CINTA DARI TAHANAN WAKTU

1830 Words
“Binar, jangan jatuh cinta terlalu dalam atau kau akan ditusuk pedang sampai meninggal!” bisik Binar kepada dirinya sendiri. Dia berbaring menatap langit-langit kamar tidurnya yang dilukis dengan cantik oleh Ayahnya sendiri. “Tapi, jika kali ini aku tidak mati karena penyakit, lalu aku akan mati karena apa? Ditusuk lagi?” Jika Corn memiliki tangan, dia sudah pasti akan menyentil kening Binar. “Hei, kau itu tetap akan meninggal karena penyakitmu, hanya saja kali ini kau akan selamat melewati usia 20 tahunmu.” “Lalu aku akan mati?” “Semesta tidak sekejam itu.” Binar mendengus. “Tidak kejam apanya? Semesta baru mengabulkan do’a-do’a ku setelah ratusan tahun!” “Tapi semesta kembali menyatukan kalian, bahkan dengan skenario yang sama. Ayah yang berkuasa, Ibu yang sudah tidak ada, anak gadis satu-satunya yang memiliki penyakit langka serta seorang ksatria—atau di masa sekarang dikenal sebagai seorang pengawal—yang berbakat. Kita lihat saja bagaimana kedepannya.” Terdiam sejenak, Binar menatap Corn dalam. “Kau lupa siapa saja yang terlibat selain aku, Langit dan juga Ayah di dalam cerita masa lalu? Kau lupa selir Ayahku? Kau lupa pengawal yang mematuhi Ibu tiriku?” Binar berdecak. “Jika semesta menghadirkan langit, mereka juga tidak mungkin lupa menghadirkan kedua orang itu.” Corn melata di dalam kandangnya, dia mulai bersembunyi. “Menurutmu semesta sekejam itu?” “Tentu saja. Jika mereka memberikan kesempatan kepada Langit, maka mereka tidak akan melupakan orang-orang yang ada kaitannya dengan peristiwa itu.” Binar berguling-guling. “Tapi sudahlah, yang penting Langit ada di sisiku sekarang. Mulai besok dia akan menjadi teman sekelasku dan akan selalu menjagaku. Bukankah itu hebat?” “Dia juga menjagamu di masa lalu sebelum akhirnya dia juga yang menjadi penyebab kematianmu.” Jleb! “Kata-katamu itu ... bisakah kau tidak menyerang hatiku yang lembut ini?” “Hati lembutmu itu harusnya sadar sejak dulu. Dia bahkan tidak menampilkan ekspresi apapun di wajahnya ketika dia menusukmu sampai meninggal, dia sama sekali tidak ragu untuk membunuhmu tetapi kau berdo’a untuk kesempatan kedua baginya yang sudah dijanjikan semesta kepada setiap manusia. Bodoh.” “Corn, sebenarnya dia ....” “Dia apa?” Binar menggelengkan kepalanya. “Bukan apa-apa. Sudahlah, ayo tidur! Besok kita harus bangun pagi dan berangkat ke sekolah.” Sebenarnya Binar ingin mengatakan kalau Langit tidak seperti yang Corn kira. Mungkin Corn tidak melihatnya tetapi Binar menatap mata ‘pembunuhnya’ itu dengan jelas. Langit memang tidak menampilkan ekspresi penyesalan tetapi tatapan matanya ... tatapan mata yang tidak pernah bisa Binar lupakan sampai sekarang. **** “Halo, Langit!” sapa Binar ceria setelah dia masuk ke dalam mobil. Binar sudah siap dengan seragam sekolahnya dan begitu juga dengan Langit, gadis itu menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangannya kepada Gibran sebelum kemudian mobil melaju dengan kecepatan sedang. “Dadah, Ayah!” Binar memberikan senyum lebarnya. “Binar berangkat dulu!” “Jangan nakal!” “Siap!” katanya sembari memberi hormat. Binar terkekeh pelan dan setelah mobil menjauh dari rumahnya, dia kembali menaikkan kaca jendela mobil dan menatap ke arah Langit. “Kau sudah sarapan, 'kan? Aku membawa dua bekal, nanti kita makan siang bersama di dalam kelas, ya?!” Langit mengangguk. “Baik, Nona.” “Jangan memanggilku Nona, panggil aku Binar,” pinta Binar dengan nada ceria yang tetap sama. “Anak-anak akan menatap kita aneh jika kau memanggilku dengan sebutan Nona. Jadi jangan terlalu formal denganku, cobalah panggil aku dengan nama saja, oke?!” Tuan Q yang menjadi supir untuk mereka berdua di hari pertama Langit menjadi pengawal pribadi Binar langsung terkekeh. Dia berpikir bahwa Langit mungkin jarang atau hampir tidak pernah bertemu dengan gadis seceria Binar, apalagi tatapan mata yang tulus dan cara berbicara yang sangat lembut ... dunia yang Langit lalui sejak dia kecil sampai usianya sekarang mungkin jauh berbeda, malah Langit mungkin lebih terbiasa dengan makian kasar dari orang-orang sekitarnya. “Ikuti saja apa yang Nona Binar inginkan, kau tidak perlu menatapku seperti itu,” ucap Tuan Q. “Lagipula kalian akan menjadi teman sekelas, memang aneh jika kau memanggil Nona Binar dengan embel-embel Nona di dalam kelas.” Binar tersenyum lebar mendengar perkataan Tuan Q, dia kini terlihat semakin ceria dan bersemangat. “Bagaimana, Langit?” “Baik.” Setelah itu mobil diisi dengan cerita-cerita Binar tentang sekolahnya, bagaimana dia merasa aneh setiap Tuan Q berada di area sekolah dan bahkan mengikutinya ke kantin atau bagaimana dia berhasil menjawab berbagai pertanyaan dari gurunya karena toh Binar sebenarnya sudah belajar hal yang sama selama ratusan tahun lamanya. “Aku memang baru masuk sekolah formal tetapi aku yang paling pintar, tahu!” Tuan Q terkekeh. “Nona, sepertinya Nona harus bersiap bersaing dengan Langit.” Binar langsung menatap Langit yang tetap sama, menatap fokus ke depan dan tidak bergerak sama sekali dari duduknya. Langit sudah tidak ada bedanya dengan patung jika bukan karena Binar tahu dia masih bernapas dengan normal. “Kenapa dengan Langit? Apa Langit pintar?” “Ya, jika dia meneruskan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi, dia mungkin dengan mudah diterima di sekolah terbaik di negeri ini.” Mata Binar melotot, dia menarik tangan Langit, membuat laki-laki itu menatapnya. “Yang benar?” tanyanya penasaran. “Ya,” jawab Langit sopan. “Lalu kenapa menjadi pengawal?” tanya Binar penasaran. Dia sebenarnya terkejut karena dia tidak tahu bagaimana kapasitas otak Langit Arifan di masa lalu, tetapi memang Langit tidak bisa dikatakan bodoh sebab dia dengan mudah menjadi ksatria hebat di masa lalu. “Kenapa tidak melanjutkan sekolah dan menjadi apa yang kau mau saja?” “Saya senang dengan pekerjaan saya sekarang.” Binar mengerjapkan matanya. “Oh, begitu?” Dia melepaskan tangannya yang sejak tadi mencengkeram lengan Langit, senyumnya kembali melebar dan Binar yang ceria kembali. “Kalau begitu tolong jaga aku, Langit. Mohon bantuannya—” Langit memeluk Binar, atau lebih tepatnya melindungi gadis itu supaya tidak tersentak ke depan karena mobil yang mereka kendarai tiba-tiba oleng karena pengendara motor yang ugal-ugalan. “Nona!” Tuan Q heboh, dia menoleh ke belakang dengan wajah panik. “Nona tidak apa-apa?” Langit kembali ke posisinya. “Nona, jangan lupa sabuk pengamannya,” katanya pada Binar yang masih terlihat shock dengan nada serius. “Nona?!” “Nona Binar baik-baik saja.” Langit yang menyahut, dia mengambil sebotol air putih, membuka tutupnya dan memberikannya kepada Binar. “Minum, Nona!” “Ah,” Binar menerima itu. Dia meminum air putih yang diberikan oleh Langit dan menghela napas. “Aku baik-baik saja, Tuan Q. Langit melindungi ... ku.” Binar sempat menahan napasnya ketika Langit mendekat untuk memasangkan sabuk pengamannya. “Maafkan saya, Nona.” “Bukan salah, Tuan Q!” Binar menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa, kita berangkat ke sekolah saja.” “Ayo ke rumah sakit, Nona—” “Aku baik-baik saja. Aku tidak berbohong.” Binar menatap Langit, meminta pertolongan tanpa suara. Dia tidak mau pergi ke rumah sakit padahal dirinya baik-baik saja—yah, itu berkat Langit juga. “Tuan, lebih baik kita langsung ke sekolah saja,” ucap Langit, dia bisa membaca situasi dengan sangat baik. “Saya yang akan memastikan sendiri apakah Nona benar baik-baik saja atau tidak.” Eh? Binar mengerjapkan matanya. “Apa maksud kalimat ‘akan memastikan sendiri' itu?” tanya batinnya. “Baiklah.” Eh? Binar semakin terkejut setelah mendengar bagaimana Tuan Q yang keras kepala itu mendengarkan anak baru yang umurnya jauh di bawahnya. Biasanya tidak seperti itu tetapi entah kenapa Binar sangat menyukainya, dia merasa memiliki pendukung yang sangat kuat. Setelah mobil kembali melaju, Binar tidak berhenti tersenyum. Dia tetap tersenyum dan melempar pandangan ke arah luar mobil sampai mereka tiba di halaman sekolah Binar yang sangat luas. “Sudah aku bilang tidak perlu masuk juga tidak apa-apa,” gumam Binar, dia melepas sabuk pengamannya dan ketika dia hendak membuka pintu, entah sejak kapan Langit sudah ada di sana dan membukakan pintu untuknya. “Oh, terima kasih.” Langit mengangguk. “Nona tidak apa-apa saya tinggal langsung?” Tuan Q mulai khawatir lagi. “Ini pertama kalinya Nona diluar dan saya tidak mengawal langsung.” “Aku baik-baik saja. Hehe.” “Nona sepertinya sangat senang saya tidak ada,” sindir Tuan Q, menggoda anak tuan besarnya itu. Kepala pengawal pribadi keluarga Rinanjala itu kemudian menatap Langit. “Kau ingat apa yang sudah aku minta kau pelajari semalam, bukan? Jangan sekali-kali melupakan itu.” “Baik.” Binar mengedarkan pandangannya dan menemukan fakta bahwa dia lagi-lagi menjadi pusat perhatian, terutama dengan kedatangan Langit yang bisa membuat semua orang menoleh lebih dari dua kali hanya untuk melihat ketampanan laki-laki itu. Entah kenapa Binar jadi merasa kesal. “Ayo, Nona!” ajak Langit. “Nona?” Binar menatap pengawal pribadinya itu. “Jangan memanggilku Nona, setidaknya di sekolah. Bukankah aku sudah bilang tadi?” “Iya.” “Dadah, Tuan Q!” Binar melambaikan tangan kepada kepala pengawal yang sudah menjadi temannya sejak kecil itu. “Hati-hati di jalan!” “Ya, Nona juga, bersenang-senanglah!” Mengacungkan jempol, Binar kemudian membalikkan tubuh dan berjalan dengan semangat menuju ruang kelasnya yang terletak di lantai tiga. Selama itu, Langit hanya mengikuti Binar tanpa bicara sampai kemudian ... “Binar?” Dipanggil oleh suara yang sudah lama dia rindukan, orang yang memiliki wajah sama, laki-laki yang memiliki kaitan masa lalu dengannya ... Binar merinding. “Ya?” sahutnya. “Di mana ruang gurunya?” “Ruang gur—ah, kau anak baru, ya?!” Binar terkekeh. “Aku lupa. Ayo, aku antar!” Langit tidak menunjukkan reaksi yang besar. Mereka sudah seperti dua orang yang bersahabat baik tetapi memiliki kepribadian yang berbeda, yang satu sangat bersinar dan yang satu sangat muram. “Apa aku harus ikut ke dalam?” tanya Binar ketika mereka berdua sudah berdiri di depan ruang guru. “Saya tidak bisa membiarkan Binar sendirian, bagaimanapun juga saya di sini memiliki tugas ganda dan prioritas saya adalah melindungi Binar.” “Ah, ya.” Binar tersenyum. “Baiklah, aku akan ikut kalau begitu.” “Saya tidak akan masuk kalau Binar tidak nyaman.” Binar terkekeh. “Aku baik-baik saja tetapi kurangi kekakuanmu itu, tidak perlu menyebut dirimu dengan ‘saya’ di hadapanku. Kita santai saja, oke? Meskipun kau bekerja di bawah Ayahku, di sini aku adalah bos sekaligus teman sekelasmu.” “Saya rasa itu adalah hal yang akan sulit saya lakukan, Binar.” “Begitu, ya?” Binar mengangguk mengerti. “Baiklah, kalau begitu terserah kau saja.” Langit melirik anak bos barunya itu dan menghela napas pelan. “Akan saya coba.” “Apa?” Binar menoleh. Langit membuka pintu ruang guru sembari mengulang ucapannya. “Akan saya coba tidak terlalu formal dengan Binar.” Senyum Binar merekah, dia sangat senang sekali dan tanpa sadar mulai kembali menenggelamkan diri pada perlakuan manis laki-laki yang bernama Langit. Laki-laki yang sudah membunuhnya di kehidupan pertama mereka, laki-laki yang dihukum selama ratusan tahun untuk menebus dosa-dosanya sekaligus laki-laki yang sangat Binar cinta. Hah, entah di zaman dulu ataupun sekarang yang namanya jatuh cinta itu ... menakutkan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD