“Paman tidak memberitahu siapapun kalau aku adalah keponakan Paman, bukan?” Langit menyentuh pistol milik Tuan Q, memutar-mutar benda itu di tangannya, bermain-main.
“Selain Tuan Gibran tentunya,” jawab Tuan Q. “Memang apa salahnya jika ada yang tahu kalau kau ini sebenarnya adalah keponakanku? Kau takut diolok-olok? Kau takut dikatakan berhasil mendapat pekerjaan karena koneksi?"
“Bukan. Jika lebih banyak orang yang tahu siapa keluargaku, mereka akan mengetahui asal-usulku dan aku tidak suka itu.” Langit mengarahkan pistol itu ke jendela, bertingkah seperti siap melakukan tembakan. “Mereka akan tahu kalau aku hanyalah anak yatim piatu yang ditinggalkan kedua orang tuanya dengan sengaja di depan rumah kerabat mereka. Mereka juga akan tahu bahwa kedua orang yang meninggalkan putranya itu meninggal tidak lama kemudian dalam keadaan mengenaskan, setelah itu mereka juga akan tahu bahwa aku sudah melakukan pekerjaan seperti ini sejak aku duduk di bangku sekolah menengah pertama.”
Tuan Q mendengus. “Mereka tidak akan melakukannya.”
“Ya, tidak dengan para pengawal yang lain tetapi mungkin Nona Binar akan melakukannya.”
“Nona Binar?” Tuan Q memiringkan kepalanya sedikit, dia berpikir sejenak sebelum kemudian terkekeh. “Ah, benar, sepertinya Nona sangat tertarik padamu. Kau tahu? Aku sudah bekerja untuk Ayahnya sejak Nona masih bayi dan aku belum pernah melihatnya mengagumi seorang pria seperti apa yang dia lakukan sekarang. Wah, aku rasa Nona sudah dewasa sekarang.”
“Dewasa apa, dia baru saja mendapatkan kartu tanda penduduknya.”
“Umur kalian hanya terpaut empat tahun.”
“Dia masih kecil, Paman.”
“Akan berbahaya jika kau terus menganggap Nona sebagai anak kecil,” ujar Tuan Q menasihati. “Kau tahu? Perubahan itu bukan hanya aku lihat dari Nona Binar saja. Bukan hanya dia yang bersikap lebih bersemangat saat bersama denganmu tetapi kau juga sama. Aku sudah mengenalmu sejak kau masih bayi dan sejak kecil kau memang jarang menampilkan ekspresi yang menarik, tetapi aku lihat sejak kau mengenal Nona Binar kau menjadi lebih banyak berbicara dan bahkan tersenyum. Lucu.”
“Aku hanya menghargainya.”
“Tidak. Aku lihat kau tertarik padanya.”
Langit hanya menghela napas. “Cukup pembicaraan tentang itu,” putusnya. “Kenapa Paman memanggilku kemari? Hanya untuk menanyakan kabar lukaku?”
“Bukan, aku ingin membicarakan pekerjaan—hei, letakkan pistol itu! Aku tahu kau ahli dalam tembak-menembak tetapi aku sudah memintamu untuk berhenti melakukannya, ‘kan? Aku menyuruhmu untuk bersanti saja seperti anak seusiamu, tetapi kau malah melempar pisau dan mengancam penjahat itu.”
Tangan Langit langsung berhenti memainkan pistol pamannya. “Oke, pekerjaan apa?” tanyanya, tidak ingin mendengarkan ceramah pamannya lebih lanjut.
“Sebenarnya ini masalah pribadi. Ada satu orang yang paman curigai memiliki hubungan dengan perginya Nyonya rumah ini—maksud Pamanmu ini … Ibu dari Nona Binar sekaligus istri Tuan Gibran—dan karena ini murni kecurigaan pribadi, aku ingin kau menyelidiki perempuan ini.” Tuan Q menggeser sebuah foto kepada keponakannya. “Akhir-akhir ini dia kembali mendekati Tuan jadi tidak aneh jika dia tiba-tiba muncul di rumah ini.”
Langit menatap foto yang diberikan pamannya, dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak, Langit mengangguk.
“Akan aku lakukan.”
“Pelan-pelan saja dan jangan sampai ada yang tahu, terutama Nona Binar.”
Sementara itu …
Binar menggigit jari-jari tangannya dan Corn yang melihat itu semua hanya bisa menceramahi gadis itu.
“Kau bukan gadis 17 tahun, Tuan putri. Usiamu yang sekarang itu palsu.” Corn menyindir kejam. “Tetapi kau benar-benar kalah telak pada laki-laki berusia 21 tahun dan hampir membocorkan segalanya tanpa persiapan. Dengar, jika kau ingin mengatakannya maka katakan saja dengan percaya diri, urusan dia percaya atau tidak itu kembali padanya. Mudah, bukan?”
Mendengus, Binar menatap Corn yang melingkar di atas bantalnya itu dengan sinis. “Bicara saja mudah. Kenapa bukan kau saja yang menghadap padanya dan mengatakan semuanya?”
“Jika dia bisa mendengar suaraku maka aku sudah pasti akan bertanya dengan berani dari mana dia tahu tentang pedang dan adegan penusukan itu, kenapa dia bisa bergabung dengan para pengawal Rinanjala, dari mana asalnya dan di mana keluarganya. Aku pasti sudah menanyakan itu semua jika dia bisa berinteraksi denganku!”
“Omong kosong. Jika dia bisa mendengarmu, kau akan terdiam sepertiku!”
“Tuan putri, kau lupa aku memiliki dendam kesumat padanya? Kau lupa aku mati kelaparan karena kesalahan yang dia mulai?” Corn meninggikan suaranya. “Jika aku bisa, aku akan mendatanginya sekarang dan meneriakinya.”
“Kenapa kau selalu menyalahkanku?” Binar mengerucutkan bibirnya. “Aku saja masih terkejut dan bertanya-tanya tentang kehadiran Langit. Aku masih tidak percaya semesta mengabulkan do’aku ketika aku sudah akan menyerah jika aku meninggal di kehidupan kali ini.”
“Tapi jika kau tidak bergegas, tidak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi sehari setelah ulang tahunmu yang ke-20 nanti. Kita bisa meninggal tanpa mencapai tujuan kita yang sebenarnya!”
Binar tidak bisa membantah itu, dia juga tidak tahu apa yang direncanakan semesta. Dia juga sebenarnya tidak memiliki banyak waktu tersisa karena tiga tahun bisa berlalu dengan begitu cepat bahkan sebelum dia sempat melakukan sesuatu.
“Setidaknya kau harus tahu darimana Langit mengetahui tentang peristiwa kematianmu.”
Melirik Corn, Binar tahu dia juga tidak bisa terus-menerus egois dan membuat Corn berada di sisinya selama ratusan tahun tanpa kepastian. Mereka harus pergi ke surga dan hidup bahagia, tetapi yang terjadi malah sebaliknya, mereka hidup di neraka dunia bersama dengan berbagai jenis manusianya.
“Iya, nanti aku tanyakan langsung.”
“Jangan mundur lagi.”
“Hm.”
Begitulah yang terjadi. Begitulah pembicaraan antara Binar dan Corn malam itu, sepanjang malam Binar berpikir tentang apa yang akan dia katakan saat Langit mengungkit peristiwa kematiannya itu, terus begitu sampai tanpa sadar Binar tertidur lelap dan dibangunkan oleh pelayan rumahnya keesokan paginya.
“Aku sudah telat, ya?!” Binar mulai heboh. “Ayah mana?”
“Tuan Gibran kedatangan tamu, Nona.”
“Tamu?” Binar memakai kaos kakinya. “Sepagi ini? Siapa?”
“Bibi kurang tahu, Nona.”
Binar sudah selesai dengan kaos kakinya, kini dia memakai sepatunya. “Laki-laki?”
“Perempuan, Nona.”
Berhenti, Binar langsung mendongakkan kepalanya dan menatap pelayannya itu. “Tumben,” gumamnya. “Ayah memangnya punya kekasih? Aku tidak tahu itu.”
Karena penasaran, Binar langsung turun dan masuk ke dalam ruang kerja Ayahnya yang cukup luas itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Namun sebelum itu, Binar sempat menyapa Tuan Q yang berjaga di luar pintu.
“Ayah!” panggilnya, dia yang sudah tahu ada tamu perempuan di sana langsung berjalan mendekati Ayahnya dan memilih mengabaikan tamu itu. Binar bahkan tidak melirik sedikitpun. “Aku ingin Ayah yang mengantarku ke sekolah hari ini.”
Gibran tidak terlihat terkejut dengan kedatangan putrinya, dia malah terlihat lega. Pria itu menatap Binar lembut, mengiyakan apa yang dikatakan putrinya sebelum kemudian bertanya, “Kamu sudah sarapan?”
“Belum.”
“Kenapa belum?” Gibran langsung berdiri, dia menatap tamunya. “Maaf, Diana, saya harus menemani putri saya sarapan.”
“Ah,” perempuan yang dipanggil Diana itu tersenyum lebar dan ikut berdiri. “Jadi ini Binar, ya? Sudah besar sekarang, ya.”
Saat Binar menoleh, matanya langsung terbuka lebar melihat wajah perempuan yang berdiri di hadapannya itu. Bukan hanya itu, tanpa sadar dia bahkan mundur selangkah dan kakinya mulai gemetar.
“Kamu kenapa?” Gibran yang menyadari sikap aneh putrinya langsung bertanya khawatir. “Ini pasti karena kamu belum sarapan.”
“Binar kenapa, Nak?” Diana ikut mendekat namun lagi-lagi Binar mundur.
“Pergi,” gumamnya lirih.
“Apa, sayang?” tanya Gibran. “Kamu bilang apa?”
“Pergi!” katanya, kini dengan suara yang lebih jelas dan mata yang menatap Diana tajam. “PERGI!” teriaknya.
Jelas Gibran terkejut. Putrinya tidak pernah menunjukkan ketidaksukaannya kepada sesuatu secara terang-terangan, Binar sangat pandai menjaga perasaan orang lain tetapi ada apa dengan putrinya itu? Kenapa tiba-tiba berteriak kepada orang yang baru pertama kali dia temui?
“PERGI!” teriak Binar lagi, tangannya berusaha meraih apapun di meja Ayahnya dengan niat mengusir Diana. “PERGI!”
Mendengar keributan, Tuan Q langsung masuk. Bukan hanya itu, dibelakangnya sudah ada Langit yang juga sudah siap dengan seragam sekolah barunya. Mereka berdua tidak menampilkan ekspresi terkejut tetapi keheranan jelas terlihat di mata mereka.
“PERGI!” teriak Binar lagi, dia mulai menangis.
Gibran yang kebingungan langsung memeluk putrinya erat, dengan isyarat dia juga meminta Diana untuk cepat-cepat pergi.
Langit melihat semua itu. Dia melihat bagaimana kaki Binar gemetar dan gadis itu terlihat gelisah di sela tangisannya. Namun laki-laki itu tidak berkomentar, bahkan saat pamannya meminta tamu Tuannya itu untuk pergi, Langit masih sibuk mengamati situasi.
“Sudah, sayang, sudah,” Gibran memeluk putrinya dan mengusap-usap punggung Binar. “Sudah ya, cantik.”
“Tante itu jahat!” cetus Binar yang juga bisa didengar oleh Langit. “Tante itu jahat, Ayah jangan dekat-dekat!”
Kening Langit tertaut. Tamu wanita itu jelas merupakan perempuan yang dicurigai pamannya, orang yang akan Langit selidiki diam-diam. Tetapi sepertinya bukan hanya pamannya yang menyimpan curiga—
“Binar baru bertemu sekarang dengan Tante itu, kenapa tiba-tiba bilang kalau Tante itu jahat?”
“Pokoknya Ayah tidak boleh dekat-dekat Tante itu!”
--karena Nona mereka sepertinya sudah mengetahui sesuatu sebelum orang lain tahu.
***
Mereka tetap berangkat ke sekolah meskipun suasana hati Binar sedang jelek. Itu dibuktikan dengan dibawanya hewan peliharaan Binar alias Corn ke sekolah di mana biasanya Corn tinggal di rumah ketika Binar pergi bersekolah.
“Orang jahat!” keluh Binar lirih.
Langit hanya diam, dia benar-benar tidak berkomentar.
“Kenapa dia datang?” lagi, Binar mengeluh lirih.
Kepala Corn keluar dari dalam tas Binar. Ular berukuran kecil itu mendongak menatap pemiliknya dan Langit melihat semua itu.
“Menurutmu kenapa dia datang?”
Binar jelas bertanya itu kepada ular peliharaannya alih-alih berbicara dengan Langit yang duduk di sebelahnya.
“Benar, ‘kan? Dia datang untuk merusak segalanya, bukan?”
Mereka seperti melakukan interaksi dan itu menarik di mata Langit.
“Jangan ganggu,” ucap Tuan Q yang duduk di bangku kemudi. Dia menegur keponakannya yang menatap Binar dan hewan peliharaannya dengan tatapan tertarik. “Jangan ganggu. Nona selalu seperti itu saat sedang banyak pikiran.”
Langit bertanya-tanya apakah ucapan pamannya itu tidak terlalu jelas dan nyaring tetapi ketika dia melirik Binar, gadis itu sama sekali tidak peduli dengan sekitarnya dan tetap ‘berinteraksi’ dengan hewan peliharaannya.
“Sudah aku duga dia akan datang, tetapi kenapa cepat sekali? Ck, apa kita bunuh saja sebelum dia membunuh kita?”
Senyum Langit terbentuk, dia cukup terkejut memang mendengar Nona yang dia jaga itu menyebut kata ‘bunuh’ dan ‘membunuh’ dengan cukup mudah, tetapi itu yang membuat Langit lebih tertarik karena itu artinya Binar memang sudah mengenal tamu Ayahnya tadi.
“Kau benar,” Binar menghela napas, dia menoleh dan menatap Langit dengan tatapan sendu. “Pada akhirnya bukan dia yang membunuh kita, bukan?”
Dan Langit membeku.
***