27 : Kedatangan Saksi Kunci

1136 Words
Daren mendorong tubuh Luis dan menghampiri Liana yang tersungkur di tanah. Lengan panjangnya terulur ke Liana mengarahkan telapak tangan lebarnya untuk membantu Liana bangkit. Liana menyambut telapak tangan Daren yang terasa dingin karena menahan emosinya. “Apa kamu baik-baik saja? Apakah ada yang terluka?” Liana hanya menggeleng. “Berhenti berpura-pura gadis sialan. Kukatakan padamu, wanita ini tidak selemah yang kamu kira. Ia pandai bertarung di dalam penjara!” Daren menoleh ke arah Luis dengan tatapan yang tajam, Luis menggigil saat melihat wajah arogan pria di depannya. Daren segera mendekati Luis dengan tangan terkepal, secepat kilat ia meninju wajah Luis dan membuat pria tua itu terjatuh. “Kau!” Pekik Luis, “Aku akan menuntutmu, aku pastikan kamu akan mendekam di penjara!” ancam Luis. Daren memiliki senyum acuh, “Lakukan! Aku bisa menghubungi beberapa napi wanita yang pernah menjadi korban kejahatan ca-bulmu. Jika aku menjadi pengacara mereka, maka kamu pasti akan mendekam di penjara hingga ajalmu!” Luis gemetar, ia tahu pria di depannya adalah pengacara hebat yang tak pernah kalah dalam kasusnya. “Baiklah aku tak akan menuntutmu!” kata Luis dengan menggigit bibirnya. Daren tak menjawab, ia hanya meraih tangan Liana dan membawanya kembali ke mobil. Di dalam perjalanan, Daren mencuri pandang pada pergelangan tangan Liana yang merah akibat cengkeraman Luis, ia juga melihat tanda merah di atas telapak tangan kiri Liana. Ia tahu apa arti tanda itu, hati Daren merasa sakit saat membayangkan usaha keras Liana selama ini untuk bertahan. Daren memutar kemudinya menuju apotek, membeli beberapa obat oles untuk luka memar. “Berikan tangan kirimu, aku akan mengoleskan obatnya untuk mengurangi peradangan,” kata Daren begitu memasuki mobil kembali. “Tidak perlu aku bisa mengoleskannya sendiri. Lagi pula ini tak begitu sakit.” Liana sudah pernah mengalami luka yang jauh lebih menyakitkan selama di penjara dari pada memar di pergelangan tangannya. Itu membuat ia memiliki toleransi rasa sakit yang tinggi. Daren yang tak menyukai jawaban itu meraih dengan paksa tangan Liana. Mengoleskan obatnya dengan perlahan ke pergelangan tangan Liana. Jantung Liana berdebar begitu kencang saat menatap wajah tampan Daren yang terlihat begitu memesona saat mengobati lukanya. Tanpa Liana sadari wajahnya memerah hingga menjalar ke telinganya. “Aku tahu Claire pasti sudah mengajarimu banyak ilmu bela diri, lain kali jangan biarkan dirimu diperlakukan buruk oleh orang lain.” “Terlalu banyak orang di toko itu tadi, aku tidak ingin membuat keributan.” Daren menghela nafas panjang, entah mengapa hatinya merasa sakit saat memikirkan siapa orang yang sudah menjebak Liana. Ia tak melihat ada kejahatan sedikit pun dari diri Liana. “Bersabarlah dalam dua hari ini, jika kita memenangkan sidang lanjutan. Kamu akan bebas, setalah itu mari hilangkan tanda merah itu.” Daren terganggu melihat tanda itu, melihatnya membuat hati Daren terluka. “Ini bukan masalah bagiku. Tanda ini memang terlihat sedikit mengerikan, tapi tanda ini akan selalu mengingatkanku untuk mencari orang yang sudah menjebakku.” Daren menatap Liana dengan ekspresi sedih, dia tahu banyak hal selama tiga tahun yang sudah terjadi padanya. Daren merasa menyesal bahwa pertemuan mereka harus terjadi tiga tahun setelah Liana di penjara. Jika ia membantu Liana sejak sidang awal, maka gadis ini pasti menjalani kehidupan masa muda yang lebih indah. *** Hari persidangan kedua tiba, Daren memiliki kepercayaan diri untuk menang kali ini. Meski begitu ia melihat ada yang aneh, lawannya terlihat jauh lebih tenang. Itu seperti ketenagaan sebelum badai. Daren menatap dengan curiga, sepertinya ada sesuatu besar yang akan menghambat jalannya kali ini. Saat persidangan di mulai Daren memanggil Nyonya Huff yang merupakan petugas kebersihan di rumah sakit tempat Lucy di rawat. “Nyonya Huff beritahu kamu apa yang Anda lakukan di ruang perawatan Lucy adik dari Nona Liana saat itu hingga kamu memiliki wajah waspada?” Wanita tua itu berkeringat dingin, jemarinya merasa gemetar. Saat Nyonya Huff terus saja diam, Daren terus menyudutkan dirinya. “Apakah Anda yang sudah menyobek sebagian baju Liana dan juga jepit rambutnya?” cecar Daren. “Ti-tidak, aku tidak melakukan itu! Aku hanya masuk untuk membersihkan kamar.” “Lalu kenapa sebelum masuk Anda terus memperhatikan sekitar?” Lutut nyonya Huff terasa seperti jeli, ia tidak ingin dipenjara dan sudah menyiapkan alibinya sejak dua hari lalu, “Waktu itu aku hanya ingin memastikan bahwa tidak ada dokter di dalam ruangan sehingga aku bisa membersihkan ruangan dengan nyaman.” “Tapi kenapa wajah Anda di rekaman tampak gelisah?” “Tuan Daren, kenapa Anda terus menyudutkan saksi. Apakah Anda punya bukti yang memperlihatkan bahwa Nyonya Huff keluar dengan membawa bukti dari kamar Liana?” pengacara Leonard tiba-tiba melakukan interupsi. Daren tahu, bahwa rekaman itu tidak memperlihatkan bahwa wanita itu keluar dengan membawa bukti. Barang itu sudah pasti di sembunyikan di dalam pakaiannya. “Kami tidak mempunyai bukti itu, tapi kami punya bukti bahwa dia datang ke taman tempat kejadian perkara ketika siang hari, lalu pada sore harinya tiba-tiba petugas menemukan barang bukti di sana. Bukankah sangat mencurigakan, kenapa bukti itu baru di temukan dua hari sesudah kejadian. Sementara hari sebelumnya tidak di temukan?” Setelah nyonya Huff melihat rekaman CCTV-nya di taman dan juga menerima cecaran dari Daren, bibir keriput nyonya Huff akhirnya terbuka. “Aku bersalah, tapi aku tidak tahu siapa yang menyuruhku. Aku hanya mendapatkan surat kaleng beserta uang tunai 500ribu dolar untuk menjalankan misi itu.” Nyonya Huff menyatakan dengan wajah jujur bahwa ia benar-benar tidak mengetahui dari mana asalnya surat kaleng yang dapatkan di dalam kamar mandi. Setelah kesaksian Nyonya Huff banyak orang mulai memiliki keraguan pada kasus Liana. Setelah itu Daren juga memanggil pengacara Scott ke ruang sidang, sayangnya teleponnya tiba-tiba berdering. Asisten pribadinya mengatakan bahwa pengacara Scott meninggal karena overdosis dan baru di temukan tadi pagi. Daren mengepalkan tinjunya, ia merasa bahwa selangkah lagi bisa memenangkan pertempuran ini tapi ia tak menyangka ada skenario tak terduga. “Apa yang terjadi?” tanya Liana saat melihat wajah gusar Daren. “Pengacara Scott meninggal karena overdosis. Sialan! Padahal aku sudah menemukan bukti transfer besar pada rekeningnya setelah hukumanmu di putuskan waktu itu!” Di sudut lain pengacara Leonard melihat kegelisahan pada Daren dengan wajah yang arogan. Ia memiliki senyum sinis penuh kemenangan. “Hakim, izinkan aku membawa saksi kunci yang menyatakan bahwa Nona Liana adalah tersangka utama!” kata Leonard. “Di izinkan!” Liana dan Daren saling melempar pandang, ia terkejut dengan perubahan situasi yang mendadak. Sepertinya saksi ini adalah senjata rahasia mereka yang membuat wajah pengacara Leonard terlihat percaya diri sepanjang persidangan. Pintu ruang pengadilan di buka, seorang wanita bertubuh kurus di dorong di atas kursi roda. “Belinda?” Liana tidak menyangka bahwa Belinda sudah bangun dari komanya. Liana dan Daren merasa bingung, Belinda adalah saksi kunci yang bisa menyatakan bahwa Liana tidak bersalah, tetapi bagaimana mungkin Belinda bisa menjadi saksi kunci yang memberatkan Liana seperti yang di katakan oleh pengacara Leonard. “Sialan! Ini tak akan berjalan baik untukmu, mereka memiliki motif jahat.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD