Di kamar besar Samantha, ia tengah menatap keluar jendela. Ada hamparan lapangan luas tempat napi biasa melakukan aktivitas berolahraga, dari jendela kecilnya ia sering kali mengamati tiap napi yang bukan bagian dari sayap barat.
Hari ini ia mengenang seorang wanita dengan tubuh kecil tiga tahun lalu, dia masih ingat di lapangan luas itu seorang wanita di rundung oleh tujuh napi lainnya di tengah rintik hujan.
Tubuh kecil itu terus di hajar hingga tanpa ampun oleh mereka, beberapa kali ia tersungkur namun di detik berikutnya ia berusaha bangkit lagi. Ia akan terus seperti itu hingga tubuhnya pingsan dan di tinggalkan begitu saja di tengah rintik hujan.
“Liana, jadi itu namamu,” gumam Samantha setelah berhasil mengingat gadis tangguh yang ia lihat tiga tahun lalu adalah Liana.
“Kamu sangat kuat hingga mampu bertahan hidup sampai detik ini!” Samantha menutup korden kamarnya, ia segera mengeluarkan ponsel di atas meja nakas, dalam hitungan detik setelah tersambung terdengar suara pria menjawab telepon darinya.
“Iya, ada apa?” tanya pria di balik telepon.
“Siapkan identitas baru untuk seorang wanita berusia sekitar 25 tahunan!” titah Samantha.
“Apa kamu sudah menemukan kurir yang akan membawa barang itu ke Amerika?” tanya Scott, ia adalah adik dari suami Samantha.
“Iya, aku akan mengirim paket itu dalam waktu dua hari. Jadi siapkan secepatnya!”
“Apa yang harus aku lakukan dengan Liana, Bos?” tanya Shandy begitu masuk ke kamar Samantha.
“Suruh Jolie, menyiapkan kematian Liana. Suruh ia membedah perut Liana, ia harus memasukkan ko-kain ke perutnya! Buat skema kematian Liana , saat jasadnya keluar dari penjara pastikan orang kepercayaan kita yang mengurusnya,” titah Samantha pada Shandy, Jolie adalah salah satu napi yang sebelumnya adalah seorang dokter bedah yang harus di penjara karena tindakan mal praktik keji pada beberapa pasiennya.
‘Aku akan mengeluarkanmu dari sini, tapi kamu harus mati sebagai Liana,’ gumam Samantha.
Matahari pagi menyusup dari celah jendela dengan jeruji besi sebagai pengamannya. Liana terbangun setelah cahaya terang itu menyilaukan matanya. Ia segera duduk di ujung ranjang dan menggeliat kan tubuhnya.
“Kamu sudah bangun?” sapa Jolie yang sudah berdiri di depan selnya. Ia datang bersama Shandy, wajah kedua wanita itu terlihat begitu mengintimidasi.
“Ikut kami!” titah Shandy setelah membuka kunci sel Liana. Gadis itu segera merapikan rambutnya sebelum keluar menghampiri mereka.
“Kamu akan di bawa ke meja operasi dan akan dikeluarkan dari sel malam ini!” terang Shandy.
Liana terkesiap, ia tidak menyangka akan secepat ini Samantha mengeluarkan dirinya.
‘Tak apa, lebih cepat keluar lebih baik. Kamu tidak akan tahu sampai berapa lama Lucy bisa menunggumu,’ yakin Liana pada dirinya sendiri.
Ia secara refleks memegang perutnya, merabanya perlahan sebelum pisau bedah mengoyak kulit itu.
‘Jangan takut, kamu sudah melewati banyak rasa sakit sebelum ini,’ batin Liana sembari terus mengekor pada langkah dua wanita di depannya. Semakin lama ia berjalan, semakin deras pula ia merasakan keringat dingin terus membanjiri kulitnya, hingga ia merasa tubuhnya kini sedingin gunung es.
“Kita sudah sampai!” kata Shandy.
Mereka telah tiba di ruang paling ujung penjara sayap barat. Ruangan sunyi dan jauh dari keramaian. Ada sebuah ranjang medis tua di tengah ruangan, saat Jolie menyalakan lampu ruangan. Cahaya benderang semakin memperjelas sisa-sisa darah kering yang berada di setiap sudut. Ruang ini juga memiliki bau anyir yang menyengat.
“Lepas bajumu, dan segera berbaring di atas sana!” titah Jolie yang sedang bersiap dengan sarung tangan operasi. Ia sudah siap dengan botol obat bius yang baru saja ia tusuk dengan jarum di tangannya.
Setelah melepas bajunya dengan gemetar, Liana mulai membaringkan tubuhnya di ranjang itu. Ia bisa melihat sebuah dua bungkusan kokain seberat masing-masing ½ kg berada di dekat Shandy.
Jolie sudah bersiap dengan jarum bius yang ia angkat lebih tinggi, mencipratkan beberapa tetes ke udara, memastikan bahwa jarum berfungsi dengan baik.
Brak!
Suara pintu terbuka dengan keras mengalihkan pandangan tiga perempuan yang tengah bersiap menyayat perut Liana. Pupil mata mereka melebar melihat bahwa wanita yang berdiri di depan pintu dengan wajah yang dingin itu adalah Claire. Penguasa penjara timur yang tidak tersentuh dan memiliki kekuasaan setara Samantha.
“Pakai bajumu, dan keluar dari sini sekarang!” Pekik Claire pada Liana.
“Aku tidak mau! Aku harus keluar dari sini dan menolong adikku!” bantah Liana.
Emosi di d**a Claire semakin membara, ia menggertakkan rahangnya hingga urat di pipinya hampir pecah. Nafasnya masih naik turun ketika harus segera berlari untuk menyelamatkan gadis ini dari pisau bedah. Ia baru sampai dari cuti tahanan karena menjaga ayahnya yang sakit keras ketika Jenny tiba-tiba berlari padanya dan menceritakan masalah Liana.
“Aku akan membantumu keluar penjara, jangan lakukan hal berbahaya ini! Kamu hanya akan keluar dalam 1kg kokain itu dengan hanya 10% peluang selamat. Apa kau tahu itu?” bentak Claire.
“40% kamu akan mati di meja operasi tanpa standar media yang baik ini, 30% saat proses pengambilan kokain itu dan 20% karena risiko pecahnya kokain itu di dalam perutmu!” terang Claire dengan nada tinggi.
Jolie dan Shandy tidak dapat berbuat banyak, di hadapan mereka sekarang adalah Claire yang tidak sebanding dengan status mereka. Shandy hanya mampu mengirim pesan singkat pada Samantha untuk segera datang membereskan kekacauan yang dibuat Claire.
“Aku tidak peduli itu Claire, Adikku tidak baik-baik saja, nyawaku juga tidak akan ada artinya jika adikku tidak ada di dunia ini!”
“Pakai bajumu, cepat!” bentak Claire semakin jengkel.
“Aku akan menyuruh orang membawa adikmu untuk dirawat di rumah sakit, dan aku akan menyewa pengacara swasta terkenal untuk membuka kembali kasusmu! Kamu akan keluar dari sini dengan nama yang bersih!” yakin Claire.
Liana segera mengenakan bajunya dan turun dari ranjang yang berbau anyir darah itu.
“Apa yang kau lakukan?” pekik Samantha sesaat setelah memasuki ruang operasi.
“Apa kamu pikir bisa pergi begitu saja dengan hidup setelah mengkhianati kebaikanku?”
“Lepaskan dia? Itu bukan kebaikan tapi hanya keuntungan sepihak!”
Dua legenda penguasa penjara saling beradu tatapan yang tajam. Seketika ruang yang tadi terasa lembab menjadi begitu panas.
“Tidak! Dia budakku sekarang sejak ia melangkah dengan suka rela dan menyerahkan jiwanya untukku. Kamu pergilah sebelum aku hilang kesabaran!”
“Aku tidak akan pergi jika tanpa dia!”
Samantha mengepalkan tinjunya, ia juga menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri menciptakan suara gemertak tulang yang mengintimidasi.
“Kamu bisa membawanya pergi, jika berhasil mengalahkan aku!” tantang Samantha.
Claire menarik sudut bibirnya dan tersenyum acuh, “Baiklah, tapi jika kamu kalah maka kamu tidak boleh lagi menyentuh gadis itu!”