10 SADAR

724 Words
"Kamu gak mabuk kan?"   Pertanyaan Embun membuat Badai kini menggelengkan kepalanya. Enak saja. Dia sadar sepenuhnya sadar. Kenapa wanita di depannya ini mengatakan hal itu.   "Memangnya mulutku bau alkohol apa?"   Badai mencondongkan tubuhnya untuk mendekat kepada Embun. Tapi wanita itu langsung memundurkan tubuhnya. Tampak ketakutan dengan kedekatan mereka.   Badai berdecak sebal lagi. Dia melepaskan genggaman tangannya lalu beranjak berdiri. Kini dia berjalan mondar mandir di depan Embun.   "Lo butuh gue kan?"   Menunjuk Embun yang menatapnya tidak suka. Tapi kemudian wanita itu tampak gugup lagi. Dilihat dari sikapnya yang gelisah Badai tahu ada yang mengganjal di hati Embun.   "Kalau bukan karena Iwan menghamili Wanda. Aku tidak mungkin berada di situasi seperti ini."   Embun mengacak rambutnya dan kini menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.   "Kutu busuk itu tidak pantas membuat kamu seperti ini. Mengadu domba kamu dan adikmu sendiri."   Ucapan Badai membuat Embun kini membuka tangannya dan menatapnya.   "Aku yang bodoh sudah pernah mau menjadi kekasih Iwan."   Badai mengacungkan kedua jempolnya.   "Yes. Itu kamu yang sadar sendiri. Pria macam Iwan itu hanya pecundang. Aku mengaku memang playboy tapi aku tidak pernah menyakiti seorang wanita. Apa yang aku lakukan atas dasar suka sama suka."   Badai kini melihat Embun menatapnya dengan kesal lagi. Tapi Badai hanya mengangkat bahunya.   "Sudahlah. Terima saja menikah denganku. Toh itu menjadi keberuntungan bagimu. Jarang pria seganteng aku mau menikah dengan wanita sepertimu."   Badai kini bersandar di dinding di depan Embun. Dan wanita itu terlihat sangat kesal dengan ejekannya. Tapi inilah dia. Tidak akan ada yang di tutupinya.   "Aku tidak akan menikah dengan..."   "Embun aku mohon.."   Ucapan Embun bersamaan dengan masuknya seorang pria yang langsung menghentikan ucapannya ketika melihat Badai ada di sana.   Badai mengangkat alisnya dan menatap pria yang sangat perlente itu. Dengan setelan jas yang rapi dan tampak mahal itu pria yang wajahnya lebih menyerupai ke cantik daripada tampan itu kini melangkah ke arah Embun yang langsung terkejut melihat pria itu.   "Iwan!"   Badai langsung mengangguk mengerti. Pria itulah yang sedang mereka bahas saat ini.   "Embun. Maafkan aku. Tolong. Aku tidak mencintai Wanda..aku hanya ingin kembali kepadamu"   Badai menatap muak Iwan yang kini berlutut di depan Embun. Dia langsung melangkah maju dan mengulurkan tangan kepada Embun.   Awalnya Embun hanya menatapnya. Membuat Badai langsung menarik tangan Embun untuk berdiri.   "Hei siapa kamu?"   Iwan langsung beranjak berdiri saat Badai sudah menarik Embun untuk berdiri.   "Tunangannya wanita cantik ini." Ucapan Badai tentu saja membuat Iwan langsung menatap Embun dengan tidak percaya.   "Embun ini bohong kan? Kamu masih mencintaiku kan? Ingat janji kita dulu."   Badai langsung mengibaskan tangannya di depan Iwan.   "Pergi sana! Urus bini Lo yang lagi hamil. Jangan ngerecokin calon istri gue lagi. Ok!"   Badai mendorong Iwan untuk keluar dari rumah.   "Embun aku mohon aku mencintaimu."   Iwan masih terus bertahan dengan menatap Embun yang tetap membeku di sebelah Badai. Membuat Badai juga sedikit kesal.   "Hei...tolong sopan ya. Wanita ini sudah bukan milikmu. Jadi bye bye."   Dengan kasar Badai segera mendorong Iwan. Lalu dengan cepat segera menutup pintu tepat di depan wajah Iwan. Lalu segera menguncinya.   Dia menatap Embun yang tampak sangat pucat saat ini. Wanita di depannya ini memang tidak cantik. Wajahnya biasa saja. Bahkan sekarang tampak sangat tidak menyenangkan.   Hidungnya yang sedikit pesek dan kecil. Mulutnya yang terlalu tipis menurut Badai. Rambutnya yang juga  panjang sebahu tapi ikal tak beraturan. Sedangkan bentuk tubuhnya jauh dari semampai atau langsing. Embun memiliki tubuh yang sedikit berisi. Dan juga tidak terlalu tinggi. Mungkin tingginya hanya sekitar 160 cm.   Hanya saja Badai tidak bisa mengalihkan tatapan dari matanya yang indah. Sebenarnya tampak biasa kalau menatap hanya sekilas. Tapi tadi, Badai memiliki waktu untuk menatap mata itu lebih lama. Dan di sana ada binar yang membuat orang langsung bisa terhipnotis dengan itu.   "Kenapa diam saja? Kamu masih ingin kembali kepada pria seperti itu?"   Badai kini melangkah mendekati Embun yang masih berdiri membeku di tempatnya semula. Wanita itu tampak begitu shock.   "Aku...aku tidak menyangka Iwan akan mengatakan itu. Ya Tuhan. Wanda dalam masalah. Aku kasihan dengan Wanda saat ini. Astaga!"   Embun menatap Badai dan sepertinya meminta pertolongan.   "Apakah dia akan kembali ke sini lagi dan menggangguku lagi?"   Badai mengangkat bahunya. Tapi kemudian mengangguk.   "Pria seperti itu tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya."   Embun tampak panik lagi. Kali ini wajahnya benar-benar terlihat jauh dari cantik. Hati Badai menjadi muram. Haruskah dia menikahi wanita ini?   Embun langsung melangkah mendekatinya. Kali ini wanita itu tampak sangat gugup.   "Badai...aku akan menikah denganmu."  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD