28 : Kesaksian Palsu

1043 Words
Liana menyadari betul maksud kecemasan Daren, bagaimana pun ia sudah melihat sisi lain Belinda saat menghina dirinya saat itu. Meski begitu ia berharap, masih ada hati nurani Belinda untuk mengatakan kebenaran. “Ini adalah korban sekaligus saksi utama. Nona Belinda bisa Anda memberitahu kami siapa orang yang sudah melakukan hal keji padamu!” Belinda menatap Liana dengan pandangan yang kompleks, jari telunjuknya kemudian terangkat dengan gemetar dan mengarahkan itu tepat pada Liana. Meski sudah tahu skenario terburuk yang akan terjadi begitu Belinda masuk, tetap saja Liana merasakan sengatan petir di hatinya. Matanya menjadi merah dan menatap Belinda dengan marah. Daren mencoba menenangkan Liana dengan menggenggam jemari Liana sebelum akhirnya berdiri untuk mengajukan beberapa pertanyaan pada Belinda. “Nona Belinda apakah Anda yakin bahwa pelaku itu adalah Liana? Apakah Anda menyaksikan secara sadar bahwa itu Liana?” tanya Daren dengan suara yang stabil, meski ada emosi berkecamuk di hatinya dan ingin mencabik wanita ini. Dia harus menahan itu untuk sementara. “Pengacara Daren, sebelumnya saya ingin memberi tahu Anda bahwa client saya masih belum bisa berbicara setelah baru bangkit dari koma,” sela Leonard. Daren menatap Belinda dengan saksama, ia melihat ada keringat tipis di keningnya. Bola matanya juga terus berputar dan tidak fokus. “Tak masalah, cukup bagi dia hanya dengan mengangguk dan menggelengkan kepalanya.” Belinda semakin gugup, ia tidak tahu bahwa Pengacara Daren akan lebih bersikeras. Untungnya ia sudah melatih beberapa alasan sebelumnya dengan ayah dan juga pengacara Leonard. Termasuk memalsukan bahwa dia belum bisa bicara. “Belinda Peterson, apakah Anda benar-benar yakin bahwa pelakunya adalah Liana Anderson?” Belinda mengangguk. “Jam berapa kalian bertemu saat itu?” Belinda menunjukkan angka sembilan dengan jemarinya. “Apakah menurutmu Liana punya dendam dengan Anda?” Belinda mengangguk. “Cukup!” sela pengacara Leonard, “Semua sudah jelas sekarang dan pasien harus segera kembali ke rumah sakit.” Liana dan Daren memiliki wajah yang dingin, saat hakim menyetujui bahwa Belinda di izinkan untuk segera kembali ke rumah sakit. Kini giliran pengacara Leonard menanyai Liana. “Nona Liana, apakah Anda masih bersikeras bukan pelaku penganiayaan?” “Saya bahkan tidak bertemu dengan Belinda hari itu.” “Lalu di manakah Anda malam itu?” Pengacara Leonard tahu bahwa pertanyaan ini adalah kelemahan Liana pada persidangan dulu. Gadis ini selalu memilih bungkam untuk menjawab keberadaan dirinya. Liana terdiam dan mengepalkan tinjunya, ia tahu mengatakan kejujuran tentang malam itu adalah satu-satunya cara ia bisa bebas. “Aku ke hotel bersama seorang pria,” jawab Liana dengan wajah tertunduk. Ia yakin selama ia tak perlu menyebut tentang transaksi, maka tak akan ada yang tahu kebenaran hal itu. “Siapa pria itu? Apakah kamu bisa memanggilnya ke sini sebagai saksi? Atau kah Anda punya bukti rekaman CCTV hotel?” Liana semakin gugup, punggung belakangnya basah oleh keringat. Sementara Dare hanya menggigit bibir bawahnya dengan frustrasi. “Aku tidak mengenal dia!” Mendengar itu banyak penonton saling berbisik, suasana menjadi tak terkendali. Sebagian dari mereka percaya bahwa Liana hanya sedang memberikan alasan kosong. Di baris belakang kursi penonton, seorang pria dengan masker kain menutupi mulut dan hidungnya masih duduk dengan tenang seolah ia adalah patung yang terpengaruh. Berbeda dengan asisten di sampingnya Juan yang terlihat emosi. “Tuan, bukankah Anda bersama dia waktu itu? Bukankah sekarang waktunya untuk membantu dia? Hanya Tuan sekarang tali yang bisa ia pegang,” cecar Juan. Aaron masih tidak bergeming, ia bahkan tetap diam tak bergerak sedikit pun, “Belum waktunya untukku berada di sana. Itu akan sia-sia untuk tujuanku!” Juan menggaruk kepalanya, ia tak bisa mengerti apa yang ada di pikiran Aaron. Bukankah pria ini bersikeras untuk membantu Liana bahkan berniat pindah ke kota Southland, tapi mengapa ia tetap diam tak bergeming. ‘Oh tidak, menatap Tuan Aaron mengingatkanku pada Singa yang menunggu waktu untuk menerkam mangsanya.’ Saat Daren melihat Liana semakin ke pojok, ia mulai berdiri, “Hakim, berikan kamu waktu untuk membawa saksi pada persidangan berikutnya!” Hakim merenung sejenak, ia kemudian memutuskan bahwa sidang akan di lanjutkan lima hari mendatang. Liana yang sempat berdiri dengan kaki gemetar di depan mimbar sidang kini bisa bernafas lega. Meski begitu ia masih belum bisa bergerak karena merasakan kakinya menjadi seperti jeli. Daren mengulurkan tangan saat melihat betapa pucatnya Liana, “Mari kita pergi dulu! jangan khawatir pasti ada cara menemukan pria itu.” Liana meraih telapak tangan Daren, sementara Aaron berwajah gelap saat melihat pemandangan itu. Ia bangkit dari kursi penonton dan beranjak pergi dengan kaki panjangnya. Saat Liana keluar dari sidang, ia masih melihat Belinda sedang di dorong menuju ke dalam Lift. Liana segera menghampirinya dan berhasil memasuki Lift sebelum pintu tertutup. “Nona Peterson, aku tidak tahu kesalahan apa yang sudah kuperbuat hingga kamu menjebakku. Kamu seharusnya mengumpulkan banyak kebajikan setelah pernah merasakan tidur dalam ranjang seperti orang mati Aku pikir Tuhan melakukan kesalahan dengan membangunkanmu dari koma. Tapi ingatlah, karma akan kembali untuk menggigitmu.” Ibu Belinda hendak menampar Liana, tapi gerakan tangan itu dengan cepat di hadang olehnya, “Aku sudah mendapatkan banyak pukulan di penjara karena penjahat bayaran yang keluarga Anda kirim. Ingatlah, aku akan menghitung setiap inci rasa sakit dan membuat kalian membayar semuanya!” ancam Liana. Ibu Belinda menggigit bawah bibirnya, Liana pergi setelah mengatakan apa yang ingin ia katakan. Belinda mencengkeram dengan erat pegangan kursi rodanya. Ia tahu bahwa dirinya melakukan kesalahan, tapi jika ia tidak berbohong maka Ayahnya akan terseret dalam kasus ini. Jika Liana terbukti tidak bersalah, maka penyelidikan akan berlanjut dan menyeret ayah Belinda ke dalamnya. Tuan Peterson sudah mengeluarkan banyak uang waktu itu untuk menyogok pengacara Liana, bahkan hakim. Juga membayar para napi di penjara untuk menghajar Liana. “Ibu, apakah ayah belum tahu siapa orang di balik semua ini? Apakah dia belum menemukan siapa yang menyuruh petugas kebersihan itu mengambil barang bukti yang membuat Liana di tuduh?” tanya Belinda dengan wajah takut. Jika penjahat sebenarnya belum tertangkap, maka ayah Belinda akan menjadi kambing hitam yang menjebak Liana. “Ayahmu belum menemukan siapa orang yang sudah menjebak Liana. Maka dari itu bersabarlah dan tetap pada pendirian bahwa Liana-lah yang melakukan hal jahat padamu.” Belinda takut pada karma seperti yang di bicarakan Liana. Bagaimana pun ia pernah merasakan berada antara hidup dan mati. Hanya saja ia harus mengikuti skenario yang dibuat ayahnya untuk membuat keluarga Peterson tetap berdiri tegap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD