Di rumah sakit keluarga Belinda datang untuk menemui putrinya yang baru saja tersadar dalam komanya satu bulan yang lalu. Setelah koma selama tiga tahun, Belinda masih menjalani terapi untuk kembali bisa berjalan dan melakukan banyak kegiatan lain.
“Kenapa wajah Ayah terlihat marah?” tanya Belinda pada ibunya.
“Bitc-hes itu berhasil memang sidang kali ini!”
“Siapa yang ibu maksud?”
Selama Belinda sadar dari komanya kedua orang tua Belinda masih menyembunyikan fakta bahwa orang yang telah melukai Belinda hingga koma adalah Liana mantan sahabatnya. Setelah kekalahan pada sidang pertama Ayah Belinda memutuskan untuk membuat anaknya bersaksi di persidangan minggu depan. Pada awalnya, Ayah Belinda takut jika sadarnya Belinda bisa meringankan tuntutan pengadilan untuk Liana.
“Belinda, apakah kamu bisa bersaksi di persidangan? Liana berusaha membalikkan kasus, dia ingin lepas dari tanggung jawab bahwa dirinya sudah melukai dirimu hingga koma tiga tahun ini?” tanya Ibu Belinda dengan wajah permohonan.
Belinda mengernyitkan dahinya, “Bu, bukan Liana yang sudah melakukan itu padaku.”
Kedua orang tua Belinda terkejut, bahkan lutut mereka terasa lemas.
“Apakah kalian selama ini salah menangkap orang?” tanya Belinda dengan wajah yang rumit.
Kedua orang tua Belinda tidak menjawab, tapi ekspresi mereka menjelaskan semuanya.
“Bu, bukan dia yang melukai diriku. Mereka adalah sekelompok holigan yang aku temukan di bar. Apakah ini berarti pelaku yang sebenarnya masih berkeliaran?” tanya Belinda dengan wajah ketakutan. Meski sudah koma tiga tahun ia masih mengingat jelas rasa takut bahkan rasa sakit di setiap inci tubuhnya sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
Kedua orang tua Belinda ambruk ke sofa, “Lalu kenapa semua bukti selama ini mengarah pada gadis itu?” Ayah Belinda gemetar, selama ini ia sudah membayar banyak napi untuk menyiksa Liana karena memiliki dendam untuk putrinya yang masih koma.
‘Tidak, jika sampai terbukti tak bersalah. Maka aku dalam bahaya, aku tak hanya menyewa kelompok napi, tapi juga menyogok pengacara Liana bahkan Jaksa dan juga hakim waktu itu untuk membuat Liana membayar semuanya.’ Ayah Belinda pucat pasi memikirkan jika semua kejahatan yang sudah ia lakukan terbongkar. Ia tidak sadar bahwa selama ini ia sudah memakan umpan dari orang lain yang sengaja menjebak Liana.
“Sayang, tolong bantu ayah, tangan ayahmu ini sudah terlanjur kotor.” pinta Ayah Belinda dengan wajah putus asa.
Belinda tak menyangka bahwa ayahnya sudah bertindak terlalu jauh, bahkan sudah tak ada jalan untuk kembali, dengan berat hati Belinda menyetujui permintaan ayahnya. Dia tak ingin melihat pria yang sudah tak lagi muda ini masuk ke dalam penjara.
"Apakah ayah yakin bahwa semua akan baik-baik saja jika aku mengatakan kesaksian palsu?"
"Jangan khawatir, mereka tak punya bukti apa pun yang bisa menyatakan bahwa kesaksian yang kamu berikan palsu."
***
Liana berhasil mengajukan cuti tahanan setelah memenangkan sidang pertama. Aaron sudah menunggunya di tempat parkir setelah mengurus semua berkas Liana. Untuk pertama kalinya, Aaron melihat Liana tanpa mengenakan baju tahanan, Liana tampak cantik dengan gaun terusan sederhana berwarna Navy yang ia dapatkan dari Claire.
“Jika kamu cukup sibuk hari ini, aku bisa menjemput adikku dengan menggunakan taksi.”
“Aku tidak terlalu sibuk hari ini dan aku juga sudah berjanji pada Claire untuk mengantarmu.”
Daren membukakan pintu penumpang mobil depan untuk Liana, gadis itu tersenyum sebagai rasa Terima kasih.
Setelah perjalanan tiga puluh menit, Liana menunggu adiknya dengan antusias di stasiun kereta api bawah tanah. Begitu pintu kereta cepat di buka seorang gadis muda berlari menuju tubuh Liana dan memeluknya.
“Kakak, aku sangat merindukanmu.”
Tiga tahun lalu Liana meninggalkan Lucy saat ia masih berumur sepuluh tahun. Kini gadis mungil itu sudah berubah menjadi remaja berbadan tinggi. Lucy memiliki wajah cantik meski masih terlihat pucat.
“Bagaimana kabarmu? Apa jantungmu masih sering terasa sakit?” Liana menatap tubuh adiknya dari atas hingga bawah.
“Aku akan baik-baik saja, selama kakak berada di sebelahku.”
Liana memeluk adiknya kembali, “Di mana Bik Ruth? Kenapa dia tidak ikut?” tanya Liana setelah memperhatikan sekitar tapi tak menemukan wanita tua yang sudah mengasuh dirinya sejak kecil.
“Bibi Ruth tidak ikut, dia sudah semakin tua sekarang Kak. Perjalanan jauh sudah tidak nyaman lagi baginya.”
Liana mengernyitkan dahinya, ia tidak merasa sedikit kecewa karena Lucy harus menempuh perjalanan sendiri dengan kondisi badannya yang kurang sehat. Liana mengantar adiknya menuju tempat parkir mobil, Daren tengah merokok saat itu namun setelah melihat kedatangan Liana dan Lucy ia segera membuang rokoknya. Ia tahu bahwa Lucy tidak sehat secara fisik, jadi ia tidak ingin gadis ini menghirup asap nikotin.
“Siapa dia kak?”
“Daren Parker, dia pengacara kakak.”
Mendengar bahwa pria tampan itu adalah pengacara yang membantu kakaknya Lucy menatap dengan senyum manis ke arah Daren.
“Namaku Lucy Anderson, Terima kasih sudah membantu kakak.” Kata Lucy dengan mengulurkan tangannya.
Daren meraih tangan pucat Lucy, “Itu sudah menjadi tugasku.”
Setelah perkenalan singkat, Daren mengantar Lucy dan Liana ke rumah sakit tempat Lucy akan di rawat. Claire sudah memastikan semua kebutuhan Lucy terpenuhi melalui Daren, ia juga mendaftarkan Lucy di rumah sakit yang sama tempat ia dulu di rawat.
“Sore ini bisakah kamu berkeliling denganku untuk mencari bukti dari kasusmu?” pinta Daren.
Liana mengangguk, “Tunggu sebentar, aku akan berpamitan dengan Lucy.”
Liana hanya bisa keluar penjara dalam waktu sehari, ia tahu hari ini akan menjadikan pertemuan singkat dengan adiknya jadi ia berniat untuk menjaga Lucy semalaman meski begitu kesempatan keluar penjara kali ini juga harus ia manfaatkan untuk mencari bukti untuk kasusnya sendiri.
Setelah meninggalkan dua wanita di bangsalnya untuk berpamitan, Daren berniat menunggu Liana di mobil. Ia melewati sebuah ruangan tempat pasien 101 pernah di rawat selama berbulan-bulan. Ia terhenti di depan pintu kamar yang terbuka itu, jantungnya terasa sakit dan hatinya menjadi gelisah untuk alasan yang tak ia tahu. Ia bahkan tak bisa menahan langkahnya untuk menuju sebuah kamar perawatan yang sedikit terbuka. Dia melihat seorang pria tengah di rawat dengan banyak alat bantu medis. Hatinya terasa gelisah, 'Apakah ini Defrain?' batin Daren. Saat ia menuju lebih dekat ke arah pasien itu dan menatap wajahnya, ia menyadari bahwa pria itu bukan Defrain.