t u j u h

4002 Words
Dion Devano Hi win!   Pesan masuk dari Dion. Windy menghela udara dari organ pernapasannya. Jarinya melakukan kecerobohan yang membuatnya seketika lelah tak berdasar. Notifikasi terbuka dan pesan sudah terlanjur terbaca. Namun Windy sedang tidak mempunyai mood yang baik untuk membalas pesan-pesan masuk. Jadi, dia biarkan saja. Windy berdiam diri. Sengaja. Windy memang sengaja untuk terus berdiam diri meskipun dua sahabatnya, Selva dan Airin terus mengajaknya ikut andil dalam obrolan. Cewek itu terlalu dongkol. Kesal karena rahasianya terbongkar. Dia sempat berharap bahwa Airin akan tutup mulut atas kisah yang disampaikannya tadi malam. Namun apa daya, Airin pun tak berbeda dengan Selva. Satu paket. Jika saja menyangkut hal yang lebih rumit dan bukan tentang Bagus, mungkin Airin akan menyimpan kisah itu sendiri rapat-rapat. Maka, yang Windy lakukan setelah duduk di kursi langganan mereka hanyalah membisu dan tak bicara. Jemari lentik dengan kuku terpotong pendek dan rapi itu memegang sedotan. Mengaduk-aduk es teh manisnya. Melamun. Masih memikirkan apakah yang terjadi padanya tadi malam itu nyata ataukah mimpi indah belaka. Windy menatap fokus ke sebuah nomor yang tertera di layar ponselnya. Nomor yang digunakan oleh kakak laki-lakinya kemarin sore. Ya, nomor telepon Bagus. Sumpah demi apapun, dia sungguh tergoda untuk menghubungi nomor tersebut. Mimpi apa Windy sampai mempunyai nomor cowok yang dia taksir selama satu tahun itu?! Dan yang lebih gilanya lagi, rentetan peristiwa dan interaksi Windy dengan Bagus kemarin. Bisa-bisanya Windy tertawa bersama Bagusㅡsenior paling . Seperti mimpi saja! Piwit. Windy yang menatap kosong ke arah layar ponselnya itu terkejut setengah mampus. Sebuah notifikasi membuat cewek dengan rambut yang dikucir kuda itu tersedak. Terbatuk-batuk oleh salivanya sendiri. Dia sontak berhenti mengaduk-aduk es teh yang belum diminum sama sekali tersebut. Cewek itu juga melepas ponselnya hingga alat komunikasi canggih tersebut tertelungkup di atas meja. "Duileee! Nenek sampe keselek," ejek Selva. "Minum aja kagak, kok bisa keselek, Nek?" Pertanyaan Airin memperkeruh batuk yang Windy derita. Dia mengusap-usap punggung Windy seolah-olah sahabatnya itu memang seorang nenek. Windy tak mampu menjawab. Masih terbatuk-batuk sampai air mata mengumpul di sudut pelupuk. Astaga, ini menyebalkan sekali! "Tuh ada siul-siulan tijelnya hape lu, Win," tegur Airin. "Pasti dari Dion." Selva tertawa renyah. Matanya yang bulat itu menyipit. Dia mengangguk dengan sangat antusias. "Siapa lagi?" Lalu dia menatap Windy yang sibuk mengatur napas. "Buruan jadian ama Dion ya, Win. Biar kita kecipratan iPhone sebelas. Hahahaha!" Windy tak mampu bersuara. Dia terlalu syok dengan tulisan yang tertera pada pop-up notification aplikasi chattingnya tersebut. Airin yang mempunyai rasa penasaran terlalu besar pun mengambil ponsel sahabatnya. "Dion nembak, Win? Sampai keselek gituㅡWASTAJIM!!!" Mata cewek yang dilabeli sebagai perempuan paling matre seantero Universitas Rajawali itu terbelalak sempurna saat melihat tulisan yang tertera pada layar ponsel Windy.   M. Bagus Abqari Add you by phone number. Selva berhenti mengelus-elus punggung Windy. Dia ikut terkejut saat mendengar pekikan nyaring dari Airin. Apa yang sebenarnya terjadi pada dua sahabatnya ini? Mengapa Airin berteriak heboh seperti itu? "Ada apaan sih?" tanya Selva penasaran. Airin megap-megap. Dengan jelas Airin membaca notifikasi itu dan kini dia menunjuk ponsel Windy yang kembali tergeletak tak berdaya di atas meja. Speechless. Piwit! Masuk lagi sebuah notifikasi. Kali ini Selva yang mengambilnya. Dengan rasa penasaran tingkat dewa, dia segera membaca isi pesan itu tanpa membaca siapa pengirimnya. "Siang, Win. Kangen aku?" kata Selva dengan kening berkerut. "Siapa siㅡHAAAAAA!!!" Kini dua sahabat karib yang rada gesrek itu mengerti mengapa Windy kaget setengah mampus. karena mereka melihat sendiri penyebabnya. "Jesus christ, my lord my saviour!" "Astaghfirullahaladzim! Subhanallah! Alhamdulillah! Allahu akbar! Allahumma laka sumtuㅡ" Selvania dan Airin menyebut-nyebutkan segala puja-puji pada Tuhan atas apa yang mereka lihat di ponsel Windiana. Reaksi mereka turut mengundang tatapan bingung dari sejumlah mahasiswa yang berada di kafetaria utama Universitas Rajawali tersebut. Kapan lagi menyaksikan dua cewek cantik yang ngehits di kampus berkelakuan heboh seperti itu? "Lu lihat, kan?!" Selva mengangguk cepat. Mulutnya megap-megap. "B-Bagus. Kak Bagus!" "Astaghfirullah... Windy!" seru Airin. "Eh, gue nggak lagi mimpi, kan?!" Mata Selva terbuka lebar. "Cubit gue, please!" Dengan senang hati Airin mencubit lengan Selva. Gemas. Hingga temannya itu memekik kesakitan. "Aaaargh! Sakit!" "Artinya lo nggak mimpi, Nyai!" seru Airin. "Win, itu beneran Bagus?!" Windy mengangguk dalam bisu. Tak mampu mengucap sepatah katapun. "Saoloooo... Berarti yang tadi malam itu beneran? Serius?!" "Lu beneran jalan ama Bagus?!" Windy mengangguk lagi. Tanpa kata. Hanya dapat membenarkan lewat bahasa tubuh seperti orang bisu. "Omijon!" "Homina homina homina!" Dan berbagai kata-kata aneh mereka ucapkan atas ketidak percayaannya dengan apa yang baru saja terjadi. Piwit! Suara siulan itu lagi. Dengan tangan gemetar Windy mengambil ponselnya. Gugupnya sudah tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Membuka layar yang terkunci dan membaca pesan masuk tersebut. Dua temannya secara tak sadar menahan napas saat Windy membaca pesan itu.   M. Bagus Abqari Siang win Kangen aku ga? Wkwk Dah makan siang?   Windy mengedip-ngedipkan matanya ketika membaca pesan-pesan itu. Mulutnya terbuka. Rahangnya tak dapat tertutup. Tak tahu harus membalas apa, berkata apa, dan melakukan apa. Piwit!   M. Bagus Abqari Cuma di read aja nih? "Masha Allah," desah Windy. Rasanya ia ingin sekali menangis saking frustasinya. Tidak tahu harus melakukan apa. Piwit! Piwit! Piwit!   M. Bagus Abqari Kamu lagi ga marah sama aku kan? I mean, gara2 tadi malam Kebawa suasana banget Maaf ya Selva mengambil ponsel yang diletakkan Windy. Menatap sahabatnya itu penuh dengan rasa bingung dan penasaran. Mengapa Windy sampai menangkup kedua tangan ke wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus itu? Apa saja isi pesan yang dia baca hingga membuat temannya itu malu setengah mampus? Selva pun membaca tiap pesan yang masuk ke ponsel Windy tanpa suara. Airin yang duduk di sampingnya pun merapatkan tubuh karena terlalu penasaran. Dan mereka berdua mulai mengabsen tiap nama hewan yang berada di kebun binatang saat membaca pesan-pesan tersebut. "Nying, gas pol!" "Ini apaan sih, Win!?" "Gue ngerasa kayak ngebaca chat orang lagi ngebujuk pacar ngambek, duh!" "Terus apaan tuh gara-gara tadi malam? TADI malam NGAPAIN?!" "Win, lu ngapain ama dia sampai marah-marahan?!" "Saolo ambigunya maksimal, Cuy!" "Paraaaaah!" "Masa gue mikir yang iya-iya?" Airin menyisir rambut indahnya dengan jemari. Memberi gesture bahwa dirinya benar-benar tak mampu mengira-ngira apa yang terjadi antara Windy dan Bagus tadi malam. "Win, lu nggak anuㅡ" "Ya nggak lah! Gila lu! Mikirnya jangan jauh-jauh!" seru Windy tiba-tiba. Mengagetkan Selva dan Airin. "Gue masih punya otak, punya iman!" Selva terbahak. "Ya kali aja, Win," kata Airin seraya mengerlingkan matanya dengan nakal. "Hilap-hilap dikit, hehehe." Windy melengos. Lalu dia meremas kembali ponselnya. "Duh, gue harus gimana nih? Sumpah, gue nggak tau harus balas apaan!" Selva mengangkat kedua bahunya. Airin terkekeh. "Ya bales aja basa-basinya itu," Airin menggerak-gerakkan kedua alisnya ke atas. "Semampunya." "Gitu ya?" gumam Windy, lalu dia menatap kembali layar ponselnya. Bukannya mengetik sesuatu untuk membalas pesan-pesan itu, Windy justru membuka profile picture yang digunakan oleh Bagus pada homenya. Ganteng banget, batin Windy memuji foto cowok itu. Pada foto tersebut, terpampang Bagus sedang memegang kamera. Wajahnya tertutup oleh benda favorit cowok itu. Rambut hitam legam dengan potongan undercut khas Bagus tertutup oleh topi. Kulitnya yang putih bersih. Tangannya yang lebar dan maskulin karena terbiasa mendribble bola basket itu mendominasi kamera tersebut. Jari telunjuk yang satu menekan shutter, dan dua jari dari tangan yang lain memfokuskan lensa pada objek yang ia foto. Sepertinya foto cowok itu diambil dengan menggunakan cermin. Terlihat sangat misterius dan artistik. Layaknya seorang Muhammad Bagus Abqari di mata Windiana. Ah, bahkan di saat wajahnya tak terlihat saja, Windy dapat merasakan aura 'orang ganteng' dari foto itu. Melihat sahabatnya tersenyum-senyum sendiri, Selva nyeletuk, "Yeeee! Malah senyam-senyum menye-menye! Dibalas, weh!" Wajah cewek kelahiran bulan Ferbruari itu memanas. Windy tak dapat menyembunyikan semburat merah pada kedua pipinya. Tersipu sendiri akibat celetukan dari Selva. Ya ampun. Rasanya mimpi-mimpi yang mengisi tidur dan angan-angan yang senantiasa mengambang di asanya telah menjadi nyata. Ia tak pernah menduga akan sedekat dan seㅡehem, if you know what it meansㅡdengan Bagus. Baru saja ia memikirkan cowok itu. Memandangi deretan nomor ponsel Bagus. Memikirkan cara agar dapat menghubungi lelaki itu, namun terlalu malu untuk memulai semuanya. Ya, belum selesai dengan prosesiㅡsebut saja merindukanㅡcowok itu, tanpa diduga yang sedang dipikirkan justru menyapanya terlebih dahulu. Jangan tanyakan bagaimana keadaan dan kesehatan jantung Windy! Organ pemompa aliran darah itu berdetak lebih aktif dan agresif dari biasanya. Hormon adAirinlin dan dopaminnya melonjak. Luar biasa sekali euforia yang tak pernah Windy rasakan sebelumnya dalam hampir dua puluh tahun masa hidupnya ini. Angan-angan yang membuat Windy merasa sangat bahagia itu seketika buyar saat mendengar deringan nyaring dari ponsel yang Windy genggam. Mengagetkan Selva dan Airin yang sibuk mencibir atas kelakuan sahabatnya. Windy segera memusatkan fokusnya kembali pada layar ponsel. Nomor yang tak dikenal. Nomor yang tidak ia hapal dan tak ia simpan lebih tepatnya. Kening Windy berkerut. Siapa kira-kira yang menghubunginya di senin siang ini? Ragu-ragu, cewek itu pun menyentuhkan ujung telunjuknya ke layar dan menerima panggilan masuk tersebut. "Halo?" sapa Windy. Mungkin terdengar sangat merdu dan lembut di telinga. Padahal cewek itu deg-degan setengah mampus. "Kok cuman di-read, Win? Kamu beneran nggak lagi marah kan?" DEG!!! Mata Windy terbelalak lebar ketika mendengar suara berat dan dalam khas laki-laki. Suara nge-bass yang tadi malam mengantarkannya pulang ke rumah dengan selamat. "Kak Bagus??" gumam Windy tanpa sadar. Selva histeris. Ia kembali menyebutkan puja-puji pada Tuhan. Namun segera dibekap oleh Airin yang sesungguhnya tak kalah panik. "Bukan, ini Mang Ujang," sahut Bagus asal. Kemudian ia terkekeh. Suara beratnya melelehkan indra pendengaran Windy. "Iya,Win. Ini Bagus." Windy tak mampu berkata-kata. Terlalu takjub dengan semua yang terjadi padanya. "Windy?" Suara Bagus yang menyebut namanya itu membangunkan Windy dari lamunan kosongnya. "Eh, i-iya, Kak?" Terdengar tawa kecil di bawah napas ringan cowok itu dari speaker yang menempel di telinga kanan Windy. "Udah makan siang, Win?" Windy otomatis melirik meja di hadapannya. Lalu menatap dua sahabatnya yang hampir mati penasaran. Cewek itu mengangguk, seolah-olah Bagus dapat melihatnya. "Udah, Kak," bohongnya. Faktanya Windy belum makan. Ia hanya memesan segelas es teh dari warung es teler Teh Maya. Itupun tidak sering diminum. Sekedar menjadi pajangan. karena cewek itu tak mempunyai nafsu untuk mengisi perutnya sekarang. "Masa sih? kalau udah makan, kenapa di depan kamu cuma ada es teh doang?" WHAAAATTTT?!!! Lagi-lagi mata Windy terbuka lebar. Duh, lama-lama bola mata cewek itu bisa keluar dari wadahnya juga karena terlalu sering terbelalak hari ini. Reaksi Windy membuat Selva dan Airin semakin penasaran. Mereka tak henti-hentinya membisikkan berbagai kata tanya pada sahabatnya. Windy membisu. Speechless. Blank. "Kenapa diem aja, Win? Ketahuan bohong ya?" HAAAAA?! Napas dua cewek yang duduk berseberangan dengan Windy tercekat. Mata mereka melotot. Ekspresinya seperti baru saja melihat setan. Windy pun secara perlahan menolehkan kepalanya. Mengikuti arah pandangan Selva dan Airin yang sudah menjadi patung. "Hai, Win," sapa Bagus sembari tersenyum pada cewek itu. "Oh, hai, Kak Bagus." Windy pun membalas sapaan itu setelah takjub untuk sepersekian detik.   ¤¤¤¤   Ckrek! Ckrek! Ckrek! Bagus tersenyum puas. Puas dengan hasil jepretannya. Pada layar display kamera Canon-nya, tertampil gambar Windiana sedang tersenyum seraya menatap ponselnya. Seperti biasa, cantik dan mempesona. Membuat Bagus tak dapat berhenti untuk memuji hasil karyanya sendiri. Tiba-tiba ponsel Bagus berdering. Cowok itu refleks meletakkan salah satu kamera kesayangannya ke atas meja. Mengambil handphone-nya itu dan menerima panggilan masuk dari teman karibnya, Dion Devano. "Apa, Yon?" "di mana, Bang?" "Kantin. Moto Windy. Kenapa?" Suara Bagus terdengar sangat datar. "Weh, tumben! Biasanya lo nunggu gue suruh duluㅡ" Bagus mulai kelabakan. Duh, mengapa tak terpikir olehnya untuk menunggu instruksi dari Dion perihal pekerjaan sampingannya ini? Kacau. "Kebetulan aja ada urusan. Sekalian gue ngambil foto deh daripada bolak-balik lagi," kilahnya. "Terus ketemu Windy-nya?" Ketemu? Tidak, Dion. Ini lebih parah. Ah, jika saja kau tahu. Bagus meneguk air liurnya. Lama kelamaan ditanyai seperti itu ia merasa gugup juga. "Ada. Untungnya. Kenapa?" Tak ada jawaban untuk beberapa detik. Lalu terdengar suara dehaman Dion. "Dia megang hape, Bang?" Pertanyaan yang aneh. Entah mengapa Bagus merasakan sesuatu yang tak bersahabat dari pertanyaan itu. "Nggak juga. Emang kenapa?" Sekali terdengar desahan pasrah dari Dion. "Nggak... Chat gue cuman di-read ama doi." Ohok!! Bagus tersedak oleh air liurnya sendiri. Kaget dengan apa yang ia dengar. "Wah, nggak tau gue, Yo." Lalu Bagus tertawa canggung. "Ya kali aja lo tau kenapa, Bang. Takutnya Windy deket ama cowok lain." Glek!!! "Hahaha! Deket cowok lain? Gue mana tau... Lagian kan dia belum jadi pacar lo. Kayaknya sah-sah aja dia naksir yang lain." Payah! Mengapa ia harus berkata seperti itu? Kalimat itu seolah-olah memberi kesan bahwa Bagus mempunyai kepedulian atas hubungan Dion dan Windy. "Udah dulu, Yo. Gue mau cabut ke kantor Mas Rendra nih. Ngambil data. Gue dah punya tiga fotonya. Ambil ke kost entar malam. Oke?" "Waduh, dah tiga aja. Jadi sisa empat belas ya, Bang? Anjir, masih lama. Oke deh. Entar malam gue mampir kost lo." "Sip!" Sambungan pun diputus. Ah, hampir saja. "t***l," maki Bagus pada diri sendiri. Ia merutuki kebodohannya dan kecerobohan mulutnya yang sepertinya hampir saja membuat Dion curiga. Harus diakui bahwa Bagus sudah terjerumus dalam kesalahan. Walaupun sebenarnya ia tidaklah seratus persen salah. karena semua yang terjadi di antara Dion, Windy, dan Bagus bisa saja terjadi. Dan apa yang dilakukan oleh Bagus sekarang adalah hal yang wajar dan sah-sah saja. Tidak hanya berlaku untuk Bagus, semua boleh mendekati Windy. Toh cewek itu bebas. Tak mempunyai ikatan apapun dengan orang lain. Bagus menghela napas lagi. Sudahlah, ia telah kepalang tertarik pada gadis itu. Windy terlalu cantik untuk dilewatkan. Terlebih lagi, Bagus tak ingin mendustai dirinya bahwa Windy adalah perempuan idamannya. Dari fisik hingga kepribadiannya. Dan tak mungkin dipungkiri jika banyak yang menargetkan cewek itu.   Windy masih di sana. Duduk bersama dua temannya. Berdiam diri. Menatap layar ponselnya. Bagus merenung saat menatap keindahan dari salah satu kaum hawa yang ia idamkan tersebut. Hari ini Windy agak berbeda dari hari-hari sebelumnya. Dan itu sungguh mengusik Bagus. karena setahu Bagus, Windy selalu terlihat ceria jika bersama dua temannya itu. Senyum dan tawa selalu menjadi ekspresi atas kebahagiaan gadis itu. Maka dari itu, Bagus pun memutuskan untuk menyudahi sesi pemotretan Windy. Mematikan kamera dan menyimpannya ke dalam tas. Lalu cowok dengan tinggi badan seratus tujuh puluh enam centimeter itu mengambil kembali handphone-nya. Terbersit sebuah ide untuk menghibur cewek yang agak murung itu. Sebuah bayangan Windy tersenyum karena dirinya terlintas dalam angannya. Gambaran kebahagiaan gadis itu saat bersama dirinha membuat d**a Bagus berdegup kencang. "Windy..." gumam Bagus saat membuka daftar panggilan keluar tadi malam. Tentu saja masih ada. Mana mungkin ia menghapus jejak yang ditinggalkan oleh Ferdi? Itu namanya menyia-nyiakan kesempatan! Maka Bagus pun membuka aplikasi chatting Line yang sepertinya sudah dipenuhi oleh sarang laba-laba. Maklum, namanya juga jomblo ganteng yang jauh dari kata pecicilan. Cowok berzodiak pisces itu memasukkan nomor telepon Windy dan menambahkannya sebagai teman pada aplikasi obrolan tersebut. Hmm... Kira-kira pesan apa yang harus ia kirim agar cewek itu dapat tertawa? Dua jempolnya mulai mengetik pesan berupa sapaan nakal untuk cewek itu. Memberi perhatian sedikit agar dapat membuatnya terbawa perasaan. Setelah mengirimi pesan itu, Bagus kembali menatap ke arah Windy. Namun ternyata ekspektasinya berkhianat. Windy tidak tersenyum sama sekali. Justru cewek itu telihat lebih murung. Sampai-sampai salah satu temannya seperti tengah berusaha untuk menghiburnya. Tak ada balasan dari Windy. Padahal pesan-pesannya telah dibaca. Apakah Windy marah padanya? Tiba-tiba ia teringat kejadian tadi malam. Saat Bagus sukses menjahili cewek cantik nan lucu itu. Dan yang paling ia ingat, Bagus hampir saja membuat langkah gegabah dengan menyentuh tangan cewek itu. "Astaghfirullah," desah Bagus. Ia melepas topi yang menutup kepala dan sebagian wajahnya. Mengacak-acak rambut hitam berpotongan undercut-nya. Tanpa pikir panjang, Bagus cepat-cepat menuliskan pesan beruntun. Berisi permintaan maaf atas kejadian tadi malam. Bagus takut jika Windy merasa tak nyaman dan tak suka padanya. Tidak, itu tak boleh terjadi. Beberapa saat, masih tak ada respon. Bagus semakin tak karuan. Apalagi saat melihat Windy dengan wajah yang tak dapat diterjemahkan. Dari tangkapan yang Bagus dapat, gadis itu seolah-olah tak suka saat memperoleh pesan darinya. Maka dengan nekat Bagus pun memutuskan untuk menelpon Windy. Peduli setan jika nantinya Bagus mendapat tanggapan kurang baik, setidaknya ia ingin mencoba untuk menyapa dan meluruskan kesalah pahaman ini. Kaki kanan Bagus tak berhenti bergerak saat mendengar nada tunggu yang terdengar dari speaker ponselnya. Dadi seberang sana, Bagus melihat Windy yang agak ragu untuk menerima panggilan darinya. Oh, ayolah, Windy... Angkat teleponnya! "Halo?" SHIIIITTT! Suara Windy benar-benar sangat merdu dan indah. Bagus semakin deg-degan. "Kok cuman di-read, Win? Kamu beneran nggak lagi marah, kan?" Bodoh! Mengapa ia terlalu terburu-buru?! Sampai lupa menyapa atau mengucapkan salam seperti ini. "Kak Bagus?" Uuuuh! Rasanya d**a Bagus ingin meledak saat mendengar namanya disebut oleh suara itu. Mata Bagus tak dapat berhenti untuk memandang Windy yang duduk di seberang sana. Rupanya gadis itu sedang kebingungan. Mungkin tidak percaya jika ia sedang menghubunginya. "Bukan. Ini Mang Ujang." Duh, perempuan ini menggemaskan sekali! Bagus terkekeh. "Iya, Win... Ini Bagus." Windy terdiam. Di sana cewek itu juga tak bergerak. "Windy?" panggil Bagus lagi. "Eh, i-iya, Kak?" Hahaha, gadis ini sepertinya tidak menyangka bahwa ia akan menelponnya. "Udah makan siang, Win?" tanya Bagus basa-basi. Padahal ia tahu bahwa sedari tadi cewek itu belum makan. Hanya ada segelas es teh di hadapannya. "Udah, Kak." Hmm... Cewek ini mencoba membohonginya. Maka dengan rasa gemas dan gregetan, Bagus pun bangkit dari tempat duduknya. Jujur saja, perutnya juga sudah mulai ribut dan mengadakan konser sedari tadi. "Masa sih? kalau udah makan, kenapa di depan kamu cuma ada es teh doang?" tanya Bagus sembari memasukkan topi yang ia pakai tadi ke dalam tasnya. Lalu ia pun beranjak dari mejanya. Dengan mata yang masih terpaku pada Windy yang kelabakan, Bagus terus berjalan menghampiri meja gadis itu. Boleh jujur? Bagus kangen padanya. Tak ada sahutan dari Windy, Bagus pun bertanya, "Kenapa diem aja, Win? Ketahuan bohong ya?" Langkahnya kaki kurus dan atletisnya berhenti. Berdiri tepat di samping perempuan cantik yang masih tak bicara sepatah kata pun. Bagus mendengar suara napas tercekat atas keterkejutan dua teman Windy yang duduk di samping dan di seberang gadis itu. Tak ada waktu untuk menghiraukan mereka. Bagus terlalu terpaku pada gebetan sahabatnya itu. Dan ketika Windy menyadari kehadirannya, Bagus pun tersenyum pada cewek itu seraya menyapanya. "Hai, Win." Oh, betapa senangnya Bagus saat Windy membalas sapaannya dengan sangat manis. "Oh, hai, Kak Bagus." Cengiran di wajah Bagus semakin lebar. Ugh! Rasanya ia ingin sekali mencubit pipi Windy yang sangat menggemaskan itu! Tahan, Bagus! Tahan! Duh, tangannya gatal sekali. Susah payah menahan diri, Bagus pun terkekeh di bawah napasnya. Menyembunyikan rasa gugup sekaligus gregetannya dengan tawa dari suara beratnya. "Kok chat aku nggak dibales sih, Win?" tanya Bagus basa-basi. Sesungguhnya ia tak peduli dengan pesan-pesan yang tidak dibalas dan hanya dibaca saja tersebut. Yang penting, ia dapat bertemu dan menyapa Windy secara langsung. Windy mengerjap-ngerjapkan matanya. Bulu matanya yang panjang dan lentik itu bergerak-gerak seiringan dengan terbuka dan terkatupnya pelupuk mata bulat cewek itu. Lucu sekali. "A-anu, Kak. Saya pikir itu bukan Kakak. Takutnya ada yang lagi ngerjain saya," sahut Windy asal. Bagus tertawa renyah atas jawaban konyol dari Windy. Mengakibatkan tatapan takjub dan tak percaya dari Selva dan Airin. Jarang-jarang mereka melihat Bagus tertawa seperti itu. Mereka tahu bagaimana image seorang Muhammad Bagus Abqari di kampus Rajawali. Cowok itu hanya tersenyum dan tertawa jika sedang berada di lapangan basket. Semua cewek seantero Universitas Rajawali dari fakultas dan program studi manapun tahu fakta itu. Dan yang mereka saksikan sekarang benar-benar menggemparkan. Terutama bagi Airin yang merupakan adik kelas Bagus di Fakultas Teknik Informatika. "Ada-ada aja kamu, Win," kata Bagus sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia memasukkan ponsel ke dalam celana jeans sobek pada bagian lutut yang dikenakannya. Windy dengan paksa membasahi tenggorokannya. Gugup setengah mampus. Mimpi apa dia tadi malam sampai di-chat, ditelpon, bahkan disapa dan dihampiri oleh seorang Bagus?! "Hmm. Kamu nggak laper, Win?" Windy menggeleng ragu. Jujur saja, sesungguhnya tubuhnya agak sedikit bergetar karena menahan rasa lapar. "Aku laper nih. Temenin aku nyate bentar yuk?" ajak Bagus. Harapannya sangatlah besar. Semoga Windy bersedia pergi dengannya. "Tapi saya ada praktek nanti jam empat di Lab. Kimia, Kak..." jawab Windy jujur. Ah, ia hanya mempunyai waktu yang sangat singkat pada kesempatan ini. Sayang sekali! "Bentar aja. Nanti aku anter deh. Gimana? Mau ya? Aku dah laper banget." Windy menggigit bibirnya agar tidak terlihat norak dan antusias atas ajakan Bagus yang sedikit memaksa itu. Berpura-pura terlihat ragu sebelum mengangguk dan menerima ajakan Bagus tersebut. Nanti bisa-bisa Bagus ilfeel kalau Windy heboh sendiri. Bagus senang bukan main saat melihat tanggapan positif dari Windy. Tanpa sadar ia meraih tangan Windy yang menganggur di atas paha tersebut dan menarik gadis itu agar lekas berdiri dari kursinya. Perlakuan itu membuat Selva dan Airin yang sedari tadi terpaku takjub semakin kaget dibuatnya. "Windy-nya gua pinjem bentar," kata Bagus pada Airin dan Selva. Airin mengangguk cepat. Tentu saja. Kapan lagi mimpi sahabatnya selama setahun terakhir ini jadi kenyataan? "Bungkus ke KUA sekalian bawa pulang juga boleh, Kak," sahut Selva asal. Ah, namanya juga Si Biang gosip kampus Rajawali. Tak heran jika kalimat yang diucapkan olehnya itu sedikit agak nyablak. Dan sahutan itu sukses membuat Bagus tertawa. "Iya, entar gua bawa pulang ke Bandung kalau dah lulus." Busyet! Selva dan Airin takjub. Lagi. Dan Windy? Jangan ditanya! Pipinya sudah semerah tomat. "Yuk!" Lalu Bagus mengedikkan kepalanya. Mengajak Windy menjauh dari tempat duduk tersebut. Tanpa sadar Bagus masih belum melepas genggaman tangannya dari Windy. Dan ketika sahabatnya yang pemalu dan rendah diri itu pergi diculik oleh pangeran impiannya, Selva dan Airin semakin heboh. "Gila! Gila! Gilaaaaa!!" seru Selva. Airin juga tak kalah histeris. "Warbeyasaaaaah!" "Icikiwirrrr!!" "Sumpah ya, Windy ngapain aja kok bisa sampai segituㅡwaaaah!" Selva speechless. Matanya yang bulat itu masih terbuka lebar. Seolah-olah ukuran indra penglihatannya menjadi terlihat lebih besar dari ukuran normalnya. "Sel, lo liat sendiri kan gimana cara Si Bagus ngeliatin Windy?! Gila! kalau gue jadi Windy, gue dah meleleh kek mentega di atas teflon, Cuy! Melting!" "Parah! Banget! Ya iyalah gue liat! Di depan mata kepala ini! Apalagi gue duduknya sebelahan ama Windy! a***y! Tatapan matanya itu lho! Kayak orang lagi ngeliatin pacar! Ah, lo tau sendiri gimana!" Airin mengangguk setuju. "Totally!" "Ya Lord, akhirnya Windy di-notice ama senpai juga. Akika ikut seneng kalau gini..." kata Selva sembari mengusap-usap d**a dan sudut matanya. Berlagak seolah-olah sedang terharu. Airin menjentikkan jarinya. "Baru aja gue mo bilang itu!" "Mana ngomongnya pake aku-kamu lagi. Suara Bagus kan berat-berat seksi gimanaaaa gitu! Gue yang denger aja rasanya pengen melayang! Eh, Windy apa kabar ya?" "Ho-oh, kedengeran kayak lagi ngomong sama pacar." Selva mengerutkan kedua keningnya. "Padahal setau gue Dion juga cara ngomongnya manja pake aku-kamu juga ke Windy. Tapi kok sensasi gue dengernya beda ya?" Airin menggeleng tak yakin. "Idem. Gue juga nggak tau kenapa jadi gitu. Ya Allah... Kapan Airin dapet cowok yang suaranya enak didenger kayak Bagus?" Selva menyentil cuping telinga Airin yang tak beranting. "Tobat dulu lo! Jadi cewek kok matrenya nggak ketulungan!" Airin mencibir. "Matre udah jadi kewajiban, Sel. Demi masa depan." "Huuu! Eh, tapi, Rin," Selva memasang ekspresi lebih serius dari sebelumnya. "Bukannya Bagus temenan sama Dion?" Mata Airin melotot. "Masa sih?!" Selva mengangguk pasti. "Ho-oh! Yakin seyakin-yakinnya kalau Dion itu temenan deket banget sama Bagus!" "Waduh, kalau beneran Bagus temenan ama Dion, ini mah namanya...." "Selap-selip! Rebutan Windy nih ceritanya?!" Selva terbahak. "Ajib bener hidupnya Windy!" "kalau gue jadi Windy, gue milih Dion dong. Kan yang gece duluan Si Dion. Mana tajir lagi!" kata Airin dengan segala kematreannya. "Ah, lo mah kalau ada yang dompetnya tebel dikit aja langsung main embat aja!" cibir Selva. "kalau gue sih milih Bagus ya... Secara itu cowok dulu pernah nolongin Windy. Walopun sempet ngilang Terus notice-nya lelet, tapi kalau dah kayak gini sikonnya, Bagus FTW deh!" "Nope! Dion for the win!" "Bagus!" "Dion!" "Ish, udah dibilang kalau Bagus itu cucok buat Windy!" "Dion yang paling the best, Sel! Masa depan terjamin kalau sama dia. Lo mo apa aja pasti dikabulin! Mo liburan ke Macau sekarang juga pasti Dion jabanin! Naik jet pribadi, Cuy!" "Matre lo!" "Eh, ini bukan matre ya. Ini sih namanya berpikir logis. Di dunia ini, idup perlu duit. Apa-apa harus pake duit. Mau pipis di toilet umum aja bayar ceceng!" Selva menyipitkan matanya. Menatap sahabatnya yang mulai kumat dengan ceramahnya tentang duit-duit-dan duit. "Ini kenapa jadi kita yang repot?!" "Eh, iya juga ya! k*****t bener dah Si Windy!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD