Api itu berkobar dengan begitu cepat. Melalap semua yang ada di depannya.
Berusaha menembus api yang makin membumbung tinggi.
Badai menembus asap yang membuatnya terbatuk-batuk. Suara orang batuk juga terdengar begitu nyata di depannya.
Ini tugasnya. Ini kewajibannya. Suara kaca pecah yang begitu nyata membuat Badai berhenti untuk sesaat. Dan kini menatap atap rumah yang tiba-tiba ambruk begitu saja. Memancarkan cahaya jingga dari api yang menjilat dengan nyata di depannya.
Badai mulai menyingkirkan kayu yang ada di depannya. Mencoba menyingkirkan apapun yang menghalangi jalannya.
Matanya sudah terasa pedih, nafasnya sudah terbatas. Saat akhirnya dia bisa menembus ruangan yang di duga masih ada korban kebakaran yang tertinggal.
Suara batuk seorang wanita makin membuatnya menatap depannya yang sudah berkabut asap. Jilatan api yang mulai membakar tembok sampingnya membuatnya segera berlari dan mencoba meraih seorang wanita yang kini meringkuk di atas lantai.
"Tenanglah. Kita akan keluar dari sini."
Badai merengkuh wanita itu. Wanita yang sepertinya sudah kehabisan nafas karena asap pekat yang kini mengelilingi mereka. Hawa panas mulai terasa membakar tubuhnya.
Badai langsung menggendong wanita itu. Membawanya dalam tangannya yang tegap. Dia memejamkan mata untuk mencoba menguatkan diri. Lalu membuka matanya dan menatap nanar api yang sudah membakar hampir seluruh ruangan kamar ini.
Tapi Badai harus bisa menyelamatkan wanita ini.
"Eeeehh..."
Erangan wanita itu membuat Badai dengan nekat menembus pintu yang sudah di lahap api. Baju seragamnya memang sudah di desain anti api. Tapi dia takut tubuh wanita yang digendongnya itu terkena jilatan api.
"Kalau kita selamat sampai di luar, aku akan menikahimu!"
Itu janji yang diucapkan karena kondisi mendesak. Selama 3 tahun ini dia menjadi pemadam kebakaran, belum pernah dia menyelamatkan seseorang dalam kondisi yang sangat parah ini.
Dia tidak peduli kalau wanita yang diselamatkannya ini jelek ataupun sudah tua. Dia hanya meneriakkan kata-kata itu untuk memperkuat tekadnya. Dia masih ingin hidup dan menikmatinya. Jadi dia belum mau mati.
Setelah berteriak, Badai akhirnya berlari dengan cepat. Rasa panas terasa menjilat tubuhnya. Tapi dia terus berlari dengan seorang wanita ada di dalam gendongannya.
Badai tetap berlari. Tidak peduli. Sampai akhirnya dia bisa menghirup udara segar. Beberapa orang langsung menyambutnya.
Dia jatuh bersimpuh di atas tanah yang juga terasa panas.
"Alhamdulilah."
Dia kembali berteriak. Wanita yang ada di dalam gendongannya terbatuk. Lalu menggeliat.
Badai baru tersadar. Akhirnya dia menunduk dan mencoba untuk melepaskan wanita itu. Semua teman-temannya mengerubunginya.
"Hebat kau Dai."
"Perlu oksigen?"
Semua orang mengerubutinya dan wanita yang menjadi korban itu.
"Uhuk- uhuk"
Badai melepas helm dan jaket seragamnya lalu dia terduduk di atas tanah. Matanya menatap kerumunan orang. Lalu rasa lega kembali menyerangnya.
"Aku masih hidup. Terimakasih Tuhan!"
Dia kembali berteriak. Menyambut pelukan semua timnya lalu kemudian matanya tertumbuk pada wanita yang telah di selamatkan nya. Seketika itu juga otaknya membeku.
Dia sudah berjanji akan menikahi wanita itu saat tadi berlari keluar dari rumah. Lalu Badai kini menyipitkan matanya. Menatap wanita yang tengah membungkuk dan terbatuk-batuk itu. Lalu melihat dengan jelas saat wanita itu mengangkat wajahnya dan menoleh ke arahnya.
Dan demi apapun. Dia tidak siap untuk menerima kenyataan ini.
Haruskah dia menikahi wanita yang di bencinya?
*****
"Hebat Lo Dai...keren ah." Suara Randi temannya satu tim kini membuat Badai menggelengkan kepalanya. Dia masih memakai oksigen. Dia kini berada di rumah sakit. Luka-lukanya karena dia tadi menerobos masuk ke dalam ruangan itu.
Di sebelahnya ada wanita yang di selamatkan nya tadi. Kini tampak terbaring lemah karena terlalu shock.
Embun. Wanita yang di selamatkan nya adalah Embun. Kakak dari Wanda yang sudah hampir dua bulan ini tidak di temuinya lagi. Dan Badai merasa sial telah bertemu dengan wanita itu lagi.
"Ah biasa aja. Udah deh habis ini gue mau pulang, bau Asep nih mau mandi."
Badai langsung beranjak dari duduknya. Seorang perawat yang kini tengah membebat lengannya dengan perban menyuruhnya untuk tetap duduk.
"Tidak boleh terkena air dulu ya lukanya kalau bisa." Badai memberengut mendengar itu.
"Sus, orang cuma tergores kayu doang kok."
Tapi Randi temannya itu kini menepuk bahunya.
"Jangan ngeyel Lo ah. Habis ini Lo di suruh ke kantor dulu sama buat laporan ama komandan."
Badai langsung menggelengkan kepalanya lagi.
"Besok kenapa sih? Gue mau tidur abis ini."
Randi langsung berkacak pinggang.
"Lo yang ke kantor atau gue?"
Badai langsung menunjuk Randi.
"Lo aja."
"Ok. Tapi Lo harus nganterin korban sampai ke rumahnya. Kasihan dia masih lemas dan shock. Untung saja lo bisa bawa dia keluar."
Badai langsung membelalakkan matanya mendengar itu semua.
"Woi ya kagak bisa..."
Badai langsung melihat Embun kini terbangun. Wanita itu tampak menatap sekeliling ruangan IGD itu. Lalu menatap Badai.
"Badai?"
Tentu saja Randi langsung menatap Badai.
"Lo kenal Ama ni cewek?"
Badai langsung menggelengkan kepalanya lagi. Tapi Randi sudah tersenyum lebar.
"Ok. Kalau gitu sip deh. Lebih gampang Lo yang nganterin. Lo pakai mobil gue aja nih."
Randi melemparkan kunci mobil miliknya tepat di atas pangkuan Badai. Dan sebelum Badai mengelak, Randi sudah melangkah keluar dari ruangan itu. Tepat saat perawat yang merawat luka Badai selesai.
"Mas, ini mbaknya udah boleh pulang kok. Nanti obatnya bisa diambil di apotik ya?"
Tentu saja Badai hanya mengangguk. Dia lagi akhirnya yang harus mengantarkan Embun.
Badai melangkah mendekati brankar. Dan mengamati Embun yang kini tampak pucat pasi dan beranjak dari tidurnya. Perawat tadi membantu Embun untuk duduk dan beranjak turun dari brankar. Tubuh Embun langsung limbung begitu menapak lantai.
Tentu saja Badai langsung refleks menangkap tubuh Embun.
"Astaga! Kayak gini udah boleh pulang ke rumah?"
Badai menatap perawat tadi. Sedangkan Embun berusaha untuk menegakkan diri. Tapi Badai menahannya.
"Diam Lo! Tubuh masih lemah gini kok."
Badai membentak Embun yang langsung terdiam. Wanita itu tidak seperti biasanya yang selalu galak dengannya.
"Udah boleh kok. Ini hanya shock karena kebakaran tadi. Luka-lukanya hanya luka ringan. Untung Mas Badai cepat menyelamatkannya."
Ucapan sang perawat membuat Embun langsung menatapnya. Sedangkan Badai sudah kesal karena di singgung tentang itu lagi.
"Ya udah kita pulang." Dengan cepat Badai menarik tubuh Embun yang masih ada di dalam dekapannya. Wanita itu menurut dan diam.
*****
Selama perjalanan pulang, Embun hanya diam. Atau tertidur, Badai tidak peduli itu. Lututnya terasa nyeri saat ini karena tergores kayu saat dia berlari menembus kobaran api. Ingin segera sampai rumah dan tidur.
Badai menghentikan mobilnya tepat di halaman rumah Embun.
"Udah sampai." dia mengucapkan itu dengan keras. Membuat Embun langsung terjaga. Benar wanita itu sempat tertidur tadi, pikir Badai.
Embun langsung merapikan rambutnya dan kini menoleh kepada Badai.
"Makasih".
Badai hanya mengangkat bahu.
"Sudah tugas gue." jawabnya cuek.
Embun menatapnya sesaat, tapi kemudian membuka pintu mobil dan segera turun.
Badai hanya mengamati Embun yang menutup pintu lalu melangkah menuju halaman rumahnya. Tapi belum sampai teras tiba-tiba Embun terjatuh. Hal itu membuat Badai refleks membuka pintu mobil dan meloncat keluar.
Dia segera berlari menuju tempat Embun terjatuh lalu membantunya untuk berdiri
"Gue panggilin adek Lo deh." Badai sudah akan melangkah masuk ke dalam rumah saat Embun menarik tangannya.
"Enggak usah. Wanda sudah tidak ada di rumah. Aku mengusirnya."
Badai menyipitkan matanya mendengar ucapan Embun.
"Aku bisa kok. Terimakasih sekali lagi."
Embun melangkah perlahan meninggalkan Badai dan mulai menuju pintu depan. Badai hanya menatap Embun. Tapi saat melihat wanita itu tampak kesusahan membuka pintu, membuat Badai mengumpat.
"Sial." Badai akhirnya berlari dan mendekati Embun lagi yang berdiri gemetaran di ambang pintu.
"Gue yang bukain pintunya "