Rahasia dalam Keheningan

1918 Words
"Jauhi penyakitnya, bukan orangnya." Kata-kata itu selalu diulang di tengah penyuluhan HIV/AIDS yang diselenggarakan di sekolah Elvan. Membuat suasana hati Elvan jadi tidak begitu baik. Ia memutuskan untuk meninggalkan aula sekolah sebelum acara penyuluhan itu berakhir, muak dengan tema yang diangkat di penyuluhan itu. Elvan berjalan tanpa tujuan, hanya ingin menjauh dari suara yang terus bergaung dalam pikirannya. Ia akhirnya sampai di gudang sekolah-tempat yang jarang dikunjungi dan biasanya bebas dari pengawasan guru. Tapi kali ini, ketika ia membuka pintu gudang, ia mendapati seorang murid perempuan sudah berada di sana, duduk di atas meja tua yang penuh coretan dan retak di beberapa tempat. Gadis itu, berperawakan mungil dan berambut lurus panjang, sedang mengisap sebatang rokok. Elvan, yang tak terbiasa dengan asap, langsung terbatuk pelan. Gadis itu tersentak, awalnya terkejut melihat kehadiran seseorang, tapi begitu melihat siapa yang datang, ia kembali tenang. Di matanya, Elvan bukanlah ancaman-hanya seorang murid laki-laki berkulit pucat dan bertubuh kurus yang terlihat lebih lemah dari kebanyakan orang. "Nggak usah kesini," katanya dengan nada jutek, berusaha mengusir Elvan tanpa basa-basi. Elvan, meskipun matanya mulai perih karena asap, tak berniat pergi begitu saja. "Gue males di aula," balasnya, terdengar sedikit serak. Perempuan itu mendengus pelan, ingin sekali membalas lebih ketus lagi, tapi akhirnya ia hanya membuang rokoknya dengan kasar dan menginjaknya dengan satu hentakan kuat, berharap Elvan mengerti kalau ia merasa terganggu. Elvan mengabaikan isyarat itu dan justru duduk di lantai, menyandarkan tubuhnya ke dinding. Ia tidak peduli jika pakaian sekolahnya kotor. Diam-diam, ia merasa lega bisa beristirahat sejenak jauh dari keramaian dan dari pandangan orang-orang. "Lo nggak takut nanti ketahuan guru?" tanya gadis itu, kali ini nadanya sedikit lebih datar. "Emangnya kenapa?" Elvan balas bertanya, tidak begitu peduli. "Nggak ada yang peduli juga, kan?" Gadis itu terdiam sejenak, tampak bingung menanggapi. "Nama gue Naya," ucapnya akhirnya, menyerah untuk bersikap dingin kepada Elvan dan membuka sedikit dinding antara mereka. Ia memutuskan untuk menerima kehadiran Elvan disana. Elvan melirik ke arahnya, lalu mengangguk pelan. "Elvan." Sunyi sejenak di antara mereka, sampai Naya mengeluarkan tawa kecil yang terkesan getir. "Lucu ya, kita kabur dari penyuluhan tentang bagaimana hidup sehat, tapi malah ngumpet di sini sambil ngerokok," katanya dengan tatapan kosong. Elvan menghela napas panjang, tak ingin langsung menghakimi. "Kenapa lo ngerokok?" tanyanya pelan, tak sepenuhnya ingin mendengar jawaban. Naya menatap Elvan sekilas, lalu mengalihkan pandangannya ke jendela berdebu di gudang. "Kadang... ada hal yang cuma bisa gue lupain sementara dengan ngerokok," jawabnya, suara lirih. Elvan terdiam, mencoba mencerna kata-kata Naya. Ia memahami perasaan itu-perasaan ingin lari meski hanya sejenak, menghindar dari kenyataan yang terlalu berat untuk dihadapi. Ia tak bisa menyalahkan Naya. Dalam hati, ia juga punya beban yang sulit ia ungkapkan, sesuatu yang membuatnya muak dengan segala bentuk nasihat hidup sehat yang terasa hampa di acara penyuluhan tadi. "Lo sering ke sini?" tanya Elvan akhirnya, berusaha mencairkan suasana. Naya mengangkat bahu. "Kadang kalau lagi nggak mau ketemu siapa-siapa," jawabnya, pandangannya tetap kosong. "Kalau lo?" Elvan menunduk, memandang tangannya sendiri. "Nggak sering. Ini cuma... gue lagi pengen aja jauh dari aula, dari penyuluhan itu." Naya menatap Elvan sejenak, tertarik dengan jawabannya. "Emang kenapa sih? Lo nggak suka penyuluhan itu?" Elvan terdiam cukup lama, terlihat menimbang-nimbang sebelum menjawab. "Gue cuma bosen dengar orang ngomong soal 'jauhi penyakitnya, bukan orangnya'. Kayak mereka ngerti aja rasanya. Kayak semuanya bisa selesai cuma dengan ngulang-ngulang kalimat itu." Naya mengangguk paham. "Kayak yang cuma ngomong, tapi nggak ngerti apa yang sebenarnya dirasain orang-orang yang ngalamin, kan?" Ia menatap Elvan lebih lekat, seperti ingin mencari sesuatu dalam sorot mata pemuda itu. "Lo ada masalah, ya?" Elvan tersenyum tipis, senyum yang nyaris menyedihkan. "Semua orang punya masalah, kan?" Naya menghela napas, lalu duduk di lantai di sebelah Elvan, merasakan lantai dingin yang tidak nyaman, namun entah kenapa ia memilih untuk tetap di sana. "Iya, bener. Tapi masalah orang beda-beda, El." "Iya..." Elvan berkata getir. "Rasanya capek dengan masalah," ucap Naya, lalu menarik napas panjang, mencoba menguasai dirinya lagi. "makanya gue ke sini, ke tempat yang nggak banyak orang tahu," katanya, senyum kecil muncul di bibirnya. "Biar nggak perlu mikirin hal-hal itu... biar nggak ngerasa harus kelihatan baik-baik aja." Elvan menatap Naya dengan rasa mengerti. Ia pun juga Lelah harus berpura-pura kelihatan baik-baik saja di depan semua orang. Naya bagaikan isi hatinya yang berbentuk manusia. Setelah mengungkapkan apa yang dirasakannya, Naya menatap lantai berdebu di depannya, seakan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Akhirnya Elvan dan Naya hanya duduk di sana, berbagi keheningan yang entah mengapa terasa nyaman di tengah keterasingan. Namun, keheningan itu tiba-tiba terpecah oleh suara ponsel Elvan yang berdering. Nama Arkan muncul di layar. Elvan sejenak ragu untuk mengangkatnya, tetapi akhirnya ia menekan tombol hijau dan menjawab, "Halo?" "El! Lu di mana sih? Dari tadi gue cari-cari!" Suara Arkan terdengar khawatir. "nggak biasanya lu ngilang gitu aja di acara sekolah." Elvan menghela napas panjang, tak ingin membuat sahabatnya panik. "Gue di gudang," jawabnya akhirnya, lalu melirik ke arah Naya yang ikut mendengarkan dengan ekspresi ingin tahu. "Di gudang?" pertanyaan Arkan menggantung, diikuti dengan pintu gudang yang dibuka dari luar, "untung gue deket. Eh?" Arkan terkejut mengetahui bahwa Elvan tidak sendirian, tetapi Bersama seorang murid perempuan manis yang cukup cantik. Seketika senyuman mengembang di wajah Arkan. "Gue udah khawatir Lo galau. Eh ternyata..." Arkan menatap Elvan dan Naya dengan ekspresi menggoda, lalu akhirnya kembali keluar dan menutup pintu. "Eh Kan! Tunggu!" Elvan tidak ingin Arkan salah paham dengan apa yang dilihatnya. Tanpa pamit dengan Naya, ia bergegas keluar gudang dan menyusul Arkan. "Gue nggak tahu tadi kalau ada orang di gudang," Elvan menjelaskan setelah ia berhasil menyusul Arkan. "Ya nggak papa juga kalau tahu El. Udah gede juga. Hehe..." Arkan masih menggoda Elvan. "Lo nggak usah mikir yang macem-macem ya!" "Nggak. Nggak mikir apa-apa gue," ucap Arkan yang masih tersenyum geli. Tapi sedetik kemudia ekspresinya berubah menunjukkan simpati,"gue mikirin Lo lagi kesal gara-gara penyuluhan di aula." "Ya... dikit," jawab Elvan, tak begitu jujur. Nyatanya ia sangat tidak ingin mendengarkan apapun materi dari penyuluhan itu. Rasanya hal itu hanya mengingatkannya kepada luka di hidupnya. "Tapi kesalnya jadi hilang karena berduaan dengan cewek di gudang kan?" Arkan mengangkat kedua alisnya, lagi-lagi kembali menggoda Elvan. "Apaan sih?" Elvan mulai bosan dengan tuduhan Arkan itu. Elvan menatap Arkan dengan ekspresi jengkel, tapi Arkan hanya terkekeh, menikmati kesempatan langka untuk membuat Elvan merasa canggung. Setelah puas menggoda, Arkan menghela napas pendek dan menepuk bahu Elvan dengan lembut. "Serius, El," katanya, suaranya berubah lebih tenang. "Gue cuma mau bilang, kalau lo punya sesuatu yang berat di pikiran, ngomong aja. Gue tahu lo sering simpan sendiri." Elvan hanya menunduk, lalu tersenyum tipis, tapi matanya tidak menunjukkan kebahagiaan. "Thanks, Kan," katanya pelan. "Kadang... ada hal yang cuma bisa gue simpan sendiri." Arkan mengangguk paham. "Ya, gue ngerti. Tapi ingat, gue selalu di sini buat dengerin kalau lo butuh." Elvan mengangguk pelan. "Gue tahu." Setelah beberapa saat, Arkan menghela napas panjang. "Udahlah, yuk, balik ke aula. Sebentar lagi acara selesai, nggak enak kelihatan bolos." Elvan tampak ragu, tapi akhirnya mengangguk. Bersama Arkan, ia mulai melangkah kembali ke aula, berharap kehadiran sahabatnya dapat sedikit meringankan beban di hatinya. *** "Maafin aku ya Sheilla..." Suara Mario terdengar pelan namun penuh penyesalan. Elvan yang baru selesai menebar kelopak bunga di atas makam ibunya menatap Mario penasaran. Sahabat papanya itu seperti tak pernah bosan mengucapkan permintaan maaf kepada Sheilla setiap kali mereka mengunjungi makam Sheilla. Elvan bertanya-tanya dalam hati, apakah Mario melakukan kesalahan kepada Sheilla di masa lalu saat Sheilla masih hidup? Sambil mengelus lembut rambut Elvan, Mario tersenyum samar. "Kamu di sini dulu, ya. Bicara sama mama," katanya lembut, sebelum berjalan meninggalkan Elvan sendirian di depan makam Sheilla, seperti biasanya setiap kunjungan mereka. Memberikan ruang privasi untuk Elvan. Elvan memandangi Mario yang berjalan menuju makam lain, sebuah makam yang selalu didatanginya setiap kali mereka berziarah. Mario pernah bilang, itu makam seseorang yang sangat berarti baginya di masa lalu. Rasa penasaran menggerakkan langkah Elvan untuk mengikutinya dari jauh. "Hai Alyssa, aku datang," suara Mario terdengar lirih ketika ia berhenti di depan nisan yang tampak lebih tua, kemudian mengelus papan nisan milik Alyssa. Dengan perlahan, pria dengan potongan rambut pendek dan rapi itu meletakkan buket bunga mawar di atasnya dan menatap makam itu dengan tatapan penuh kesedihan. "Maafin aku, Alyssa..." bisiknya, suaranya terdengar serak, seolah-olah permintaan maaf itu tak pernah cukup untuk menghapus beban yang dipikulnya selama bertahun-tahun. Elvan mengintip dari balik pohon besar di dekat situ. Ia mengernyit kebingungan. Mario juga tak pernah bosan meminta maaf kepada Alyssa. Pikiran Elvan dipenuhi pertanyaan. Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa Mario terus meminta maaf? Tak tahan lagi, Elvan keluar dari persembunyiannya dan berjalan mendekat. "Ayah..." panggilnya pelan. Mario terkejut, tapi segera menenangkan dirinya. Dia berbalik, menatap Elvan dengan senyum kecil yang berusaha menutupi keterkejutannya. "Kamu ngikutin Ayah, ya?" tanya Mario dengan nada yang tidak menyalahkan, hanya sedikit terkejut. Elvan mengangguk, merasa ragu tapi tak bisa membendung keinginannya untuk tahu lebih banyak. "Sebenarnya siapa perempuan ini? Kenapa Ayah selalu minta maaf sama dia? Dan sama mama juga?" Mario menatap Elvan dalam-dalam, seakan menimbang sesuatu yang berat. Hatinya bergemuruh, tak menyangka hari ini akan tiba, hari ketika Elvan akan mulai bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, Mario merasa menjelaskan masa lalu hanya akan membuat Elvan yang masih berusia 12 tahun kebingungan. Dan yang lebih buruk, membenci Mario. Mario tidak bisa membayangkan hal itu terjadi, meskipun hari itu cepat atau lambat akan datang. Setelah memikirkan jawaban secara cepat, Mario akhirnya menjawab, "Ayah minta maaf karena ayah gagal menyelamatkan mereka." "Menyelamatkan dari apa? Ayah maksud menyelamatkan dari kematian?" Mario terdiam. Garis halus di bawah matanya jadi terlihat lebih jelas saat merenungi pertanyaan Elvan, "ya mungkin seharusnya ayah bisa mencegah hal itu." "Memangnya Mama dan Tante Alyssa meninggal karena apa?" Elvan tak bisa menahan rasa penasarannya lebih lama lagi. "Ini terlalu rumit, El. Lebih baik kamu nggak tahu sekarang," ujar Mario, suaranya lembut tapi tegas, menolak untuk mengungkapkan kebenaran. Mario akhirnya memilih untuk menyembunyikan kebenaran dari Elvan lebih lama lagi, entah sampai kapan. "Mama meninggal karena HIV?" Elvan menebak, mencoba mencari penjelasan yang masuk akal. Wajah Mario menegang sesaat, terkejut dengan tebakan Elvan, namun ia segera menggeleng. "Bukan." "Terus karena apa?" "El, ini terlalu sulit untuk dijelaskan. Tolong jangan paksa ayah untuk menceritakannya," Mario memohon, suaranya mulai serak. Untuk pertama kalinya, Elvan melihat Mario yang biasanya tegar kini tampak begitu rapuh. "Ayah, terkadang aku berpikir mungkin papa benci aku karena aku punya HIV," Elvan tiba-tiba membahas Randy, seperti mencoba mengaitkan segala sesuatu. Mario terdiam, rasa bersalah yang selalu menghantuinya kini semakin menekan. Ia terus mengutuk dirinya sebagai penyebab penderitaan Elvan, dan mengharapkan kehadirannya bisa menghapus penderitaan itu. Tapi yang Elvan butuhkan adalah orang tuanya, Randy. Dengan Gerakan yang terasa berat, Mario akhirnya berhasil menyentuh kedua bahu Elvan, menyingkirkan sejenak perasaan bersalahnya demi menguatkan Elvan. "Hei, dengar. Randy nggak benci sama kamu. Kenapa kamu berpikir seperti itu? Justru, Randy sayang banget sama kamu El. Dia terlihat mengacuhkan kamu karena dia takut kehilangan kamu." "Kenapa takut untuk sesuatu yang belum terjadi? Aku masih disini." "Ayah juga nggak ngerti dengan jalan pikiran Randy. Mungkin... dia terlalu tenggelam dengan kesedihannya karena kehilangan mama kamu." Elvan bagai tak cukup puas dengan jawaban Mario. Tapi ia memutuskan untuk tidak berbicara lagi. Karena semuanya terasa percuma, jika papanya memang tidak pernah mau untuk membuka hati kepadanya. "Aku ke parkiran duluan ya, Ayah," ucap Elvan akhirnya, menyerah pada rasa frustrasinya, dan berjalan meninggalkan Mario. Mario menatap punggung Elvan yang menjauh, hatinya hancur, merasa gagal sebagai sosok pengganti orang tua yang seharusnya memberikan kehangatan dan kejujuran kepada Elvan. Tapi dia tidak bisa... belum bisa. Dan mungkin tidak akan pernah sanggup untuk mengatakan kejujuran itu selamanya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD