8 BUTUH

798 Words
Badai belum sempat menjawab pertanyaan Embun, saat kakaknya masuk ke dalam ruangan periksa. Tentu saja akhirnya dia tidak menjawab, karena teralihkan.   Embun sudah sibuk dengan pemeriksaan terhadap Aya, sehingga melupakan topic pembicaraan mereka. Tapi Badai yakin kalau Embun masih mengira Aya adalah salah satu wanita kekasihnya. Sungguh ironis.   Embun terlalu diliputi kebencian kepadanya, sehingga tidak melihat dirinya dan Aya terlalu mirip untuk menjadi seorang kekasih.   Aya itu seperti kembar dengannya. Yang membedakan mereka hanya jenis kelaminnya saja. Rambut yang hitam lurus juga sama, hidung yang mancung dan bibir yang tipis. Matanya yang besar seperti Adrian, papanya juga sama. Hanya saja kalau Aya mempunyai tahi lalat di sudut bibirnya, sedangkan Badai tidak.   Tatapan penuh kebencian sering kali di berikan Embun kepadanya saat tidak sengaja tatapan mereka bertemu. Badai hanya mengangkat bahu atau menyeringai lebar saat Embun menatapnya. Hal itu membuat Embun makin kesal dengannya.   Dia ingin memberi pelajaran kepada wanita itu. Ingin membuat Embun makin kesal.   " Nanti malam tidurnya aku peluk ya? Tuh katanya kan harus di jaga?" Embun langsung menghentikan aktivitasnya. Padahal wanita itu sedang menuliskan resep untuk Aya setelah melakukan pemeriksaan. Wanita itu tampak menatapnya lagi, tapi Badai hanya mengangkat alisnya.   " Iyalah pokoknya harus dipelukin biar anget. Lagi dingin gini."   Jawaban Aya membuat Badai langsung menyeringai lagi. Tapi kali ini saat dia menatap Embun, wanita itu mencoba untuk tidak mendengarkan mereka. Tapi Badai tahu kalau Embun makin mengira dia adalah kekasih Aya.   "Ini ya resepnya. Langsung di beli di apotik. Saya berikan asam folat yang banyak ya untuk janinnya." Embun menyerahkan kertas resep itu kepada Aya. Dan kakaknya itu menerimanya dengan cepat lalu segera membuka dompetnya tapi Badai mencegahnya.   " Udah aku aja yang bayar." Kakaknya langsung menoleh kepadanya. Dan beranjak dari duduknya.   "Ah kesayangan, kamu memang bisa di andalkan. Tahu aja lagi gak bawa duit receh. Aku tunggu di luar ya? Mau pipis lagi. Eh mbak Bidan, makasih ya." Kakaknya segera bergegas meninggalkan mereka berdua.   Kali ini Badai langsung mengeluarkan dompet dari saku celananya dan menatap Embun yang tengah membereskan peralatanya di atas meja.   "Jadi berapa?" Embun mendongakkan wajahnya dan kini menatap Badai.   "Tadinya aku merasa bersalah kepadamu karena trlah menuduhmu menghamili Wanda saat itu. Tadinya aku juga merasa sangat berutang budi kepadamu karena kamu telah mempertaruhkan nyawa menyelamatkanmu. Tapi semua itu sekarang menguap. Karena kamu sebenarnya sudah membuatku kecewa. Ternyata aku memang tetap membencimu. Sekalinya playboy tetap playboy."   Ucapan tajam Embun itu membuat Badai kini bersedekap lalu menatap Embun lekat.   " So? Apa kesimpulanmu tentang diriku?" Embun tampak salah tingkah di tatap oleh Badai. Wanita itu bahkan mengalihkan tatapannya. Lalu mengusap tengkuknya dengan gelisah.   "Atau kalau boleh aku bilang, apapun penilaianmu kepadaku itu tidak mengubah apapun. Sampai selamanya kamu tetap akan membenciku kan? Jadi kesimpulannya kamu tidak akan menerima lamaranku?"   Embun langsung beranjak berdiri dari tempat duduknya. Wanita itu tampak sangat marah saat ini.   "Aku tidak akan pernah menikah dengan pria sepertimu. Pergi kamu dari sini sekarang juga!" *****   Yah mungkin apa yang dikatakan mamanya terlalu berlebihan. Pikiran Badai mengatakan itu berulang kali sejak semalam. Setelah di usir oleh Embun, dia membuka dompetnya dan menjatuhkan uang seratus ribu ke atas meja praktek dan melenggang keluar.   Dia sudah muak berhadapan dengan kebencian wanita itu. Toh masih banyak wanita lain yang lebih cantik dan mau dengannya. Jadi dia menyerah untuk menikahi Embun.   Kesialannya mungkin hanya kebetulan saja, lagipula dia berpikir kesialan terparahnya adalah kalau dia benar-benar menikah dengan wanita itu.   Pagi ini Badai baru saja menyelesaikan lari paginya mengelilingi kompleks perumahannya. Aya semalam minta menginap di rumah mama dan papanya, dan Badai akhirnya tidur juga di rumah keluarganya itu.   Badai masih cuti dari pekerjaannya. Setiap tahun dia memang mengumpulkan cuti bulanannya untuk beberapa minggu agar menjadi panjang.   "Bang Badai, lagi di sini ya bang?" Teriakan seorang gadis membuat Badai melambaikan tangannya ke arah taman yang ada di depannya. Badai mengusap peluhnya dan kini merenggangkan ototnya. Rutinitas paginya ini memang tidak pernah dia lewatkan. Selain untuk menjaga tubuhnya juga untuk menjaga kebugarannya. Sebagai tim pemadam kebakaran dia dituntut untuk tetap bugar.   "Temenin Anya dong bang, nanti kita belie s krim di sana!" Gadis cantik itu masih berteriak kepada Badai. Tapi kali ini Badai hanya melambaikan tangannya.   " Sory Anya cantik, Bang Badai lagi sibuk nih. Besok deh Bang Badai ajakin nonton bioskop ya?" Gadis yang bernama Anya itu langsung bersorak girang di tempatnya. Badai kembali melambaikan tangan dan kali ini meniupkan ciuman jarak jauh kepada gadis itu.   Badai hanya menggelengkan kepalanya dan kembali melangkah meninggalkan taman. Dan saat itulah ponselnya berdering.   Badai dengan cepat mengambil ponsel dari dalam sakunya dan mengernyit melihat nomor asing yang ada di layar.   "Siapa nih?" Badai langsung menjawab telepon tersebut.   " Badai?"   Badai langsung mengernyit saat mendengar suara itu.   "Yap."   Badai hanya menjawab singkat dan kini menghembuskan nafas dengan lelah. Dia tidak mau berurusan dengan wanita ini lagi.   "Aku butuh bantuanmu!"  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD