“Anak baru, ya? Kelas ini?”
“Kelas ini isinya hanya anak-anak pintar dan biasanya masuk ke sini juga harus melalui ujian ketat. Memangnya dia sudah melakukan itu?”
“Dia bersama dengan Binar, mungkin dia memang pintar.”
Bisikan-bisikan seperti itu didengar oleh Binar ketika dia dan Langit masuk ke dalam ruang kelas. Binar melirik ke arah pengawal pribadinya karena dia yakin Langit juga mendengar bisikan tidak nyaman itu, tetapi sepertinya Langit baik-baik saja, dia tidak terlihat peduli.
“Kamu hanya satu tahun di kelas ini, bukan?” tanya Langit, setengah berbisik. “Tahun ajaran baru nanti kamu sudah mulai masuk kuliah. Benar begitu?”
“Iya,” jawab Binar, dia tersenyum lebar. “Bukankah aku pintar?”
“Mungkin.”
Binar terkekeh pelan. Dia menjalani masa-masa sekolahnya bersama dengan Langit, meskipun laki-laki itu lebih tua empat tahun darinya dan secara menakjubkan juga jauh lebih pintar dari semua orang yang ada di kelas, Binar berhasil melalui masa-masa sekolahnya dengan perasaan yang baik.
Langit Priyanjani merebut semua perhatian, dia memang tidak mengikuti lomba-lomba meskipun dia adalah orang yang diprioritaskan tetapi tidak ada yang tidak tahu siapa Langit. Dia adalah dambaan semua orang, semua gadis tunduk padanya dan menganggap Langit lebih daripada menarik. Hanya saja karena dia selalu bersama dengan Binar, tidak ada yang berani maju karena bagaimanapun ketampatan dan kepintaran itu cocok dengan kecantikan dan kepintaran milik Binar. Kesimpulannya, mereka berdua adalah pasangan idaman yang namanya sudah tersebar ke seluruh pelosok sekolah.
Pada akhirnya Binar tidak bisa mengatakan apapun kepada Langit bahkan setelah mereka bersama selama satu tahun. Binar hanya bisa bersikap seperti teman sementara laki-laki itu sudah seperti pendengar yang baik untuknya, Langit tidak pernah melewati batas dan Binar sudah merasa senang laki-laki yang dia pinta kepada semesta itu selalu siap sedia di sampingnya.
“Setelah dipikir-pikir, kenapa kau selalu memakai lengan panjang?” tanya Binar kepada Langit, mereka baru saja menyelesaikan soal ujian. “Sejak pertama kali kita bertemu sampai sekarang, satu tahun sudah terlewati tetapi aku tidak pernah melihatmu memakai lengan pendek. Baik itu pakaianmu sehari-hari, seragam latihan, seragam kerja dan bahkan seragam sekolah semuanya memiliki lengan panjang. Kenapa?”
“Karena saya lebih suka lengan panjang. Itu saja.”
“Ey ….” Binar memicingkan matanya. “Kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku, ya?”
“Tidak.”
“Iya, kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku!” putus Binar keras kepala. “Aku yakin kau menyembunyikan sesuatu di lenganmu. Apa itu? Tato? Kau memiliki tato?”
“Tidak.”
“Lalu jika itu bukan tato ….” Binar mendekatkan wajahnya pada Langit, dia berbisik pelan. “Jika itu bukan tato, lalu apakah kau memiliki bekas luka? Bekas luka yang tidak hilang atau semacamnya?”
Langit menatap Binar, dia menatap mata yang bersinar ingin tahu itu selama beberapa detik sebelum kemudian menggerakkan tangannya untuk menangkap bola basket yang hampir mengenai kepala Binar. Langit tidak mengatakan apapun setelahnya selain kembali melemparkan bola basket itu kepada anak-anak yang berada di lapangan dengan sangat tenang.
“Ayo kita pulang!” ajak Langit, dia mengabaikan pertanyaan Binar dengan sengaja. “Bukankah kamu bilang kalau kamu ingin belajar dari saya untuk mata pelajaran yang akan diujikan besok?”
“Kau ini serba bisa, ya? Lama-lama Ayah benar-benar akan mempekerjakanmu sebagai guru pribadiku dan bukannya seorang pengawal.”
“Saya memang ditugaskan untuk selalu berada di dekat kamu apapun yang terjadi,” jawab Langit tenang. “Lagipula saya sudah melakukan ini selama satu tahun terakhir.”
“Kau tidak bosan?” tanya Binar penasaran. “Aku dengar-dengar pekerjaanmu di masa lalu lebih menantang daripada ini, jadi bukankah seharusnya kau bosan hanya mengawasiku ke sana ke mari?”
“Apa yang orang lain pikir menantang belum tentu begitu untuk saya, Binar. Seperti yang kamu katakan, saya sudah terbiasa dengan pekerjaan itu jadi saya tidak lagi merasa itu menantang—hati-hati!” Langit menyentuh punggung Binar yang hampir terjatuh karena kakinya yang sengaja menginjak batu berukuran sedang itu tidak seimbang.
“Oh ya, kemarin Tante dokter datang lagi ke rumah. Kau tahu itu, ‘kan?” Binar menghela napas. “Kau yang memberitahu Ayah kalau kemarin aku mimisan, ya?”
“Bukan saya. Saya hanya memberitahu Tuan Q.”
Binar melipat tangan di depan d**a, bibirnya mengerucut. “Itu sama saja, tahu! Kau tahu kalau gara-gara laporanmu itu aku hampir tidak diperbolehkan masuk ke sekolah hari ini? Aku hampir saja melewatkan ujianku!”
“Memangnya kenapa? Toh itu demi kebaikan kamu juga.”
“Aku bosan harus diperiksa setiap hari,” ungkap Binar jujur. “Sejak dulu sampai sekarang … aku memang berhasil bertahan dengan keajaiban tetapi Ayah tetap akan menangis diam-diam karena dia berpikir Tuan akan membawaku pergi setiap mendengar kabar buruk menimpaku.”
Langit mendengarkan.
“Aku bosan mendengar orang menangis apalagi itu Ayahku sendiri. Aku juga kasihan karena Ayah hanya merawatku seorang diri, Ibuku … aku tidak tahu dia ada di mana sekarang karena pada dasarnya kami hanya hidup berdua selama belasan tahun. Aku yakin kau sudah mendengar ini tetapi aku hanya ingin berbagi.” Binar tersenyum lebar, dia berhenti melangkah dan membuat Langit mengikutinya. “Dulu aku memiliki seseorang yang pernah mendengarkanku seperti yang kau lakukan hari ini.”
“Apa itu Tuan Q?”
Binar tertawa mendengar tebakan Langit, dia bahkan sampai memegangi perutnya. “Kenapa kau jadi membawa nama Tuan Q? Bukan, itu bukan Tuan Q. Dia hanya … seseorang yang aku sebut namanya dalam ribuan detik waktu.”
“Lalu ke mana dia sekarang?” Langit tetap bertanya meskipun Binar tahu laki-laki itu tidak sepenasaran itu. Tetapi tidak apa-apa, laki-laki itu sudah berada di sisinya dalam kondisi baik-baik saja sudah cukup.
“Entahlah,” sahut Binar. “Aku juga tidak tahu ada di mana dia sekarang.”
“Apa dia teman masa kecil kamu?”
“Daripada menyebutnya sebagai teman masa kecil, aku lebih suka menyebutnya sebagai suami dari masa lalu.”
“Suami?”
“Ah, itu Tuan Q sudah datang!” Binar menarik lengan Langit ke arah mobil yang mendekat. Binar melambai-lambaikan tangannya agar mobilnya itu berhenti tetapi senyum cerianya itu langsung berubah ketika Langit menariknya ke dalam dekapan laki-laki itu, membuat mereka berdua menghindari mobil yang bukannya menginjak rem tetapi malah menginjak gas itu.
BRAKKK
Mobil mewah berwarna putih itu menabrak pohon besar yang terletak di halaman sekolah, membuat semua orang terkejut bukan kepalang apalagi asap yang keluar dari mobil itu cukup membuat sesak sekitar.
“Blood,” gumam Langit yang bisa didengar oleh Binar. “Yang ada di dalam mobil itu bukan Tuan Q.”
“Apa?” Binar melebarkan bola matanya, tidak percaya.
“Kamu baik-baik saja?” Langit tidak kehilangan fokus, dia mengambil jaket dari dalam tasnya dan membuat Binar memakainya. “Ayo kita pergi dari sini!”
“Eh? Tapi, Langit? Tunggu—hei!”
Langit menarik tangan Binar menjauh dari kerumunan, dia yakin para pengawal akan datang dengan cepat dan karena itu dia harus menitipkan Binar kepada mereka sebab dia harus mengurus sesuatu.
“Dengar, Binar?” Langit berhenti di depan pagar sekolah setelah menaikkan satu tangannya ke atas seperti memberi tanda kepada seseorang. “Kamu akan kembali ke rumah bersama Kelvin, Joni dan yang lainnya, oke?”
“Lalu bagaimana denganmu?” Binar menatap Langit khawatir. “Kau tidak akan kembali pulang bersamaku?”
“Nona?!” Joni keluar dari dalam mobil hitam, dia mengangguk kepada Langit sebelum kemudian kembali menatap Binar. “Mari pulang bersama dengan kami.”
“Lalu bagaimana dengan Langit?”
“Langit akan menyusul nanti,” ujar Kelvin. Laki-laki berumur tiga puluh tahun itu menatap Langit. “Kau yakin apa yang kau katakan di telpon itu benar?”
“Yakin.” Langit menjawab tegas. “Apa Tuan Q sudah berangkat ke sana?”
“Ya.”
Terlihat ada sekitar empat orang berpakaian hitam keluar dari dalam mobil yang baru saja tiba. Mereka mengangguk hormat kepada Binar sebelum berjalan cepat menuju mobil yang menabrak pohon tadi.
“Kau benar-benar harus kembali, ya?!” Binar mulai masuk ke dalam mobil, disusul oleh Joni. “Kembalilah dengan selamat bersama yang lainnya!”
Sebelum Binar sempat mendengar jawaban Langit, laki-laki itu sudah berlari dan menghentikan taksi. Melihat itu Binar menghela napas, dia memang tidak tahu apa yang terjadi tetapi dia sudah sering melalui kejadian seperti saat ini karena di setiap kehidupannya dia terlahir dalam keluarga yang sangat berada sehingga banyak orang iri menyerang secara terang-terangan.
“Nona baik-baik saja?” tanya Kelvin khawatir. “Sudah ada dokter yang menunggu di rumah jadi Nona bisa tenang.”
“Bagaimana dengan Ayah?”
“Tuan dan Tuan Q sedang menuju ke suatu tempat.”
“Apa itu tempat yang berbahaya?” tanya Binar langsung. Dia menjadi sangat khawatir kepada Ayahnya karena selama masa reinkarnasinya biasanya dia yang akan meninggal terlebih dahulu, tetapi karena sekarang semuanya berubah … mungkin akan ada bayaran lain yang harus dia terima.
“Tuan Q dan Langit akan ada di sana bersama dengan Tuan besar.”
“Hanya Tuan Q dan Langit saja?”
Joni menghela napas, dia saling bertatapan dengan Kelvin sebelum menjawab. “Tuan Gibran hanya mengizinkan dua pengawalnya untuk ikut karena kami harus berbagi tugas dan terlebih dari itu, keselamatan Nona lebih penting dari apapun.”
Binar berdecak, dia mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor ponsel Ayahnya. Dia yakin Ayahnya akan bersikap seperti itu, siapapun yang berada dalam situasi paling berbahaya, tidak peduli di mana dan kapanpun itu, keselamatan Binar harus menjadi yang utama. Begitulah prinsip Ayahnya.
“Ayah tidak mengangkat panggilan teleponku,” gumamnya gelisah. “Ini yang pertama kalinya.”
“Tuan Gibran akan baik-baik saja, Nona,” ujar Kelvin menenangkan. Dia yang sedang menyetir langsung mengeluarkan tangannya melalui kaca mobil untuk memberi tanda, barulah setelah itu ada tiga mobil berwarna hitam yang melaju mendekat. Dua diantaranya berada di belakang mobil yang dikendarai oleh Kelvin dan satu lainnya menyalip dan melaju di depan mobil mereka.
“Benar, Nona. Tuan Q dan Langit pasti bisa melindungi Tuan.”
“Sepertinya kalian sudah sangat mengandalkan Langit semenjak dia berhasil mengalahkan kalian semua di setiap latihan,” dengus Binar, dia kemudian menambahkan. “Lebih dari sepuluh orang pengawal yang dikenal dengan kemampuannya dikalahkan dalam waktu kurang dari enam menit. Hah, sepertinya setelah semua ini selesai aku akan meminta Tuan Q melatih kalian lebih keras lagi.”
Joni dan Kelvin tidak mengeluh, mereka tahu putri tuan besarnya tidak sejahat itu, Binar mungkin hanya merasa gelisah dan menutupi kegelisahannya itu dengan ancaman semu.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang dan Binar tidak berkata apapun setelahnya. Dia bukannya terkejut karena hampir ditabrak, dia hanya mengkhawatirkan takdir yang berubah karena semesta mengabulkan permintaannya dengan mempertemukan dirinya dan Langit kembali.
Saat itulah Binar teringat dengan apa yang pernah Corn katakan padanya.
“Kau tidak bisa berbahagia karena kau masih memikirkan orang lain di sekitarmu, ‘kan? Kau khawatir terhadap harga yang harus kau bayar karena semesta sudah mengabulkan permintaanmu. Kau khawatir dengan apa yang belum terjadi karena ini baru pertama kalinya setelah berkali-kali reinkarnasi yang kita lalui. Benar begitu, bukan?”
Binar mengangguk saat itu sampai Corn kembali melanjutkan perkataannya.
“Tetapi kau sudah menjadi tahanan waktu selama ratusan tahun lamanya. Anggap saja semesta sudah meminta bayaran terlebih dahulu dan sekarang kau sedang menikmati hasilnya. Jangan sia-siakan kesempatanmu, jangan sia-siakan air mata orangtua-orangtua mu di masa lalu, bayar air mata mereka dengan kebahagiaanmu. Kau akhirnya bertemu dengan Langit Arifan, kau akhirnya berhasil membuat Ayahmu di kehidupan kali ini menjadi lebih bahagia dengan kau yang jarang sakit-sakitan. Karena itu kita pikirkan harga itu di lain waktu, sekarang … fokuslah kepada apa yang harus kau lakukan dan berbahagialah karena ini akan menjadi kehidupan terakhir kita di dunia.”
***