Khawatir

1024 Words
Setelah berhasil membujuk Athalla untuk keluar lapangan, dan melihat team futsal sekolah menang. Allana pun meninggalkan lapangan untuk menuju kantin. Entah kenapa, rasanya malu saat bertatap langsung dengan Athalla saat ini. Sikapnya yang tidak terduga seperti tadi, membuatnya merasa sangat malu. Memang, dari awal Allana sama sekali tidak perduli dengan kehidupan Athalla. Tapi melihat Athalla kesakitan seperti tadi, hati Allana berkata lain. Hati Allana berkata seolah ia tidak ingin melihat Athalla mengalami cedera lebih parah dari itu. Mendapat persetujuan Athalla seperti tadi, hati Allana merasa lega. Karena Athalla mau mengikuti apa yang dikatakan oleh Allana. Kini Allana sedang duduk dikantin, sendirian, menikmati ice lemon tea yang dipesannya tadi. Sesekali Allana menunduk kesal karena teringat apa yang dilakukannya tadi. “Astaga. Kenapa gue jadi b**o sesaat sih,” Ucap Allana dengan menjambak rambutnya meluapkan kekesalannya. “Mau ditaruh dimana muka gue, waktu ada Athalla.” Lanjut Allana dengan menatap frustasi gelas minumannya. Allana pun menghentakkan kakinya dengan kesal. Menyalahkan apa yang baru saja ia lakukan pada Athalla. “Aish... Ya tu--” Ucapan Allana terpotong saat ada orang yang memanggil namanya. Allana menoleh saat tahu siapa suara yang memanggilnya tadi. Ya, itu adalah suara Lisa. Saat Allana baru saja menoleh untuk melihat wajah Lisa. Mata Allana malah tidak sengaja tertuju pada lelaki yang berjalan dibelakang Lisa dengan bantuan Reza. Allana langsung berbalik menghadap lurus. Mengambil topi yang tadi dilepasnya, lalu dikenakannya kembali untuk menutupi wajahnya. Ya, ada Athalla yang berjalan dengan bantuan Reza. “Gue harus ngapain sekarang?” Lirih Allana dengan wajah paniknya. Tiba-tiba Athalla sudah duduk di sampingnya, saat Allana sibuk mengoceh dalam hati. Pandangan Allana saat ini lurus kebawah, karena kepalanya yang terus menunduk. Tidak berani untuk menatap siapapun. “Lo kenapa Al?” tanya Lisa saat melihat tingkah aneh Allana. Allana hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengeluarkan suaranya. Entah kenapa, Athalla yang melihat tingkah Allana malah tersenyum. Seolah ia tahu, alasan dibalik sikap Allana. Athalla pun mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Allana lembut. “Makasih ya,.” Ucap Athalla pada Allana. Allana diam tidak menjawab. Ia terus menunduk dan tidak berbicara. Seolah patung yang memang tidak hidup. “Mulai sekarang, gue akan percaya sama kinerja team gue sendiri.” Lanjut Athalla yang masih berusaha mengajak Allana berbicara. Athalla pun mencoba untuk memiringkan badannya, untuk menghadap Allana, karena sedari tadi Allana menunduk dan tidak mau menjawab ucapannya sekalipun, layaknya benda mati. Saat Athalla ingin merubah posisi duduknya, kakinya yang terkilir tidak sengaja menatap kaki kursi, sehingga membuatnya merintih kesakitan. “Ashhh...” rintih Athalla dengan tangannya yang menggenggam kursi untuk menahan sakitnya. “Tha, lo gapapa?” tanya Reza dengan wajah paniknya saat melihat sahabatnya dan kapten teamnya kesakitan. Athalla mengangguk, sembari tangan sebelahnya memerintahnya untuk tidak khawatir. Tetapi raut wajah yang dikeluarkan Athalla, menunjukkan bahwa ia masih menahan sakit karena benturan tadi. Disisi lain, kaki Allana terus menghentak kecil dilantai. Allana berpikir, bahwa ia tidak bisa tinggal diam saat telinganya terus mendengar rintihan kecil yang keluar dari mulut Athalla. Allana menutup mata sebentar, sebelum akhirnya beranjak untuk pergi. Lisa dan Reza yang melihat sikap Allana seperti itu menjadi sangat bingung. Terlebih lagi Athalla yang terus melihat punggung Allana, melihat kemana arah pergi Allana. “Al, lo mau kemana?” teriak Lisa saat punggung Allana mulai menjauhi mereka tanpa berpamitan. Fokus Lisa dan Reza kembali berpindah saat Athalla kembali merintih kesakitan. Reza pun berdiri dan mendekat kearah Athalla. “Gue anterin lo pulang ya? Atau ke rumah sakit?” ucap Reza karena merasa panik melihat Athalla yang masih kesakitan. Athalla menggeleng, menolak tawaran yang diberikan Reza. Athalla meraih tangan Reza dengan sebelah tangannya. Menatap Reza sambil menahan sakit di kakinya. “Gue mau minta tolong sama lo.” Ucap Athalla dengan sebelah tangan kanannya yang masih menggengam kuat kursi, dan sebelah kiri memegang tangan Reza. “Apa?” tanya Reza dengan raut wajah khawatirnya. “Anterin gue ke Allana. Gue belum sempat bilang makasih ke dia.” Ucap Athalla dengan raut wajah memohon. Reza menggelang. Bagaimana bisa ia mengantar Athalla ke Allana. Jalan saja susah. “Udah, mending sekarang gue anter lo pulang. Setelah pulang sekolah nanti, gue ajak Allana kerumah lo.” Tawar Reza untuk mencari jalan keluar. Athalla menggeleng. Seolah besok ia tidak bisa bertemu lagi dengan Allana. Jadi, Athalla bersih tegas untuk bertemu Allana sekarang juga. “Gue moh--” ucapan Athalla berhenti saat merasa dingin dibagian kakinya yang terkilir. Rasa nyeri akibat terbentur tadi sudah sedikit hilang. Tapi siapa yang mengompres kakinya? Athalla menunduk, melihat kebawah. Gadis dengan topi yang masih melekat dikepalanya, duduk diatas lantai tanpa beralaskan apaun selain rok yang dikenakannya. “Dasar bodoh! Keras kepala banget sih jadi orang.” Lirih Allana dengan mata yang masih fokus mengompres kaki Athalla. Athalla tersenyum melihat tingkah perhatian Allana untuk kedua kalinya. Tangan Athalla pun menarik kursi untuk menjauh dari tubuh Allana. Supaya, jika Allana berdiri, tubuhnya tidak terbentur apapun. Reza masih terkejut dengan apa yang dilakukan Allana untuk Athalla. Lisa pun sama, ia sampai bangkit hanya untuk melihat apa yang dilakukan Allana pada Athalla. Allana pun menyudahi untuk mengompres kaki Athalla, saat Allana tidak mendengar kembali rintihan Athalla. Allana bangkit dan hendak pergi meninggalkan Athalla lagi. Tapi gagal, tangan Allana ditarik oleh Athalla dengan cepat, hingga membuat Allana duduk dipangkuan Athalla. Athalla memejamkan matanya sesaat, karena nyeri itu datang lagi saat kakinya menerima beban dengan spontan. Allana terkejut saat ia bisa dengan mudah duduk dipangkuan Athalla seperti ini. Seketika, mata mereka pun saling bertatap. Walaupun Allana sudah tahu sejak awal, jika Athalla sedang menahan sakit karena ulahnya sendiri. Tapi Athalla sudah mengganti raut wajahnya dengan tersenyum dihadapan Allana. “Susah banget sih, mau bilang makasih ke lo.” Ucap Athalla dengan menatap kedua manik mata milik Allana saksama. “Bodoh!” umpat Allana dengan membalas tatapan Athalla. “Gue? Bodoh?” tanya Athalla tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari mulut Allana. Allana mengangguk, lalu berdiri. “Lo bisa gak sih? Sehari ini gak bikin gue khawatir sama tingkah ceroboh lo sendiri?” ucap Allana dengan menatap serius Athalla. Athalla diam. Apa sejak pagi tadi ia membuat Allana khawatir? Tapi kenapa tiba-tiba? “Ash... tahu ah. Gue malu.” Ucap Allana lalu berlari meninggalkan Athalla yang masih kebingungan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD