Pertandingan

2211 Words
Allana menutup buku diarynya setelah ia selesai menulis disana. Allana bangkit dari meja belajarnya dan segera berjalan untuk mematikan lampu kamarnya dan menggantinya dengan menyalakan lampu tumblr warm white. Sungguh indah saat kamar Allana dalam mode seperti ini. Lampu tumblrnya akan menyala bergantian, menerangi foto yang ia gantung di kabelnya. Allana berjalan menuju kasurnya dan meraih ponsel serta kacamata anti radiasi untuk melindungi matanya dari minus. Allana memainkan ponselnya yang sudah dipenuhi notifikasi dari teman kelas maupun lain kelas. Asal kalian tahu, ponsel Allana tidak pernah sepi. Allana membuka aplikasi chatting untuk melihat siapa saja yang telah mengirimkan pesan padanya. Dari sekian banyak pesan masuk yang ada di ponsel milik Allana, tidak ada sama sekali yang membuatnya tertarik untuk membuka isi pesan tersebut. Namun sorot matanya jatuh pada nama Athalla yang untuk pertama kalinya mengirimkan pesan kepadanya. Hati Allana merasa senang sesaat setelah membaca chat dari Athalla. Tanpa Allana membukanya pun Allana dapat membaca chatnya hanya dengan melihat ruang obrolan. | Athalla Onesimo: Selamat malam, Ana. Setelah membaca pesan Athalla, Allana tidak berniat untuk membalas semua pesan yang masuk di ponselnya. Allana pun mematikan ponselnya dan meletakkannya diatas nakas. Allana juga melepas kacamatanya, sembari berbaring diatas kasurnya. *** Allana sedang menyisir rambutnya di depan kaca yang ada di kamarnya. Hari ini kelas akan kosong kembali, karena team futsal Athalla berhasil masuk final. Dan hari ini adalah final untuk memperebutkan juara 1 dan 2. Entah kenapa hari ini Allana terlihat sangat antuasias. Ia merapikan rambutnya agar terlihat sedikit lebih cantik, ia juga memoleskan liptint di bibir pinknya supaya tidak terlihat kusam. Setalah selesai bersiap dengan pakaian olahraga dan peralatan fotografi, Allana pun keluar untuk sarapan. Ia berjalan menuruni anak tangga dengan langkah yang pelan. Tapi, langkahnya terhenti saat mendengar suara yang dikenalnya dengan jelas beberapa hari ini. “Wah semangat kalau gitu. Om bantu doa biar bisa menang.” Ucap Papa Allana dengan menepuk bahu lelaki itu akrab. Allana berjalan mendekat dengan perasaan ragu menuju ruang makan sambil terus menatap punggung lelaki tersebut penasaran. “Ini yang ditungguin baru turun.” Ucap Mama Allana sembari meletakkan masakannya diatas meja makan. “Ditungguin siapa?” tanya Allana “Itu, Athalla.” Jawab Mama Allana dengan mengarahkan dagunya kearah lelaki itu duduk. Apa? Sepagi ini dia berkunjung kerumah. Apa yang akan dilakukannya kali ini. “Pagi Na.” Benar, dia Athalla. Dia sedang menyapa Allana barusan sembari membalikkan badannya untuk bisa menatap Allana. “Ngapain lo disini?” tanya Allana tanpa berniat untuk membalas sapaannya tadi. “Jemput lo buat berangkat sekolah bareng.” Jawab Athalla dengan tersenyum kearah Allana. Kenapa bisa Allana mendapatkan pemandangan manis sepagi ini? Dan apa maksdunya tadi? Menjemput Allana untuk berangkat sekolah bersama? Konyol sekali. “Gue udah berangkat sama Lisa.” Jawab Allana enteng. “Gue jemput lo karena Reza bilang, Lisa hari ini gak bisa buat berangkat bareng lo. Jadi Lisa minta tolong ke gue lewat Reza, dan Reza bilang ke gue. Karena chat Lisa semalam gak lo balas.” Jelas Athalla. Allana terkejut dan kembali mengingat kenapa ia bisa tidak membalas pesan dari Lisa. Karena semalam ia sudah membaca pesan dari Athalla, Allana pun lupa untuk membaca dan membalas pesan masuk dari Lisa. Allana pun segera mengambil ponsel yang diletakkannya di dalam tas dan memeriksa pesan Lisa. | Al smaaf banget, gue besok gak bisa berangkat sama lo. Gue sedikit telat besok, jadi lo berangkat sendiri ya karena besok kan lo bagian fotoin pemain futsalnya. | Tapi lo gak perlu khawatir, karena besok lo gak akan berangkat sendiri. Ada Athalla yang siap anterin lo besok. Asal lo tahu, kata Reza dia kesenangan waktu gue suruh buat anterin lo besok. Selamat bersenang-senang. Allana menghela nafas kesalnya. Bagaimana bisa menyenangkan saat berada disamping Athalla?. Apa yang harus ia lakukan? Allana pun duduk dan memakan sarapannya sebelum akhirnya berangkat ke sekolah dengan Athalla. Selama perjalan menuju ke sekolah, Allana hanya diam begitu juga dengan Athalla yang fokus untuk menyetir. Entah, tapi sejak tadi pagi getaran hati Allana terasa sedikit berbeda setiap berada di dekat Athalla. Tapi, Allana harus tetap menjaga sikap agar tidak terlihat aneh dihadapan Athalla. Saat motor Athalla memasuki gerbang sekolah, Allana bisa melihat tatapan seluruh siswa dan siswi yang sangat tajam. Sesekali Allana tersenyum untuk menyapa mereka yang dikenalnya. Athalla pun memarkirkan motornya, dan Allana segera turun supaya tatapan siswa dan siswi yang melihat cepat hilang. Rasanya sangat risih menjadi pusat perhatian seperti ini. Allana melepas helm dan segera memberikannya pada Athalla. Sempat tadi ia melihat wajah Athalla sebentar, tapi Allana segera mengalihkan pandangannya. Setelah helmnya diambil oleh Athalla, Allana berjalan untuk pergi lebih dahulu tanpa menunggu Athalla. “Tunggu Na.” Ucap Athalla dengan memegang tangan Allana. Ingin sekali Allana membuang muka hari ini. Menjadi pusat perhatian adalah hal yang paling di bencinya. Semua tatapan tajam itu, meminta jawaban atas perlakuan Athalla kepadanya hari ini. Tuhan, tolong Allana. Allana tetap diam menunggu Athalla, sampai akhirnya Athalla menarik tangan Allana untuk diajaknya jalan bersama Sesekali Allana menarik tangannya agar bisa lepas dari genggaman Athalla. Tapi itu mustahil. Athalla saat ini seolah sedang menuntun Allana untuk berjalan, karena Allana sengaja menutup wajahnya menggunakan sebelah tangannya. Ia merasa malu dengan situasi seperti ini. “Tha, dia siapa?” Allana baru sadar, jika saat ini langkahnya dan langkah Athalla berhenti. Tapi Allana tidak tahu, suara siapa yang sekarang sedang bertanya pada Athalla. “Kenalin, ini Ana calon pacar gue.” Jawab Athalla. Allana terkejut saat mendengar ucapan Athalla yang asal bicara. Tapi, Allana tidak peduli. Toh, siapa Ana? Namanys adalah Allana, bukan Ana. Lagi dan lagi, Athalla bersikap seolah sudah terlalu dekat dengan Allana. Tangan Allana yang digunakan untuk menutupi wajah, kini diturunkan oleh Athalla. Hal itu berhasil membuat Allana bisa melihat wajah Athalla yang sedang tersenyum kearahnya. “Lo?!” Saapan itu terdengar seperti menahan amarah, karena suara yang keluar seperti tidak bersahabat. “Na, dia Alina. TEMAN gue.” Ucap Athalla dengan menekankan kata TEMAN. Allana bisa melihat wajah masam yang dikeluarkan Alina saat Athalla menyebutnya hanya teman. Tidak lebih. “Apa? Teman? Terus, seminggu yang lalu itu apa?” ucap Alina mencari keuntungan supaya Athalla mengaku seperti yang diinginkannya. Athalla mengecohkan Alina yang berusaha mendapatkannya, Athalla terlalu sibuk hanya untuk mendengarkan ocehannya. “Maaf ya Alina. Kapan-kapan gue dengerin curhatan loh deh, tapi kali ini gue lagi buru-buru buat persiapan tanding pagi ini.” Ucap Athalla dengan memasang wajah merasa bersalah. Alina hanya bisa diam, memendam kesal karena diabaikan begitu saja oleh Athalla. *** Matahari pagi ini memang sangat cerah. Sinarnya, mendukung pertandingan final futsal pagi ini. Lapangan hijau, serta suara-suara penyemangat sudah tertata rapi. Perlahan tapi pasti, kini pemain futsal sudah memasuki lapangan. Penonton mulai tersihir oleh daya tarik setiap pemain futsal. Termasuk Allana, yang saat ini sedang berdiri dipinggir lapangan untuk mengambil beberapa foto guna dijadikan dokumentasi sekolah. Allana tidak tahu, sejak kapan ia mulai tersenyum saat melihat postur tubuh Athalla mengenakan pakaian jersey dengan topi baseball putih yang melekat dikepalanya. Tapi itu membuatnya senang karena bisa melihat postur tubuh Athalla yang sangat kekar. Walau disisi lain, banyak gadis yang juga melihatnya. Setelah acara pembukaan selesai, setiap pemain diberikan waktu 5 menit untuk melakukan pemanasan dan doa sebentar. Di saat inilah Allana mulai bekerja. Allana berjalan kearah tengah lapangan, dimana team lawan mulai melakukan pemanasan dan berkumpul untuk berdoa. Satu, dua kali ia mengambil foto. Tetapi, kini fokusnya sudah teralihkan, saat kepala Allana tiba-tiba saja merasa sedikit lebih dingin. Matanya pun tidak merasa silau. Allana berbalik, dan sudah menemukan Athalla yang kini sibuk membenarkan topi yang ada di kepala Allana. “Kamu tahu kalau ini panas. Jadi, simpan topi ku dikepala mu.” Ucap Athalla dengan tersenyum lebar kearah Allana. Andai saja kelakuan usilnya hilang, sudah pasti Allana bisa terjerumus masuk kedalam perangkap Athalla. Sisi manis dan usil Athalla, membuatnya berpikir dua kali. Tapi itu adalah karakter Athalla yang unik. Sekilas, Allana melihat tatapannya. Setelah itu, ia melihat ke sekeliling. Teman-temannya sedang melakukan pemanasan. Bagaimana dengannya? Allana kembali menatap wajah Athalla. Matanya seolah berkata bahwa ia sedang menunggu jawaban darinya. Allana tersenyum. Ia mulai membuka mulut dan berkata, sebelum ada yang memanggilnya. “Tha! Cepet kesini.” Teriak teman satu teamnya yang bernomor punggung 10. Baru saja Allana ingin berkata jika topinya akan aman bersama dengannya, tapi Athalla sudah menepuk pundak Allana dan berjalan pergi menjauh untuk melakukan pemanasan. Waktu terus berputar, dan matahari semakin naik. Teriknya yang menyengat membuat seluruh pemain dua kali lipat memproduksi keringat. Tapi ingat, tidak hanya pemain. Tetapi seluruh petugas dokumentasi juga merasa gerah, seperti saat ini. Seiring berjalannya waktu, kini futsal sudah hampir mencampai jayanya. Karena pertangingan hanya tersisa 20 menit, dengan skor 2-1 untuk sekolah Allana. Team Athalla memang unggul saat ini, dan semua itu karena kerja keras mereka yang berusaha untuk solid mengoper satu sama lain, hingga akhirnya goal dicetak oleh Athalla. Ya, memang dia pemain andalan teamnya dan sekolah. Cara bermainnya yang cekatan dan mampu memimpin team, itu yang disukai oleh anggota futsal dan seluruh anggota sekolah. Setelah beristirahat sejenak, Allana kembali menuju kepinggir lapangan untuk menggantikan Tari yang sudah kelelahan. Allana mulai mengarahkan lensa kameranya pada lapangan untuk melihat pemain yang sedang berusaha merebut bola. Tetapi Allana terkejut saat mendengar teriakan dari seluruh penonton yang menyaksikan. Bukan hanya penonton, termasuk dirinya sendiri. Tadi, saat Allana hendak mengarahkan lensa kamera kearah Athalla yang sedang membawa bola, tiba-tiba saja Athalla terjatuh, dan setelahny Allana mendengar suara jeritan kesakitan. Memang tidak keras, tapi posisi Allana dari tempat Athalla terjatuh tidak lah jauh. Sontak, Allana menurunkan kameranya dan di biarkannya menggantung di leher begitu saja. Melihat wajah Athalla yang menahan sakit, membuat Allana menjadi khawatir. Ingin sekali ia berlari kearahnya.. Tetapi syukurlah, team medis sudah berlari dan mengatasi masalah Athalla. Pandangan Allana tidak lepas dari Athalla yang sedang dirawat oleh medis sekolah. “Allana.” Ia menoleh saat ada yang memanggil namanya. Ternyata salah seorang guru, ia pun berjalan kearahnya saat tangannya memerintahkan Allana untuk mendekat kearahnya. “Tolong berikan ini kepada team medis yang menangani Athalla. Siapa tahu dengan air es ini nyerinya bisa hilang.” Ucap pak Adnan kepada Allana dengan memberikan plastik es penuh. Allana mengangguk dan menerimanya. Allana merasa senang sekali saat mendapatkan perintah untuk memberikan es pada team medis. Karena itu dapat membuat Allana mempunyai alasan untuk melihat kondisi Athalla dari dekat. “Maaf Pak, ini saya disuruh Pak Adnan memberikan ini untuk membantu pengobatan Athalla.” Ucap Allana dengan memberikan plastik tersebut. “Terima kasih, memang ini yang sedang saya butuhkan.” Jawabnya dengan menerima plastik tersebut. Allana tersenyum lega, rasanya ia tidak ingin meninggalkan lapangan setelah memberikan es kepada team medis. “Mending keluar aja. Mereka pasti bisa solid dan menjaga gawang tanpa kapten yang memimpin.” Allana mengurungkan niatannya saat mendengar pelatih futsal sekolah berbicara kepada Athalla. “Tapi saya masih kuat kok Pak.” Allana tahu suara siapa itu, memang sangat keras kepala. “Kamu kuat untuk berjalan. Gimana sama nendang dan larinya?” “Tapi saya yakin masih kuat untuk bermain.” “Athalla. Bukan masalah kuat tidaknya. Ini masalah kesehatan, dan kalau kamu terus tanding. Kita gak tau apa yang terjadi selanjutnya.” Allana terus mendengar perdebatan antara pelatih dan anak didiknya. Memang benar yang dikatakan pelatih futsal, kesehatan adalah suatu hal yang sangat penting. “Satu kesempatan.” Pinta Athalla. Allana mulai geram dengan sifat keras kepala Athalla. Ia pun berbalik dan ikut bergabung dalam perdebatan. “Maaf, tapi pelatih benar. Masa depanmu masih jauh, dan saat ini kesehatan yang lebih penting. Tapi, itu terserah mu kalau tetap ikut bertanding. Aku hanya menyarankan.” Ucap Allana dengan menatap Athalla. Athalla menatap Allana dengan bingung, mungkin yang ada dipikirkannya adalah keberanian Allana dalam menyahuti perdebatan antara pelatih dan anak didik. “Lo terlalu bodoh Tha, dalam mengambil keputusan.” Lirih Allana dengan terus menatap mata Athalla lebih dalam. Allana bisa melihat wajah Athalla terkejut saat ia mengoloknya. Tetapi Allana tidak peduli. “Lo tahu? Keputusan lo tadi, secara gak langsung, lo itu gak percaya sama kinerja team lo sendiri kalau lo lepas tangan. Lo pernah mikir gak sih, kalau lo itu udah terlalu kerja keras buat ngebentuk team yang sama seperti keinginan lo. Solid, kerja keras, tetap utuh. Sekarang adalah waktunya untuk lo kasih pekerjaan itu sama team lo.” Allana tersenyum disela-sela ucapannya. “Menurut gue, kalau kapten yang bisa memimpin teamnya dengan baik. Pasti suatu saat, kapten itu sendiri harus berani melepas teamnya yang sudah pasti menjadi baik. Dan sekarang adalah waktunya..” lanjut Allana yang mendapat anggukan setuju dari pelatih futsal Athalla. Wajah Athalla masih menampakkan keraguan. Tetapi Allana berusaha untuk terus menatap Athalla guna memberikan keyakinan pada Athalla. “Lo bisa percaya sama gue untuk jagain topi. Tapi, kenapa lo gak percaya sama omongan gue? Kalau team lo akan bisa.” Ucap Allana bertanya pada Athalla saat tidak kunjung memberikan jawabannya. Tanpa berpikir panjang, Athalla mengangguk dan berbicara jika ia akan istirahat di pinggir lapangan dan melepas teamnya untuk berusaha tanpanya. Allana menghembuskan napas lega karena bisa membujuknya untuk keluar dari lapangan. Athalla pun diangkat menggunakan tandu menuju pinggir lapangan karena kakinya masih terasa sakit, dan Allana juga segera mengikutinya dari belakang. Setelah itu, team Athalla pun mendapatkan tendangan pinalti, atas kesalahan team lawan yang dengan segaja membuat Athalla terluka. Sejak saat itu, Athalla mulai percaya dengan kemampuan kerja teamnya sendiri. Karena, pertandingan final hari ini dimenangkan oleh team Athalla dengan skor 3-1.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD