Langit tiba di sebuah lahan luas yang digunakan sebagai gudang penyimpanan, di sana ada banyak gudang tertutup tetapi dia tidak melihat siapapun. Langkah langit sangat cepat, terlihat sekali bahwa dia sangat lihai jika dilihat dari seberapa gesit langkah dan tatapan matanya yang sudah seperti elang.
Ketika terdengar suara langkah kaki mendekat, Langit sama sekali tidak bersembunyi. Laki-laki berusia dua puluh satu tahun itu menghadang langkah empat orang dewasa yang memiliki tubuh tinggi besar. Langit berdiri diam tetapi matanya bergerak seperti mencari-cari.
“Ow, lihat siapa ini?” Suara merendahkan pertama masuk ke telinga Langit tetapi laki-laki itu tetap abai, barulah ketika dia yakin kedua orang yang dicarinya berada di dalam gudang sebelah mana, Langit baru menatap mata masing-masing empat orang di hadapannya.
“Seorang anak kecil?” Suara merendahkan kedua juga menembus telinganya.
“Nyasar, ya?” ledek laki-laki botak yang berdiri di tempat paling belakang. “Kasihan, mau Om antar?”
Lalu terdengar suara tawa keempat laki-laki berbadan besar itu. Jelas sekali mereka tidak menganggap Langit sebagai ancaman, mereka jelas tidak tahu seberapa bahaya laki-laki yang mereka anggap sebagai anak kecil nyasar itu.
“Hendra Kajana.” Langit menyebut sebuah nama dengan suara rendahnya dan hanya dengan itu keempatnya langsung merubah ekspresi wajah mereka.
“Siapa kau? Kenapa menyebut nama Bos kami?”
Langit menghela napas. “Lama,” gumamnya. Dia melangkah maju dengan cepat, menggerakkan tangan dan kakinya dengan lihat. Langit tidak membutuhkan senjata apapun, dia membuat keempat pria bertubuh besar itu batuk hebat setelah tangannya memukul leher masing-masing dari mereka. Tidak hanya itu, Langit membanting dua dari mereka berempat dengan mudah dan memelintir tangan dua yang tersisa.
Sayangnya suara batuk dari keempat orang itu sepertinya membuat para pria yang memiliki tubuh sama kekarnya penasaran dan mendekat.
“Ah, aku kurang berhati-hati,” lirih Langit ketika dia dikepung lebih dari lima orang yang memiliki senjata. “Seharusnya aku mematahkan leher mereka agar mereka tidak lagi mengeluarkan suara,” tambahnya pelan.
“Kenapa ada anak kecil di sini?”
Langit berdecak, dia tidak memiliki banyak waktu. Dia benar-benar tidak peduli dengan senjata tajam yang dimiliki oleh orang-orang yang memiliki dua kali berat tubuhnya itu, Langit hanya melangkah maju begitu saja. Hanya dalam hitungan detik dia sudah berhasil mengambil alih pisau kecil yang ditodongkan kepadanya, menusukkan pisau itu ke lengan dan juga paha dari orang-orang yang menghalanginya.
SREETT!
Melirik ke arah lengan atasnya yang terkena goresan, Langit tidak mengeluarkan ekspresi yang berarti. Matanya tidak memperlihatkan ketertarikan sama sekali, pertanda bahwa dia sangat meremehkan lawannya. Dia langsung menarik tangan pria yang membuat goresan luka di lengannya, memelintir tangan pria itu sebelum kemudian menusukkan pisau kecil di genggamannya di tempat yang sama.
“Berisik,” gumam Langit ketika dia mendengar rintihan dari orang-orang yang berhasil dia kalahkan dengan mudah. Laki-laki itu sama sekali tidak terganggu dengan luka di lengan atasnya yang banyak meneteskan darah, dia hanya berjalan lurus ke arah gudang yang memiliki ukuran lebih kecil daripada yang lain, mendobrak pintunya dan melemparkan pisau kecil yang sejak tadi digenggamnya sampai benda tajam itu menancap pada tumpukan kardus sekaligus menggores telinga orang yang tadi dia sebut namanya.
“Langit?” Tuan Q terlihat terkejut dengan kedatangan anak buahnya yang tiba-tiba, begitu juga dengan Gibran Rinanjala.
Dengan cepat Langit bergerak untuk menaklukkan enam orang yang berjaga di dalam gudang itu. Kali ini dia membutuhkan waktu lebih lama karena enam orang yang ditempatkan di dalam tentu memiliki pengalaman dan kemampuan yang lebih mempuni daripada orang-orang yang dia kalahkan di luar.
Langit melirik Tuan Q yang menghela napas lega. Sepertinya kepala pengawal itu tidak bisa melakukan apapun karena permintaan Gibran Rinanjala yang terlalu takut akan terjadi sesuatu yang buruk kepada putri semata wayangnya.
“Nona Binar baik-baik saja,” ujar Langit kepada Gibran. “Karena itu Tuan tidak perlu bersujud di hadapan orang jahat ini.”
Satu-satunya orang yang bisa membuat Gibran Rinanjala, si baik hati yang sebenarnya sangat kuat itu menyerah atas segalanya hanyalah putri semata wayangnya, Binar Rinanjala. Binar adalah kelemahan terbesar Gibran dan setiap musuh yang mengetahui itu pasti akan mengincar Binar terlebih dahulu untuk membuat Gibran bertekuk lutut.
“Siapa orang gila ini?” Hendra, orang yang mempekerjakan banyak pembunuh amatir untuk mencelakakan keluarga Rinanjala itu menatap Langit kesal. Laki-laki itu menutupi telinganya yang tergores pisau tajam yang dilemparkan oleh Langit, ada cukup banyak darah di sana. “PENGAWAL!”
“Mereka tidak akan datang,” ujar Langit santai. Dia melangkahi tubuh-tubuh pengawal yang dikalahkannya untuk mendekati Hendra Kajana yang mulai ketakutan. Laki-laki yang tidak peduli dengan darah yang merembes di seragam SMA nya itu berbisik di telinga Hendra dengan nada rendah. “Tetapi jika kau melakukan hal seperti ini lagi, aku bisa memastikan akan ada banyak orang yang datang. Di pemakamanmu.”
Mata Hendra menatap Langit nyalang, dia jelas ingin marah tetapi juga takut untuk bergerak. Hendra tidak pernah tahu ada orang semenyeramkan Langit di kalangan pengawal Rinanjala, aura Langit berbeda dengan para pengawal yang pernah dia temui sebelumnya.
“Lenganmu ….” Gibran menyentuh lengan Langit ketika mereka keluar dari dalam gudang.
“Saya baik-baik saja,” jawab Langit tenang.
“Jangan seperti itu, ayo ke rumah sakit!”
Langit melirik Tuan Q, dia memberi isyarat tanpa suara kepada kepala pengawal sekaligus kepalanya itu. Merespon itu, Tuan Q meyakinkan Gibran bahwa Langit benar baik-baik saja dan sebaiknya mereka kembali dan mengobati Langit di rumah saja.
“Kau mengalahkan mereka semua ini seorang diri?” tanya Gibran takjub. Sejak tadi dia sudah melihat lebih dari sepuluh orang terkapar dengan kondisi mereka masing-masing, darah di mana-mana dan suara rintihan juga terdengar menembus telinga.
“Iya—Tuan, Nona Binar pasti sudah menunggu Tuan di rumah.” Langit tidak ingin mengungkit apa yang sudah dia lakukan, karena itu dia membawa nama Binar.
“Sebelah sini, Tuan!”
Tuan Q membantu Langit mengalihkan pembicaraan. Kepala pengawal keluarga Rinanjala itu langsung berjalan menuju mobil yang akan membawa mereka kembali pulang.
“Apa Binar benar baik-baik saja?”
Langit mengangguk. “Nona baik-baik saja, Tuan.”
“Bagaimana dengan mobil yang kau maksud di telepon itu?”
“Semuanya sudah diselesaikan dengan baik.”
“Kami akan lebih berhati-hati ke depannya, Tuan,” sela Tuan Q yang menjadi supir mereka hari itu.
“Tidak apa-apa,” sahut Gibran Rinanjala. “Kalian sudah melakukan yang terbaik jadi tidak apa-apa.”
Langit diam saja, dia tidak bersuara sekalipun wajahnya mulai memucat karena terlalu banyak kehabisan darah. Ini memang bukan pertama kalinya Langit bertugas menyelamatkan Tuannya tetapi ini adalah kali pertama dia memikirkan seseorang di kepalanya ketika akan menjalankan tugas.
Apalagi kilas ingatan aneh yang muncul beberapa kali dalam setahun terakhir itu …
***
“Kau sudah bangun?”
Binar langsung bersuara setelah dia melihat bulu mata Langit bergerak. Gadis itu bahkan langsung berdiri dari duduknya dan menunggu sampai Langit benar-benar membuka matanya.
Bulu mata Langit yang lentik itu semakin menunjukkan pergerakan yang pasti, lalu gerakannya berhenti sejenak sebelum mata itu langsung terbuka lebar dan membuat Binar terkejut. Apalagi setelah itu Langit langsung duduk tegak.
“Kau mengejutkanku!” serunya sembari mengelus d**a.
“Maaf,” ujar laki-laki itu pelan. “Kamu kenapa bisa ada di sini?”
Menghela napas, Binar kembali duduk di kursi sebelah kasur Langit. “Kau tidak ingat?”
Langit menggeleng, sedikit ragu. “Saya ingat keluar dari mobil dan melihat kamu memeluk Tuan. Setelah itu—“
“Kau pingsan,” potong Binar langsung. “Dokter bilang kau kehabisan banyak darah.”
Melirik ke arah lengannya, Langit kembali menatap Binar. “Lalu?”
“Lalu?” Binar memiringkan kepalanya. “Lalu apa?”
“Kenapa kamu bisa ada di kamar saya?”
Binar mengerjapkan matanya, dia mengalihkan pandangan karena tidak bisa menemukan alasan yang tepat sebelum kemudian kembali menatap Langit sambil tersenyum lebar. “Karena aku khawatir, itu saja. Kau ini temanku, kau sudah banyak membantuku selama satu tahun terakhir dan saat ini semua orang sibuk jadi aku menawarkan diri untuk merawatmu.”
“Bukankah kondisi kamu juga tidak baik?” Langit mengambil jaket hitam yang diletakkan di sebelah tempat tidurnya. Langit berdiri dan bertanya, “Kamu tahu ada di mana yang lainnya, bukan?”
“Eh? Kau mau ke mana?”
“Saya sudah baik-baik saja, jadi—“
“TIDAK BOLEH!” Binar menghalangi jalan Langit, dia memasang ekspresi keras kepala. “Kau harus istirahat!”
“Saya sudah baik-baik saja—“
“TETAP TIDAK BOLEH!”
Corn yang sejak tadi bersembunyi di dalam tas kecil yang dipakai Binar mulai menampakkan diri. Dia mengeluarkan kepalanya dan menatap ke arah Langit penasaran.
“Dokter bilang kau harus banyak istirahat.”
“Saya sudah cukup istirahat.”
“Kenapa kau keras kepala sekali?” Binar berdecak. “Kembali tidur atau aku akan meminta Ayah untuk tidak mengizinkanmu masuk sekolah sampai seminggu ke depan. Bagaimana?”
“Kenapa kamu sering memberi ancaman semu akhir-akhir ini?” Langit memilih mengalah, dia kembali duduk di atas ranjangnya. Dia melirik ke arah tempat tidur Joni yang merupakan teman satu kamarnya sebelum kemudian kembali menatap Binar. “Saya akan kembali istirahat. Karena itu kamu lebih baik kembali ke rumah utama.”
“Tidak, aku tidak percaya padamu.”
“Setelah saya menyelamatkan kamu?”
“Itu—“ Binar terlihat mencari kata-kata yang pas. “Itu memang tugasmu, ‘kan?!” katanya kemudian, wajahnya menunjukkan ekspresi seakan-akan meminta Langit untuk tidak mengatakan apapun lebih lanjut.
Langit menahan diri untuk tidak tersenyum. “Iya. Itu memang tugasku, tetapi saya sampai pingsan begini—”
“Kenapa semakin hari kau semakin menyebalkan, sih?” Binar berdecak. “Sudahlah.”
“Apanya yang sudah?”
Binar melotot. “Langit!” serunya kesal.
Dan saat itulah tawa Langit pecah, dia tertawa terbahak-bahak melihat reaksi gadis yang sudah dijaganya selama satu tahun lebih itu. Menurut Langit reaksi Binar sangat bagus untuk orang yang mengalami stres ringan, lumayan karena bisa membuat tertawa tanpa harus membayar mahal.
Tetapi beda halnya dengan Langit, Binar malah terdiam melihat reaksi laki-laki itu. Langit tidak ada ubahnya seperti patung berjalan—setidaknya begitu yang Binar rasakan, baik Langit yang dulu maupun yang yang hidup di masa sekarang— karena Langit jarang memberikan reaksi berlebihan bahkan sampai tertawa terbahak-bahak … dia tidak pernah melakukan itu.
“Apa aku sedang mendengar Langit Priyanjani ini tertawa?” Corn bersuara, beruntunglah hanya Binar yang bisa mendengarnya. “Jika memiliki bulu kuduk, aku sekarang sedang merinding pastinya.”
“Benar,” jawab Binar tanpa sadar.
“Ya?” Langit menaikkan kedua alisnya. “Apa yang benar?” tanyanya.
“Hah?” Rasa-rasanya Binar ingin memukul wajahnya sendiri. “Bukan apa-apa, kau hanya tampan ketika tertawa.”
“Apa?”
Binar melotot. Gila, kali ini mulutnya benar-benar bermasalah.
“LUPAKAN!” teriaknya malu, bahkan Corn sampai kembali menyembunyikan seluruh tubuhnya di dalam tas, ikut-ikutan malu atas apa yang Binar katakan.
Bukannya terkejut karena teriakan Binar, Langit malah semakin tertawa.
“Kau ini!” Binar memicingkan mata dan membuang muka. Wajahnya memerah, dia merasa sangat malu. “Aku akan pulang saja—”
“Tunggu, Binar?!” panggil Langit ketika Binar hampir mencapai pintu.
“Apa?” jawab Binar ketus.
“Ada yang ingin saya tanyakan.”
Binar menghela napas, dia melipat kedua tangannya di depan d**a. “Oke, apa itu?”
Langit menatap mata Binar, mencoba untuk memastikan sesuatu. “Pedang, darah dan juga pakaian kerajaan.”
Ekspresi Binar yang tadinya kesal mulai terlihat seperti sedang terkejut.
“Perempuan yang memiliki wajah yang sangat mirip denganmu meninggal,” lanjut Langit kemudian. “Apa kamu tahu apa maksud semua itu?”
***