12 LIE

1277 Words
Badai paling malas kalau sudah mendapat pertanyaan interogasi semacam ini. Dia kan sudah 25 tahun. Tapi papanya masih terus menganggapnya anak kecil usia 5 tahun. Yang harus menuruti semua ucapan orang tuanya.   Dia melirik Embun yang tampak tegang duduk di sisinya. Tapi toh dia bisa apa? Kalau papanya tahu dia menikahi Embun karena sebuah alasan. Mungkin saja papanya langsung mengepalkan tinju ke wajahnya.   Lalu menatap Cahaya, kakaknya yang kini berpura-pura tidak melihatnya itu.   "Pertanyaan apa sih ini pa? Kalau Badai sudah memutuskan untuk menikah tentu saja Badai mencintai wanita yang akan Badai nikahi."   Akhirnya Badai bisa menegakkan diri untuk menjawab pertanyaan papanya. Dia tahu ini kebohongan untuk menutupi semuanya. Toh dia juga berbuat baik kan demi melindungi Embun.   Papanya menatapnya dengan tidak percaya. Tapi Badai menguatkan dirinya untuk tetap menatap sang papa. Badai sebenarnya sudah tahu alasan kedua orang tuanya itu menikah. Atau masa lalu mereka berdua.   Dia toh sekarang melihat Mama dan papanya saling mencintai. Tapi Badai tidak mau disamakan dengan situasi seperti itu. Dia dan Embun berbeda. Pernikahan mereka bukan diawali dengan kebohongan seperti orang tuanya. Dan Badai sangat yakin dia dan Embun sama-sama dalam situasi yang terdesak saat ini.   "Embun. Benarkah yang di ucapkan Badai?"   Tentu saja Badai langsung membelalakkan mata mendengar pertanyaan papanya. Itu di luar ekspektasinya kalau sang papa akan bertanya kepada Embun.   Dia langsung menoleh ke arah Embun. Wanita itu tampak begitu gugup. Tanpa memikirkan apapun Badai reflesk menggenggam jemari Embun yang ada di atas pangkuan. Membuat Embun langsung menoleh kepadanya.   Badai tersenyum sangat manis kepada Embun.   "Jawab dong sayang kalau aku telah membuatmu jatuh cinta karena aku menyelamatkan nyawamu!" ucapan Badai itu tentu saja membuat Embun tak percaya menatapnya. Wanita itu bahkan sepertinya terlihat begitu kesal kepadanya. Tapi Badai langsung tersenyum lebar lagi.   "Papah ini buat calon istriku malu pa. Dia ini pemalu."   Badai menatap sang papa yang masih menunggu jawaban Embun. Sedangkan Embun kini menunduk membuat Badai merasa seperti orang bodoh yang bersandiwara sendiri di ruangan ini.   "Pah udah ah. Ini kan di meja makan. Kita makan malam dulu, lagian papa gak liat apa mereka saling mencintai. Udah gak sabar pengen nikah. Tuh liat mesra banget."   Badai menghela nafas lega mendengar pertolongan dari mamanya. Sang Mama selalu tahu kalau dia membutuhkan bantuan di depan papanya   "Iya Aya udah laper nih."   Celetukan kakaknya membuat Badai mengedipkan mata kepada kakaknya yang ada di depannya itu. Dan Aya membalas dengan mencibir.   "Maaf Om. Mungkin saya terlalu mendadak di bawa ke sini. Saya juga yang memaksa Badai untuk menikah dengan saya. Karena iya saya sudah jatuh cinta kepada Badai sejak dia menyelamatkan hidup saya"   Tentu saja Badai tersedak air mineral yang baru saja di teguknya. Dia langsung menatap Embun yang kali ini sedang menatap sang papa dengan pipi merona itu. Wah sungguh di luar dugaannya.   Akhirnya sang papa tersenyum bijak.   "Alhamdulillah. Kamu bisa memaksa Badai untuk menikah. Mungkin kamu juga sudah membuat petualangan Badai berakhir dengan bertekuk lutut kepadamu. Papa memberi kalian Restu dan pernikahan ini akan segera di laksanakan."   *****   Badai melirik Embun yang kini duduk di sebelahnya. Pertemuan dengan keluarganya membuat keduanya kaku dan tegang.   Tapi untung saja acara itu tidak berlangsung lama. Setelah makan malam, papanya menyampaikan akan mengurus semua pernikahan dalam waktu kurang dari satu Minggu.   Itu mengejutkan Badai dan juga Embun. Tapi mereka tidak mengatakan apapun untuk protes. Badai sendiri sudah merasa terjebak dalam situasi seperti tadi.   Untung saja mereka bisa segera keluar dari rumah. Menjauh dari papanya. Saat ini Badai sedang dalam perjalanan mengantarkan Embun pulang ke rumah.   "Kenapa kamu bilang jatuh cinta kepadaku?"   Badai sudah tidak tahan menanyakan hal itu kepada Embun.   Wanita di sebelahnya itu hanya meliriknya sesaat. Tapi kemudian mengalihkan tatapannya ke arah kaca mobil.   "Jangan bilang kamu memang..."   "Aku hanya meneruskan ucapanmu tadi. Bukankah kamu mengatskan kalau aku memang jatuh cinta kepadamu sejak awal? Kenapa harus aku yang jatuh cinta, kenapa kamu tidak bilang kalau kamu yang..."   Ucapan Badai terhenti karena Embun. Tapi kini Embun juga menghentikan ucapannya.   Badai bisa melihat pipi Embun kembali merona merah.   "Aku jatuh cinta kepadamu? Itu kan maksud kamu? Owh no way. Aku tidak mungkin..atau katakanlah papaku tetap tidak mungkin percaya kalau aku jatuh cinta kepada wanita sepertimu. Itu bisa langsung di tebak papa."   Badai mengatakan itu bertepatan saat sampai di traffict light dan lampu merah menyala.   "Kamu terlalu tinggi menghargai dirimu sendiri. Aku tidak akan jatuh cinta dengan pria sepertimu."   Badai hanya mengangkat alisnya saat menatap Embun yang kali ini memang terlihat sedikit manis. Tapi hanya sedikit, selebihnya wanita itu tetap tidak terlihat cantik. Meski malam ini dia berada dalam balutan gaun malam yang cantik.   "Kita buktikan siapa yang jatuh cinta kepadaku dengan cepat!"   Badai menyeringai kepada Embun. Tapi wanita itu sudah melepaskan seat beltnya dan dengan tiba-tiba sudah membuka pintu dan keluar dari mobil.   "Heii mau kemana?"   Tin   Tin   Tin   Badai menatap Embun yang sudah menyeberang dan menjauh dari mobilnya. Sedangkan kini lampu sudah berubah hijau. Tentu saja Badai tidak bisa turun dan mengejar Embun. Dengan terpaksa dia melajukan mobilnya lagi.   "Dasar. Wanita keras kepala. Ah biarlah dia pulang sendiri."   Badai menggerutu di dalam mobil. Dia menatap sekeliling jalanan yang di lewatinya dan sepertinya Embun tidak terlihat di manapun.   "s**t! Kenapa dia menghilang dengan begitu cepat."   Akhirnya Badai menepikan mobil dan menghentikan mobilnya. Jalanan di depannya sangat lengang. Dia menatap jam yang melingkar di tangannya. Sudah pukul 11 malam.   Ada sedikit rasa khawatir menelisik di dalam hatinya. Kemana wanita itu? Bisakah dia pulang sendiri? Padahal rumah Embun masih sangat jauh dari tempatnya tadi berhenti.   Badai memukul kemudinya dengan kesal.   "Ah kenapa juga harus pakai kabur segala. Dasar!"   Badai menghidupkan mobilnya lagi dan kini memutar arah. Kembali untuk menuju tempat dia meninggalkan Embun.   "Wanita merepotkan. Kenapa juga aku mau mencarinya?"   Badai menggerutu lagi. Dia menjalankan mobil dengan sangat perlahan. Sampai matanya sakit untuk menatap satu persatu orang yang berjalan di sepanjang jalan yang dilewatinya.   "Kemana kamu..."   Badai memicingkan matanya lagi. Tapi malam begini, yang terlihat di jalanan juga kegelapan. Hanya ada penerangan lampu jalan. Toko-toko sudah tutup. Itu membuat Badai merasa frustasi.   Dia sudah mengemudikan mobilnya bolak balik dari traffict light tadi. Sudah lebih dari 5 kali tapi Embun tidak terlihat.   "Akan kucekik dia kalau ternyata sudah sampai di rumah."   Badai akhirnya melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah Embun. Rasa khawatir sekaligus kesal menyelimutinya saat ini.   Sampai akhirnya di menghentikan mobil di depan rumahnya Embun. Lampu depan tidak dinyalakan dan suasananya begitu gelap. Badai keluar dari mobil. Melangkah menuju teras yang terlihat gelap gulita itu.   "Berarti dia belum pulang? Astaga! Aku sudah meninggalkannya di sana. Kalau ada apa-apa? Dia di culik atau di perkosa? Astaga!"   Badai mengacak rambutnya dengan frustasi.   "Jangan sampai...Embun aku akan menolongmu!"   "Memangnya aku kenapa?"   Badai langsung menghentikan langkahnya yang sudah akan kembali ke dalam mobil. Bersamaan dengan itu lampu yang ada di teras menyala. Membuat Badai langsung berbalik dan mendapati Embun sudah berdiri di ambang pintu dengan piyamanya.   Tangan Badai mengepal. Amarahnya memuncak. Dia langsung berderap melangkah maju ke arah Embun.   "Kamu terlihat baik-baik saja"   Badai mengucapkan itu dengan datar. Dan melihat Embun mengangkat bahu.   "Kenapa kamu ke rumah?"   Badai langsung maju ke arah Embun. Memaksanya untuk menempel ke tubuhnya. Panas tubuh mereka bertemu. Badai memegang pinggang Embun dengan kuat agar tidak terlepas. Wanita itu membelalak terkejut.   "Sialan kamu! Aku pikir kamu diperkosa atau di culik preman. Astaga! Bodohnya aku."   Badai membentak Embun yang kini tampak mengerjapkan matanya dengan bingung.   "Aku pulang dengan taksi yang ada di belakang mobilmu."   Wanita itu menjawab dengan lirih. Tapi Badai sudah terlalu kesal.   "Aku akan mencekikmu."   Badai memajukan wajahnya lagi membuat bibir mereka saling berhadapan.   "Badai lepaskan aku!"   Embun berusaha memberontak tapi hal itu membuat Badai makin mengencangkan pelukannya.   "Aku tidak akan melepaskanmu sebelum aku memberimu ini..."   Badai menunduk dan secepat kilat menempelkan bibirnya di bibir Embun.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD