Badai terkejut sendiri dengan apa yang dilakukannya. Dia mengacak rambutnya lagi. Pipinya masih terasa panas akibat tamparan Embun dua hari yang lalu.
Setelah mencium wanita itu, Badai mendapatkan tamparan di pipinya dan juga langsung di usir secara keras dari rumah Embun. Bahkan sampai hari ini Embun tidak mau menemuinya ataupun menerima telepon darinya.
"Dai, mana Embun. Siang ini harus fitting baju pengantin kalian. Mama sudah menyiapkan semuanya. Dari kemarin kamu Mama suruh bawa Embun ke rumah juga."
Ucapan sang Mama membuat Badai kini mengerang lagi. Alasan apalagi agar sang Mama tidak terus menerus menanyakan keberadaan Embun.
"Embun lagi sibuk mah. Gak usah pakai fitting baju segala mah. Nikah tinggal panggil penghulu dan sah. Badai kan anak cowok di keluarga ini, gak usah pakai acara rame-rame. Pas Kak Aya kan udah. Lagipula Embun itu kan yatim piatu mah. Keluarganya juga tidak ada yang di sini. Cuma Wanda aja, itupun mereka lagi bermusuhan."
Ucapannya membuat sang Mama menghentikan aktivitasnya yang sedang meletakkan makanan di atas meja makan. Badai sendiri kini berada di depan televisi dan duduk di sofa malas.
Setelah mengajukan ijin menikah dia diberi cuti selama 1 bulan penuh. Badai sendiri tidak menyangka akan di beri cuti panjang selama itu.
"Iya Mama tahu, kemarin pas ke sini kan Embun bilang kalau dia yatim piatu. Makanya Mama pingin kamu dan Embun cepet menikah. Biar kamu bisa jagain dia."
Badai mencibir mendengar ucapan sang Mama. Yang ada itu dia yang harus di jagain dari tangan Embun yang galak itu.
"Udah nanti siang pokoknya kamu jemput Embun ke sini. Daripada kamu cuma malas-malasan di rumah kayak gitu. Lagipula 2 hari lagi loh Dai kamu nikah. Papa marah kalau kamu gak mau menurut."
Badai menghela nafasnya kali ini. Lalu memainkan remote televisi yang ada di tangannya. Bagaimana bisa di akan menikah dengan wanita itu?
*****
"Buat apa kamu ke sini? Mau aku tampar lagi pipi kamu?"
Badai berdecak sebal. Kalau tidak dipaksa sang Mama juga dia tidak akan datang ke rumahnya Embun saat ini.
Wanita itu menatapnya dengan galak lagi. Tampak tidak menarik dengan baju yang sangat longgar. Membuat tubuh Embun terlihat lebih gemuk.
"Mama minta kamu datang ke rumah. Suruh fitting baju pengantin."
Badai meniupkan permen karet yang sedang di kunyahnya itu. Lalu memecahkannya tepat di depan Embun yang langsung melotot galak.
"Kalau kamu tidak mau Ok, tinggal bilang sama Mama kamu tidak mau kuajak ke rumah."
Badai langsung berbalik ingin segera pergi dari hadapan Embun, tapi tiba-tiba tangannya di tarik oleh Embun untuk menghentikannya.
"Tunggu. Ya aku ikut."
Badai hanya mengangkat bahu.
"Cepatlah!"
*****
Badai merasa perutnya lapar. Sejak tadi pagi dia hanya sarapan roti bakar dan tadi sebelum ke sini dia belum sempat makan siang karena mamanya sudah menyuruhnya segera menjemput Embun.
Maka saat ini ketika melewati restoran cepat saji dia langsung membelokkan mobilnya.
"Heh mau kemana?"
Embun yang duduk di sampingnya tampak menatapnya dengan terkejut. Tapi Badai hanya menunjuk restoran itu. Sebelum akhirnya keluar tanpa menoleh ke arah Embun lagi. Dia tidak mau berdebat dengan Embun di saat perutnya sedang lapar.
Badai masuk ke dalam restoran dan langsung menuju kasir untuk memesan makanan ya.
"Selamat datang. Bisa saya bantu?"
Seorang wanita cantik menyapanya dengan ramah dan Badai langsung tersenyum lebar.
"Ehmm combo 2 ya. Minumnya cola. Sama senyum manis dari situ."
Mbaknya itu tersenyum ramah kepada Badai dan mengangguk untuk menyiapkan pesanannya.
"Ok semuanya 150rb ya."
Badai langsung merogoh saku celananya tapi kemudian membelalak terkejut.
"Astaga! Ini gara-gara Mama nih. Aku lupa bawa dompet."
Badai langsung menatap makanan yang ada di depannya. Dia menelan ludah. Perutnya berbunyi lagi.
"Berapa mbak?"
Suara Embun di sebelahnya membuat Badai terkejut. Dia langsung menatap Embun yang kini tengah menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan kepada mbaknya.
"150rb. Baik sebentar ya... Ini kembaliannya. Terimakasih. Selamat menikmati."
Badai masih menatap Embun yang kini menerima kembalian itu dan memasukkannya ke dalam dompetnya. Lalu melirik ke Badai.
"Cepat makanlah!"
Badai mengerjapkan matanya. Lalu mengangguk dan segera membawa makanan yang sudah tersaji di atas nampan itu.
"Kalau makan seperti itu terus. Hidup kamu jadi tidak sehat."
Badai tengah mengunyah burger pesanannya. Mereka berdua ini duduk di bangku yang ada di luar restoran.
"Aku tidak sempat makan siang tadi, Mama udah buru-buru suruh jemput kamu."
Embun kini menatapnya dengan bersedekap. Wajahnya yang muram membuat nafsu makan Badai langsung hilang. Dia meletakkan burger yang baru saja di makannya separo itu dan meminum colanya.
"Makasih udah bayarin. Ingetin aku nanti untuk mengganti semuanya."
Embun kini menggelengkan kepalanya. Lalu dia mengalihkan tatapannya ke arah halaman restoran. Siang ini banyak mobil yang di parkir di halaman. Dan pengunjung juga rame.
"Kamu ini kenapa sih? Sejak kemarin wajahmu hanya cemberut terus. Tuh liat mbak- mbaknya aja tersenyum manis. Cantik lagi. Lah kamu udah gak cantik tetap saja gak mau tersenyum."
Ucapannya membuat Embun kini langsung menoleh kepadanya.
"Kalau kamu tidak suka denganku maka pergilah. Batalkan pernikahan ini."
Ucapan Embun membuat Badai mengibaskan tangannya di depan wajah Embun. Tapi sebelum dia mengucapkan sesuatu, suara dering ponselnya langsung menyambutnya.
Dia langsung merogoh saku kemejanya dan menjawab panggilan telepon dari namanya itu.
"Badai buruan, kamu kemana aja sih? Ini Mama Ama Tante Melly udah nungguin dari tadi."
Badai menatap Embun yang menunggunya.
"Iya ma ini Badai juga lagi otw ke situ. Udah ya mah 5 menit lagi deh nyampe."
Embun langsung terlihat pucat lagi. Sungguh wanita itu membuatnya bosan kali ini.
******
"Nah tadaaa mantu Mama cantik kan Dai?"
Badai hampir tertidur sebenarnya. Mereka sudah sampai di rumah dan mamanya langsung menggandeng Embun untuk mencoba beberapa baju yang sudah di siapkan Tante Melly. Salah satu teman Mama yang mempunyai butik.
Badai sendiri hanya menunggu di sofa malas kesayangannya dengan melihat kartun di televisi.
Dia menoleh malas ke arah suara mamanya. Dan mengernyitkan keningnya saat melihat sang mama dan Tante Melly berdiri di depannya dengan senyum lebar.
"Mana memang?"
Badai menegakkan tubuhnya untuk melihat Embun. Tapi Embun tertutup oleh Mama dan Tante Melly.
"Kamu pasti terkejut deh sama baju buatan Tante yang sangat pas di tubuh Embun. Dia bakalan jadi pengantin yang cantik. Warna broken whitenya cocok sama kulit Embun. Iya gak jeng?"
Tante Melly menoleh kepada mamanya dan sang mama langsung tersenyum lebar.
"Iya dong. Badai kamu pejamin deh mata kamu."
"Mah, apaan sih. Orang cuma pakai gaunnya aja kok. Apa yang beda coba?"
Badai memutar bola matanya dan kini menunggu sang Mama dan Tante Melly minggir.
Tapi sang Mama langsung menggelengkan kepalanya.
"Pokoknya tutup mata."
Badai menggerutu lagi. Akhirnya dia menutup matanya. Paling juga Embun tidak berubah jauh. Wajahnya juga akan terlihat selalu murung dan membosankan. Apalagi yang akan mengejutkannya?
"Udah buka matamu sekarang!"
Badai langsung membuka matanya. Dan hampir terjatuh saat melihat apa yang di lihat di depannya.
"Wooooooww!"