah Mario memesan makanan tambahan, suasana di apartemen mulai terasa lebih cair. Ketiganya duduk bersama di meja makan kecil itu, bercanda ringan sambil menunggu pesanan datang. Kehangatan menyelimuti ruangan, seperti sebuah keluarga kecil yang harmonis. Dalam hati, Elvan bertanya-tanya, kalau Sheilla masih hidup, apakah dia akan merasakan momen-momen hangat seperti ini bersama Randy dan Sheilla?
***
"Jadi kamu udah dipromosiin jadi asisten manajer sekarang, Na?" tanya Mario di balik setirnya. Ia memutuskan untuk mengantarkan Kirana pulang, karena ia khawatir kalau Kirana pulang sendirian selarut ini.
Kirana yang duduk di samping Mario tertawa malu-malu, "iya Mas, Alhamdulillah. Aku nggak nyangka banget akhirnya aku dipercaya untuk mengemban jabatan itu," jawabnya rendah hati.
Mario tersenyum bangga. "Kamu memang hebat, Kirana. Dari dulu, kamu orangnya pekerja keras. Pantas aja cepet naik jabatan. Bentar lagi pasti jadi manajer, terus mungkin direktur," katanya dengan nada bercanda, tapi tetap penuh pujian.
Kirana tertawa mendengar khayalan Mario. "Hahaha... Aku biasa aja, Mas. Mas terlalu memuji."
"Bukan pujian kosong, Na. Dari dulu, kamu memang gigih banget. Aku ingat kamu kerja keras buat bayar kuliah, bahkan jadi baby sitter buat Elvan. Itu bukti kamu nggak pilih-pilih pekerjaan, dan kamu ngerjain semuanya dengan hati. Buktinya, sampai sekarang kamu masih perhatian sama Elvan," kata Mario sambil tersenyum, mengenang masa-masa ketika Kirana masih menjaga Elvan kecil.
Kirana tersipu malu mendengarkan pujian dari Mario itu, "aku memang sayang dengan Elvan, Mas. Karena Elvan udah aku rawat sejak umur dua tahun, udah kayak anak sendiri."
Mario tersenyum, tetapi di dalam hatinya, ada perasaan yang bergejolak. Ia terpesona dengan ketulusan Kirana, namun sadar bahwa ia tidak pantas untuk merasakan perasaan itu.
Mendadak, Mario bertanya dengan nada agak gugup, "Ngomong-ngomong, kamu udah ada rencana buat menikah?"
Kirana sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, tetapi ia menjawab dengan jujur, "Belum, Mas. Aku masih mau fokus karier dulu. Aku pengen ngebahagiain orang tua, mencukupi kebutuhan mereka, beliin rumah. Tapi kalau suatu hari nanti jodohku datang, aku pasti nggak akan nolak."
Jawaban Kirana membuat Mario merasa lega, meskipun ia tidak mengerti kenapa ia harus merasa begitu. Perasaan ini tak seharusnya ada, pikirnya. Tapi meskipun ia tahu ia jatuh cinta pada Kirana, dia juga sadar bahwa ia tidak pantas untuk mengungkapkan perasaannya.
"Kalau Mas sendiri gimana?" Kirana balik bertanya. Ia juga cukup penasaran karena selama ia mengenal Mario, Mario tidak pernah dekat dengan seorang Wanita pun. Padahal usia Mario sudah sangat cukup untuk menikah.
Mario tersenyum pahit, pandangannya tetap lurus ke jalan di depan. "Aku... belum, Na. Aku merasa nggak pantas buat jatuh cinta lagi."
Kirana menatap Mario heran, bingung dengan perkataan Mario. Mana mungkin ada orang yang tidak pantas untuk jatuh cinta dengan orang lain?
"Maksudnya gimana Mas?"
Mario menghela napas panjang, wajahnya berubah sendu, "Aku banyak ngelakuin kesalahan di masa lalu, Na. Aku udah ngerusak hidup banyak orang. Aku ngerusak hidup mantan pacarku, aku juga ngerusak hidup Randy dan Sheilla. Aku yang membuat Elvan hidup menderita. Aku ini cuma monster Na."
Kirana tertegun. Ia tidak pernah membayangkan Mario akan mengatakan hal seperti itu. Bagi Kirana, Mario selalu terlihat seperti sosok yang baik, penyayang, dan bertanggung jawab.
"Mas," Kirana berkata lembut, "setiap orang pernah berbuat salah. Yang penting bukan kesalahan itu sendiri, tapi bagaimana kita menebusnya dan berusaha jadi pribadi yang lebih baik. Aku yakin Mas sudah banyak berubah."
Mario masih fokus dengan jalanan di depan, dengan raut wajah di penuhi rasa bersalah, "tapi kesalahan ku nggak bisa dimaafin, Na. Aku bahkan nggak berani jujur ke Randy tentang kesalahan yang udah aku lakuin ke dia sampai saat ini. Yang bisa aku lakuin cuma berusaha menebus kesalahanku dengan terus ikut merawat Elvan, dan selalu ada untuk Elvan. Tapi sejujurnya, hatiku nggak pernah tenang."
Kirana menatap Mario dengan simpati, "Mas, aku nggak tahu kesalahan apa yang udah Mas lakuin ke Mas Randy dan Mbak Sheilla. Tapi dengan Mas yang merasa bersalah, dengan Mas yang menebus kesalahan Mas dan memutuskan untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang udah Mas lakuin, sepertinya itu udah lebih dari cukup. Cuma, kalau hati Mas masih nggak tenang, mungkin udah saatnya Mas untuk jujur ke Mas Randy. Hidup dengan menanggung beban seperti itu nggak enak Mas. Mas berhak hidup bahagia dan damai."
Mario menggeleng, "kayaknya aku nggak berhak, Na. Kesalahan ku bukan kesalahan yang bisa dimaafkan begitu aja."
Kirana tersenyum kecil, meski hatinya juga ikut terasa berat. "Mas, jangan putus asa. Tuhan selalu membuka pintu maaf bagi mereka yang mau bertobat. Mungkin dengan jujur ke Mas Randy, itu adalah langkah awal untuk menemukan kedamaian."
Suasana di dalam mobil kembali hening setelah percakapan itu. Mario terdiam, pikirannya dipenuhi konflik batin. Kata-kata Kirana terdengar masuk akal, tetapi rasa bersalah yang menggerogoti hatinya begitu kuat. Ia merasa begitu hina, tidak pantas mendapatkan pengampunan, apalagi kebahagiaan.
Tak lama, mereka tiba di depan rumah Kirana. Mario memarkir mobil di depan pagar, lalu menghentikan mesin.
"Udah sampai, Na," katanya dengan suara yang sedikit lemah.
Kirana tersenyum, tapi senyum itu terasa lebih lembut dari biasanya. "Makasih, Mas. Udah jauh-jauh nganterin aku. Semoga Mas bisa tidur nyenyak malam ini ya."
Mario tersenyum, tapi wajahnya tetap dibayangi rasa gelisah. "Makasih, Na. Hati-hati ya, masuk rumah."
Sebelum keluar dari mobil, Kirana menatap Mario sejenak, ragu untuk mengatakan sesuatu, tapi akhirnya ia bicara. "Mas, ingat ya, kita semua berhak untuk bahagia. Mas juga. Jangan terlalu keras sama diri sendiri."
Kata-kata itu membuat d**a Mario terasa sesak, seperti ada harapan kecil yang muncul dari dalam, tapi ia tidak tahu bagaimana meraihnya.
"Terima kasih, Na. Aku coba ingat itu."
Kirana pun keluar dari mobil dan melambai singkat sebelum masuk ke rumahnya. Mario hanya bisa memandang kepergian Kirana dengan hati yang penuh dengan perasaan campur aduk—rasa sayang, rasa bersalah, dan ketakutan akan masa lalu yang belum pernah ia hadapi sepenuhnya.
Setelah Kirana masuk, Mario duduk diam sejenak di dalam mobil, merenungi kata-katanya. Ia merasa Kirana benar, tapi bagaimana ia bisa membuka rahasia besar yang telah lama ia sembunyikan dari Randy? Bagaimana ia bisa menghadapi kebenaran yang mungkin akan menghancurkan satu-satunya hubungan yang tersisa dalam hidupnya?
***