s e p u l u h

4139 Words

Windy menarik napas panjang-panjang untuk kemudian ia hembuskan kembali. Sendok yang sedari tadi digenggam ia taruh di samping sumpit. Mulutnya mulai lelah mengunyah. Perut sudah terisi penuh. Rasanya sudah tidak sanggup lagi jika memaksakan mulut untuk melahap yakiniku di depannya itu.   Melihat ekspresi Windy, Bagus juga meletakkan sendoknya. Ia pun segera menelan daging yang sedari tadi dikunyahnya. Lalu meminum air mineral dingin langsung dari botolnya. Matanya tak kunjung lepas dari wajah gadis yang duduk di depannya. Bahkan ketika ia mendongak dan minum.   "Kenapah?" tanya Bagus hampir mendesah setelah selesai meneguk air dingin tersebut. Sedikit cemas dengan ekspresi cewek cantik itu.   Windy menggeleng tanpa menjawab pertanyaan Bagus.   "Capek?"   Windy mengangguk. "Iyaah

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD