Badai mengacak rambutnya. Terlalu kesal dengan wanita di depannya. Sungguh, seperti terkena kotoran yang jatuh ke mukanya. Dia tidak melakukan apapun tapi menjadi tertuduh utama.
"Maksud kamu aku yang menghamili Wanda?"
Badai kembali menatap Embun yang kini menatapnya dengan tatapan benci kepadanya. Mereka telah berpindah dari dalam cafe ke area parkir mobil yang ada di halaman belakang cafe. Dan Badai membiarkan Embun berdiri di depannya. Padahal dia sendiri sudah duduk di dalam mobilnya dengan pintu terbuka.
"Sekarang juga kamu ikut ke rumah. Dan nikahi adikku. Wanda sedang stres berat."
Badai meniupkan asap rokok ke depan wajah Embun. Wanita itu terbatuk- batuk dan melangkah mundur.
"Kalau aku tidak mau kamu mau apa?"
Tentu saja Embun langsung menatapnya dengan galak. Bahkan sekarang rambutnya yang di kuncir itu sudah berantakan karena Embun berkali-kali mendesah dan menggelengkan kepalanya dengan gusar.
"Aku tidak akan melepaskanmu. Akan ku bawa masalah ini ke polisi kalau kamu tidak mau bertanggung jawab!"
Badai hanya menyipitkan matanya. Sebal dengan gangguan yang ada. Harusnya dia sudah berkencan dengan wanita cantik dan seksi yang tadi sempat meminjam ponselnya.
Tapi gara-gara kedatangan Embun semuanya kacau.
"Memang atas dasar apa kamu menuduhku? Aku pun tidak tahu kalau adikmu itu sudah tidak perawan, apalagi menghamilinya."
Badai meniupkan asap rokok lagi ke depan Embun. Membuat wanita itu meradang.
Secepat kilat Embun menghindar darinya. Tapi sepertinya sedang menyusun sebuah rencana.
Badai hanya menatapnya bosan. Dia ingin segera pergi dari depan Embun saat ini juga.
"Kalau kamu tidak mau pulang bersamaku, aku akan berteriak kalau kamu mau memperkosaku."
Tentu saja Badai langsung menegakkan tubuhnya. Berusaha keluar dari dalam mobil. Lalu menginjak rokoknya dengan sepatunya saat dia sudah menapak di tanah.
"Jangan berani lakukan itu!" Ancam Badai dengan sebal. Dia memang playboy tapi dia tidak suka kalau namanya tercemar.
"Tentu saja aku berani. Tolooong pria ini mau..."
Sebelum Embun berteriak lebih keras lagi. Dengan cepat Badai sudah merengkuh Embun ke dalam pelukannya. Dan membekap mulutnya dengan ciuman. Hal itu tentu saja membuat keduanya terkejut atas kontak fisik yang tiba-tiba itu.
Badai langsung mendorong tubuh Embun. Begitu juga Embun. Mereka sama-sama mengusap mulut mereka masing-masing.
"Kurang ajar kamu!"
"Sekarang juga kita ke rumahmu! " Badai langsung menarik tangan Embun untuk masuk ke dalam mobilnya. Dia tidak mau membuat keributan di tempat ramai begini.
Dengan cepat Badai berlari berputar dan masuk ke balik kemudi. Lalu segera melajukan mobilnya meninggalkan area parkir itu.
Badai melirik ke arah Embun. Tapi wanita itu diam tidak bergerak. Badai menatap curiga ke arah Embun.
"Hei..."
Badai mengibaskan tangan di depan wajah Embun. Lalu seperti baru saja tersadar, Embun tampak tergeragap. Badai kembali menyipitkan matanya. Wanita di sampingnya ini memang aneh.
"Jangan ganggu aku!"
Badai mencibir mendengar ucapan Embun.
"Fiuh. Perawan tua yang galak."
Dan akhirnya Embun hanya menatapnya galak lagi.
*****
"Kamu beneran gak mau bilang siapa ayah dari bayi yang kamu kandung?"
Wanda tampak membelalakkan mata saat Badai mengucapkan itu. Dia kini berada di dalam kamar Wanda. Embun mempersilahkannya untuk menjenguk Wanda yang tampak terbaring lemah di atas kasur.
Wajah wanita itu pucat pasi. Sudah hilang kecantikannya yang pernah di Kagumi oleh Badai beberapa hari ini. Sungguh sangat kasihan, pikir Badai melihat keadaan Wanda.
"Ba...ba...gaimana kamu tahu?"
Badai mengangkat bahunya. Lalu bersedekap. Dia duduk di tepi kasur sedangkan Wanda masih terbaring lemah
"Kakakmu itu menuduhku yang melakukannya. Tentu saja aku bukan ayah bayi yang kamu kandung. Menciummu pun aku tak berani karena selama ini kamu melarang."
Semburat merah langsung menghiasi pipi Wanda. Wanita itu menunduk malu.
"Maafkan aku. Sebenarnya aku.
.."
Wanda tampak menundukkan wajahnya lagi. Takut untuk menatapnya.
Badai kini mengulurkan tangan untuk memegang dagu Wanda. Dan membuat wajah wanita itu terlihat.
"Katakan yang sebenarnya kepada kakakmu."
Tepat saat mengucapkan itu Embun masuk ke dalam kamar.
Wanda langsung menatap ketakutan kepada Badai. Tapi Badai tak mau peduli. Harinya sudah sangat buruk karena tuduhan ini.
"Katakan kepada kakakmu kalau aku bukan ayah dari bayimu."
Embun langsung melangkah mendekati Wanda. Wanita itu menatap Badai dengan marah.
"Jangan kamu ancam adikku. Dasar kamu biadab!"
Embun sudah marah kepadanya. Tapi Badai hanya menatap Wanda yang kini makin tampak pucat.
"Bilang sama kakak kalau dialah yang bertanggung jawab atas semua ini!"
Embun masih menunjuk Badai dengan telunjuknya. Dan Wanda semakin ingin menangis saat ini.
"Katakan yang sebenarnya Wanda! Jangan takut kepadanya!"
Badai hanya mengangkat alisnya saat Embun kembali menunjuknya.
"Kak..."
"Katakan padanya Wanda bukan aku!"
Wanda makin diam saat Badai menuntutnya. Tentu saja hal itu membuat Badai makin geram. Dia beranjak dari duduknya dan kini melangkah mondar mandir. Sementara Embun tampak mengusap-usap Wanda dengan lembut.
"Harusnya kamu malu. Sudah mengambil kesucian adikku dan tidak mau bertanggung jawab."
Ucapan pedas Embun membuat Badai kini menatap sebal ke arah Embun. Wanita itu makin jelek saja saat ini. Tampak muram dan marah.
"Memangnya aku peduli sama pendapatmu? Tanya saja sama adikmu yang manis dan alim itu."
Wanda tiba-tiba menjerit histeris. Wanita itu menangis dalam pelukan Embun. Badai kini sudah bersandar di dinding dan menghitung detik jam yang ada di pergelangan tangannya. Bahkan Badai menguap saat menunggu Wanda berhenti menangis.
"Kak bukan Badai memang. Sebenarnya Wanda sudah melangkah terlalu jauh dengan Iwan."
Badai langsung menatap kedua kakak beradik di depannya itu. Dia tidak mau ikut campur lagi urusan keluarga ini. Semuanya sudah selesai saat Wanda mengatakan bukan dia.
Badai menegakkan tubuhnya dan melangkah meninggalkan kamar.
Plaaakk
Dia terkejut saat mendengar suara tamparan itu. Dia berbalik dan menoleh Embun baru saja menampar Wanda yang kini nampak menangis lagi.
Embun berdiri dari tempatnya.
"Berani-beraninya kamu hamil dengan pria itu. Beraninya kamu!'"
Embun menjerit lalu berbalik dan berlari meninggalkan kamar. Tentu saja Badai terkejut melihat itu semua. Ada apa dengan Embun?
Badai memutuskan untuk mengejar Embun keluar dari kamar. Dan dia menemukan Embun tengah menangis di teras depan. Wanita itu tampak sangat tertekan.
"Fiuh. Jadi ada kakak dan adik berebut satu pria?"
Ejekan Badai membuat Embun kini menatapnya tajam
Wajahnya terlihat acak-acakan karena air mata itu. Sungguh wanita di depannya ini tidak ada cantik-cantiknya.
"Pergi kamu dari rumah ini! Aku tidak perlu menghadapi pria tak beradab lagi di sini."
Badai hanya mengangkat bahu dan bersiul lagi. Lalu dia meneruskan langkahnya menuju mobil yang di parkir di halaman rumah itu. Dia berharap tidak akan bertemu lagi dengan wanita keras kepala itu. Tidak akan lagi.