6 WAKTU BERBALIK

924 Words
Badai mengutuk dirinya sendiri. Kenapa dia bisa terjebak dalam situasi seperti ini. Sungguh, semuanya menjadi kacau. Selama hampir satu Minggu ini pekerjaannya tidak ada yang beres dan dia selalu mengalami kesialan.   Yang ban mobilnya bocor saat tengah malam di daerah pinggiran kota. Yang akhirnya buat dia tidur di mobil sampai pagi menjelang dan menunggu bantuan datang.   Atau dia terpeleset begitu saja saat akan keluar dari dalam kamar mandi kamarnya setelah dia mandi. Membuat kakinya terkilir begitu sakit. Melangkah harus dengan hati-hati.   Sampai lupa mengisi pulsa untuk listriknya. Sehingga di tengah malam dia bergelap gulita di rumahnya.   Badai kini menyesap kopi hitamnya. Lalu menatap mamanya yang kini tengah mengiris kue lapis di depannya.   Ini dia berkunjung ke rumah orang tuanya karena air di komplek perumahannya juga sudah dua hari ini mati.   "Mah emang ada ya sial kok berturut-turut?" Badai sedikit meringis saat menggeser kaki kirinya yang terkilir dan sedikit bengkak itu.   Sang mama hanya mengernyitkan keningnya   "Heh, gak adalah kesialan itu. Hanya kurang beruntung."   Badai berdecak mendengar ucapan mamanya.   "Adalah ma, sejak kemarin habis tugas terakhir itu. Yang kebakaran di klinik persalinan itu loh ma. Hidup Badai kayaknya kok sial terus."   Mamanya kini menghentikan aktifitasnya. Lalu menatapnya.   "Badai. Mama kan tidak pernah setuju kamu jadi pemadam kebakaran. Profesi yang membuat nyawa kamu selalu terancam."   Badai kini memainkan kuncir rambutnya. Lalu hanya menghela nafasnya. Dia tidak bisa menghindari kalau mamanya sudah membahas itu lagi.   "Besok deh ma kalau Badai udah bosan jadi pahlawan, ntar Badai mau megang perusahaannya Kakek. Tapi untuk sekarang, kira tinggalkan itu dulu. Bahas ini lagi, kenapa kaki Badai jadi terkilir gini?"   Sang Mama hanya tersenyum mendengar ucapannya yang absurd.   "Biar kamu gak godain cewek seksi lagi. Harusnya kamu bersyukur Dai. Kamu bisa nyelamatin bidan yang lagi praktek malam itu kan? Mama bangga deh."   Nah itu. Badai langsung sebal mengingat hal itu di singgung lagi.   "Malas ah bahas itu."   Badai kini menatap mamanya yang tersenyum lebar.   "Woooo jangan-jangan ceweknya gak seksi ya? Jadi kamu gak mau bahas itu lagi? Eh gak baik loh Dai, kalau Mama nih ya milih yang wajahnya biasa aja tapi hatinya secantik malaikat."   Badai mencibir mendengar ucapan sang mama. "Mah, itu papah ganteng berarti hatinya gak secantik malaikat dong ma?"   Kali ini mamanya langsung melotot.   "Ini bahas cewek Dai. Jangan alihin pembicaraan. Kamu sial kali ada nazar yang belum kamu tepatin."   Mendengar itu Badai langsung memejamkan matanya. Lalu terngiang apa yang di ucapkannya waktu itu.   Badai langsung membuka matanya dan menatap sang Mama yang masih menatapnya penasaran.   "Mah emang kalau nazar itu harus di tepatin ya?"   Sang Mama langsung mengangguk. " Iya harus. Wajib."   *****   Badai melangkah pincang menaiki teras rumahnya Embun. Dengan susah payah dia mengendarai mobilnya sampai ke sini.   Saat terakhir dia keluar dari rumah ini dengan keadaan emosi malam itu.   Tepat saat dia sampai di ambang pintu, tiba-tiba pintu itu terbuka. Dan wanita yang telah membuatnya sial selama ini tampak di depannya.   Kali ini terlihat sedikit lebih segar dengan blouse berwarna biru navy dan celana jins. Meski yah walaupun pakai baju apapun juga Embun tetap tidak terlihat cantik.   "Mau apa kamu ke sini?"   Sambutan Embun yang sinis itu membuat Badai menghembuskan nafas kesal. Niat awal dia akhirnya luntur karena sambutan itu. Dia langsung membalikkan badannya dan sudah akan menuruni tangga saat terdengar Embun memanggilnya.   "Kaki kamu kenapa? Bengkak dan membiru begitu?"   Badai memang hanya memakai celana jins selutut sehingga bagian mata kaki yang bengkak itu terlihat jelas.   "Bukan urusanmu!" Tapi Badai segera berbalik lagi dan kini berkacak pinggang.   "Ini semua gara-gara kamu!"   Badai menunjuk Embun dengan telunjuknya. Membuat wanita itu langsung mengernyitkan keningnya   "Gara-gara kamu menyebut tentang janjiku yang akan menikahimu itu sehingga aku sial selama satu Minggu ini."   Mata bulat itu makin terlihat besar. Badai kini menatap puas ekspresi Embun   "Atau jangan-jangan  kamu mengguna-gunaiku sehingga aku tidak bisa beralih dari janjiku ini kan?"   Dan kali ini pemahaman bisa terlihat jelas di wajah Embun. Lalu wajah yang tadinya biasa saja itu kini berwarna merah. Badai tahu kalau Embun marah.   "Jangan kegeeran kamu. Siapa yang mau menikah sama playboy cap kucing kayak kamu."   Badai kini memberengut mendengar sebutannya.   "Aku memang playboy. Tapi juga tak mungkin mau dengan wanita perawan tua seperti kamu.".   Embun kini terlihat menghela nafasnya. Lalu melangkah maju mendekatinya.   "Waktuku terbuang sia-sia karena kamu. Jadi menyingkir dari hidupku untuk selamanya. Selamat tinggal!"   Embun sedikit mendorong tubuhnya. Mungkin hanya sedikit tapi karena kakinya yang kiri tidak kuat untuk menyangga tubuhnya. Akhirnya dia jatuh terduduk. Dan membuat kakinya yang bengkak terantuk pinggiran tangga teras.   "Awwwwwhhhhhhh." Badai mengerang kesakitan. Menatap kakinya yang bengkak itu.   "Astaga!" Suara Embun terdengar. Tapi Badai sudah sangat kesal dengan wanita itu.   "Gue nyesel datang ke sini. Ternyata ada Lo nambah kesialan gue."   Ucapannya kembali menjadi Lo gue kalau dia sedang kesal. Badai meringis lagi  menahan rasa nyeri yang kini terasa di kakinya. Dan sebelum Badai bisa menghindar, tiba-tiba Embun sudah duduk di sebelahnya lalu menyentuh kaki Badai.   "Lo mau ngapain? Jangan bilang mau matahin kaki gue yang ini?"   Embun menatapnya kesal.   "Memang mau aku patahin!"   Kleeekkk   "Astagaaaaaaaa adaaaaaaawwwwww!"   Badai berteriak dengan begitu kencang saat merasakan kakinya yang terkilir itu tiba-tiba di tarik oleh Embun. Dia mengumpat untuk beberapa saat. Tapi kemudian perlahan rasa nyeri itu mulai hilang. Bahkan sudah tidak terasa nyeri lagi.   Saat dia mendongak untuk menatap Embun. Wanita itu sedang mengusap telapak tangannya dengan tisu antiseptik.   "Sekarang sudah bisa jalan kan? Aku perintahkan untuk segera menyingkir dari hadapanku. Tuan Badai yang terhormat!"   Badai langsung mendengus kesal. Ingin rasanya dia mencekik wanita di depannya itu.   Badai beranjak bangun dengan susah payah. Lalu menegakkan tubuhnya.   "Kita perlu bicara. Hentikan semua kesialanku. Menikahlah denganku!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD