Taman Pagi

1450 Words
Hari ini adalah hari minggu, dan hari ini adalah hari untuk bermalas-malasan dirumah. Setelah bangun pagi untuk menjalankan ibadahnya, yaitu sholat subuh Allana pun kembali melanjutkan untuk tidur. Afifah, sangat paham dengan anak semata wayangnya. Allana tidak malas, biasanya ia juga membantu Afifah saat di dapur. Tapi tidak untuk minggu pagi. Afifah membiarkan anaknya untuk beristirahat, asal Allana sudah melaksanakan sholat. Afifah yang sedang berada di dapur untuk memasak sarapan, dikejutkan dengan suara bell yang terdengar. Ini bahkan masih sangat pagi, ini masih jam 05:30. Afifah pun segera berjalan untuk membuka pintu dan melihat siapa yang sudah bertamu sepagi ini. Afifah sedikit terkejut saat melihat siapa tamunya. Wajah asing yang bahkan tidak pernah ia lihat sekalipun. Afifah menerima piring dan mangkuk saat seorang laki-laki muda itu mengulurkan padanya. “Selamat pagi tante. Saya Athalla, anak tetangga depan yang kemarin tante kasih makanan.” Ucap Athalla dengan tersenyum ramah. “Oh kamu anak sulungnya bu Risma?” tanya Afifah tidak percaya saat melihat lelaki muda dihadapannya ini. Athalla mengangguk seraya tersenyum. “Iya tan. Mama juga bilang terima kasih ke tante karena mau repot-repot anterin makanan buat kita.” Ucap Athalla. “Bilangin ke mama kamu, kalau tante nggak repot sama sekali.” Ucap Afifah seraya menepuk pundak Athalla akrab. Athalla tersenyum ramah. “Allananya mana tan? Allana anak tante kan?” tanya Athalla saat tidak sengaja melihat isi rumah Afifah ternyata kosong. “Iya Allana anak tante. Kamu kenal sama anak tante?” tanya Afifiah saat Athalla bertanya tentang Allana. Athalla mengangguk. “Kita satu sekolah.” Afifah terkejut pasalnya Allana tidak bilang padanya saat selesai mengantar makanan kemarin. “Oh kalian satu sekolah. Tante baru tahu, Allana belum cerita soalnya.” Jawab Afifah. Athalla pun tersenyum, rasa penasarannya terlalu tinggi terhadap Allana sekarang. “Allana kemana ya tan? Kok rumahnya kelihatan sepi?” tanya Athalla. “Iya, orang rumah masih tidur. Emang kenapa? Kamu mau ajak Allana pergi?” tanya Afifah saat melihat pakaian olahraga yang di kenakan Athalla. Athalla mengangguk sembari tersenyum. “Kalau tante izinin sih, saya mau ajak Allana olahraga pagi.” “Oh yaudah kamu masuk dulu. Tante bangunin dulu Allananya.” Ucap Afifah dengan mempersilahkan Athalla masuk untuk duduk. Athalla pun masuk dan duduk sembari menunggu Allana bersiap. Matanya menyusuri setiap dinding yang terpasang foto Allana dan keluarga. Entah, sejak kapan Athalla tersenyum saat melihat wajah Allana tersenyum disana. Sangat cantik, batin Athalla. Afifah pun mengetuk pintu anaknya yang tertutup. Afifah membuka pintu saat Allana tidak segera membukanya. Afifah membuka gorden seraya memanggil anaknya. “Allana bangun sayang.” Ucap Afifah lembut. Allana mengeliat nyaman diatas kasurnya karena sinar matahari masuk kedalam kamarnya. “Masih ngantuk ma.” Jawab Allana dengan mata yang masih tertutup. Afifah berjalan dan duduk di tepi kasur Allana. “Ada Athalla nungguin kamu di depan.” Ucap Afifah. Allana langsung membuka matanya saat mendengar nama Athalla. Kenapa Athalla di rumahnya? “Athalla?” tanya Allana memastikan bahwa pendengarannya tidak bermasalah. Afifah mengangguk, membenarkan pertanyaan anaknya. “Kamu mandi, terus pakai baju buat olahraga.” Ucap Afifah pada anaknya sembari keluar dari kamar anaknya. “Ah mama. Kenapa gak di suruh pulang aja sih?” ucap Allana dengan kesal saat waktu bermalas-malasannya terganggu. Afifah menggeleng. “Mama gak suruh dia pulang, karena mama juga mau kamu olahraga. Sekarang cepat mandi dan ganti baju. Mama tunggu dibawah, awas aja lama.” Ucap Afifah sembari menutup kembali pintu kamar Allana. Allana pun dengan gontai masuk kedalam kamar mandi. 10 menit Allana membersihkan diri dan ganti baju. Kini Allana sedang berada di depan meja riasnya. Allana mengambil karet rambut pinknya. Tapi, saat ingin memakainya Allana kembali berpikir. “Percuma dong gue ikat rambut kalau nantinya bakal di lepas juga sama Athalla.” Ucap Allana di depan cermin. Akhirnya Allana pun menaruh kembali karet rambutnya, dan berakhir dengan menyisir rambut. Setelah rambutnya rapi, Allana pun keluar dan menemui Athalla. Allana sedikit terkejut saat melihat betapa akrabnya mamanya dengan Athalla yang saat ini sedang mengobrol bersama. “Mama akrab banget sih? Jangan terlalu akrab ma, nggak baik.” Ucap Allana dengan berjalan mendekat kearah mamanya. Afifah dan Athalla pun mengalihkan pandangan untuk melihat orang yang berbicara. Athalla terdiam saat melihat penampilan Allana yang hanya menggunakan training hitam panjang dan kaos putih polos serta rambut yang di urai. Simple, namun terlihat berkelas. “Mau olahraga kok gak ikat rambut?” tanya Afifah saat melihat rambut anaknya yang terurai. Allana melirik kearah Athalla yang saat ini sedang melihatnya. “Lagi jaman maling karet rambut ma.” Ucap Allana. Afifah tertawa saat mendengar ucapan konyol yang keluar dari mulut anaknya. “Ada-ada aja. Orang sekarang itu udah lebih dari mampu buat beli karet rambut aja.” Jawab Afifah. Allana menggedikkan bahunya. “Iya ma, itu buat orang yang mau beli karet rambut. Kalau enggak, ya dia ambil karet rambut orang lah.” Tambah Allana. “Udah ah, kalian jadi nggak berangkat-berangkat.” Ucap Afifah memotong karena jika menanggapi Allana itu tidak akan ada habisnya. Athalla pun berdiri dan berniat untuk menyalimi mama Allana. “Saya ajak Allana olahraga ya tan.” Ucap Athalla dengan mencium tangan kanan Afifah sopan. Afifah mengangguk. “Hati-hati ya. Tante juga minta tolong sama kamu, jagain Allana selama dia sama kamu. Dan tegur dia kalau dia nggak mau ikut olahraga.” Ucap Afifah. Athalla mengangguk seraya tersenyum menyetujui ucapan Afifah sebagai mama Allana. “Baik tan.” Jawab Athalla. Allana kesal dengan pemandangan dihadapannya saat ini. Bagaimana bisa mereka sangat akrab. “Barang pecah kali harus di jagain.” Ucap Allana yang menyindir ucapan mamanya tadi sembari pamit pada Afifah mamanya. Setelah Athalla dan Allana berpamitan pada mama Allana, mereka pun berjalan keluar rumah Allana. Athalla berjalan menuju motornya yang sudah ia parkir di depan rumah Allana. Athalla berhenti tepat di depan motornya, ia berbalik dan menghadap kearah Allana yang tampak kebingungan sambil menatapnya. Athalla tersenyum melihat wajah polos Athalla. “Gue senang kalau lo nurut kayak gini.” Ucap Athalla dengan menepuk pelan kepala Allana. Allana mengalihkan tangan Athalla dari kepalanya. “Apaan sih. Gue Cuma sayang sama karet rambut pink gue.” Jawab Allana dengan kembali merapikan rambutnya. Athalla mendekatkan dirinya kearah Allana. Athalla membalikkan tubuh Allana, lalu Athalla mengangkat kedua tangannya dan mengarahkannya pada kepala Allana. Athalla meraih rambut Allana dan merapikannya menjadi satu, walau tampak kesusahan Athalla terus mencobanya dan Allana hanya diam saja tanpa ada penolakan. Setelah berhasil merapikan rambut Allana menjadi satu, Athalla pun mengeluarkan karet rambut milik Allana yang berada di dalam saku celananya. Athalla mulai mengikat rambut Allana dengan rapi. Setelah dirasa selesai, Athalla pun kembali membalikkan badan Allana supaya bisa menatapnya. Athalla tersenyum. “Gue izinin lo kuncir rambut kali ini. Lo tahu kenapa?” ucap Athalla dengan menatap lekat kedua manik mata milik Allana. “Kenapa?” tanya Allana dengan membalas tatapan mata Athalla. “Gue ada sama lo, jadi gue bisa jagain lo kalau ada cowok yang berani macam-macam sama lo.” Jawab Athalla dengan mengedipkan matanya sebelum ia menaiki motornya. *** Tepat setelah 15 menit Raefal mengendarai motornya, akhirnya mereka berdua telah sampai di taman kota. Sangat ramai, banyak anak kecil hingga orang dewasa yang datang kesini hanya untuk berolahraga dan menikmati suasana pagi hari. Allana turun dan tersenyum melihat pemandangan asing di hadapannya. Allana menutup matanya sembari menghirup udara segar. Sangat segar. Athalla tersenyum melihat wajah polos Allana. Gadis yang sangat sulit di takhlukkan. Apa masalahnya? Bahkan Allana tidak menakutkan, melainkan sangat cantik. Athalla berdiri tepat di hadapan Allana yang sedang menutup matanya. Athalla terus tersenyum supaya saat Allana membuka mata, ia bisa melihat senyum tulus Athalla. Benar, saat Allana akhirnya membuka mata. Allana menjadi terkejut. Plak... “s**t!” umpat Athalla dengan berdiri tegak dan senyum yang menghilang. Allana membulatkan matanya, terkejut. Allana tidak sengaja menampar Athalla karena ia terkejut saat melihat wajah Athalla yang tepat di hadapannya. “Maaf. Gue gak sengaja.” Ucap Allana dengan penuh rasa bersalah. Allana mencoba berdiri dihadapan Athalla untuk melihat bekas tamparannya. Bekas merah tercetak jelas di pipi kiri Athalla. Allana pun mengulurkan tangan untuk membelai lembut pipi Athalla. “Gue gak sengaja. Maaf.” Ucap Allana dengan tangannya yang terus membelai lembut pipi Athalla. Athalla melihat wajah Allana yang merasa bersalah, itu sangat lucu. Tapi ia merasa senang karena Allana perhatian dengannya. Dan entah sejak kapan, Athalla tersenyum melihat ekspresi Allana dari bawah. Allana yang merasa tidak dihiraukan pun akhirnya menegadahkan kepalanya untuk melihat wajah Athalla. Plak... “Ah..” umpat Athalla lagi. Allana kembali menampar Athalla saat Athalla tidak merasa kesakitan atas perlakuannya. Allana juga kesal karena Athalla tersenyum padanya, padahal ia merasa tidak enak hati. “Sakit, Na.” Ucap Athalla dengan memegangi pipinya karena terasa panas. “GUE GAK PERDULI!” tekan Allana lalu pergi berjalan meninggalkan Athalla.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD