7 TERPAKSA

1257 Words
"Awwwhhhh... Sakit kak."   Badai mengerang kesakitan saat pipinya dipegang oleh Aya. Tepatnya Cahaya, kakaknya itu kini tempat Badai tiap kali dia membutuhkan bantuan.   "Kamu sih Dai suka mainin cewek, ini nih jadi kena tampar kan?"   Badai menggerutu saat kakaknya yang cantik itu kini meletakkan satu wadah es batu sisa untuk mengompres memar pipinya karena di tampar oleh Embun.   Sebenarnya dia memang bersalah. Saat mengatakan 'menikahlah denganku!' kepada Embun membuat wanita itu terkejut. Tapi yang membuat Badai kesal karena Embun tidak menjawab apapun dan langsung pergi meninggalkannya.   Dia belum pernah di tolak oleh wanita. Apalagi ini masalah yang serius, mengajak menikah. Dan baru pertama kali ini dia menawarkan pernikahan kepada seorang wanita yang menanggapinya dengan angin lalu.   Maka dari itu Badai berlari mengejar Embun. Kesalahannya adalah dia mengatakan sesuatu yang menyakiti wanita itu.   'Jangan belagu deh. Wanita gak laku kayak kamu itu harusnya beruntung banget bisa nikahin aku.'   Nah hal itulah yang membuat Badai kena tampar. Dan hebatnya lagi tamparan Embun benar-benar berefek. Pipinya memerah dan terasa nyeri.   Maka di sinilah dia berada. Di cafe milik Kak Aya. Kakaknya itu membuka sebuah cafe bersama suaminya.   "Kak lamarin Badai ke cewek dong."   Ucapannya membuat Aya menghentikan aktivitasnya yang sedang mengaduk cappucino di depannya. Mereka memang tengah duduk di dalam cafe yang masih tampak lengang karena memang masih sore. Biasanya cafe akan ramai setelah malam menjelang.   "Serius Lo? Ini bukan April mop kan?"   Kakaknya itu mengusap perutnya yang memang tengah membuncit karena kehamilannya.   "Ya enggaklah. Nih Badai lurus salah, Badai belok-belok tambah salah lagi. Susah nih ah."   Badai menyugar rambutnya lalu menyesap kopi hitam yang ada di depannya.   "Wow! Lo salah makan nasi kali Dai hari ini. Atau masih ngelindur ya?"   Badai berdecak kesal lagi saat mendengar sang kakak masih tidak percaya ucapannya. Bersamaan dengan itu Rani salah satu karyawan kakaknya datang menghampiri dengan membawakan satu mangkuk es krim strawberry pesanan sang kakak.   "Eh ada Bang Badai. Tumben jam segini ke sini Bang? Gak tugas gitu?"   Badai langsung tersenyum lebar mendengar sapaan Rani. Wanita manis dengan rambut panjang sebahu itu memang sering digoda oleh Badai.   "Kangen sama Rani."   Badai mengedipkan matanya ke arah Rani yang langsung tersipu malu itu.   "Badai!" Hardikan sang kakak membuat Badai menyeringai ke arah kakaknya. Sedangkan Rani sudah beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.   "Cantik gitu loh kak. Sayang udah punya cowok ya?"   Kakaknya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.   "Kayak gitu masih mau suruh ngelamarin cewek?"   Badai langsung tersadar apa yang menjadi tujuannya ke sini. Dia kini bersedekap dan menatap Kak Aya.   "Gini loh kak. Pas kemarin dulu itu Badai nyelametin cewek tuh. Ya namanya lagi terdesak kan? Antara hidup dan mati, ditengah panasnya api Badai buat nazar nih kalau bisa selamat bawa cewek itu keluar Badai bakalan nikahin tuh cewek."   Suara tawa keras langsung terdengar dari sang kakak.   "Alhamdulilah adikku udah sadar."   Badai langsung memberengut mendengar ucapan Aya.   "Dari dulu juga udah sadar dan ganteng."   "Wuuu sombong lu!"   Badai kembali menyeringai saat Aya menoyor kepalanya.   "Lah lalu udah sadar kamu ganteng kenapa minta bantuan lamarin?"   Aya terlihat menyipitkan matanya dan menatap Badai dengan curiga.   "Masalahnya nih ya. Itu cewek bukan tipe Badai. Jauhlah. Tadinya sih gak niat mau nikahin. Tapi selama satu Minggu hidup Badai penuh dengan kesialan. Dan kata Mama karena Badai belum ngelaksanain apa yang menjadi nazar Badai. "   Aya menatapnya makin curiga. Lalu mencondongkan tubuhnya ke depan dan kini menggeleng.   "Jangan bilang kamu mau nikahinnya karena janji itu aja?"   Badai langsung mengangguk dan mencubit pipi Aya dengan gemas. Membuat kakaknya itu langsung memundurkan tubuhnya lagi dan menggerutu.   "Cakep deh kakak gue. Cantik dan pintar."   Badai mengacungkan kedua jempolnya. Yang membuat Aya kini melotot.   "Ogah ah. Enak aja. Namanya nikah itu ya harus serius Dai. Bukan main-main. Lagipula nih ya kamu udah tua Dai, mau cari apa sih?"   Badai berdecak lagi mendengar kakaknya yang mulai ceramah panjang lebar.   "Kak. Badai masih belum nemuin yang klik. Jadi ya gitu deh. Udah ah mau ngelamarin gak? Please! Kakak gak mau kan adek Lo satu-satunya yang ganteng ini kena sial terus?"   Aya langsung menggeleng lagi.   "Bodo' deh Dai. Sekali-kali dapat kesialan kan biar Lo sadar!"   Badai kini memutar bola matanya mendengar ucapan sang kakak.   "Ish kejem." Badai menyesap kopi hitamnya lagi. Tapi kemudian dia teringat sesuatu.   "Heh kak. Dia ini seorang bidan loh. Kak Aya kemarin kan lagi cari Bidan kan?"   Kakaknya langsung menatapnya dengan penuh perhatian.   "Bidan? Cewek yang kamu selamatin ini seorang bidan?"   Badai langsung mengangguk. "Yoi bener banget, jadi gimana?"   *****   Badai mengetuk pintu rumah itu lagi. Sebenarnya dia sudah malas menginjakkan kakinya di sini lagi. Tapi bagaimanapun juga dia kan seorang pria sejati yang harus menepati janjinya.   "Mau ngapain lagi kamu ke sini? Mau ngehina aku lagi?"   Suara galak itu langsung membuat Badai mengangkat wajahnya. Dan menatap Embun yang kini menatapnya marah.   "Selamat malam, maaf kita ganggu nih."   Tepat saat Badai ingin menjawab, kakaknya yang tadinya ada di belakangnya langsung bersuara. Embun terlihat terkejut dengan kehadiran Kak Aya   "Mbak ini bidan ya?"   Pertanyaan Aya langsung membuat Embun mengangguk.   "Ah senengnya. Saya mau dong jadi pasiennya? Kebetulan saya ini lagi cari bidan yang sabar dan bisa bimbing saya sampai kelahiran nanti."   Cerocosan kakaknya itu membuat Embun sekali lagi mengangguk tapi kali ini tersenyum lebih ramah.   Tapi kemudian melirik ke arah Badai dengan pandangan menuduh. Badai membalasnya dengan menyipitkan matanya. Embun langsung mengalihkan tatapannya lagi ke Aya.   "Owh mari ke ruangan praktek ya?"   Cahaya langsung mengangguk dan merangkul kan lengannya di lengan Badai. Sekilas Badai bisa melihat Embun melirik tangan Aya itu. Tapi kemudian berbalik dan menyuruh mereka masuk ke  sebuah ruangan.   "Makanya tuh Mas Rain suruh pulang dong jangan kerja di kapal terus. Kayak gini kan susah jadinya. Badai lagi yang harus nganterin."   Bisik Badai ke arah Aya. Yang sekarang masih menggelendot di lengannya itu.   "Ish berisik. Awas Lo gak gue lamarin."   Balasan Aya membuat Badai langsung mengecup pipi kakaknya itu.   "Ih gitu aja ngambek. Cantik deh."   Bertepatan dengan itu Embun berbalik setelah membuka sebuah ruangan yang bisa dipastikan itu adalah ruangan praktek Embun.   "Ehem silakan masuk."   Embun mendahului mereka masuk ke dalam ruangan itu. Ruangan yang tampak rapi, bersih dan berbau obat itu memang layak menjadi tempat praktek.   Ada sebuah brankar, rak penuh obat dan juga meja periksa.   "Silahkan duduk." Embun kini duduk di balik meja periksa nya. Sedangkan Badai dan Aya kini duduk di depan meja yang berhadapan dengan Embun.   "Sudah berapa bulan ya kandungannya?"   Pertanyaan Embun itu membuat Aya langsung menoleh kepada Badai.   "Berapa ya Dai? Pas terakhir aku suruh nganterin ke dokter itu, aku lupa deh."   Badai mencibir mendengar pertanyaan kakaknya. Aya memang sering kali tidak mendengarkan kalau sedang di jelaskan oleh dokter.   "Dua bulan. Masa hamil sendiri lupa juga."   Aya langsung menyeringai. Dan menoleh kepada Embun.   "Iya, dua bulan. Maaf lah saya suka lupa. Tapi dia yang sering ngingetin."   Embun langsung melirik Badai dengan tatapan tak suka. Badai hanya mengamati Embun yang tampaknya memang tidak suka dengan kehadirannya di sini.   "Aduh kebelet pipis. Mbak kamar mandi dimana ya?"   "Owh ada di luar dari ruangan ini, belok kanan aja itu udah kamar mandi."   Aya langsung beranjak dari tempat duduknya setelah mendengar ucapan Embun.   "Mau aku anterin?" Badai menoleh ke arah kakaknya yang sudah mau melangkah itu.   "Ih romantisnya. Tapi enggak deh. Cuma pipis ini." sang kakak mengacak rambutnya dan segera melangkah keluar. Badai hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Selalu dia itu memang dekat dengan sang kakak.   "Owh jadi kamu udah hamilin anak orang dua bulan, masih deketin Wanda dan mencoba melamarku? Hebat ya kamu!".   Badai langsung menoleh ke arah Embun. Wanita itu tampak sangat kesal dengannya.   "Hamilin dua bulan?"   Embun langsung mengangguk lagi.   "Dua bulan dan sangat romantis. Kamu itu memang playboy sejati ya?"  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD