KASIH SAYANG

1724 Words
Mereka memiliki jadwal latihan bela diri bersama pada sore harinya setelah Binar menolak berbicara dengan Langit selama mereka berdua berada di sekolah. Gadis itu kembali kabur dan membuat Corn gemas. Mereka sudah menemukan pemicunya tetapi Binar tetap bermain petak umpet dengan rahasianya. “Nona Binar katanya tidak mau dilatih olehmu,” ujar Kelvin memberitahu Langit yang sudah bersiap. Memang sudah rutinitasnya selama dua kali dalam seminggu melatih Binar. Langit melirik Binar yang berdiri di dekat pintu masuk ruang latihan yang sangat luas itu. Binar juga sedang menatap ke arah Langit, dia tidak mengalihkan pandangannya bahkan saat tatapan mereka bertemu dan itu membuat Langit menghela napas. “Baiklah, saya serahkan Nona pada kamu.” Kelvin menaikkan kedua alisnya. “Kalian bertengkar? Aku jarang sekali melihat Nona merajuk tetapi ini sudah kedua kalinya hari ini.” “Tendangan kakinya agak lemah tetapi pukulan tangannya sangat bagus,” ucap Langit, dia memilih untuk mengabaikan perkataan Kelvin. “Selain itu pinggangnya juga sedikit bermasalah dan bagian perutnya agak sensitif.” Terkekeh, Kelvin mengangguk. “Kami semua tahu itu tetapi ternyata kau sangat serius melatih Nona, ya?!” “Setidaknya itu yang bisa dilakukan, bukan?” Langit menepuk bahu Kelvin. “Tidak lebih dari lima belas menit, oke?!” Setelah mengatakan itu Langit langsung berlalu pergi. Dia melirik Binar yang mulai mendekati Kelvin setelah dipanggil. Langit memilih untuk mengamati sembari menyiapkan air putih untuk Binar karena meskipun penyakit Binar sudah tidak kambuh tetapi kejutan itu akan selalu ada bahkan sampai gadis itu menemukan sumsum tulang yang tepat dan melakukan operasi dengan itu. Melihat bagaimana Binar terlihat bersemangat berlatih membuat Langit teringat akan pembicaraannya dengan Gibran Rinanjala beberapa hari setelah dia bergabung dengan Rinanjala. “Namanya anemia sel sabit,” ujar Gibran memberitahu. “Dia sebenarnya tidak boleh melakukan olahraga berat tetapi akhir-akhir ini secara ajaib keadaannya membaik. Dia tidak pernah lagi mengeluh nyeri, tidak lagi mengalami pusing atau kehilangan penglihatan untuk sementara ... dia sudah baik-baik saja akhir-akhir ini.” “Jadi Tuan juga mengidap penyakit yang sama?” Gibran menggelengkan kepalanya. “Saya tidak tetapi istri saya merupakan carrier,” jelasnya. “Sebenarnya kami semua juga terkejut karena biasanya penyakit ini diturunkan jika kedua orang tuanya menderita jenis penyakit yang sama tetapi bayi kami ... Binar mengidap penyakit serius ini dan sudah sering bolak-balik rumah sakit karena dia mudah terinfeksi, luka pada kulitnya dan juga perlunya dia melakukan transfusi darah.” “Bagaimana dengan keadaan limpanya?” “Sudah diangkat sejak dia masih sangat muda,” jawab Gibran. “Kamu benar-benar mengerti banyak tentang penyakit ini, ya? Tampak menjanjikan. Sepertinya benar kata pamanmu, kau sangat pintar.” “Bukan begitu, saya hanya suka belajar tentang hal baru,” sanggah Langit. “Tetapi Nona Binar tetap melakukan vaksinasi dan pengecekan rutin meskipun penyakitnya secara ajaib tidak kambuh, bukan?” “Tentu. Saya tidak bisa mengabaikan kesehatan putri saya, saya tidak boleh lengah karena apapun dapat terjadi. Saya tidak mau ancaman pneumonia itu menjadi kenyataan. Jadi saya meminta tolong kepada kamu untuk terus menjaga putri saya, setidaknya jika sesuatu terjadi, segera hubungi saya.” Brak! Langit langsung berdiri, dia berlari menghampiri Binar yang tiba-tiba terjatuh. Jatuhnya Binar juga menarik pengawal yang lain, terutama pengawal yang sudah pernah menjaganya selama belasan tahun. “Kenapa?” tanya Langit khawatir. “Tidak tahu,”, gumam Binar linglung. “Tiba-tiba aku pusing dan saat aku sadar aku sudah terjatuh.” “Kamu— ck.” Langit berdecak, tanpa basa-basi dia langsung menggendong Binar keluar dari ruang latihan menuju rumah utama. Laki-laki itu membawa Binar masuk ke dalam sebuah kamar yang terletak di lantai satu, tepat do sebelah ruang kerja Gibran. Itu adalah ruangan yang sudah biasa digunakan sebagai ruang perawatan yang dipenuhi dengan alat-alat medis yang cukup lengkap. “Minum!” Langit memberikan segelas air. “Kamu tidak cukup minum hari ini, ya?!” Binar yang langsung meminum air itu sampai tandas untuk mengurangi pemicu kambuh penyakitnya. Dia menatap Langit dengan wajah cemberut sekalipun ada beberapa orang yang keluar masuk dari dalam kamar rawat Binar itu. “Dokter Via sebentar lagi akan sampai, Non,” Kelvin memberi kabar. “Nona baik-baik saja?” “Hm,” sahut Binar. “Aku hanya kelelahan sepertinya. Kakak menelepon Ayah langsung atau Tuan Q yang memberitahu Ayah?” “Saya memberitahu Tuan Q. Tuan Gibran dan Tuan Q akan tiba dalam 10 menit lagi.” “Padahal tidak perlu diberitahu juga tidak apa-apa,” gumam Binar. Dia menghela napas. “Pasti setelah ini Ayah akan melarangku ikut latihan.” “Itu demi kebaikan Nona juga.” Kelvin berusaha menenangkan. “Tapi aku baru latihan lima menit tadi—” “Kamu pingsan, Binar?” Sebuah suara keibuan memenuhi kamar luas itu. Sementara itu, Binar yang sudah mendengar suara itu sejak dia kecil langsung mengeluh manja. “Tante dokter ....” panggilnya. “Tadi tiba-tiba pusing,” katanya memberitahu. Via, selaku salah satu dokter yang paling lama menangani Binar langsung mendekat. “Sekarang masih pusing?” “Sudah tidak,” jawab Binar sambil menggelengkan kepalanya. “Apa jantung kamu berdebar kencang sekarang?” Lagi, Binar menggeleng. “Tidak, Tante dokter.” Via memeriksa kulit pasiennya itu. “Luka kamu muncul lagi,” katanya sambil menunjuk ke arah luka lebam yang muncul di kulit Binar. “Oh ya?” Binar menatap kulit lengannya, dia tidak terlihat terkejut tetapi sepertinya dia menyayangkan sesuatu. “Ah ... mulai lagi,” katanya pelan, namun dua detik setelahnya Binar mulai menyatukan kedua tangannya dan memohon. “Jangan beritahu Ayah, ya?!” “Tidak boleh,” putus Via. “Ayah kamu harus tahu. Kamu tahu sendiri kita tidak boleh lengah, bukah? Sekarang jawab Tante, apa kamu merasa sesak napas atau bagaimana?” “Aku baik-baik saja. Aku hanya kelelahan Tante dokter,” ucap Binar, berniat untuk meyakinkan. “Aku langsung baik-baik saja setelah minum segelas air. Juga, aku ini sangat rajin minum obat, melakukan vaksinasi ... aku sudah melakukan semuanya, Tante.” Langit melihat itu, dia bisa merasakan apa yang ingin Binar katakan. Gadis itu ... nona yang sudah dijaganya selama setahun lebih itu ingin hidup normal seperti orang lain tanpa memikirkan kondisinya. Sayangnya penyakit itu tetap menghantuinya dan tidak mau melepaskannya dengan mudah. “Tante?” Binar memohon. “Jangan beritahu Ayah, ya?!” “Apa yang tidak boleh Ayah tahu?” Gibran Rinanjala masuk. Dia langsung melangkah lurus, mendekat pada putrinya yang duduk di atas kasur. “Kamu istirahat saja selama beberapa hari, jangan melakukan apapun.” Binar langsung menganga tidak percaya dengan keputusan cepat Ayahnya. “Tidak mau!” bantahnya. “Besok aku masih ada ujian. Besok adalah hari terakhir ujian sebelum aku lulus.” “Ujian dari rumah saja.” “Ayah!” “Langit juga akan melangsungkan ujian di rumah,” putus Gibran, dia menoleh pada Langit. “Tidak apa-apa, ‘kan, Langit?” “Iya, Tuan.” “Dengar itu, bukan hanya kamu sendiri yang akan ujian di rumah.” Gibran mengusap kepala putrinya, dia hampir tidak bisa menghela napas lega sepanjang perjalanan karena dia ketakutan. “Kali ini saja dengarkan apa kata Ayah, oke?” Binar melirik Langit, gadis itu seperti ingin membantah tetapi tidak jadi. Gibran masih mengusap-usap kepala putrinya ketika dia menatap Via dan bertanya. “Apa yang harus kami lakukan kali ini?” *** “Kamu marah pada Ayah?” Gibran menatap putrinya yang tidak banyak bicara. Binar hanya diam saja sejak Via memintanya untuk tidak banyak melakukan aktivitas fisik yang akan membuatnya kehilangan tenaga, dia juga diam saja ketika Ayahnya mengiyakan apa yang dikatakan oleh dokternya itu. “Binar?” Binar balik menatap Ayahnya. “Binar mau istirahat.” Gibran menghela napas ketika mendengar usiran halus itu. “Kamu masih marah karena Ayah tidak bisa mengantarmu ke sekolah tadi pagi, atau kamu marah karena Ayah tidak memperbolehkanmu berangkat ke sekolah besok?” “Tahu!” Tidak ada decakan atau tatapan tajam dari Gibran, dia hanya menghela napas pelan dan memberikan pengertian penuh kepada sikap putrinya. Dia juga memahami bagaimana perasaan Binar, dia sangat suka bersekolah, sangat suka melakukan olahraga karena seumur hidupnya dia baru merasakan itu semua dalam satu tahun terakhir. Dia sudah nyaman dengan hidupnya yang baru. “Kamu tahu kalau Ayah paling tidak bisa melihatmu sakit, ‘kan?” Gibran berusaha menjelaskan. “Ayah tidak suka kalau kamu tiba-tiba sesak napas lalu kehilangan kesadaran. Kamu tahu seberapa besar rasa bersyukur Ayah kepada Tuhan karena sudah mengabulkan permohonan Ayah yang tidak ingin kamu cepat-cepat diambil? Ayah sangat bersyukur tetapi juga takut, Nak.” Binar hanya diam. “Jadi selama beberapa hari saja, sampai kondisi Binar benar-benar sudah membaik. Ya, Nak, ya?!” “Ayah, penyakit kronis ini tidak bisa disembuhkan.” Entah kenapa Binar ingin mengatakannya, dia tiba-tiba tidak ingin membuat Ayahnya banyak menggantungkan harapan. “Jika tiba-tiba aku mulai mengalami stroke, pneumonia atau apapun yang diwanti-wanti oleh dokter kepada kita sejak aku kecil itu benar-benar terjadi maka itu bukan salah Ayah. Ini sudah jalannya, aku mengidap penyakit yang tidak bisa disembuhkan—Ayah juga tahu operasi sumsum tulang belakang itu tidak bisa dilakukan mengingat usiaku sekarang, ‘kan? Jadi tidak perlu terlalu khawatir. Aku tidak akan kemana-mana jika belum waktunya.” “Binar ....” “Aku tidak pernah marah kepada siapapun. Entah kepada Ibu yang berperan sebagai satu-satunya carrier, entah kepada Tuhan yang memberiku penyakit ini atau kepada siapapun itu, aku tidak merasa kesal atau marah.” Binar menatap Gibran dalam. “Ayah, aku sudah menerima diriku sendiri. Aku tahu Ayah khawatir apalagi aku adalah satu-satunya yang Ayah miliki, tetapi aku ingin menjalani hidupku dengan sukacita. Aku ingin berlarian dan bermain dengan Ayah, pergi ke taman bermain dan berlarian kesana-kemari tanpa beban sampai aku tertidur ... aku tidak bisa melakukannya saat aku masih kecil jadi aku ingin menebusnya sekarang.” “Ayah tahu, tetapi tunggu sampai kamu benar-benar sehat, ya?!” Binar menghela napas, dia menarik selimutnya sampai leher. “Ya sudah, Ayah boleh pergi.” “Ayah temani kamu di sini.” Mendengar itu Binar langsung memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Ayahnya yang duduk di kursi tepat di sebelah ranjangnya. Gadis itu mulai menutup mata dan Gibran mengusap-usap kening putrinya dengan penuh kasih sayang. “Jangan pergi,” gumam Gibran pelan ketika dia yakin putrinya sudah tertidur. “Jangan tinggalkan Ayah seorang diri. Kamu adalah alasan Ayah untuk tetap semangat menjalani hidup, karena itu ayo hidup sampai dua, tiga, empat atau bahkan lima puluh tahun lagi, Sayang.” ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD