26 : Pencarian Para Saksi

1062 Words
“Dengan caramu melihatku, kamu pasti sudah tahu tujuanku datang kemari.” Daren berjalan selangkah demi selangkah mendekati wanita paruh baya yang tengah berdiri dengan gemetar. “Aku tidak tahu apa-apa, aku benar-benar tidak tahu apa-apa,” terang wanita itu dengan wajah gugup. Keringat dingin menetes dari keningnya. “Tahukah kamu, karena apa yang kamu lakukan seorang wanita yang tidak bersalah sudah menghabiskan tiga tahun di penjara di usia keemasan dirinya?” Wanita itu jatuh ke lantai dengan berlutut, ia menyatukan kedua telapak tangannya memohon pengampunan. “Aku minta maaf, aku tergiur dengan jumlah uang yang mereka tawarkan.” “Kamu harus menyelesaikan apa yang sudah kamu perbuat!” Daren menarik wanita itu, ia membawanya ke penjara tempat salah satu kenalannya bertugas. “Aku menitipkan wanita ini selama tiga hari ke depan sebelum hari persidangan. Ia adalah saksi dan juga pelaku kejahatan!” pinta Daren pada John sahabatnya. Sambil menyesap kopi John hanya menganggukkan kepalanya. Ia sudah terbiasa menjadi tempat penitipan saksi oleh Aaron, sebagian besar saksi yang Aaron titipkan di sini akan berakhir menjadi tersangka. *** Di sebuah club malam, Aaron berjalan dengan wajah dingin. Kedatangan pria yang mengenakan kemeja hitam dengan mata indah dan tubuh kencang itu membuat banyak gadis menatapnya dengan wajah yang lapar. Meski banyak yang berusaha menarik perhatian Daren, tapi pria dingin itu terus berjalan dan mengabaikan mereka. Ia menuju ke salah satu sofa panjang tempat pengacara Scott sedang bersama seorang wanita. “Wau lihat ini, seorang pengacara terkenal dari benua sebelah menghampiriku!” kata Scott begitu melihat Daren berdiri dengan wajah dingin di depannya. Melihat wajah Daren yang tidak bersahabat Scott tahu bahwa pria di depannya sedang datang untuk mengorek kesaksian dirinya tentang kasus Liana yang pernah ia tangani. Ia memiliki firasat buruk tentang itu. ‘Wanita sialan itu pasti sudah mengatakan bahwa aku menerima suap waktu itu,’ batin Scott. “Datanglah ke pengadilan tiga hati lagi! Ada berapa pernyataan yang akan aku ajukan untukmu di sana!” Scott mengerutkan kening, “Aku juga ada pengadilan saat itu.” Daren memajukan langkahnya dan tubuh tingginya sedikit membungkuk, “Jika kamu tidak datang, aku akan mengirim foto mesramu dengan wanita ini ke Tuan Rock. Kamu berselingkuh dengan istri mudanya kan? Bagaimana jika ketua Mafia jahat seperti dia sampai mengetahui tentang ini!” Scott gemetar melihat foto ia sedang berciuman mesra di atas ranjang dengan Zea yang merupakan istri Rock. Scott membeku dan kehilangan kata-kata. “Jadilah baik dan datang ke persidanganku nanti!” kata Daren sambil menepuk punggung Scott. Ia menyeringai saat melihat ekspresi ketakutan wajah Scott. *** Pagi hari Daren sudah berada di rumah sakit untuk menjemput Liana. Pada saat itu ia mendengarkan percakapan antara dokter dan Liana di depan kamar perawatan Lucy. “Beberapa perbaikan di perlukan untuk menstabilkan jantung Lucy, dan orang yang paling bisa menangani hal ini adalah dokter yang dulu melakukan operasi untuk Lucy. Kami mungkin bisa tapi itu tak akan sebaik yang di lakukan oleh Dokter Aaron.” “Lalu di mana aku bisa menemui dokter Aaron?” Pria paruh baya yang memakai jas dokter menghela nafas dalam, “Aku sebenarnya baru mengetahui bahwa dia telah kembali ke Southland baru-baru ini, tapi kabar buruknya adalah dia sudah tidak melakukan operasi lagi sejak tiga tahun lalu.” Setelah mengatakan itu Dokter itu pergi meninggalkan Liana sendiri, saat itulah Liana baru menyadari bahwa Dare sudah berada di sini untuk menjemputnya. “Aku akan berpamitan pada Lucy, tunggu aku sebentar.” Daren mengangguk dan memilih duduk di kursi panjang tak jauh dari kamar perawatan Lucy. Setelah menunggu sepuluh menit mereka segera menuju ke penjara. Liana tak banyak bicara seperti biasanya, hanya saja wajahnya terlihat jauh lebih redup dari pada biasanya. Daren mengarahkan mobilnya ke toko kue. “Kenapa kita ke sini?” “Aku ingin makan sesuatu yang manis. Pilihlah beberapa yang kamu suka, kita masih ada sedikit waktu sebelum kembali ke penjara.” Liana hanya mengambil sepotong kue blueberry dan kemudian menghampiri Daren yang sudah duduk di meja dengan sepotong kue stroberi. “Makanlah dengan baik, aku akan mencari informasi tentang Dokter Aaron, jadi jangan terlalu cemas.” “Terima kasih, tapi aku dengar dia sudah tidak memegang pisau bedah lagi. Maka akan percuma mencarinya.” jawab Liana dengan wajah yang tertunduk. Daren menatap wajah Liana yang selalu tampak lesu. Hanya satu kali ia melihat wajah itu bersinar, itu adalah saat mereka berhasil menang pada sidang pertama. Hanya saja berita kesehatan Lucy, merenggut wajah bahagia Liana untuk sekali lagi. Daren entah mengapa merasakan rasa sakit di hatinya. “Aku akan ke kamar mandi dulu.” Daren bangkit dan meninggalkan Liana sendiri menyelesaikan kue dan cappucino yang ia pesan. “Sejak kapan Napi dengan tanda merah bisa menikmati sepotong kue mahal di luar penjara? Apakah toko roti ini mengalami kemunduran?” pekik Luis yang tanpa sadar melihat Liana tengah duduk di antara bangku. Liana menatap wajah pria itu dengan mata yang tajam, sementara beberapa pengunjung toko mulai melirik wajahnya kemudian menatap telapak tangannya yang terdapat tanda merah mengerikan. Ia segera menutupi telapak tangan kirinya dengan tangan kanannya. Wajah Liana menjadi pucat saat orang mulai bergunjing dan menatap jijik ke arahnya. “Penjaga, tolong usir wanita ini. Dia akan memberi pengaruh buruk pada citra toko kalian!” pekik Luis. Penjaga toko yang sebagian besar perempuan hanya saling melempar pandang, jelas mereka tak berani pada Liana. Jika benar dia adalah napi yang seperti pria tua ini katakan. Maka bisa saja gadis ini berbahaya. Melihat penjaga toko hanya berdiri dengan kaki gemetar Luis segera meraih pergelangan tangan dan menarik dirinya dari kursi. Cengkeraman tangan Luis begitu kuat, Liana tak ingin melawan karena banyak pasang mata yang menatapnya. Ia hanya mengikuti langkah Luis yang terus menariknya untuk pergi hingga langkah Liana terus terhuyung. “Aku akan keluar dengan kakiku sendiri, lepaskan aku!” “Tidak, di sini kamu tak akan mendapatkan perlindungan Claire. Setidaknya aku akan menyeretmu keluar dan menendang perutmu hingga tak akan lagi memiliki anak. Itu akan setimpal dengan apa yang sudah kamu lakukan padaku.” Luis memiliki dendam hingga ke tulang pada Liana, karena sejak Liana melukai organ reproduksi pria itu, Luis sudah mengatakan selamat tinggal pada dunia s*x nya. Selama ini Luis selalu berusaha membalas Liana, tapi ia tak bisa menyentuh Liana selama ada Claire. Luis menghempaskan tubuh Liana hingga jatuh ke tanah, kaki Luis bersiap untuk menginjak perut Liana dengan sekuat tenaga. “Hentikan!” suara tinggi Daren membekukan kaki Luis di udara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD