Janitra Bramantyo sudah berdiri persis dihadapannya, jarak mereka sangat dekat hingga mampu membuat jantung gadisi itu berdegup sangat kencang. Clarinta selalu merasa aneh bila menatap manik mata laki-laki itu yang menurutnya liar, tapi entah kenapa mata itu terasa seperti memanggilnya untuk terus menatap. Sesaat pasangan pengantin baru itu saling diam menatap satu sama lain, debaran jantung di d**a Clarinta terasa begitu kencang ketika Bram semakin mendekat dan anehnya perasaan seperti ini belum pernah dirasakannya ketika bersama dengan Alva—sang pacar.
"Alva ...."
Tiba-tiba nama itu terlintas dalam benak Clarinta. Bergegas didorongnya bahu laki-laki itu dan berlari menjauhinya, sementara Bram sendiri hanya tersenyum nakal begitu gadis itu berlalu dari hadapannya. Clarinta segera masuk ke kamar mandi yang terletak di dalam kamar, napasnya tersengal-sengal tidak beraturan. Dibukanya kran air dari wastafel lalu dibasuh wajahnya yang tiba-tiba terasa panas, peluh di wajahnya pun mulai terasa. Namun, ketika diraba bibirnya sendiri, bibir itu terasa dingin.
"Ada apa aku ini?" Clarinta benar-benar tidak mengerti dengan keadaan dirinya sendiri.
Cukup lama gadis itu berdiam di dalam kamar mandi, untungnya kamar mandi itu wangi dan bersih, membuatnya nyaman berada di sana. Saat dirasa keadaan di luar sana sudah aman, gadis itu menempelkan telinganya di pintu kamar mandi untuk memastikan tidak ada suara apapun di luar sana, sepertinya suasana di luar sepi, tidak terdengar suara apa-apa lagi. Bergegas dibukanya pintu kamar mandi perlahan dan dilihatnya kamar itu sudah sepi, tidak ada siapapun di sana. Clarinta merasa sangat lega, karena akhirnya laki-laki itu telah meninggalkan kamar. Ditutupnya pintu kamar itu dan dirapikan semua barang-barang yang dibawanya tadi.
Clarinta baru keluar dari kamar ketika jam makan malam tiba. Saat turun ke bawah ke ruang makan, dilihatnya di sana sudah ada sang ibu mertua dan Nabilla, adik iparnya.
"Dimana Bram?" Entah mengapa tiba-tiba saja dalam pikirannya terlintas nama laki-laki menyebalkan itu, "untung nggak ada Bram!" batinnya senang. Gadis itu segera duduk di depan Nabilla, di sebelahnya ada seorang pria muda yang tersenyum manis ke arahnya dengan balutan pakaian seragam pilot. "Itu pasti suaminya, karena saat aku menikah sama Bram, suami Nabilla tidak datang, karena ada tugas terbang katanya," batinnya lagi.
"Kay, kenalkan ini Ghaffar, bapaknya bayi ini!” ujar Nabilla sambil menyeringai senang dan menunjuk ke arah perutnya yang buncit, “dia baru pulang dari tugas negara!" gadis itu tertawa kecil, sementara suaminya tersenyum riang sambil menyodorkan lengannya ke depan.
"Ghaffar!" sapa laki-laki berseragam pilot itu.
Nabilla memang sangat beruntung mendapat suami seperti Ghaffar, orangnya terlihat ramah, perhatian dan menyenangkan. Adik Bram ini pasti sangat mencintai sang suami, mereka berdua memang merupakan keluarga kecil yang sangat bahagia, pikir
"Ayo, kita makan, Bu! Aku sudah lapar!"
"Tunggu kakakmu, Billa. Sebentar lagi dia datang," pinta Sasikirana dan tak lama kemudian Bram sudah muncul di depan mereka.
"Selamat malam, sudah lengkap rupanya!" sapa laki-laki itu sambil mengulas senyum.
"Iyaa, kami memang sedang menunggumu, Sayang." Bram lalu duduk di sebelah istrinya. Keluarga itu mulai menikmati makan malam bersama. Saat mereka sedang asyik menikmati menu makan malam, tiba-tiba Sasikirana memecah keheningan di antara mereka.
"Kay, aku dengar dari ibumu, katanya kamu pintar masak, ya? Apa benar?"
Clarinta terperanjat dan salah tingkah di depan ibu mertua seraya berkata, "Eeeh, saya cuma bisa masak makanan-makanan yang biasa, Bu. Ibu saya pasti terlalu melebih-lebihkan," sahutnya canggung.
"Justru itulah, kami ingin merasakan makanan biasamu itu, Kay. Ibu yakin masakanmu itu pasti sangat enak, kapan-kapan kamu mau ‘kan masak untuk kami?" Gadis itu hanya bisa mengangguk lemah, "oh iyaa, Ibu punya sesuatu buat kamu, Ibu punya kado special buatmu."
"Apa itu, Bu?" sela Bram penasaran.
"Ini bukan buat kamu, Bram! Tapi buat istrimu. Ibu pikir sudah sepantasnya Clarinta mendapatkan hadiah ini. Apalagi kemarin kita nggak ngadain pesta besar-besaran, ‘kan? Seperti pesta pernikahan Nabilla dulu," sahut Sasikirana sambil menyodorkan sebuah kunci mobil ke arah sang menantu.
"Waaah, Ibu curang! Dulu waktu aku nikah aku nggak dikasih hadiah special seperti itu!" rajuk Nabilla ketika melihat ibunya memberikan kunci mobil Beetle untuk Clarinta sebagai hadiah pernikahan.
"Billa, dulu ‘kan kamu sudah keliling Eropa sebagai hadiah bulanmadu dari Ibu. Impas, ‘kan?" Nabilla cuma bisa cemberut melihat ibunya. Bram dan Ghaffar tertawa kecil, melihat tingkah Nabilla yang manja dan kekanak-kanakkan.
"Kay, Ibu nggak tahu apa warna kesukaanmu jadi Ibu pilihkan warna silver buatmu. Nggak papa ya?” Clarinta hanya mengangguk pelan sambil menerima kunci mobil itu, “nih ambil kuncinya! Kamu bisa lihat mobilnya di garasi!"
"Ibu, terima kasih,” sela Clarinta cepat, “tapi maaf, mungkin saat ini saya belum membutuhkannya, karena saya lebih suka menggunakan motor. Mungkin Billa bisa menggunakannya terlebih dulu, Nabilla pasti lebih membutuhkan," lanjutnya sambil menatap sang adik ipar yang terlihat begitu bersemangat menerima hadiah mobil itu.
"Waah, Kay! Kamu baik sekali!" teriak Nabilla girang.
"Nggak, Billa! Mobil itu tetap milik Clarinta, walaupun dia nggak makai mobil itu! Ingat itu!" Suara Sasikirana begitu lantang dan menentang ucapan menantunya.
"Nggak apa-apa, Bu. Lagian saya juga belum bisa mengendarai mobil," sela gadis itu lagi.
"Kamu bisa minta tolong sama Bram! Dia pasti bisa ngajari kamu. Iya, ‘kan Bram?" Bram yang saat itu sedang menikmati makan malam hanya mengangguk senang.
"Tapi kapan-kapan, kalo aku ingin pinjam mobilmu, bolehkan, Kay?" sela Nabilla sambil menyesap air putih yang tinggal separuh di gelas. Gadis itu mengangguk mantap sambil tersenyum ke arah Nabilla, sementara jauh di lubuk hatinya Clarinta sedang memikirkan bagaimana nanti kalau dia belajar mengendarai mobil dengan Bram?
“Laki-laki itu pasti akan terus membentak dan membuat masalah denganku. Lebih baik nggak usah belajar naik mobil kalau begitu! Daripada nambah masalah dengan Bramad, rasanya enggan berduaan sama dia,” batinnya kesal.
Malam itu setelah selesai acara makan malam, Clarinta pamitan menuju ke kamar. Bergegas dibukanya beberapa makalah pendukung yang menjadi sumber bahan skripsi. Gadis itu pun hanyut menyusun semua bahan-bahan skripsi yang ditulisnya di laptop hingga tiba-tiba pintu kamar diketuk. Dengan rasa malas gadis itu bangun dari tempat tidur dan membuka pintu kamar, di depannya telah berdiri Bram dengan dua mug kecil di tangan. Dari aroma wanginya yang menguar di udara, dia bisa mencium bau kopi yang kelihatannya enak untuk dinikmati.
"Aku buatkan kopi buatmu," Bram menyodorkan salah satu mug itu ke Clarinta.
"Tumben banget orang ini baik sama aku," batinnya heran. "Terima kasih!" Gadis itu lalu menerima mug tersebut sambil terus berdiri di depan pintu kamar.
"Apa aku nggak boleh masuk?"
Sesaat Clarinta menghela napas dan memutar kedua bola matanya dengan perasaan kesal. "Silahkan ...."
Laki-laki itu bergegas masuk ke dalam kamar begitu sang istri membuka pintu kamarnya lebih lebar. "Bagus juga kamu menata ruanganmu ini. Ooh iyaa, aku lupa,” ucapnya sambil menepuk jidat, “kenapa kamu nggak bilang kalau kamu butuh meja? Paling nggak kamu nggak ngerjain tugas-tugasmu di atas tempat tidur seperti ini, ‘kan?" lanjutnya lagi sambil melihat-lihat ke sekeliling kamar Clarinta dan melihat berkas-berkas tugas sang istri yang berserakan di atas tempat tidur sambil sesekali menyesap kopi.
"Aku suka mengerjakan tugasku di atas tempat tidur, lebih terkesan santai menurutku," sela Clarinta cepat.
"Tapi dengan cara duduk di atas tempat tidur, akan lebih cepat capek. Besok biar aku suruh orangku untuk membawakan meja kerja untukmu," ujarnya lagi sambil memperhatikan ruangan kamar yang bernuansa putih yang masih sepi ornament.
"Terserah!" Clarinta menanggapinya dengan santai sambil menyesap kopi buatan Bram yang ternyata memang enak seperti dugaannya tadi. Setelah puas melihat-lihat kamar itu, laki-laki itu segera beringsut ke arah pintu kamar yang masih terbuka lebar, tiba-tiba langkahnya terhenti persis di depan sang istri yang masih berdiri di sana.
"Oh iya, kamu masih punya satu pekerjaan rumah yang lain!"
"Apa itu?" tanyanya penasaran.
"Kamar kita! Kamu belum beresin kamar kita, kan? Aku ingin kamu yang merapikannya," pinta Bram sambil berjalan ke arah pintu kamar kemudian sesaat menoleh kembali ke arah gadis itu.
"Jangan lupa jam 10 malam!" Bram menunjuk ke arah Aiger yang melingkar di tangan lalu bergegas menghilang dari hadapannya. Dengan cepat Clarinta segera menutup kamar dengan perasaan kesal.
"Huh jam 10 malam!" rutuknya kesal sambil menyesap kopinya yang tinggal sedikit.
***
Malam itu jam di dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam. Bergegas gadis itu menuju ke kamar Bram yang ada di ujung ruangan di lantai dua. Sesaat diketuknya pintu kamar. Namun, tidak ada sahutan dari dalam. Clarinta memberanikan diri untuk membuka kamar tersebut, di sana memang tidak ada siapa-siapa, sepi.
“Bram kemana? Apa mungkin di kamar mandi?" batinnya penasaran sambil beralih ke kamar mandi dan mengecek ruangan itu, ternyata tidak ada orang di kamar mandi kering yang sangat luas, “apa Bram masih di ruang kerjanya?” batinnya lagi.
Clarinta bersyukur karena Bram tidak ada di dalam kamar, gadis itu lalu melihat-lihat kamar yang begitu luas, kalo dihitung-hitung mungkin bisa 2 kali luas kamarnya yang sekarang. Di pojok sebelah kanan dekat dengan jendela terdapat tempat tidur yang cukup besar ukuran king size, empat orang mungkin bisa tidur di ranjang sebesar ini, pikirnya. Nuansa biru yang di dapat dari penerangan cahaya lampu kamar tidur yang cukup redup, cukup menentramkan hati bagi siapa saja yang melihatnya.
Di sebrang tempat tidur, ada seperangkat alat-alat elektronik yang terletak di sana, mulai dari TV LED yang terpajang di dinding, satu set audio, satu set console game, DVD player, beberapa rak yang berisi kepingan CD semuanya tertata rapi di sana.
"Apalagi yang harus dirapikan? Semuanya sudah rapi," batinnya dalam hati sambil memperhatikan ke sekeliling ruangan.
Di sisi yang sebelah kiri terdapat sofa yang warnanya senada dengan dinding kamar yang tersandar di lemari besar berbentuk letter U yang tingginya menyamai dengan tinggi dinding kamar itu. Clarinta jadi penasaran dengan isi lemari suaminya yang sangat besar. Di sana ada beberapa jas, baju dan dasi juga beberapa accessories milik laki-laki, semuanya berjejer rapi di sisi sebelah kiri. Namun, tidak semuanya terisi, sementara di ujung lemari terdapat kaca rias yang cukup besar, sedangkan di sisi sebelah kanan terisi beberapa koleksi sepatu laki-laki yang mungkin jumlahnya mencapai puluhan, dan itu juga hanya terisi sebagian.
"Kenapa hanya sebagian yang terisi? Sayang sekali lemari sebesar ini tidak terisi penuh," batinnya heran.
"Kamu bisa menaruh barang-barangmu di situ, Kay!" Terdengar suara Bram dari arah belakang seperti tahu apa yang dipikirkannya.
"Apa dulu di sini terisi barang-barang mantan istrimu?"
Bram hanya mengangguk perlahan lalu beralih menuju ke ranjang dan duduk di tepi ranjang seraya berkata, "Aku punya sesuatu untukmu!" teriaknya lantang. Clarinta segera keluar dari balik lemari letter U. "Kemarilah, duduk sini!" pinta Bram dan menyuruh istrinya duduk di sebelahnya sambil memegang sebuah benda yang dibungkus. "Lihat apa yang aku bawa untukmu!" Laki-laki itu menunjukkan sesuatu begitu sang istri sudah ada dekatnya.
"Apa itu?" tanya Clarinta penasaran.
"Bukalah!" Bram tersenyum hingga dekiknya terlihat sambil menatap sang istri. Bergegas dirobek bungkusnya dan dilihatnya lukisan dirinya sendiri yang sedang menari tarian Bali, sesaat gadis itu terheran-heran.
"Darimana ...."
"Darimana aku mendapatkannya?” sela Bram cepat, “itu nggak penting! Sekarang mau ditaruh di mana lukisanmu ini?" Laki-laki itu menatap ke arahnya, sementara dia juga membalas tatapan sang suami yang menurutnya liar.
"Mata itu! Ya Tuhan, jangan biarkan aku tenggelam dalam mata itu. Kuatkan aku Tuhan! Kenapa jantungku kembali berdegup sangat kencang?” Clarinta kembali merasakan debaran jantungnya yang berdetak sangat cepat seperti peristiwa tadi pagi.