22 : Kemiripan Daren Parker dengan Pasien 101

1004 Words
Claire dan Samantha sepakat melakukan pertandingan di tengah lapangan. Banyak Napi yang sudah menunggu pertarungan dua legenda penguasa penjara perempuan yang tak tersentuh selama ini. Bahkan sebagian besar dari mereka baru saja mengetahui seperti apa rupa dari Claire dan Samantha. “Setelah ini, hanya akan ada satu wanita terkuat di penjara ini. Selama ini aku paling tidak suka berada sejajar denganmu!” kata Samantha dengan posisi siap untuk menyerang Claire. “Kamu hanya penjahat yang tidak tahu cara bertarung! Aku sudah pernah menyergap gembong nar-k*ba sebelum berada di sini.” Wajah Samantha di penuhi ejekan, “Sayang sekali, anggota pasukan khusus yang berprestasi ini sekarang berakhir di penjara!” Samantha menyerang Claire lebih dulu, pukulan pertama terus berhasil di hindari oleh Claire. Mereka memiliki keterampilan yang hampir sama. Semua penonton merasa seperti melihat pertandingan MMA kelas profesional. Claire sempat terkena pukulan di bagian kepala hingga membuat linglung sesaat, Samantha segera menggunakan kesempatan itu untuk terus menghajar tubuh Claire. Menyerang tumitnya hingga tersungkur, namun saat Samantha masih berusaha menyerang Claire yang sudah terjatuh di tanah. Gerakan tinju Claire secepat kilat menghantam ulu hati Samantha, membuat ia terhuyung kesakitan. Claire bangkit dan menendang kepala Samantha, ia tak berhenti hingga wanita itu mengaku kalah. “Tinggalkan aku! Bawalah gadis tengik itu!” kata Samantha mengaku kalah. Anak buah Samantha hendak melakukan perlawanan tapi Samantha mengangkat tangannya dan memberikan isyarat pada mereka untuk membiarkan Claire dan Liana pergi. “Biarkan mereka, ini adalah pertandingan yang adil. Jangan kotori dengan hal licik!” kata Samantha sambil berusaha bangkit dan memudahkan darah dari mulutnya. Sudah lama ia tidak merasakan kebahagiaan pertandingan yang membuat darahnya mendidih. Meski tubuhnya di penuhi rasa sakit, tapi jiwanya merasakan kebahagiaan. Claire membawa Liana kembali ke kamarnya dengan wajah yang dingin karena menahan amarah pada Liana yang sudah membuat keputusan yang bodoh. “Ma-maafkan aku membuatmu mengalami banyak luka karena diriku,” kata Liana dengan wajah tertunduk. Claire menuangkan minuman dan menenggaknya dalam sekali teguk, “Kamu seharusnya tidak cukup bodoh untuk mempertaruhkan nyawamu sendiri demi bisa keluar dari penjara.” Liana hanya tertunduk, Claire segera mendekati Liana. Ia sangat marah pada gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri, meski begitu ia tahu rasanya menjadi putus asa karena seorang adik seperti yang Liana rasakan. “Aku sudah menghubungi pengacara Daren Parker, dia adalah pengacara terkenal. Dia akan datang sore ini untuk menemui dirimu.” Liana menangis dan memeluk tubuh Claire, pelukan yang sangat keras hingga menimbulkan reaksi menyakitkan bagi Claire karena lebam di tubuhnya ditekan oleh pelukan Liana.Meski begitu Claire tetap menggerakkan tangannya untuk menepuk-nepuk bahu Liana dengan lembut. .... Di ruang berkunjung, seorang pria tampan dengan setelan jas rapi sudah menunggu dengan dokumen di depan mejanya. Pria itu memiliki potongan rambut rapi, ia memakai kaca mata berbingkai emas saat membaca dokumen di tangannya. Liana menghampiri pria itu dengan perasaan campur aduk, antara bahagia dan juga gelisah. Saat Liana sudah berada tepat di depannya pengacara muda itu mengulurkan tangan untuk Liana. “Aku pengacaramu mulai sekarang, namaku adalah Daren Parker.” Liana hendak menyambut jabatan tangan itu, tapi jemarinya terhenti di udara saat menatap wajah tak asing pengacara itu. Wajah itu membuat tubuh Liana bergetar dan lututnya menjadi lemas. ‘Kenapa wajah pria ini sangat mirip dengan pasien 101?’ ‘Tidak, ia tidak mungkin bangkit lagi. Aku sendiri yang mengatur perkuburan untuknya. Ini pasti kebetulan.’ Melihat Liana hanya melamun, Daren segera menjabat tangan Liana yang masih terlihat ragu-ragu, “Nona Liana!” kata Daren sambil mengguncang tangan Liana untuk membuat ia kembali ke akal sehatnya. “Ma-maafkan aku.” Daren menghela nafas, “Aku sudah membaca semua berkas kasusmu. Sebenarnya aku melihat banyak celah di sini, tapi celah itu tertutup dengan bukti yang semuanya mengarah padamu.” Liana hanya diam dengan ekspresi wajah yang rumit, raut wajahnya mengisyaratkan jelas bahwa ada banyak hal yang ingin ia ungkapan tapi memiliki keraguan untuk mengatakan itu. “Nona Liana, aku harap Anda tidak menutupi hal kecil apa pun kepadaku. Apakah Anda masih ingin keluar dari penjara ini?” tanya Daren dengan wajah yang dingin, jika saja bukan karena Claire yang meminta dirinya. Ia tak akan membuang waktu untuk wanita yang tampak jelas sudah menyembunyikan banyak hal. Claire begitu percaya bahwa Liana sudah di jebak, hingga membuat permohonan secara langsung agar Daren menyelamatkan Liana. “Di mana Anda malam itu ketika Belinda di temukan kritis di taman?” Daren tahu dari mempelajari kasus ini, bahwa Liana hanya diam saat di tanyakan tentang keberadaan dirinya malam itu. Jemari Liana gemetar, tapi ia berusaha menenangkan jari itu dengan mengaitkan satu sama lain, “Aku di hotel bersama seorang pria,” jawab Liana dengan kepala tertunduk. “Siapa dia?” “Aku tidak mengenal dirinya, aku hanya bertemu dua kali dengan dia,” kepala Liana tertunduk saat mengatakan itu. Mengingat kejadian malam itu seperti ia harus mengulangi lagi mimpi buruk yang menyakitkan. Daren menghela nafas berat, ‘Wajahnya terlihat lugu, tapi aku tidak menyangka bahwa orang seperti dia bisa melakukan one night stand!’ batin Daren. “Tolong catat, hotel apa, nomor kamar hotel dan jam berapa kamu masuk dan keluar dari sana! Aku akan mendapatkan CCTV-nya.” Daren menyodorkan kertas kecil dan pena pada Liana. Ia mencatat semuanya di kertas itu, ia berhasil mengingat dengan jelas karena itu adalah hari yang tak akan bisa ia lupakan. Saat Daren hendak pergi Liana menarik lengan Daren, “Tuan, wajahmu,-“ Liana hendak mengatakan bahwa Daren terlihat mirip dengan seseorang yang ia kenal sebelumnya tapi sebuah panggilan telepon memutus perkataan yang hendak Liana ucapkan. “Maaf Nona Liana, aku harus segera pergi. Ada hal yang mendesak.” Daren pergi begitu saja meninggalkan Liana yang masih berdiri dengan tatapan kosong, “Tidak, mungkin ini hanya kebetulan. Claire bilang Daren selama ini tinggal di Australia, dia mungkin tak ada hubungan dengan pasien 101. Sebagai pengacara hebat, dia seharusnya berhasil menemukan pasien 101 dan tak akan berakhir menjadi pria yang meninggal tanpa identitas.” Liana meyakinkan dirinya sendiri bahwa kecurigaannya tidak berdasar. Ia juga bertekad, bahwa pencarian keluarga pasien 101 akan ia lakukan setelah dirinya bebas dari penjara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD