Atas saran Dokter Titis, Clarinta dimita untuk datang ke rumah sakit bareng Bram. Kebetulan siang itu, Bram tidak lagi merasakan mual-mual seperti pagi tadi. Badannya sudah agak enakkan. "Kamu kok diam aja dari tadi?" Bram berusaha memecah keheningan di antara mereka berdua karena sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit, istrinya hanya diam seribu bahasa, pikirannya menerawang entah kemana. "Aku nggak papa, aku cuma merasa aku ini baik-baik saja, aku nggak ngerasa tanda-tanda kehamilan, tapi kenapa aku dibilang hamil? Aneh, 'kan?" "Itu 'kan baru praduga. Bisa benar bisa juga nggak, makanya kita ke rumah sakit sekarang. Agar kita bisa mastiin dan ngecek kondisimu," sahut Bram yang terlihat santai di belakang kemudi, sementara Clarinta tampak tegang dan gelisah. Berulangkali perempu

