Badai mulai galak. Dan itu membuat Embun bingung. Pria itu sepertinya bosan berada di sampingnya karena terus marah-marah. Seperti saat ini, Badai baru saja pulang dari tugasnya. Tengah malam begini, sebenarnya Embun tidak tahu kalau dia tidak terbangun untuk ke kamar mandi. Saat itulah dia baru sadar kalau Badai tidak ada di sampingnya. Dia sempat sedih karena merasa mungkin Badai memang bosan dan memilih untuk tidak tidur di dalam kamar. Tapi kemudian pintu kamar terbuka dan memperlihatkan sosok Badai yang berantakan. Wajahnya penuh dengan jelaga dan juga abu. Badai berbau api dan kayu hangus saat mendekatinya. "Kamu darimana?" Embun menatap Badai dari ujung kepala sampai kaki. Pria itu benar-benar tampak gagah walau dengan keadaan kacau begitu. "Badai...astaga k

