“Dia ingat itu?” Corn bersuara setelah mereka diam selama kurang lebih sepuluh menit sejak Binar membawanya kabur dari kamar Langit tanpa memberi penjelasan apapun kepada laki-laki itu. “Dia pasti ingat kalau dia menusukmu!”
“Bukan begitu, Corn,” bisik Binar menyangkal. “Dia tidak akan memiliki ingatan tentang hari itu karena dia sudah menebus dosanya tanpa perlawanan.”
“Lalu?” Corn melata di lengan Binar. “Kau masih memiliki waktu tiga tahun sampai kau menginjak umur keramatmu yaitu umur 20 tahun. Saat itu kita akan bisa melihat apakah kau benar-benar akan hidup lebih lama atau malah seperti kau di masa lalu, terbunuh sehari setelah hari ulang tahunmu. Kau tahu? Menurutku kedatangan Langit terlalu cepat, dia datang saat usiamu baru enam belas tahun dan ya … itu cukup berbeda dengan kisah masa lalu. Menurutmu apakah semesta berniat menyelesaikan semuanya dalam tiga tahun yang tersisa dan kembali membuatmu meninggal di usia 20 tahun?”
Binar menatap Corn, dia mendengus. “Kenapa kau mengatakan hal-hal jahat seperti itu?”
“Hal jahat apa? Dua puluh tahun memang batas waktu kita dan kita sudah melakukannya selama empat kali reinkarnasi.”
“Tapi di kehidupan kelima kita kali ini dia pada akhirnya datang!” Binar mencebikkan bibirnya. “Selama satu tahun terakhir aku merasa kami menjadi lebih dekat, aku rasa tujuanku yang terpendam ini pada akhirnya akan menemukan pencapaian tertingginya.”
“Ya, ya, orang gila mana yang mendoakan kehidupan kembali pembunuhnya dan rela menjadi tahanan waktu selama ratusan tahun hanya untuk bertemu kembali dan membangun kisah romansa kalau bukan dirimu.” Corn melingkar. “Jika ingin jatuh cinta, jangan memberikan seluruh hatimu. Memberikan separuh hati saja sudah berpotensi untuk membuatmu hancur, apalagi jika kau memberikan semuanya.”
“Aku tidak memberikannya, tetapi dia yang menguasai hatiku.”
“Selama ratusan tahun dan kau tetap membiarkan dia menggerogoti hatimu seperti penyakit … hah, aku tidak tahu lagi bagaimana cara terbaik untuk membuatmu sadar, apalagi kita sudah sama-sama melewati ini dalam berkali-kali kehidupan. Waktu memang tidak bisa membunuh rasa cinta.”
Binar mendengus. “Kau cerewet sekali,” katanya yang diakhiri dengan kekehan ringan.
“Jika aku tidak cerewet, aku berani bertaruh kau tidak akan betah menjalani penantian dengan ujung yang tidak pasti ini.”
“Ya … terima kasih padamu karena berkatmu aku tidak pernah kesepian dalam menjalani hidup.”
“Kembali lagi pada apa yang dikatakan oleh Langit. Jika semesta tidak memberikan ingatan utuh kepadanya, mereka pasti memberikan potongan-potongan yang mereka manipulasi seperti sebuah petunjuk,” ujar Corn, dia sangat bersemangat dalam membahas teori-teori konspirasi. “Seperti katamu, Langit tidak mungkin memiliki ingatan utuh karena dia sudah menebus dosanya, tetapi bagaimana kalau semesta melakukannya dengan memberi sesuatu yang bisa memicu ingatan masa lalunya itu?”
“Pemicu?” Binar memiringkan kepalanya. “Maksudmu pemicu seperti apa—Oh Tuhan, apakah pemicu yang kau maksud itu seperti dia bisa mengingat semuanya jika aku berada di dekatnya atau semacamnya?”
“Bingo!” Corn mengiyakan. “Tetapi kita tidak tahu apa pemicunya, bukan? Itu sih kalau memang ada.”
Binar menghela napas. “Bagaimana jika aku tanyakan saja padanya? Aku tanya saja kenapa dia bisa tahu tentang pembunuhan dengan menggunakan pedang itu, kenapa dia bisa melihat wajahku dan kapan tepatnya dia bisa melihat itu semua—eh, tetapi memangnya dia bisa melihatnya?”
“Apa?”
“Dia tidak mengatakan bahwa dia melihat itu. Dia hanya memberi petunjuk seperti pedang, darah dan juga pakaian kerajaan tetapi dia tidak mengatakan bahwa dia melihat itu semua!”
“Kau … benar juga.” Corn juga ikut pusing, seandainya dia manusia, dia mungkin sudah berguling-guling di kasur saking pusingnya. “Lalu dia mungkin mendengar itu dari seseorang—ah tidak, dia pasti melihatnya. Entah itu di dalam mimpi atau di mana karena dia mengatakan seorang perempuan yang mirip denganmu meninggal yang artinya dia melihat wajahmu!”
“Apa aku tanyakan saja?”
“Jika kau berani. Tetapi memangnya apa yang akan kau lakukan jika kau mengetahui apa pemicunya?”
“Menghindar tentu saja,” jawab Binar optimis. “Jika aku adalah pemicunya, maka aku akan meminta Ayah mengganti pengawal pribadi untukku. Dia tidak boleh mengingat masa lalu, itu terlalu menyakitkan dan karena itu semua didasari oleh kesalahpahaman … dia mungkin akan merasa bersalah setiap melihatku dan aku tidak mau itu terjadi.”
“Ayahmu sudah sangat mempercayai Langit, apalagi dia sudah sering menyelamatkanmu. Gibran Rinanjala tidak akan mau menanggung resiko lebih jika menyangkut putri semata wayangnya, kau tidak ingat itu? Kau tidak ingat bagaimana Ayah-Ayahmu memperlakukanmu seperti seorang putri kerajaan?”
“Aku memang putri kerajaan.”
“Demi Tuhan itu sudah ratusan tahun yang lalu.”
“Tetapi ada sejarah tentang itu, ‘kan?” Binar menghela napas. “Seorang putri yang ditusuk sampai mati oleh suaminya sendiri. Aku tidak tahu lagi—oh?! Bagaimana jika dia membaca sejarah itu dan bukannya mengingat tentang masa lalu?”
“Sejarah tentang dirimu yang pernah kita temukan di buku pelajaran pada kehidupan sebelumnya?”
Binar mengangguk cepat. “Itu bisa saja terjadi, bukan? Ada ilustrasi gambar di sana dan mungkin saja dia melihat itu dan karena wajahku dan ilustrasi itu hampir sama, akhirnya dia menanyakan hal itu padaku. Kau tahu Langit sangat pandai, bukan? Dia pasti sangat rajin membaca.”
“Kau lupa kalau kau meminta semesta menghapuskan semua sejarah tentang dirimu dan juga Langit yang masih tertinggal di bumi ini?” Corn sudah bosan. “Kau berdo’a mati-matian sampai mereka menyetujuimu dan Langit hidup di masa ini di mana buku-buku itu sudah lenyap dari muka bumi dan kau masih berpikir dia melihatmu dari buku sejarah itu? Yang benar saja, Tuan putri!”
Salah. Tebakan Binar salah lagi. Hah, dia benar-benar lupa dengan do’anya sebelum dia dihidupkan kembali pada reinkarnasi kelima mereka ini. Jika tebakan Corn benar, Binar harus cepat-cepat mencari tahu pemicunya sebelum Langit berhasil mengingat semuanya.
****
“Kenapa kamu?” Gibran menaikkan kedua alisnya ketika melihat putrinya mendekat padahal dia sedang berada di ruang kerjanya. Biasanya Binar sangat anti mendekat dengan ruang kerja Ayahnya karena takut kecerobohannya kumat dan dia sudah melakukannya sejak kecil. “Kenapa senyam-senyum begitu?”
“Ayah ….” Binar merengek, dia berlari kecil dan memeluk Ayahnya dari belakang. “Ayah, bisa ganti pengawalku, tidak?”
“Huh?”
Pada akhirnya Binar tidak berani bertanya kepada Langit tentang darimana pria itu mendapatkan informasi tentang pedang, baju kerajaan dan juga adegan penusukan itu. Dia lebih berani meminta kepada Ayahnya meskipun kemungkinan besar Ayahnya akan menolak permintaannya.
“Memangnya apa yang salah dengan Langit? Ayah lihat kalian berdua sudah seperti teman. Dia tidak banyak bicara tetapi dia mengimbangi kamu, dia juga tutor yang baik dan lagi dia sudah mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan kita. Lalu kenapa tiba-tiba? Bukannya kamu juga suka Langit?”
Nah, bagaimana Binar akan memberi alasan kali ini?
“Aku suka Langit, tapi sepertinya dia lebih cocok menjadi pengawal pribadi Ayah—“
“No, Ayah baik-baik saja. Kamu dengan Langit saja—“
Tok tok tok
“—Nah, itu Langit sudah sampai,” sambung Gibran sambil tersenyum. “Ya, masuk!”
Saat pintu ruang kerja Ayahnya terbuka, wajah Langit benar-benar muncul. Laki-laki itu melirik Binar yang langsung salah tingkah dan bersembunyi di belakang kursi kerja yang sedang diduduki oleh Ayahnya, untuk beberapa detik, Langit tersenyum.
“Kalian bertengkar?” tanya Gibran.
“Tidak, Tuan,” jawab Langit langsung. “Saya dan Nona tidak bertengkar.”
“Iyakah? Tapi kenapa Binar tiba-tiba meminta saya untuk mengganti—“
“Ayah!” Binar menghentikan perkataan Ayahnya sebelum Gibran membocorkan permintaannya langsung kepada objek yang mereka bicarakan. “Ayah sibuk, ya? Ayo makan malam dengan Binar!”
“Tumben sekali anak ini,” gumam Gibran sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Ya sudah, lebih baik kita makan dulu. Oh ya, kamu sudah makan belum?” Gibran bertanya kepada Langit. “Ayo makan dengan kami, saya juga belum sempat berterima kasih dengan benar karena kamu jatuh sakit tadi.”
Binar tercengang, maksudnya bukan seperti itu. Dia berniat untuk menghindari Langit tetapi Ayahnya malah membuat mereka duduk di satu meja makan. Bersebrangan pula.
“Ayo makan!”
Memakan apa yang ada di hadapannya dengan tenang dan terlihat sangat sopan adalah apa yang dilakukan oleh Langit, sementara Binar … dia terus-terusan melirik laki-laki itu dan menghela napas pelan. Tetapi semua itu tertangkap oleh Gibran Rinanjala yang hanya tersenyum kecil dan menganggap apa yang terjadi diantara keduanya adalah hal biasa di kalangan remaja.
“Binar tumben makannya sedikit. Kenapa? Ada yang sakit, Nak?”
Binar meringis, dia menggelengkan kepala. “Tidak, aku baik-baik saja.”
“Kamu mau makan sesuatu yang lain mungkin?” tawar Gibran. “Jangan makan sedikit, kamu tadi sore kata Bibi cuma minum s**u saja dan waktu Ayah datang ke kamar kamu, kamunya sudah hilang entah ke mana.”
“Oh ya?” Binar terkekeh. “Tadi sore Binar pergi ke—“
“Ke?”
Melirik Langit yang hanya diam saja dan fokus pada makanannya, Binar tahu laki-laki itu tidak dapat diandalkan dalam situasi seperti sekarang ini.
“Tadi Binar jalan-jalan ke halaman belakang, Ayah.”
“Tidak ada, Ayah sudah ke halaman belakang untuk cari kamu.”
Bagus.
“Nona Binar datang ke kamar untuk memberikan minuman hangat karena merasa bersalah atas luka saya, Tuan.” Langit langsung angkat bicara, dia membuat anak dan bapak itu menatapnya dengan ekspresi yang berbeda. “Nona sebenarnya sudah mengucapkan terima kasih karena saya sudah menyelamatkan Tuan dan Tuan Q tadi.”
“Benarkah?” Gibran menatap putrinya. “Kenapa berbohong jika alasannya hanya itu?”
Hanya itu?
“Haha.” Binar tertawa canggung. “Binar pikir Ayah akan marah karena Binar pergi ke tempat pengawal tanpa pamit.”
Gibran mengulurkan tangan untuk mengusap kepala putrinya. “Tidak apa-apa. Terima kasih sudah perhatian kepada orang-orang yang bekerja dengan kita, ya.”
Binar mengangguk. “Tentu saja. Ayah bilang kita harus berterima kasih kepada setiap orang yang sudah mau membantu kita sekecil atau sebesar apapun bantuannya, entah itu tulus atau tidak, yang penting kita harus berterima kasih.”
Gibran terkekeh. “Bukankah anak saya sangat pintar?”
Langit hanya menanggapi dengan senyum sopan.
Heu, dasar patung berjalan!
Binar tidak menyangka dia akan memaki Langit di dalam hatinya, dia tidak pernah melakukan itu sebelumnya tetapi ternyata Langit Priyanjani lebih menyebalkan daripada Langit Arifan. Selama makan, Binar terus-menerus mengutuk Langit di dalam hatinya.
Tiba-tiba ponsel Gibran Rinanjala berdering, Ayah Binar itu harus meninggalkan meja makan sebentar untuk membicarakan sesuatu sehingga suasana mulai kembali canggung antara Langit dan juga Binar.
“Jadi …” Langit meletakkan sendoknya. “Kenapa kamu kabur tanpa memberi saya jawaban, Binar?”
Dan Binar mengutuk dirinya karena tidak langsung lari ke dalam kamar.
***