"Kak Bagus," panggil Windy. "Hm?" Bagus menoleh ke belakang. Langkahnya melambat. Menunggu Windy hingga berdiri di sampingnya. "Emm..." gumam Windy ragu. Matanya tertuju pada tangan yang terus Bagus genggam. Bagus menatap Windy. Lalu ia mengikuti ke mana arah pandangan cewek itu. Dan seketika Bagus pun mengerti. "Oh, maaf," gumam Bagus. Terpaksa melepaskan genggaman tangannya dari Windy. Duh, malu lagi. Salah tingkah lagi. Dan pastinya rona merah lagi-lagi akan mewarnai wajah Windy. Bagus berdeham. Tangan yang tadinya menggenggam erat tangan mungil Windy kini terasa kosong. Bergerak canggung di sisi tubuh. "Yuk, aku parkir di situ." Ketika Bagus hendak melangkah, tiba-tiba Windy memanggilnya lagi. "Kak Bagus." Bagus refleks berhenti. Memutar tubuhnya dan menatap Windy. Tak menguca

