Entah Binar yang tidak sadar dengan apa yang sudah dia katakan atau gadis itu memang sengaja ingin membongkar semuanya, Corn tidak mengerti. Tuan putri yang dibunuh oleh orang yang dicintainya hanya karena kesalahpahaman itu sangat sulit dimengerti. Bagi Corn yang sudah beratus-ratus tahun bersama dengan Binar, dengan terbuka dia mengatakan bahwa Binar cukup sulit dipahami.
“Apa maksud kamu di mobil tadi?” tanya Langit ketika dia duduk berdua saja dengan Binar di salah satu ruang kesenian di sekolah itu. “Kamu mengenal tamu Tuan yang datang pagi tadi, bukan?”
Binar menatap Langit, gadis itu memikirkan banyak hal di kepalanya sebelum memilih untuk jujur. “Begitulah,” katanya.
“Oh ya? Siapa namanya?”
“Tidak tahu.”
“Tidak tahu tetapi kamu sudah mengenal tamu tadi?”
“Dia orang jahat,” ujar Binar pelan. “Bukan hanya aku dan Ayah saja yang harus berhati-hati, tetapi kau juga.”
Langit menaikkan sebelah alisnya. “Kenapa saya juga harus berhati-hati?”
“Karena memang begitu takdirnya,” jawab Binar ambigu. “Memang sudah begini jalan takdirnya. Hah ....” Binar membuang muka, dia kini menatap jauh ke arah jendela ruangan yang menampilkan pemandangan langsung ke arah halaman sekolah. “Semesta memang sangat baik, mereka benar-benar mengabaikan do’aku dan malah mengirimkan mereka bersamamu.”
“Kamu membawa saya masuk ke dalam percakapan seperti ini tetapi kamu tidak akan mau menjelaskan ketika saya meminta,” ucap Langit, dia sebenarnya ingin mendengus. “Kamu tahu kalau kamu berbicara seolah-olah sudah tahu apa yang akan terjadi kedepannya, ‘kan?”
“Pada faktanya apa yang sudah ditakdirkan tidak akan bisa diubah kecuali kita berusaha secara maksimal,” ungkap Binar, dia masih menatap jauh ke arah jendela. “Kau penasaran dengan pedang, darah dan juga wanita yang tertusuk itu, ‘kan? Aku juga penasaran darimana kau mengetahui semua itu.”
“Jika saya memberitahu, apa kamu akan menjelaskan semuanya?”
“Mungkin.”
“Mungkin,” ulang Langit. Laki-laki itu tersenyum kecil, dia kemudian berkata, “Kamu tahu apa hal yang paling lucu yang pernah terjadi dalam hidup saya? Saya memiliki bekas luka yang diakibatkan oleh goresan benda tajam ketika saya bahkan tidak pernah menyentuh benda tajam itu.”
Binar langsung menoleh, dia menatap Langit tidak mengerti.
“Kamu bertanya kenapa saya selalu memakai lengan panjang, bukan?” Langit melangkah maju, dia mengikis jarak antara dirinya dan juga Binar sebelum kemudian menggulung kedua lengan bajunya. “Karena ini.”
Mata Binar langsung membulat, dia ingat itu ... laki-laki itu terluka karena saat dia menghunuskan pedangnya, benda tajam itu tidak sengaja menggores lengannya sampai darah menetes dari sana.
Jadi ... itu meninggalkan bekas? Apa semesta sengaja ingin mengingatkan Langit atas dosanya?
“Boleh aku menyentuhnya?” izin Binar tetapi tanpa mendengarkan persetujuan Langit, gadis itu langsung menyentuh lengan yang memiliki bekas luka gores yang cukup panjang itu. Binar menjalankan jarinya di sepanjang luka dan selama itu juga Langit memejamkan matanya karena kilasan ingatan yang kembali menghantuinya.
“Katakan,” Langit tiba-tiba menyentuh kedua bahu Binar, memaksa gadis itu untuk menatap matanya.
Binar terkejut tetapi dia mampu bersikap tenang. “Apa?”
“Apa wanita yang ditusuk dengan pedang itu kamu?”
“Hah?”
“Jangan berpura-pura tidak mengerti, Binar. Wanita yang saya lihat itu benar-benar kamu, bukan?”
Binar menatap mata tajam itu. “Yang kamu lihat?” ulangnya.
“Jawab dulu pertanyaan saya!” tuntut Langit.
Hening.
Dua detik ... Sepuluh detik ...
“HAHAHAHA.” Binar tertawa keras, dia bahkan sampai berjongkok dan menyentuh perutnya. “Wajahmu lucu sekali, hahahahaha.”
Langit tidak mengatakan apapun, dia menunggu.
“Kenapa kau sangat serius, sih? Aku hampir kehilangan momen karena ingin tertawa melihat wajah seriusmu itu!” Binar terkekeh. “Kau ini terlalu percaya padaku atau terlalu penasaran sampai menanggapi leluconku dengan serius seperti itu? Hei, aku hanya mengarang cerita! Hahahaha. Ya ampun, kau lucu sekali.”
“Binar, saya tidak bercanda.”
Binar mendongak, dia masih terkikik geli. “Aku tidak tahu kau bisa dengan mudahnya tertipu dengan omong kosongku. Hahaha, ini pertama kalinya dalam satu tahun terakhir aku berhasil menipumu!”
“Tidak perlu menutup-nutupi yang sebenarnya dengan menganggap semuanya sebagai lelucon,” ujar Langit. “Saya tahu kamu tidak sedang bercanda tadi.”
“No, aku memang bercanda. Kau saja yang tertipu.”
Langit menatap wajah yang sudah berkali-kali berkelebatan di dalam kepalanya itu. “Binar Rinanjala Gisa, apa perlu saya beritahu bagaimana perempuan itu meninggal? Apa perlu saya beritahu kamu tentang ekspresi yang perempuan itu tampakkan di wajahnya sebelum benar-benar meninggal?”
Binar berhenti tertawa.
“Ekspresinya benar-benar menyedihkan,” gumam Langit tajam. “Tatapan matanya yang seperti tidak percaya, terkejut tetapi juga pasrah itu menyedihkan. Bahkan ketika tangannya berusaha menggapai wajah si pelaku itu juga menyedihkan.”
Bibir Binar menampilkan senyum kecil.
“Cara dia menggigit bibirnya sendiri untuk menahan jeritan kesakitannya keluar juga menyedihkan, tetapi kamu tahu apa yang lebih menyedihkan dari itu semua?” Langit maju satu langkah lagi, dia menatap wajah Binar dengan tatapan datar. “Saat dia berkata bahwa dia akan terus mencintai pembunuhnya. Bodoh sekali.”
Corn yang sejak tadi hanya menyaksikan hanya diam saja. Dia juga menebak-nebak di dalam kepalanya tetapi biarkan saja, biar nanti saja dia berbicara dengan tuan putri yang sudah ratusan tahun dia temani itu.
“Kau sedang membaca sebuah cerita dongeng atau bagaimana?” Binar mendengus, menolak mengatakan apapun yang berkaitan dengan apa yang diungkapkan oleh Langit.
“Lalu apa kamu juga akan menyangkal jika saya memberitahu kamu bahwa apa yang saya katakan tadi selalu muncul di kepala saya seperti rangkaian kisah cinta bodoh setelah kamu menyentuh saya?”
Corn bergerak, dia sudah menemukan pemicunya!
“Setiap kamu bersentuhan kulit dengan saya, rangkaian kisah bodoh itu selalu muncul.”
Binar bergerak mundur. “Mungkin kamu hanya salah melihat,” katanya, masih berusaha menyangkal. “Mungkin kamu pernah membaca sebuah dongeng atau apapun itu sebelumnya.”
“Maaf—” Langit menarik tangan Binar, memejamkan mata selama beberapa waktu sebelum kemudian membuka matanya. “Saya melihatnya lagi. Saya melihat ekspresi wajah itu lagi.”
Binar menarik tangannya. “Perempuan itu bukan aku. Siapapun yang kau lihat itu bukan aku!”
“Lalu kenapa semuanya muncul hanya ketika kita saling bersentuhan?”
“Mana aku tahu!” Binar mendengus. Nadanya meninggi, pertanda bahwa dia sangat panik.
“Mau ke mana?” Langit bertanya ketika melihat Binar berjalan cepat menuju pintu keluar.
“Kembali ke kelas—”
“Apa saya pelakunya?” tanya Langit, tidak membiarkan Binar lolos begitu saja. “Saya tidak tahu banyak tetapi saya yakin pakaian itu bukan hanya pakaian biasa melainkan baju pernikahan. Orang yang menusuk perempuan itu juga memakai baju dengan warna seragam, jadi bisa saya tarik kesimpulan bahwa mereka adalah sepasang pengantin baru.”
Binar menyentuh kenop pintu.
“Jadi, Binar, apa kita pernah bertemu di kehidupan sebelumnya sebagai pasangan suami-istri?”
****