Liana berkeliling ke tempat di mana mereka bisa menemukan pengemudi taksi yang sempat mengantar Liana ke hotel. Mereka berharap, pengemudi itu bisa menjadi saksi atau setidaknya di dalam taksi itu juga terdapat kamera dashboard yang bisa membuktikan keberadaan Liana. Setelah menghabiskan setengah hari di pangkalan taksi mereka justru mendapatkan hasil yang nihil. Pengemudi taksi tersebut sudah meninggal dalam kecelakaan tiga tahun lalu di dalam taksinya yang bahkan ikut terbakar karena kecelakaan.
“Jangan khawatir, pasti ada petunjuk lain.” Daren menepuk bahu Liana, dia melihat gadis itu pucat setelah mendengar kecelakaan pengemudi taksi itu.
“Dari rekaman hotel yang hilang, bahkan pengemudi taksi yang sudah meninggal. Kenapa aku merasa sudah dibiarkan untuk tersudut sendiri tanpa petunjuk?” tanya Liana putus asa, dia ingin bebas dan menunjukkan bahwa ia tak bersalah tapi semua petunjuk menghilang begitu saja.
“Jangan terlalu di pikirkan. Lebih baik kita berangkat sekarang Lucy pasti sudah menunggumu.” Daren mencoba mengalihkan rasa gelisah Liana. Ini juga sudah mulai larut dan ia seharusnya datang untuk menemani Lucy tidur di rumah sakit sebelum kembali ke penjara esok siang.
Dalam perjalanan tiba-tiba Daren merasa bahwa mobilnya sedang di buntuti.
“Kencangkan sabuk pengamanmu!”
“Apa yang terjadi?” tanya Liana saat merasakan kecepatan mobil Daren mulai bertambah.
“Sebuah mobil membuntuti kita.”
Daren segera menaikkan kecepatan mobilnya, begitu juga mobil di belakangnya. Mereka terus saling terlibat pengejaran dan bahkan membahayakan pengguna jalan lain karena kecepatan kendaraan mereka.
“Ini berbahaya, kamu bisa menabrak orang!” Liana ketakutan, ia terus berpegangan dengan kencang. Sesekali bahkan ia lebih memilih memejamkan matanya.
“Aku akan menggiring mereka ke proyek yang tak jauh dari sini.”
Daren segera memutar kemudi dan berbelok secara mendadak, belokan itu membuat tubuh Daren condong ke arah Liana. Untuk sesaat wajah mereka menjadi sangat dekat dan tatapan mereka terkunci satu sama lain. Liana linglung sesaat ketika melihat wajah Daren yang tampak begitu tampan ketikan sedang serius.
“Apakah aku terlihat tampan ketika sedang dalam kondisi seperti ini?” tanya Daren memecahkan lamunan Liana. Daren memasang senyum nakalnya.
Pupil Liana melebar dan ia menggigit bibir bawahnya, wajahnya bahkan menjadi merah, “Bagaimana kamu bisa menjadi tak tahu malu dalam keadaan seperti ini!”
Daren tertawa kemudian menaikkan kecepatan mobilnya menuju sebuah gedung yang masih dalam proses pengerjaan. Liana dan Daren menunggu di dalam mobil ketika mobil yang membuntuti mereka akhirnya sampai di tempat mereka beberapa detik kemudian. Empat pria dengan wajah bengis turun dari mobil, mereka membawa pemukul dan satu lainnya membawa pedang panjang.
“Telepon polisi, mereka membawa senjata. Ini terlalu membahayakan!” Liana menarik lengan Daren yang berusaha untuk membuka pintu mobil. Daren menoleh ke arah Liana dan tersenyum.
“Tidak ada waktu untuk menunggu kedatangan polisi. Kamu tetaplah berada di dalam mobil.”
Daren keluar dari mobil, empat pria itu mendekat ke arah Daren dengan wajah yang mengintimidasi.
“Siapa yang menyuruh kalian?” Daren sadar dia adalah pengacara arogan yang memiliki banyak musuh. Hal seperti ini sering menimpa dirinya saat berhasil mengalahkan saingannya di persidangan. Ia bahkan pernah menghadapi pembunuh bayaran internasional. Sejak berniat menjadi pengacara, Daren sudah melatih kemampuan bela dirinya dengan baik.
“Apakah kamu begitu ingin tahu? Kami akan memberitahumu saat nafasmu tinggal satu tarikan!”
Daren tersenyum sinis, “Kalau begitu simpan saja untuk dirimu sendiri!”
Empat orang itu segera melawan Daren dengan pemukul mereka. Liana yang berada di dalam mobil merasa cemas, ia melihat Daren beberapa kali terpukul. Liana tak tahan lagi dan berniat membantu saat salah satu dari mereka mulai menyatukan pedangnya ke arah Daren yang sudah berhasil menjatuhkan pemukul tiga pria lainnya.
Liana keluar dari mobil dan membantu Daren melawan dua penjahat lain dengan berbekal ilmu bela diri yang di latih Claire.
“Kenapa kamu keluar dari mobil?”
“Aku akan membantumu. Ini pertarungan yang tidak imbang!”
“Tidak, ini berbahaya. Larilah!” teriak Daren, tapi liana tak bergeming ia terus membantu Daren melawan penjahat lain. Meski kemampuan Liana kalah jauh dibanding Daren, tapi setidaknya ia berhasil membuat dua penjahat lain mengalihkan perhatian dengan melawan Liana. Empat orang itu berhasil di lumpuhkan, tapi saat Daren mulai lengah satu orang mengambil pedangnya hendak melukai Liana. Daren segera mendorong Liana dan memeluknya pedang itu menggores punggungnya. Sambil menahan sakit Daren memukuli pria itu hingga sekarat.
“Kamu berdarah,” kata Liana dengan wajah yang cemas saat melihat punggung Daren bersimbah darah.
“Tidak masalah ini hanya goresan, bukan luka yang dalam.”
“Masuklah ke mobil, aku akan mengantarmu ke rumah sakit.”
Liana mengantarkan Daren ke rumah sakit, ia segera di tangani. Karena hanya luka gores yang dangkal, Daren tak perlu melakukan jahitan dan hanya mendapatkan perban.
“Sudah kubilang aku baik-baik saja.” Daren mencoba menghibur Liana yang masih menatapnya dengan wajah yang cemas. Bahkan dia bisa melihat jemari Liana gemetar.
“Apa kamu begitu ketakutan?”
Liana mengangguk, “Aku sudah terbiasa dengan kehidupan penjara yang keras, tapi aku baru pertama melihat pertarungan antar lelaki yang lebih menegangkan. Mereka seperti tidak takut mati.”
Daren mengacak rambut Liana, “Aku minta maaf sudah menyeretmu ke dalam masalahku.”
“Tidak, itu sama sekali bukan salahmu. Lagi pula kamu juga sudah banyak membantuku.”
Daren meninggalkan Liana di rumah sakit untuk menemani Lucy, ia baru saja masuk ke mobilnya saat telepon genggamnya berdering.
“Bos, aku sudah berhasil menginvestigasi siapa dibalik penyerangan pada dirimu malam ini. Baru-baru ini kelompok pembunuh bayaran itu baru saja melakukan pertemuan dengan kelompok mafia red eyes.”
Daren menyipitkan matanya, ia tak pernah bersinggungan dengan kelompok itu, namun Daren memilih untuk tidak terlalu memikirkan. Ia sudah terlalu banyak musuh, mungkin red eyes adalah bagian dari pion yang ingin balas dendam padanya.
Pria di ujung telepon masih berbicara, “Bos, akun juga berhasil menemukan petugas kebersihan yang kamu cari. Aku akan mengirim alamatnya lewat pesan.”
Daren memacu mobil sport merahnya menuju ke pemukiman kumuh yang berada di pinggiran kota. Ia segera mencari rumah dengan nomor 145. Saat ia menemukan nomor rumah itu, ia melihat seorang wanita paruh baya tengah bersiap untuk pergi.
“Mau ke mana kamu?” tanya Daren dengan wajah yang dingin.
Wanita paruh baya itu mengepalkan tinjunya, baru pagi tadi ia mengetahui berita online tentang kasus Liana yang sudah di buka kembali. Tak hanya itu ia juga mendapati video dirinya memasuki kamar perawatan Lucy dengan wajah yang waspada. Meski rekaman itu tak memperlihatkan proses ia mencuri barang bukti, tapi dari gaya tubuh ketika ia masuk dan keluar ruangan itu dengan penuh kewaspadaan bisa membuat semua orang tahu bahwa dirinya berniat buruk.