Badai mengerang lagi. Kepalanya terasa pening saat ini. Sungguh, yang diinginkannya adalah meringkuk di balik selimut tebal di atas kasur di dalam kamarnya yang hangat dan nyaman.
Tapi dia merasa bodoh berada di sini saat ini. Dengan hawa dingin yang mulai menusuk tulangnya. Dan juga keadaan yang jauh dari nyaman.
Badai kini tengah berdiri menempel di dinding. Tangan bersedekap dan menatap pintu kamar mandi yang ada di depannya.
Entah kenapa dia menjadi orang yang terperangkap di sini. Padahal dia bisa saja meninggalkan Embun begitu saja saat dia sudah berhasil membantu membukakan pintu rumah wanita itu.
Tapi dia malah ikut masuk dan mengikuti Embun yang tampak pucat pasi itu menuju kamar mandi. Dan menjadi orang bodoh dengan menunggui wanita itu melakukan apapun di dalam sana.
Suara pintu kamar mandi terbuka membuat Badai kini mendongakkan wajahnya. Melihat Embun sudah berganti piyama tidur polos warna biru navy. Wanita itu tetap sama saja dengan pakaian apapun. Terlihat hambar. Tidak jelek tapi juga tidak cantik. Hanya saja kali ini yang berbeda, rambutnya yang biasa di kuncir itu kini tergerai basah sebahu.
"Kamu bisa pulang. Aku sudah lebih segar."
Wanita itu masih berdiri di ambang pintu kamar mandi dengan waspada. Kenapa wanita itu selalu curiga dengannya? Hal itu membuat Badai kesal.
Dia menegakkan tubuhnya lalu melangkah mendekati Embun. Yang bisa di duga Badai wanita itu langsung melangkah mundur.
"Kalau aku terlihat sangat berbahaya kenapa aku mati-matian menyelamatkanmu? Kamu pikir yang ada di otakku hanya wanita cantik dan seksi saja?"
Kali ini Embun langsung membelalakkan matanya mendengar ucapan Badai. Bahkan kini pipinya tampak merona.
"Memang itulah isi otakmu!"
Ucapan Embun kali ini membuat Badai melangkah maju lagi. Embun tampak bergeser dan keluar dari kamar mandi. Lalu bersandar di dinding sebelahnya. Tampak terperangkap karena tangan Badai terulur untuk menahan Embun.
"Memang, otakku di penuhi oleh wanita yang cantik dan seksi. Tapi bukan wanita sepertimu. Jadi kamu tenang saja. Aku tidak merasakan apapun terhadapmu. Jadi nona keras kepala, aku ingin minum secangkir kopi sebagai tanda terimakasihmu kepadaku. Dan jangan takut aku akan meminumnya dengan cepat sehingga kamu tidak akan merasa terintimidasi olehku."
Badai menarik Embun sehingga tubuh wanita itu menempel erat di dadanya. Dia bisa merasakan kehangatan langsung menyelimutinya. Badai terkejut. Seperti merasakan sengatan yang belum pernah terjadi.
Badai langsung melepaskan pelukan itu dan menjauh dari Embun.
"Aku tunggu di ruang tamu."
Ucapnya dingin untuk mengurangi rasa tidak nyamannya karena kontak fisik dengan Embun. Sebelum Badai kehilangan akal sehatnya, dia sudah berbalik dan melangkah ke arah ruang tamu.
****
Hampir terlelap saat terdengar suara langkah kaki. Badai membuka matanya. Dia bersandar di sofa empuk yang ada di ruang tamu rumah Embun.
"Maaf aku tidak punya persediaan kopi. Yang ada hanya ini."
Badai melihat embun meletakkan satu cangkir coklat panas. Dan dia mengernyitkan keningnya. Tidak suka dengan apa yang tersaji.
"Coklat? Aku bukan cewek. Coklat itu hanya untuk cewek."
Embun menghempaskan tubuhnya di atas sofa di depannya. Masih tampak begitu pucat.
"Coklat itu bisa menenangkan syaraf yang tegang. Cobalah."
Embun menyesap coklat yang ada di dalam cangkir yang di pegangnya.
Sedangkan Badai hanya mengamati dengan malas. Dia ternyata buang-buang waktu saja di sini.
"Ehm kenapa kamu mengusir Wanda?"
Badai mencoba bertanya tentang hal itu. Membuat Embun sedikit tersedak. Lalu Badai memajukan tubuhnya untuk mengamati Embun yang kali ini mengusap coklat yang mengenai piyamanya.
"Apa karena Wanda hamil dengan laki-laki yang bernama Iwan itu ya? Aku pikir kamu itu sangat menyayangi Wanda, tapi kenapa kamu begitu kejam saat mendengar Wanda hamil dengan laki-laki yang mungkin saja dulu pacarmu?"
Pipi Embun tampak memerah.
Skak mat.
Badai bisa menebak apa yang ada di pikiran Embun saat ini.
"Iwan bukan pacarku. Aku tidak Sudi mempunyai pacar yang tega menghamili adikku."
Jawaban Embun membuat Badai mengangkat alisnya lagi. Dia kini melepas karet yang menjadi kuncir rambutnya. Lalu mengacak rambutnya yang terasa begitu kotor. Karena memang dia belum mandi sejak menyelamatkan Embun tadi. Sedangkan wanita yang di selamatkan nya sudah tampak bersih dan segar saat ini. Sungguh sangat tidak adil baginya.
"Pasti. Mana mungkin Iwan suka sama kamu atau tidak mungkin dia menjadi pacar kamu. Dan bisa aku pastikan kalau kamu hanya cinta bertepuk sebelah tangan kepadanya. Dan Iwan lebih memilih Wanda yang seksi dan cantik."
"Badai!" Embun hampir menjerit saat Badai mengucapkan itu. Pipi wanita itu sungguh merah saat ini. Badai tahu kalau Embun marah. Tapi hal itu membuat Badai merasa lega. Berarti Embun sudah sehat kalau sudah bisa marah.
Dia mengambil cangkir yang ada di atas meja
Lalu meneguk coklat hangat itu dengan cepat. Setelah itu dia berdiri.
"Aku pikir kamu sudah sehat. Jadi aku pulang."
Badai tak menunggu jawaban Embun. Dia langsung melangkah menuju pintu.
"Badai! Tadi aku sempat mendengar saat kamu akan menembus api, kamu akan menikahiku jika selamat dari kebakaran? Apakah itu benar?"
Tubuh Badai langsung membeku. Kakinya terasa begitu berat saat ini. Bodoh. Kenapa dia lupa dengan janji itu.
"s**t!"