BAB 12 - Perjanjian Pra - Nikah

2020 Words
"Oooh, aku harus menjawab pertanyaan yang itu ya? Yaa ... yaa ... aku tau, kamu mengundang aku ke sini untuk membicarakan tentang pernikahan kita nanti, iya, ‘kan?" sahutnya santai sambil menghempaskan tubuhnya di kursi di depan Clarinta. "Tidak sekedar pernikahan, Tuan Bram! Tapi aku juga ingin membuat surat perjanjian pra-nikah!" sahut Clarinta ketus. "Apa? Apa aku nggak salah dengar?" "Tidak, Tuan Janitra Bramantyo! Kamu pikir aku mau menikah denganmu karena kamu telah meniduriku? Nggak! Pernikahan kita semata-mata untuk membayar hutang ayahku ke keluargamu, agar ayahku tenang di sana, karena ayahku telah berjanji untuk menjodohkan anaknya ke salah satu anak ayahmu!” ujarnya lirih dan tegas sambil mencondongkan tubuhnya ke depan, agar laki-laki itu mendengar dengan jelas, “dan lagi yang perlu kamu ingat dan catat dalam otakmu baik-baik! Pernikahan kita ini hanya formalitas belaka dan hanya akan berlangsung selama 1 tahun saja! Bagiku itu sudah cukup! Setelah itu kita cerai!" Bram terbelalak mendengar ucapan gadis itu yang cukup pedas di telinga. Laki-laki itu hanya bisa memutar kedua bola matanya sambil bergumam dalam hati, “Kehidupan rumah tangga seperti apa yang akan kami jalani nanti?” Saat itu lembayung senja sudah menampakkan semburat warnanya di langit, warnanya yang merah kekuningan itu melukiskan sebuah pemandangan yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Clarinta sangat menyukai warna lembayung senja, sebuah warna yang mewakili pergantian antara sore hingga ke malam hari yang sering menciptakan suasana yang romantis. Clarinta suka dengan semua yang berbau romantis. Namun, sayang saat ini kebersamaannya dengan Bram tidaklah romantis. Gadis itu masih mencoba bersabar menunggu Bram yang sedang memeriksa surat mereka yang baru berupa draft rancangan. "Aku nggak setuju dengan point terakhir!" Bram mulai buka suara, memecah keheningan di antara mereka berempat—Clarinta, Mutya, Om Malik dan Bram sendiri yang masih mengadakan pertemuan di sebuah restaurant. "Maksud anda point yang menunjukkan Clarinta meminta kamarnya sendiri?" sela Om Malik sambil melihat berkas yang ada di tangannya. "Nggak bisa begitu, Bram! Mana bisa aku konsentrasi dengan skripsiku sementara kamu ada di dalam kamar? Aku terbiasa sendiri dan nggak bisa kerja kalau ada orang, jadi aku benar-benar butuh konsentrasi!" Clarinta ikut menimpali dengan suaranya yang tegas dan ketus, membuat Mutya jadi khawatir kalau ada yang mendengar percakapan mereka. "Lalu, apa yang harus aku bilang ke Ibu? Kalau Ibu tahu kita tidur di kamar yang berbeda? Bagaimana pandangannya nanti? Ibuku pasti akan bertanya soal itu sama kita berdua!" sahut Bram tak kalah sengit. "Kamu ‘kan bisa aja bilang sama Ibu kamu kalau aku sangat butuh konsentrasi untuk skripsiku, beres, ‘kan?" "Nggak semudah itu, Clarinta!" Bram mulai bicara dengan nada tinggi, tapi kemudian tidak dilanjutkan lagi ucapannya, laki-laki itu hanya mendengkus kesal. "Aku tau ini hanya akal-akalanmu saja, ‘kan? Agar kamu bisa tidur denganku?" Bram menyeringai sinis mendengar ucapan Clarinta, sementara Om Malik dan Mutya hanya bisa geleng-geleng melihat keduanya yang sama-sama keras kepala. "Kalau aku jawab iya, lalu kenapa? Kita toh nanti jadi suami istri! Yang pasti aku nggak setuju dengan point terakhir!" Bram mulai lagi meninggikan suaranya, hingga beberapa orang yang sedang menikmati menu makanan di resto itu menoleh ke arah mereka. Namun, mereka berdua tidak peduli. "Sudah, sudah … jangan bertengkar, nggak enak dilihat orang lain." Mutya berusaha melerai mereka berdua, karena dia merasa sungkan juga kalau Bram dan Clarinta jadi bahan gunjingan para tamu resto yang lain. "Iya, sudah sudah … sekarang lebih baik kita ambil jalan tengahnya saja,” sela Om Malik, “jadi begini Kay ingin sebuah kamar pribadi agar dia bisa menyelesaikan skripsinya, sementara Pak Bram ingin sekamar bersama agar kalian bisa tidur berdua dalam satu kamar, supaya nggak ada pertanyaan dari pihak keluarga. Bukan begitu?" Om Malik mencoba menengahi permasalahan mereka, Bram dan Clarinta hanya mengangguk. "Baiklah, begini saja, Clarinta tetap bisa menyelesaikan skripsinya di kamarnya sendiri, tapi begitu waktu jam tidur tiba dia bisa pindah ke kamar Pak Bram, bagaimana?" "Yup! Aku setuju dan buat batas waktu juga jam 9 malam dia sudah harus menyelesaikan semuanya!" sela Bram dengan senyum nakalnya. Gadis itu memicingkan mata sebagai tanda tidak suka dengan ucapan Bram barusan. "Apa jam 9 malam? Nggak! Aku nggak mau! Jam 12 malam itu baru benar!" balasnya dengan senyum mengembang. "Apa jam 12 malam? Itu sudah tengah malam! Orang yang bekerja atau menyelesaikan tugas sampai tengah malam, itu nggak baik, bukan begitu Pak Malik?” sahut Bram sambil menoleh ke Om Malik, “paling nggak untuk kesehatannya nggak bagus, iya, ‘kan?" Bram mencoba mencari dukungan dari Om Malik. Laki-laki tua itu hanya tersenyum sambil mengangguk pelan, sementara Clarinta masih terus mendebat hingga akhirnya dicapai kata sepakat jam 10 malam gadis itu harus pindah ke kamar Bram. "Tapi tolong tambahkan satu point lagi, Om Malik. Dia nggak boleh menyentuh aku tanpa seijinku!" tandasnya ketus, sementara Bram hanya bisa mengernyitkan dahi sambil mengangkat tangannya ke atas, tapi tidak membantah. Bram lalu memalingkan tatapannya ke arah lain sambil memikirkan sesuatu. "Baiklah, kalau begitu. Di sini kalian sudah sepakat ‘kan? Tolong dengarkan baik-baik, beberapa point yang diminta oleh Clarinta dalam surat perjanjian pra-nikah kalian berdua,” ucap Om Malik sambil memegang berkas surat tersebut, “jadi semua urusan pribadi Clarinta yang jadi aktifitasnya selama ini tidak boleh diganggu gugat oleh Pak Bram. Clarinta bebas melakukan semua aktifitasnya seperti sekarang, mulai dari kuliah, menari, dan kegiatan yang lain.” Om Malik melirik ke Clarinta dan Bram yang menyimak ucapannya, “lalu selama Clarinta berada di kamarnya sendiri, dia juga tidak boleh diganggu gugat. Pak Bram tidak boleh masuk ke kamar tanpa seijinnya. Pak Bram juga tidak boleh menyentuhnya tanpa seijin Clarinta. Dan setelah satu tahun kalian menikah, Clarinta meminta agar Pak Bram menceraikannya segera. Bagaimana? Semua setuju? Apa ada yang perlu direvisi lagi?" Om Malik kembali menatap ke arah Bram dan Clarinta bergantian. "Ya! Aku setuju, Om!" Clarinta menjawab dengan mantap, sementara Bram hanya mengangguk pelan. Bagi Bram tidak ada keuntungan yang bisa dia ambil dari surat perjanjian pra-nikah tersebut, karena semuanya memberatkan pihaknya, tapi dari hati yang paling dalam Bram berkata, "Kamu nggak akan bisa lepas dariku begitu saja, Cla-rin-ta ... kita lihat saja nanti!" *** Beberapa hari kemudian atau tepatnya setelah 40 hari kematian Pak Maulana—ayah kandung Clarinta—pesta pernikahan Bram dan Clarinta akhirnya terwujud juga. Pesta yang berlangsung sangat sederhana di rumah keluarga Maulana itu memang dibuat sedemikian rupa hanya untuk keluarga besar dan orang-orang terdekat saja. Sang mempelai putri tidak ingin diadakan resepsi besar-besaran, setelah selesai acara akad nikah. Walaupun sebenarnya keluarga Bram bisa mewujudkan itu semua, tapi karena gadis itu memaksa hanya untuk orang terdekat saja yang bisa hadir di pesta pernikahannya, keluarga Bachtiar pun menyerah. Dengan balutan kebaya warna putih gading dan sanggul Jawa yang menghias mahkota rambutnya, Clarinta tampak kelihatan sangat anggun, elegan dan mempesona. Wajah asli keturunan orang Jawa dengan matanya yang bulat, yang selalu tidak bisa membuat Bram berkedip ketika menatapnya, ditambah hidung yang sedikit mancung dan bibir mungil semakin melengkapi kecantikan seorang priyayi Jawa. Sementara itu Bram yang mengenakan beskap—pakaian adat Jawa untuk mempelai pria—yang warnanya senada dengan kebaya yang dikenakan mempelai perempuan yaitu putih gading juga tidak kalah menawan, apalagi dilengkapi dengan blangkon warna coklat emas yang menutupi kepala membuat Bram yang memiliki wajah keturunan Eropa itu semakin menarik di mata para tamu yang hadir, khususnya para tamu wanita. Setelah acara akad nikah selesai, kedua mempelai lalu berbaur dengan para tamu yang hadir yang ingin memberikan ucapan selamat untuk mereka berdua. Dengan konsep standing party kecil-kecilan yang diadakan keluarga Clarinta, pesta pernikahan itu cukup membuat para tamu nyaman, sehingga sang mempelai berdua bisa mendatangi tamunya satu per satu dan menyalami mereka secara langsung, maka tercipta lah suasana yang santai dan kekeluargaan. "Selamat yaa Boss, akhirnya ye bisa nikah juga ama tu pere, gilingan deeeh wece!" Sonya merepet seperti mercon bantingan begitu mendapat kesempatan bisa dekat dengan Bram di tengah-tengah kerumunan para tamu yang lain. "Terima kasih, Sonya ...." "Kalau keinget ama rencana Boss tempo hari, wuuh aqiqa acungi empat jempol buat si Boss! Toop markotop daaah!" Bram hanya tersenyum tipis dan teringat pada peristiwa di hotel tempo hari ketika bermalam bersama Clarinta. *** Malam itu Bram tidak segera kembali ke kamar di mana ada Clarinta yang sedang tertidur pulas. Laki-laki itu malah asyik mengerjakan pekerjaannya di laptop sambil menikmati secangkir kopi di restaurant yang berada di hotel. Baru sekitar jam 2 pagi, dia merasakan kantuk yang tak tertahankan, bergegas dirapikan semua pekerjaannya lalu menuju ke kamar hotel. Setibanya di kamar, ketika lampu kamar mulai dinyalakan, dilihatnya Clarinta masih tertidur pulas, tubuhnya tertutup selimut, hanya kepala saja yang terlihat. Setelah diletakkan semua barang bawaannya di meja yang ada di kamar itu, Bram segera menghampiri gadis itu dan duduk di tepi ranjang sambil memandangi parasnya yang sangat cantik, “Sebuah pahatan yang maha sempurna dari Sang Khalik,” batinnya dengan senyum tipis. Dengkuran napasnya yang lembut hingga nyaris tidak terdengar, membuat dadanya yang padat tampak naik turun, ego laki-laki itu pun jadi gelisah. "Semuanya tidak akan seperti ini, kalau kamu nggak membentakku, Kay. Kalau kamu nggak menolakku. I'm sorry ... I have to do this," gumamnya sambil membelai wajah gadis itu lembut, kemudian dikecupnya kening itu perlahan. Ingin rasanya Bram merasakan sensasi bibir mungil yang sedikit terbuka. Namun, Bram takut gairahnya akan meletup dan tidak bisa mengendalikan semua. Laki-laki itu mencoba menahan hasratnya, kemudian segera beralih ke sisi tempat tidur yang kosong. Dibukanya satu per satu bajunya sendiri hingga hanya mengenakan kaos dalam dan celana pendek saja lalu dibaringkan tubuhnya di sebelah Clarinta. "Good night, Dear ...," gumam Bram lirih. *** "Trus mau honeymoon kemindang nii, Boss?" Suara Sonya yang merepet segera menyadarkan Bram dari lamunannya. "Honeymoon? Kemana yaa? Belum kepikiran, masih dalam rencana, lihat saja nanti," sahutnya sambil menikmati minuman yang tersedia di meja, seraya mencari-cari keberadaan istrinya yang tiba-tiba menghilang, sementara itu di ujung yang lain tampak Clarinta sedang ngobrol dengan Mutya—sahabatnya dan beberapa tamu-tamu yang lain. Akhirnya ketika malam menjelang, ketika pesta telah usai dan tamu-tamu pun sudah meninggalkan rumah keluarga Maulana satu per satu, termasuk keluarga Bachtiar yang kembali ke mansion-nya. Mempelai perempuan bergegas masuk ke kamar dan mengganti kebaya dengan piyama kebesarannya lalu membersihkan semua riasan di wajah. Tepat pada saat itu Bram masuk ke kamar yang kali ini disulap menjadi kamar pengantin mereka. Laki-laki itu memperhatikan istrinya dari pantulan kaca rias, sementara sang istri hanya menatapnya sekilas dengan muka masam lalu kembali membersihkan wajah, seolah-olah tidak peduli dengan kehadirannya. "Jangan lupa, besok kamu harus pindah ke rumahku, Kay!" ucap Bram sambil mencopot bajunya satu per satu, gadis itu hanya terdiam dan tidak menyahut ucapannya. Setelah selesai semua bergegas dirapikan semua perlengkapan baju yang dikenakan sang suami lalu ditaruhnya di atas meja. "Aku suka kerapian, jangan suka main taruh barang di mana saja, itu rule number one!" ujarnya lalu keluar dari kamar menuju ke kamar mandi, tak berapa lama kemudian Clarinta sudah masuk lagi ke kamar dengan wajah yang agak sedikit basah. "Jadi masih banyak peraturan lagi yang harus aku patuhi untuk menjadi suamimu? Apa surat perjanjian pra-nikah kita yang berlembar-lembar itu masih belum cukup?" tanya Bram yang saat itu sudah setengah terbaring di tempat tidur. "Untuk peraturan yang tadi tidak perlu ditulis di surat perjanjian kita Tuan Janitra Bramantyo! Cukup diingat di dalam otak!" sahutnya ketus sambil menunjuk ke arah pelipis kanan. "Aku mau tidur, selamat malam!" Clarinta lalu menaruh guling di antara mereka berdua dan menatap tajam ke arah Bram dengan wajah juteknya, kemudian berbalik membelakangi laki-laki itu sehingga rambut panjangnya sedikit mengenai wajah sang suami. Aroma wangi yang menyebar dari rambutnya membuat Bram ingin segera memeluk perempuan yang telah sah menjadi istrinya ini, tapi sayang dia tidak boleh menyentuh sang istri tanpa seijinnya. Bram hanya bisa menelan saliva lalu membaringkan tubuhnya perlahan dan mulai memejamkan mata. Baru beberapa menit matanya terpejam dan suasana hening mulai tercipta di kamar yang sedikit sempit bagi laki-laki itu, benda pipih warna hitam yang berbentuk persegi panjang yang tergeletak di atas meja tiba-tiba saja berdering sangat keras. Seketika itu juga Clarinta terbangun dan tersentak kaget. "Jam 12 malam! Itu pasti Alva yang nelpon, bodohnya aku!” batinnya sambil menepuk jidat, “kenapa tadi aku lupa matiin ponsel?" Bergegas gadis itu bangun dan diraihnya ponsel tersebut, di sana tertera nama Alva yang memanggil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD