Badai menatap jam yang melingkar di tangannya. Jam sialan itu berdetak terlalu cepat menurutnya. Dia masih belum terima akan mengakhiri masa lajangnya secepat ini.
Badai berdiri di depan jendela kamarnya. Sudah rapi dengan tuxedo. Tapi masih terlalu malas untuk keluar dari dalam kamar.
Beberapa hari ini dia memang tidak bertemu dengan Embun. Atau katakanlah dia yang menghindar atau wanita itu memang sedang di sibukkan dengan pekerjaannya sebagai seorang bidan.
Badai sendiri lebih menghabiskan waktunya untuk berkumpul dengan teman-temannya.
Terlalu membosankan sebenarnya. Dia ingin segera masuk kerja lagi, menolong orang dan menantang maut bergulat dengan api.
Tapi dia tidak bisa berkutik karena dia masih dalam masa cuti
"Dai, udah mau mulai akadnya. Kenapa gak keluar?"
Suara berwibawa sang papa membuat Badai membalikkan tubuhnya dan kini melihat sang papa sudah berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Iya pa sebentar lagi."
Badai kini melangkah mendekati sang papa yang sudah tampak berwibawa dengan stelan jas hitamnya itu.
"Kamu ragu? Atau kamu mau mengaku kepada papa kalau kamu tidak mau menjalani akad nikah ini?"
Badai menatap sang papa yang kini bersedekap di depannya dan mengamatinya.
"Apa sih maksud papa?"
Badai mencoba untuk terlihat santai di depan papanya meski dia sudah tegang akan terbongkar kebohongannya.
"Papa tidak melihat kalau kamu menatap Embun dengan penuh cinta. Jangan bohongi papa Dai. Katakan apa yang membuat kamu menikahi Embun. Papa tidak ingin kamu menyia-nyiakan wanita."
Badai langsung menghela nafasnya. Lalu menatap sang papa. Dia memang playboy mungkin, tapi dia bukan pecundang yang akan menyia-nyiakan seorang wanita. Apapun itu.
"Pah pegang janji Badai. Badai pria sejati pa. Tidak akan mungkin membuat seorang eanita menangis. Badai janji."
Sang papa kini tersenyum lalu melangkah mendekati Badai dan merengkuhnya.
"Papa pegang janjimu."
*****
"Sah"
Badai memejamkan matanya saat mendengar suara itu. Seluruh yang menemani dan menjadi saksi akad nikahnya mengesahkan ucapan ijab qobul nya. Bagaimanapun dia sudah menjadi seorang suami.
"Badaiiiiiiii sukseesss Lo."
Tentu saja Badai langsung terkejut saat mendapati serbuan teman-temannya yang langsung merangsek maju dan mengerubunginya. Sungguh semua temannya ini gila.
"Istri Lo cantik Dai"
"Bakalan jadi bapak Lo!"
"Selamat ya Dai, gue bakal bebas nih deketin Tania."
Badai menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan teman-temannya yang sedang mengelilinginya.
"Udah minggir- minggir. Ini gue lagi akad nikah. Tanda tangan surat nikah aja belum. Minggir ah."
Semua teman-temannya langsung menyeringai lebar dan menjauh satu-satu tapi sebelumnya mengacak rambut Badai satu persatu.
Badai menggerutu saat semuanya sudah kembali duduk di tempatnya semula.
"Dai.."
Badai terkejut lagi mendengar panggilan itu. Dan saat dia menoleh ke arah sampingnya. Embun sudah duduk di sana. Dengan begitu...
Badai berdehem sekali lagi lalu menatap sekelilingnya. Tadi saat prosesi ijab qobul Embun memang tidak duduk di sampingnya. Dan baru kali ini dia melihat sosok Embun dalam balutan gaun pengantinnya.
"Dai..,"
Embun mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Badai. Tentu saja Badai mengulurkan tangannya. Dan saat istrinya itu mencium tangannya dengan sopan, hati Badai bergetar.
*****
Sesuai permintaan Badai, pesta pernikahannya diadakan sesuai konsepnya. Yaitu pesta kebun, yang lebih santai dan tidak mengharuskannya duduk di singgasana seharian. Dia bebas berjalan ke sana ke sini menyalami teman-teman dan tamu yang lain.
Tapi setelah acara akad tadi dia tidak melihat Embun lagi. Badai sebenarnya tidak peduli. Toh wanita itu yang membuatnya akhirnya terikat dengan pernikahan.
Setelah beberapa saat Badai menemani teman-temannya menyantap beberapa hidangan Badai akhirnya merasa bosan lagi. Keluarganya sedang menyambut tamu-tamu undangan.
Mama dan papanya serta Kakaknya Aya. Bahkan Om Irgi, Om Rio, Tante Bulan dan Bintang juga berkumpul di sini. Kesayangan Badai Oma dan opanya juga hadir. Mereka tampak sibuk dengan semua tamu. Membuat Badai merasa bosan lagi.
Akhirnya dia melepaskan dasi dan kini melangkah masuk ke dalam rumahnya. Dimana kesibukan masih terlihat.
"Eh Mbak tahu Si Embun gak ya?"
Badai menghentikan salah satu asisten rumah tangga mamanya.
"Owh anu mas tadi kayaknya lagi ada di balkon kamar tamu."
Badai langsung mengangguk kan kepalanya. Dia segera melangkah cepat untuk menaiki tangga yang akan membawanya ke kamar tamu.
"Woii Embun."
Badai memanggil Embun saat dia membuka pintu kamar tamu itu. Dia mengernyitkan keningnya saat tidak mendapati Embun ada di dalam kamar.
Tapi saat melihat pintu balkon terbuka Badai langsung melangkah menuju Balkon.
"Woii gadis galak."
Badai bersedekap saat melihat Embun berdiri memunggunginya.
"Kenapa malah melamun di sini. Itu pesta buat kamu loh."
Badai melangkah mendekati Embun. Dan kini berdiri di samping wanita itu.
Embun akhirnya menoleh dan membuat Badai terkejut. Wanita itu menangis.
"s**t!"
Badai mengacak rambutnya.
"Gue udah janji sama papa kalau gak akan pernah buat cewek menangis. Tapi kenapa Lo menangis saat ini?"
Badai menatap kesal kepada Embun yang langsung menghapus air mata dengan punggung tangannya itu.
"Riasan Lo dan dandanan Lo yang cantik gini ilang udah. Kasian Mama sama Tante Melly yang udah ngerubah Lo jadi begini. Malah nangis. Ah woman."
Badai berpegangan pada teralis besi didepannya. Pagar itu yang menahan tubuh Badai saat ini. Dia mencondongkan tubuh ke depan dan kini menghela nafasnya.
"Maaf. Aku di sini hanya ingin mengenang almarhum kedua orang tuaku. Aku sudah mengecewakan mereka. Tidak bisa menjaga dengan baik dan kecolongan. Bahkan di hari pernikahanku ini aku masih tidak melakukan dengan benar."
Mendengar ucapan Embun Badai menoleh dan kini menegakkan tubuhnya lagi. Dia menatap Embun yang kini sudah menunduk dan mencoba untuk menghapus air mata yang terus menetes itu.
Badai berdecak lagi. Kenapa dia peduli dengan Embun? Ingin rasanya dia merengkuh tubuh Embun ke dalam pelukannya.
Menenangkan wanita itu dan memberinya penghiburan. Tapi Badai tahu kalau Embun tidak mau di perlakukan seperti itu.
"Apa yang sudah terjadi memang harus terjadi. Kamu tidak akan pernah bisa kembali ke masa lalu dan memperbaikinya. Yang pasti kamu tetap harus terus maju untuk menghadapi apa yang akan kamu jalani. Termasuk hidup berdua denganku."
Ucapannya itu membuat Embun menatap Badai dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Tapi Badai menggelengkan kepalanya. Mencoba mengenyahkan apapun yang membuat tubuhnya terasa panas.
"Udah. Hapus tuh air mata dan ikut aku ke bawah. Udah banyak yang nungguin."
Badai mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah Embun dan menghapus air mata Embun
"Makasih ya."
Tapi Badai langsung menarik tangannya lagi saat melihat senyum tulus dari Embun. Sialan dia tidak akan terkena mantranya Embun lagi. Tidak akan!