Langit mengerjakan soal ujiannya dengan tenang meskipun ada satu guru yang ditugaskan untuk mengawasi. Sesekali dia melirik Binar yang juga serius mengerjakan soal ujian terakhirnya sampai lima menit kemudian, Langit berhasil menyelesaikan soal ujiannya dengan cepat dan mengumpulkannya lebih awal.
Izin keluar untuk pergi ke kamar mandi, Langit meninggalkan ruangan terlebih dahulu. Dia tahu Binar sedikit tidak nyaman melihatnya berhasil menyelesaikan soal ujian terlebih dahulu, apalagi dengan waktu ujian yang masih tersisa banyak. Karena itulah Langit memilih pergi.
“Ibu tidak tahu kalau Binar dan Langit tinggal bersama,” ujar guru wanita yang ditugaskan untuk mengawasi jalannya ujian Langit dan Binar ketika sekitar lima belas menit kemudian Binar juga ikut mengumpulkan hasil ujiannya.
“Ah?” Binar mengerjapkan matanya, dia melirik ke arah Langit.
“Saya bekerja sebagai pengawal pribadi Nona Binar, Bu,” jawab Langit langsung karena percuma saja berbohong sebab rumor itu juga sudah menyebar. Semua orang tahu keluarga Binar, lebih dari sebagian orang di sekolah juga tahu bahwa keluarga Rinanjala memiliki organisasi pengawal khusus.
“Di usia kamu yang masih remaja? Hebat, ya.”
“Terima kasih,” sahut Langit langsung.
“Kalau begitu Ibu permisi dulu, ya. Binar cepat sembuh.”
“Iya, Bu.”
Langit memberi anggukan hormat, dia yang mengantar gurunya itu keluar sampai kemudian Gibran Rinanjala yang sudah menunggu menyempatkan diri untuk menyapa guru dari putrinya itu. Melihat itu Langit langsung membalikkan badan dan kembali masuk ke dalam kamar yang dijadikan ruang rawat Binar.
“Ibu guru sudah pulang?” tanya Binar. “Kenapa kau cepat sekali kembali?”
“Bukan, Ibu guru sedang berbincang dengan Tuan besar jadi saya kembali untuk merapikan barang-barang saya di sini,” jawab Langit. Dia merapikan barang-barang sekolahnya dan tidak lupa dia juga melakukannya pada barang-barang Binar.
“Apa menurutmu soal-soal ujian tadi mudah? Kenapa kau cepat sekali menyelesaikannya? Aku saja kesulitan.”
“Saya sudah menguasainya.”
Binar menganga, tercengang tidak percaya. “Auh, aku ingin sekali memukul kepalamu tetapi kau memang benar-benar pintar sekali.”
“Memukul kepala saya juga tidak akan membuat saya langsung bodoh, Binar.”
“Wah ....” Binar kembali dibuat tercengang, apalagi setelah Langit menunjukkan senyum kecilnya. “Aku ingin sekali menonjok wajahmu.”
Langit terkekeh. Dia merapikan alat-alat tulis di sana dan menyimpannya di sudut ruangan. “Kamu belum makan siang, bukan? Menjawab soal-soal tadi pasti menguras banyak tenaga. Kamu ingin makan sesuatu?”
“Kau akan memasak untukku?” tanya Binar semangat, matanya berbinar-binar seperti namanya.
“Maaf?” Langit terlihat bingung dan Binar sadar bahwa dia salah menafsirkan kalimat Langit tadi.
“Aku pikir kau akan memasak untukku,” katanya malu.
“Oh, masakan saya mungkin bisa membuat kamu merasa seperti menelan racun. Saya sama sekali tidak memiliki keterampilan memasak.”
Binar tertawa mendengarnya. “Wah, sepertinya keterampilan memasakmu lebih buruk dariku.”
“Memangnya Nona bisa memasak?”
“Tidak. Aku bahkan tidak pernah menyentuh pisau dapur atau menyalakan kompor.”
Lalu keduanya tertawa bersama.
“Ada apa ini? Sepertinya kalian sangat senang, apa kalian berhasil menjawab semua soal ujian dengan mudah?”
Gibran Rinanjala dan Tuan Q masuk, keduanya sontak membuat tawa Langit dan Binar terhenti. Langit kembali memasang wajah sopannya sedangkan Binar langsung merentangkan kedua tangannya dan meminta untuk dipeluk oleh Ayahnya.
“Soal ujiannya sulit, ya? Anak Ayah hebat karena sudah berhasil menjawab semuanya,” puji Gibran kepada Binar, dia kemudian melirik Langit. “Langit tadi juga dipuji-puji. Hah, masa muda memang hebat.”
“Langit berhasil selesai sebelum waktunya habis, Ayah,” adu Binar. “Dia itu saingan Binar di sekolah, baru satu tahun tetapi sudah menarik banyak perhatian dan penghargaan.”
“Anak Ayah iri?”
Binar tidak malu untuk mengangguk. “Aku sudah bilang kalau aku yang paling pandai di sekolah, terutama di kelasku. Tetapi sekarang aku tidak bisa mengatakan itu lagi dan aku kesal sekali.”
“Lain kali Nona tinggal mengatakan itu kepada Langit, dia bisa tidak menjawab beberapa soal—”
“Tidak boleh!” Binar memotong perkataan Tuan Q. “Aku ingin menang secara adil tetapi ....” Binar melirik Langit dan mendengus. “Dia itu memang tidak peka sekali.”
Gibran Rinanjala terkekeh mendengar pengakuan putrinya. “Tidak apa-apa, mau itu Langit atau Binar, yang pasti Ayah akan selalu bangga pada putri tercinta Ayah ini.”
“Harus!” tegas Binar sebelum kemudian bertingkah manja dengan menarik-narik tangan Ayahnya. “ Ayah, apa Ayah akan keluar rumah hari ini?”
“Ayah harus keluar sebentar lagi tetapi tidak lama, sayang. Kenapa?”
“Apa Ayah akan bertemu Tante jahat itu lagi?”
Gibran membelai rambut putrinya. “Tidak akan.”
“Tetapi dia akan selalu mendekati Ayah dan aku benci itu,” ucap Binar jujur. “Dia itu akan menyebabkan masalah besar jadi Ayah tidak boleh jatuh cinta padanya, oke?”
“Iya.”
“Jangan hanya mengiyakan saja, Ayah harus mengingatnya!”
“Iya, Nak. Iya.”
Pada dasarnya Binar hanya tidak ingin masa lalu terulang. Dia tidak ingin Ayahnya jatuh cinta pada wanita yang salah, dia juga tidak ingin Langit dekat dengan perempuan itu apalagi kedatangan perempuan itu seakan-akan adalah sebuah pertanda tidak baik bagi mereka.
Saat Binar kembali memeluk Gibran, tatapan matanya tidak sengaja bertemu dengan tatapan mata Langit. Laki-laki itu jelas menuntut jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di dalam kepalanya tetapi Binar menolak menjawab. Setidaknya untuk hari itu.
“Bukankah bersamaku saja sudah cukup?” Binar bergumam. “Ayah tidak boleh pergi atau jatuh cinta pada orang yang salah, oke?!”
“Iya. Ayah akan selalu ada di samping Binar.”
Ketika Gibran Rinanjala membalas pelukan putrinya, tiba-tiba Binar merasakan panas yang menggerogoti tubuhnya dan panas itu mulai berpusat di perutnya. Sensasi dinginnya pedang dan juga bagaimana besi itu menusuk perutnya dan menimbulkan rasa panas yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata .... dia selalu merasakannya, setidaknya dua kali dalam sebulan seakan-akan semesta tidak membiarkan Binar lupa bagaimana dia mati di kehidupan pertamanya.
Berdehem, Binar menyentuh perutnya sebelum kemudian berkata, “Ayah, mau minum!”
***
“Suami,” gumam Langit. Dia sedang berdiri seorang diri di tengah-tengah lapangan latihan pada jam sebelas malam. “Kenapa aku memiliki ingatan seperti itu? Kenapa aku selalu merasa bersalah setiap melihatnya? Apa aku benar-benar membunuhnya? Apa kami benar-benar pernah bertemu sebelumnya?”
Langit frustasi sebenarnya. Dia meremas botol plastik di tangannya dan melempar benda itu ke tempat sampah.
“Dia berkata seolah-olah dia sudah mengenalku. Dia juga tidak pernah melakukan sesuatu yang membuatku tidak suka seolah-olah dia sudah mengetahui kebiasaanku.” Langit malam menyapa ketika laki-laki dengan nama sama mendongak menatap bintang malam yang bertaburan. “Dia juga terlihat senang ketika kami bertemu untuk yang pertama kalinya.”
Karena Binar menolak untuk menjawab, Langit mencari-cari jawaban sendiri dengan insting. Dia berusaha untuk mengingat semua perlakuan Binar padanya, merangkumnya dan mulai menafsirkan apa yang gadis itu buat dan katakan.
“Aku mengingatkan dia kepada suaminya dan dua orang dalam ingatanku juga memakai baju pengantin. Memang rasanya seperti aku melihat dari sudut pandang orang ketiga tetapi itu benar nyatanya, bisa jadi aku memang adalah suami yang dia sebutkan, suami yang membunuh istrinya sendiri dengan menusukkan pedang.”
Mata Langit terpejam.
“Jika memang begitu kenyataannya ... kenapa dia tidak langsung nencekikku saja ketika kami bertemu untuk pertama kalinya waktu itu? Juga, kenapa dia juga tahu atau mengingat kejadian itu? Apa dia juga ingat itu ketika kami tidak sengaja bersentuhan?”
Terbuka, Langit menatap jauh ke depan, ke arah pepohonan yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
“Hah, tikus-tikus itu berani sekali menginjakkan kaki mereka di rumah ini.”
Suasana hati yang berubah, ekspresi wajah yang berubah bosan dan juga kekhawatiran yang memudar membuat Langit mengeluarkan pisau kecil dari dalam sakunya.
“Bagaimana tikus itu bisa lolos?” gumam Langit, dia masih menatap ke arah pepohonan. “Dia tidak beruntung, suasana hatiku terlalu buruk untuk memaafkan seseorang.”
Langsung setelah mengatakan itu, Langit melemparkan pisaunya dan membuat benda tajam itu menancap tepat pada pohon besar yang menyembunyikan seseorang di belakangnya.