Malam itu di malam pengantin Bram dan Clarinta, biasanya para pengantin baru mulai saling malu-malu untuk mengenal lebih jauh lagi satu sama lain. Namun, hal ini tidak berlaku untuk pasangan pengantin baru yang satu ini. Mereka berdua malah layaknya seperti orang asing yang tidak peduli satu sama lain, apalagi ketika dering ponsel Clarinta berbunyi sangat kencang malam itu, sang suami enggan mencari tahu siapa yang malam-malam begini menelfon istrinya yang baru saja dinikahinya beberapa jam yang lalu, sementara gadis itu sendiri sedikit bingung begitu mengetahui kalau Alva—pacarnya yang menelfon.
"Hallo selamat malam, Mutya. Ada apa?"
Clarinta berusaha meninggikan suaranya agar Bram mengira kalau yang menelponnya malam itu adalah Mutya—sahabatnya, sementara di ujung sana Alva malah bingung dengan ucapan pacarnya ini.
"Kay, ini aku ... Alva! Bukan Mutya!" Clarinta tidak menggubris ucapan Alva sambil terus berjalan keluar kamar dan melanjutkan obrolannya di luar kamar sampai sekiranya suaminya tidak mendengar percakapan mereka. "Kay! Kamu kok jadi aneh gini, sih? Ini aku--..."
"Iya aku tau, ini kamu, Alva! Maaf, tadi itu aku pas lagi mikirin Mutya jadi terlontar begitu saja nama Mutya. Apa kabar, Sayang?"
"Kabarku baik. Kamu baik-baik saja, ‘kan?" Suara Alva terdengar cemas dan khawatir.
Clarinta jadi merasa bersalah sama pacarnya, “Apa Alva punya firasat yang tidak baik tentang aku ya?” batinnya cemas. "Aku baik-baik saja, jangan khawatir, kenapa?"
"Nggak apa-apa, aku hanya merasa perasaanku kurang enak aja hari ini, tiba-tiba aku ngerasa kangen banget sama kamu. I miss you, Kay."
"I miss you too, Al. Aku juga kangen banget sama kamu." Kedua bola matanya sembab, ada riak yang menggantung di sana, seandainya saja dia bisa jujur dan terus terang tentang keadaannya saat ini sama Alva, pasti perasaannya tidak akan melow seperti ini, "Maafkan aku Alva, aku telah menghianati kesetiaanmu selama ini, tapi aku janji aku akan kembali kepelukkanmu lagi nanti. Aku janji!" batinnya sedih. "Aku juga kangen sama kamu, bagaimana studymu di sana? Semuanya lancar, ‘kan?" Clarinta berusaha tersenyum, agar laki-laki itu tidak curiga padanya.
"Lancar, malah pas liburan semester besok sebenarnya aku berencana untuk pulang, tapi karena ada teman di sini yang ngajak aku untuk kerja part time, jadi aku nggak pulang. Katanya sih hasilnya lumayan, jadi kupikir kenapa nggak? Lumayanlah buat nambah-nambah uang saku, tapi nanti pas libur summer saja aku bisa pulang ke kamu."
Sesaat Clarinta menghela nafas panjang, lega rasanya begitu tahu kalau Alva masih akan lama di London, "Untunglah Alva pulangnya masih lama, jadi masih ada waktu untuk menyiapkan semua," batinnya lagi.
"Kay, kamu kok diam saja? Sudah ngantuk? Sebenarnya aku mau video call sama kamu sekarang, apa masih bisa?"
"Aduh gaswat! Alva minta video call? Gawat! Bagaimana nanti kalau dia lihat dekor bunga-bunga di rumahku ini? Belum lagi kalau tau-tau si Bramad keluar dari kamar, bisa berabe nanti!" Clarinta jadi bimbang. "Sorry banget, Al. Aku udah ngantuk," sahutnya sambil pura-pura menguap, agar Alva mengira dirinya beneran sudah mengantuk, "kapan-kapan aja yaa. Hari ini aku capek banget, seharian ini banyak kerjaan yang harus aku selesaikan. Maaf ya, nanti aku yang video call deh."
"Oh gitu, ya udah gak apa-apa, lebih baik kamu istirahat saja, supaya besok bisa lebih fresh." Clarinta kembali pura-pura menguap, agar Alva tau kalau dia sudah benar-benar mengantuk, "Udah ngantuk ya? Ya udah kalo gitu, besok aku telfon lagi."
"Besok, telfonnya agak pagian bisa? Yaa jam sembilan malam gitu waktu di Indonesia. Gimana?"
"Kenapa?"
"Yaa aku ngerasa ngantuk saja kalau ngobrol jam segini, lagian beberapa hari ke depan mungkin aku juga mulai sibuk, karena harus nyiapin skripsi. Nggak papa, ‘kan?" pintanya manja.
"Baiklah, insyaallah aku usahakan. Besok jam 9 malam ya. Kalo gitu udahan dulu ya, kamu sudah ngantuk, ‘kan?"
"Hhh, huaah ….” Clarinta kembali pura-pura menguap, “oke, kalau gitu, sampai ketemu lagi ya. Selamat malam."
"Have a nice dream! I miss you ...."
"Iya miss you too, bye!" sahutnya sambil memencet tombol off di ponsel.
"Siapa dia?" Tiba-tiba suara Bram yang sedikit berat terdengar dari arah belakang, membuat gadis itu tersentak kaget.
"Dia? Ooh dia ...! Dia Alva! Kenapa?"
Salah satu alis Bram yang tebal melengkung tinggi sambil tersenyum sinis seraya berkata, "Ooo Alva! Pacarmu itu? Yang kuliah di LN? Di mana? London?" ejeknya.
"Ya! Memangnya kenapa?" sahut Clarinta ketus tanpa merasa bersalah sedikit pun sambil berjalan menuju ke kamar lagi. Namun, Bram segera menyambar lengan gadis itu dan mencengkramnya erat. "Kamu menyakitiku, Bram!" Clarinta merintih kesakitan.
Laki-laki itu segera melonggarkan cengkramannya. Namun, masih digenggamnya lengan gadis itu sambil berbisik pelan dan tegas di telinga, "Rule number two! You have to remember this! You can't get in touch with your ex anymore! Tidak boleh lagi berhubungan sama mantan pacar karena kamu sudah bersuami!"
Clarinta menyeringai sinis, seakan membalas ucapan suaminya, "Kamu pikir hubungan suami istri kita ini normal? Apa kamu lupa? Tuan Janitra Bramantyo yang terhormat! Kamu ‘kan sudah menyetujui surat perjanjian pra-nikah kita, kalau kamu nggak akan mengganggu gugat semua aktifitasku setelah kita menikah!" bisiknya pedas dengan nada yang tidak kalah ketus.
"Tapi aktifitas untuk bermesraan dengan laki-laki lain di depan suami, tidak masuk dalam perjanjian itu, Nyonya Clarinta Bachtiar!" Bram mulai meninggikan nada suaranya lagi, tapi masih dengan sedikit berbisik di telinga.
"Kamu pikir, buat apa aku minta satu tahun kita menikah lalu cerai? Itu semua karena dia!” sahutnya dengan kedua bola matanya yang melotot keluar. “Asal kamu tau yaa, itu semua karena aku ingin kembali ke dia dan mewujudkan semua mimpi-mimpi kami dulu!"
Bram pun semakin murka mendengarnya, tangannya hampir saja hendak menampar pipi sang istri. Namun, segera diurungkan niatnya. Tangannya pun turun, laki-laki itu berusaha meredakan amarah yang sudah hampir meledak tadi dengan menghela napas dalam. Bergegas dilepaskan genggaman tangannya di lengan Clarinta, kemudian beralih berjalan keluar ke pintu depan dan menuju ke mobil Jaguar hitamnya yang terparkir di halaman.
Laki-laki itu lalu berdiam diri di dalam mobil, rasanya lebih nyaman tidur di dalam mobil daripada harus kembali ke kamar pengantin mereka yang hanya terlihat indah dan romantis dari luarnya saja. Sementara Clarinta tidak menggubrisnya sama sekali. Perempuan itu malah merasa lega sambil melenggang santai ke kamar dan melanjutkan tidur malamnya dengan tenang, tanpa gangguan sedikitpun, bahkan nyamuk pun tidak berani mendekat.
***
Keesokan hari, ketika Clarinta bangun dari tidurnya, gadis itu bergegas menuju ke kamar mandi. Saat melintas di ruang keluarga, dilihatnya Bram sedang asyik ngobrol dengan sang ibu.
"Kamu sudah bangun rupanya." Suara Bram terdengar riang begitu melihat istrinya pagi itu, seolah-olah semalam tidak terjadi apa-apa di antara mereka berdua.
"Kamu seharusnya malu, Kay,” sela Ratnaduhita, “karena suamimu bangun terlebih dulu ketimbang kamu. Seharusnya sebagai istri, kamu yang bangun lebih dulu, baru suamimu! Kamu siapkan semua kebutuhan suami!” Bram pun menyeringai senang, mendapat dukungan dari sang ibu mertua. “Maafkan Kay ya, Nak Bram," lanjut perempuan tua itu sambil memegang bahu menantunya.
Bram hanya tersenyum tipis seraya berkata, "Nggak apa-apa, Bu. Mungkin Clarinta belum terbiasa bangun pagi."
Gadis itu memutar kedua bola matanya sambil mendengkus kesal dan berkata, "Enak aja! Aku selalu bangun pagi!" sahutnya ketus sambil mengambil segelas air putih yang tersedia di atas meja makan yang bersebrangan dengan ruang keluarga, "dan lagi kalau aku perhatikan, dia ini bukannya bangun pagi, Bu! Tapi tadi malam nggak tidur semalaman!"
"Kay! Kalau kamu tahu suamimu nggak tidur semalaman, kamu nggak boleh membiarkannya!” sela Ratnaduhita kesal, “kalian ini sudah jadi sepasang suami istri, sudah seharusnya saling peduli satu sama lain! Kalian sudah nggak lajang lagi, jadi jangan hanya mikirin diri sendiri, Kay! Ingat itu!” Clarinta hanya terdiam. “Mulai sekarang kamu harus memperhatikan semua kebutuhan suamimu!" Ratnaduhita malah membela menantunya dan berusaha untuk menasehati sang putri, sementara gadis itu hanya bisa manyun, sedangkan Bram tampak tersenyum menang melihat tingkah istrinya yang terlihat kesal. Clarinta merasa tidak nyaman di rumah karena ternyata ibunya lebih memihak ke Bram ketimbang ke dirinya. Menyebalkan!
***
Beberapa jam kemudian setelah selesai mengepak semua barang-barang yang mau dibawa ke mansion keluarga Bachtiar, Ratnaduhita menghampiri putrinya seraya berkata, "Kay, mulai hari ini kamu akan tinggal di rumah suamimu, jaga diri baik-baik ya di sana,” Gadis itu mengangguk. “Jaga nama baik keluarga kita dan mulai hari ini kamu nggak hanya memperhatikan dirimu sendiri, tapi kamu juga harus memperhatikan laki-laki yang telah berbagi hatinya sama kamu, berbagi kamarnya sama kamu, yang akan selalu senantiasa melindungi kamu. Ibu yakin, kamu pasti bisa!" ujar Ratnaduhita sambil menatap wajah putrinya penuh haru.
Gadis itu hanya terdiam menatap sang ibu dengan ekspresi wajahnya yang sedih. Kedua matanya tampak berkaca-kaca, kalau boleh jujur gadis ini merasa berat harus meninggalkan sang ibu dan ikut dengan Bram ke mansion-nya yang mewah. Namun, dia tidak mungkin melanggar norma yang berlaku di daerahnya, ketika seorang gadis yang telah dipinang oleh seorang laki-laki, maka gadis itu harus meninggalkan rumah orang tuanya dan mengikuti kemana sang suami membawanya pergi. Clarinta termasuk gadis yang patuh pada aturan keluarga.
***
Setibanya di mansion keluarga Bachtiar, sesaat Clarinta merasa kagum dengan rumah besar yang mewah yang bergaya arsitektur Eropa. Ruangan di dalamnya pun tampak sangat besar, cukup untuk bermain bulu tangkis pikirnya geli. Ruangan luas yang dihiasi dengan beberapa lemari kaca yang terukir indah di mana terdapat ornament-ornament souvenir yang lucu-lucu yang berasal dari berbagai macam negara itu, menambah kemewahan tersendiri untuk ruangan tersebut, sementara di tengah-tengahnya terdapat kursi-kursi tamu yang megah dan mewah. Pemandangan di rumah keluarga Bachtiar, berbanding terbalik dengan pemandangan di rumahnya sendiri yang kecil mungil dan sederhana.
"Selamat datang, Clarinta!" sapa Sasikirana, begitu melihat kehadiran menantu barunya yang baru saja tiba di rumahnya, "sekarang rumah ini, adalah rumahmu sendiri! Jangan sungkan-sungkan di sini, karena kamu telah Ibu anggap sebagai anak Ibu sendiri," jelas perempuan tua itu sambil memegang bahu menantunya.
"Terima kasih, Bu." Clarinta mencium punggung tangan ibu mertuanya lalu memeluknya erat. Sasikirana juga membalas pelukkan gadis itu lalu mencium keningnya dengan lembut. Gadis itupun tersenyum dan beralih ke adik iparnya, Nabilla.
"Selamat datang, Kay! Akhirnya aku punya teman di rumah ini!" Gadis itu hanya tersenyum begitu mendengar ucapan sang adik ipar. "Ayooo! Aku antar kamu ke kamarmu sendiri!" Nabilla segera menggandeng tangan kakak iparnya menuju ke kamar yang sudah disiapkan untuknya. Sasikirana jadi terharu melihatnya karena akhirnya ada menantu perempuan di mansion besarnya ini.
Sesampainya di kamar, entah mengapa Clarinta langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengan kamar yang ada di depannya saat ini. Kamar yang berukuran tidak begitu besar--tapi lebih besar dari kamarnya dulu--terletak di lantai dua memiliki point view yang begitu indah yaitu mengarah ke kebun bunga di belakang rumah. Dari sana dia bisa melihat pemandangan yang sungguh indah dari balkon luar kamar.
"Kamu suka kamar ini?" tanya Nabilla seperti tau apa yang sedang dipikirkan kakak iparnya. Gadis itu hanya menggangguk dengan senyum yang mengembang.
"Kamar ini pemandangannya indah sekali." Sesaat Clarinta menghirup udara segar dari atas balkon itu.
"Tapi kamu nggak akan tidur di kamar ini, Kay!" Suara laki-laki menyebalkan itu tiba-tiba terdengar dari arah pintu kamar.
"Kenapa nggak boleh? Kakak sendiri juga punya dua kamar! Kakak juga sering ketiduran di kamar kerja Kakak, iya, ‘kan?" bela Nabilla heran.
"Itu kan dulu, Billa ... waktu aku belum punya istri, sekarang aku sudah punya istri, aku ingin tidur sama istriku," tegas Bram sambil menatap ke arah gadis itu tajam.
"Hmmm ... males aaah! Kalau berdebat sama Kakak, aku memang nggak pernah menang!" sahut Nabilla sambil mengelus-elus perutnya yang buncit, “sudah yuk, Dek! Kita pergi aja dari sini! Om-mu itu nggak pernah mau ngalah," lanjutnya kesal sambil ngeloyor pergi keluar kamar, meninggalkan pasangan pengantin baru itu sendirian di sana. Bram menyeringai senang karena selalu berhasil menggoda adik satu-satunya ini. Laki-laki itu lalu menoleh, menatap ke sang istri yang sedang berada di dunianya sendiri, hingga tak menyadari kalau Nabilla sudah pergi meninggalkannya berdua dengan Bram.
Clarinta masih terpukau menikmati pemandangan di luar kamar, sebuah kebun bunga yang indah dengan warnanya yang beraneka warna, membuat gadis itu betah berlama-lama di sana. Angin yang berembus sepoi-sepoi membuat rambutnya yang panjang dan terurai lepas bergerak kian kemari, Bram pun tak kuasa ingin memeluknya. Didekati istrinya secara perlahan. Namun, saat jarak keduanya sudah cukup dekat, tiba-tiba gadis itu berbalik dan tepat pada saat itu Bram sudah berdiri tepat di depannya. Gadis itu menahan napas dan kaget, kedua bola matanya pun membulat.