9 ALASAN

690 Words
Badai menatap wanita yang kini ada di depannya. Dia tidak menyangka akan menemui wanita ini lagi.   "Kenapa kamu meneleponku?"   Badai bersedekap dan menyesap es cappucino nya. Siang ini terasa begitu panas, Badai sendiri sebenarnya malas berada di cafe ini dan bertemu dengan wanita yang sudah tidak ada hubungan apapun dengannya.   "Aku butuh bantuanmu. Ini mengenai Kak Embun dan juga..ehmm"   Wanda terlihat begitu pucat saat ini. Kenapa kecantikan Wanda terlihat begitu memudar. Tidak seperti wanita yang di kejar-kejarnya kemarin. Wanda sekarang tampak lusuh. Dengan perut yang memang sudah terlihat sedikit membuncit.   "Kenapa minta tolong kepadaku? Bukankah dia kakakmu?"   Badai kini memainkan kunci mobil yang ada di atas meja. Sebenarnya dia malas membicarakan tentang Embun lagi.   "Hanya kamu sepertinya yang bisa menolong Kak Embun...atau katakanlah menolongku. Pria yang menghamiliku ini sebenarnya adalah mantannya Kak Embun."   Badai hampir saja tersedak mendengar ucapan Wanda. Embun punya mantan?   Dia menatap Wanda dengan tak percaya.   "Mantannya kakakmu?"   Badai kembali menegaskan itu. Dan membuat Wanda sekali lagi mengangguk.   "Itu sebabnya Kak Embun mengusirku. Dia murka denganku. Kekasih yang sudah meninggalkannya itu ternyata menghamiliku. Tapi aku mencintai Iwan."   Badai mengernyitkan keningnya. Terlalu tidak suka dengan pembicaraan ini.   "Kamu membuang waktuku dengan berbicara seperti ini kepadaku. Kamu dan Embun bukan urusanku lagi."   "Iwan ingin kembali kepada Kak Embun dan aku tidak mau. Please bantu aku untuk mengalihkan perhatian Kak Embun dari Iwan. Hanya kamu yang bisa."   Badai kali ini sungguh terkejut dengan ucapan Wanda. Sebenarnya ada apa ini?   "Maksudmu Iwan akan menggoda Embun lagi dan aku..."   Badai menunjuk dirinya sendiri. Lalu menggelengkan kepalanya dia segera beranjak dari duduknya. Sudah malas dengan ini semua.   "Aku mohon Badai. Aku tahu kamu yang menyelamatkan Kak Embun dari kebakaran itu. Dan aku tahu kamu berjanji akan menikahinya."   Seketika itu juga Badai langsung menatap Wanda.   "Kamu tahu darimana aku mau menikahinya?"   Wanda langsung pucat pasi. Dia gelisah saat menatap Badai.   "Ehm sebenarnya aku...ehmm Kak Embun yang mengatakan padaku pagi ini. Saat aku mengatakan untuk tidak merayu Iwan lagi, dia bilang kalau dia akan menikah denganmu karena kamu sudah melamarnya."   *****   Badai mengetuk pintu rumah Embun dengan tidak sabar. Dia tidak habis pikir dengan jalan kedua wanita kakak beradik ini.   Setelah mendengar ucapan Wanda, Badai langsung meluncur ke rumah Embun. Dia ingin mendengar sendiri apa yang di ucapkan wanita itu.   Suara langkah kaki terdengar. Dan suara kunci di putar lalu pintu depan terbuka.   Embun langsung melangkah mundur saat melihat Badai sudah berdiri di depannya. Tapi Badai bisa melihat kalau Embun pagi ini terlihat begitu kacau. Rambut masih acak-acakan. Matanya sembab dan dia masih mengenakan piyama tidurnya.   "Untuk apa kamu ke sini?"   Sambutan ketus Embun membuat Badai langsung menerobos masuk rumah Embun. Dia langsung duduk di atas sofa yang ada di ruangan itu.   "Apa-apaan kamu!"   Badai langsung menepuk sisi sofa sebelahnya.   "Duduk aku ingin bicara."   Embun terlihat kesal melihat tingkahnya. Tapi Badai ingin segera mengakhiri ini semua.   "Aku tidak mau. Kamu pergi dari sini atau aku akan berteriak."   Ancaman Embun itu membuat Badai kini berdecak sebal.   "Wanita keras kepala. Aku hanya ingin mengajakmu berbicara. Bukannya memperkosamu."   Tentu saja Embun semakin meradang mendengar ucapannya. Tapi Badai kembali menepuk sisi sebelahnya.   "Duduk!"   Dengan malas akhirnya Embun menjatuhkan tubuhnya di sebelahnya. Lalu menatap galak kepada Badai.   "Aku bertemu dengan Wanda pagi ini."   Ucapannya langsung membuat wajah embun pucat. Wanita itu bahkan menatap Badai dengan tak percaya.   "Dia mengatakan kalau kamu sudah bilang kepadanya aku akan menikahimu. Benarkah itu?"   Tentu saja Embun kali ini tampak gelisah. Badai tahu Embun pasti akan mengelak.   "Bukan urusanmu Badai. Aku mengatakan itu hanya untuk membuat Wanda tidak cemburu lagi denganku."   Badai menyipitkan matanya. Tampak tidak suka dengan ucapan Embun.   "Memangnya Seistimewa apa si Iwan itu? Sampai di perebutkan dua wanita."   Mendengar ucapannya Embun segera membalikkan tubuhnya sepenuhnya ke arah Badai.   "Aku tidak mau membahas ini. Aku.."   Badai terkejut melihat air mata menggenang di pelupuk mata Embun. Wanita itu tampak begitu sedih.   "Aku...aku..." Embun menggelengkan kepalanya. Mencoba untuk menghalau air mata yang akan menetes itu. Tapi Badai langsung menarik tangan Embun yang terkepal di atas pangkuan.   "Aku akan menikahimu!"   Embun langsung menatapnya dengan terkejut. Tampak shock dengan ucapannya. Badai sendiri juga shock mendengar apa yang baru saja di ucapkannya. Mungkin otaknya sedang lurus saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD