14 MANTRA

1022 Words
"Dai kamu kenapa dari tadi gak mau Mandang aku?"   Badai menggelengkan kepalanya lagi. Dia mencoba untuk menatap sekelilingnya. Tapi tidak sedikitpun menoleh kepada Embun yang duduk di sebelahnya di dalam mobil.   Sungguh, mungkin dia sudah gila. Atau jangan-jangan...   Badai langsung menghentikan mobilnya secara mendadak membuat Embun mengaduh karena menyentuh dashboard di depannya.   "Awwwhhh kamu gila!"   "Kamu memantraiku pasti!"   Suara mereka bersamaan membuat keduanya saling menatap dengan kesal.   "Aku tidak gila."   "Apa yang kamu katakan?"   Mereka mengucapkan bersamaan lagi. Membuat Badai mendengus dan Embun menggelengkan kepalanya.   Badai kembali menatap Embun yang kali ini membuat matanya iritasi. Bukan karena polusi udara tapi lebih karena penampilan Embun kali ini. Atau penampilannya beberapa jam yang lalu.   Saat ini Embun sudah memakai baju yang membosankan lagi. Tapi bayangan itu tidak pernah hilang dari otak Badai.   Bagaimana tadi lekuk tubuh Embun terbentuk. Bahu yang indah terpampang di depan Badai. Leher jenjangnya dan putih mulusnya kulit Embun. Terpampang dengan jelas di depan Badai.   Bahkan tadi Badai sampai di ejek oleh Mama dan Tante Melly karena sepertinya hampir jatuh pingsan melihat penampilan Embun dalam balutan gaun pengantin itu.   "Kenapa kamu membuatku...awwwwhhh"   Badai mengacak rambutnya lagi. Embun menyipitkan matanya dengan tidak suka. Tiap kemudian wanita menunjuk wajah Badai dengan telunjuknya.   "Kamu tadi bilang apa? Aku memantraimu?"   Badai langsung mengangguk dengan sombong. Tentu saja Embun pasti mengguna-gunanya. Sehingga Embun terlihat begitu menggiurkan di depannya tadi. Itu pasti.   "Sudah pasti. Kamu memantraiku agar aku bertekuk lutut di depanmu"   Embun terlihat kesal. Dan wanita itu langsung melepaskan seatbeltnya dan membuka pintu mobil   Jangan lagi!   Sebelum Embun melompat keluar Badai langsung menarik tangan Embun untuk menahannya   "Jangan kabur lagi. Kamu itu kenapa sering kabur?"   Embun langsung menoleh dengan tatapan kesal.   "Aku tidak tahan dengan orang songong seperti kamu!"   Badai menyeringai. Dia malah tidak marah dikatakan itu.   "Tapi aku calon suamimu. Skak mat!"   Embun tampak pucat lagi kali ini.   "Sudahlah akui saja. Toh kalau kamu memantraiku juga itu keuntungan bagiku. Karena sekarang kamu terlihat seperti...."   Badai mengerlingkan matanya. Membuat Embun langsung memukul bahunya dengan keras.   "m***m!"   ****   "Dai itu loh makin seksi saja kan ponakannya Tante Tania."   Badai kini menoleh kepada Aryo. Sahabatnya sekaligus tetangganya sejak kecil itu.   Semalam Badai memang langsung pulang setelah mengantarkan Embun ke rumahnya. Dan hari ini ada jadwal lagi untuk membawa Embun ke Tante Melly nanti jam 2 siang.   Sementara itu Badai menghabiskan waktunya sesiang ini dengan berenang di kolam renang rumah keluarganya itu. Dan ditemani oleh Aryo.   "Si Cindy kan?"   Aryo langsung mengangguk dan kini membuka kaca mata renangnya. Mereka telah menepi setelah bolak balik berenang.   Dari pagar rumahnya yang rendah, jalan di depan kolam renang itu memang terlihat jelas. Dan target yang sedang di bicarakan mereka berdua ada di seberang jalan. Tepatnya di depan rumah miliknya Tante Tania tetangga mamanya Badai.   "Pahanya bro...wooooww.."   Aryo mengisyaratkan dengan tangannya menunjuk Cindy yang tengah menyirami bunga di depan rumahnya.   "Lo pikir paha ayam apa?"   Badai memjitak kepala Aryo yang langsung mengaduh. Pria itu menyeringai dan kali ini mencomot kentang goreng yang ada di depan mereka.   "Lo kenapa gak napsu lagi Ama Cindy? Pasti ada yang lain nih. Target Lo siapa lagi?"   Secepat itu pula ingatan Badai kembali ke sosok Embun yang tengah mengenakan gaun pengantin kemarin.   Dia menggelengkan kepalanya lagi. Mencoba untuk menghilangkan bayangan Embun. Tapi sosok Embun yang sangat menggoda itu tak bisa hilang dari otaknya.   "Wooiii di tanya malah geleng-geleng kepala. Pusing Lo?"   Teriakan Aryo membuat Badai kini menatap Aryo dengan malas.   "Dai, Embun udah di sini loh. Kamu ini gimana sih, kenapa Embun tidak di jemput?"   Suara mamanya membuat Badai langsung menoleh ke arah belakang dan mendapati mamanya telah berdiri dengan Embun disampingnya.   Wanita itu. Masih sama seperti biasanya. Membosankan.   Dengan balutan gaun yang panjangnya selutut dan si lengkapi dengan sweater rajut warna hitam. Makin membuat suram wajahnya.   "Wooo kenapa sudah sampai?"   Badai menoleh kepada Embun. Wanita itu hanya menatapnya dengan datar   "Aku baru saja menolong pasienku melahirkan di kompleks ini. Jadi daripada merepotkanmu lebih baik aku ke sini langsung."   Badai hanya ber owh saja.   "Ya udah. Buruan kamu mandi sebentar lagi Tante Melly datang loh."   Mamanya itu menepuk bahu Embun dan meninggalkan mereka. Sedangkan Aryo langsung menyenggol lengan Badai. Membuat pria itu langsung menoleh kepada Aryo   "Siapa nih? Calon baby sitter?"   Badai langsung melotot kepada Aryo dan menjitak kepalanya dengan keras.   "Calon bini gue."   Tentu saja Aryo langsung menatapnya dengan tak percaya. Sampai melongo dan menunjuk Badai dan Embun bergantian.   "Wow emejing."   Badai hanya mendengus dengan kesal lalu mengibaskan tangannya ke arah Aryo.   "Udah hust hust sana Lo pulang. Godain tuh Cindy."   Badai menunjuk Cindy yang ada di sebrang jalan. Dan Aryo langsung memberengut.   "Lo kali lagi kurang obat Dai. Sadar deh Lo."   Aryo berbisik kepadanya sebelum akhirnya beranjak dari kolam dan mengambil handuk lalu mengeringkan tubuhnya. Dan segera melangkah meninggalkan Badai dan Embun yang masih berdiri di tempat semula.   "Kalau udah waras telepon gue ya Dai."   Teriakan Aryo membuat Badai mengepalkan tangan kepada Aryo. Temannya itu hanya terbahak lalu melompati pagar rumahnya. Membuat Badai menggelengkan kepalanya.   "Ayo cepat. Aku habis ini masih ada pasien lagi yang aku bantu."   Suara Embun membuat Badai menoleh kepada Embun.   "Kamu kan hari ini fitting baju pengantin lagi. Sedangkan aku juga udah jadi kok. Kamu sendiri aja deh yang fitting Ama Tante Melly. Aku masih mau berenang."   Embun langsung melangkah mendekatinya. Berdiri di tepi kolam, lalu langsung berjongkok.   Badai masih berendam di tepi kolam dan menatap Embun   "Kamu beranjak dari sini gak? Mama kamu menyuruhku untuk menjemputmu di sini. Kamu tega aku kembali ke dalam sendirian?"   Badai menggelengkan kepalanya lagi.   "Aku malas ah. Apalagi kamu..."   Sebelum Badai menyelesaikan ucapannya. Dia sudah menarik tangan Embun sehingga membuat Embun tertarik ke depan.   Byuuurr   Segera setelah Embun jatuh ke dalam kolam, Badai tertawa terbahak-bahak.   Embun tampak menatapnya kesal dan kini basah kuyup di sebelahnya.   "Kamu itu. Aku tidak bawa baju ganti. Untung saja aku bisa berenang."   Embun berteriak galak di depannya. Dan membuat Badai menyeringai lagi.   "Salah sendiri mendekat."   Embun mengibaskan rambutnya dan kini mengusap air yang membasahi wajahnya. Dan saat itulah Badai tertegun.   Siluet tubuh Embun di balik bajunya yang basah sangat terlihat.   "Astaga!" Badai memejamkan matanya untuk sesaat. Mencoba melawan gairah yang tiba-tiba datang menerjangnya. Dia yakin wanita di depannya ini pasti memantrainya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD