Menjadikan Langit sebagai target hanya karena dia terlihat paling muda diantara yang lain adalah hal yang paling salah. Laki-laki berusia 21 tahun itu jelas tidak bisa diremehkan bahkan oleh seorang tentara bayaran sekalipun.
“Berhenti bermain-main dan keluarlah!” Langit berkata dengan nada datar. “Aku akan tertawa jika mengetahui kalau usiamu jauh di atasku tetapi masih berani bermain petak umpet seperti ini.”
Provokasi yang benar-benar membuat siapapun menjadi kesal.
“Tidak akan ada yang datang ke sini jika aku tidak memberikan tanda apapun jadi kau bisa melawanku—tidak, bukan hanya kau tetapi kalian semua.”
Setelah Langit mengatakan itu, empat orang langsung keluar dari balik pohon-pohon besar yang tumbuh di pinggir lapangan latihan. Empat orang itu semuanya mengenakan pakaian hitam dan juga masker serta dua diantaranya mengenakan topi. Sepertinya mereka datang dengan persiapan karena Langit melihat adanya senjata api di sana.
“Jika kalian membuat suara terlalu keras dan membuat Nona keluarga ini terbangun dari tidurnya, akan aku habisi kalian di sini.” Langit langsung memberi peringatan setelah satu diantara empat orang dewasa itu menyentuh senjata apinya. “Karena itu, mari selesaikan ini tanpa menimbulkan keributan. Mengerti?!”
“Anak kecil banyak bicara—”
Langit mengambil langkah pertama dan dengan gerakan lincahnya laki-laki itu sudah berada di belakang keempat pria tadi dan berhasil membuat satu diantara keempatnya tumbang dengan tendangannya yang berhasil mengenai kepala lawannya.
“Sudah aku bilang jangan bersuara,” ujarnya lagi.
“KURANG AJAR—”
Bergerak cepat mengambil pistol yang ditodongkan ke arahnya, Langit langsung mematahkan tangan satu dari tiga pria yang tersisa. Suara patah tulang itu terdengar jelas dan Langit langsung memukul leher pria tadi, membuatnya jatuh pingsan seperti pria pertama karena suara kesakitannya yang menurutnya terlalu keras terdengar di telinga.
“Kenapa kalian tidak mengerti padahal aku sudah mengatakan jangan menimbulkan keributan yang akan membuat Nona keluarga ini terbangun?!”
Demi apapun, lapangan tempat para pengawal itu terletak cukup jauh dari rumah utama yang mana artinya Binar tidak mungkin terbangun dari tidurnya meskipun ada seseorang yang berteriak.
“Bagaimana dengan kalian?” Langit menatap dua orang yang tersisa. “Apa aku perlu mematahkan tulang rusuk dan tulang kaki dari masing-masing anggota tubuh kalian? Kebetulan sekali suasana hatiku sedang sangat baik malam ini. Bagaimana?”
Tanpa Langit sadari sebenarnya aksinya itu diawasi secara tidak sengaja oleh seseorang. Gibran Rinanjala yang sedang berdiri di atap rumahnya menatap lurus ke arah lima orang yang berada di lapangan tempat berlatih para pengawalnya itu. Gibran juga yang mencegah para pengawal yang lain untuk muncul dan membantu Langit karena dia ingin tahu sejauh apa laki-laki yang menjadi pengawal pribadi putrinya itu bisa menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan keributan yang berarti.
Hebatnya Langit sudah membuat dua dari keempat pria itu terkapar dalam waktu kurang dari dua menit, nyaris tanpa menimbulkan suara.
“Dia memang berbakat,” gumam Gibran, pandangannya sama sekali tidak teralihkan. “Aku bisa lebih tenang lagi mulai dari sekarang.”
****
“Aku dengar ada empat penyusup yang masuk ke area rumah tadi malam,” singgung Binar ketika Langit masuk ke dalam kamar rawatnya untuk mengantarkan vitamin-vitamin yang harus diminumnya. “Aku juga mendengar bahwa kau adalah satu-satunya orang yang membuat mereka berempat terkapar pingsan.”
“Bukan suatu hal yang perlu diceritakan,” sahut Langit. Laki-laki itu mengambil segelas air putih dan diletakkan juga di hadapan Binar, membuat para pelayan yang juga berdiri di dalam kamar itu seketika kehilangan pekerjaan mereka. “Lebih baik kita bicara tentang kamu. Bagaimana, kamu baik-baik saja?” tanya Langit tiba-tiba.
“Hah?”
“Saya dengar tadi malam kamu mengeluh sakit di bagian kepala. Apa sekarang kamu sudah baik-baik saja?”
“Ah, itu?” Binar mengangguk. “Seperti yang kau lihat—hei, hentikan! Kau ini sedang apa?” tegur Binar ketika Langit benar-benar menyiapkan semua kebutuhannya di pagi hari. “Kau membuat bibi-bibi kehilangan pekerjaan mereka.”
Langit melirik tiga pelayan yang berdiri di dalam kamar rawat itu, wajah ketiganya seperti bingung melihat Langit mengambil alih pekerjaan mereka.
“Sudah saya bilang saya akan melayani Nona. Bagaimanapun juga saya adalah pengawal pribadi Nona.”
“Lalu jaga saja aku dari orang-orang yang hendak menyakitiku. Kenapa kau malah menyiapkan air hangat untuk membersihkan tubuhku?” Binar berdecak. “Sana keluar! Aku mau mandi.”
“Minum dulu vitaminnya.”
“Akan aku lakukan—”
“Saya tidak akan keluar jika saya belum melihat secara langsung Nona meminum semua vitamin itu.”
Langit dan keras kepalanya.
Pada akhirnya Binar yang harus menyerah. Dia meminum semua vitaminnya, obat-obatan yang diresepkan dokter dan juga meminum air putih yang disediakan oleh Langit sampai tandas. Dia agak kesal sebenarnya tetapi sikap Langit membuatnya meleleh.
Jika itu di masa lalu dan dia tidak terlambat bertemu dengan Langit, lalu apa yang akan terjadi? Jika saja istri Langit tidak terbunuh di masa lalu, lalu apakah mereka akan menikah dan akankah Binar tetap mati terbunuh pada akhirnya? Entahlah.
“Jujur saja kau melakukan ini semua karena kau ingin mendengar jawabanku atas pertanyaanmu, bukan?” tebak Binar. “Aku tidak akan menjawabnya. Setidaknya untuk sekarang.”
“Kenapa? Kamu hanya perlu menjawab bahwa itu semua memang terjadi atau itu hanya imajinasi saya saja.”
“Tidak ada imajinasi sejelas itu,” gerutu Binar. “Sudah sana kau pergi saja—ah, jangan. Tolong bawa Corn ke sini tetapi sebelum itu bisakah kau memberinya makan? Dia sangat sensitif karena jika tidak ada makanan dia bisa mati.”
Binar terpaksa membawa-bawa Corn. Sebenarnya ular peliharaannya itu sudah makan tadi malam, Gibran Rinanjala sendiri yang memberinya makan dan Corn bisa hidup dalam damai di dalam kandangnya itu, bahkan ular peliharaannya itu memuji Gibran karena dalam sebuah keluarga yang pernah dia tinggali bersama, Gibran adalah satu-satunya yang menyukai ular seperti Corn.
“Corn bisa berkomunikasi,” ungkap Binar tiba-tiba. “Jika dia bersembunyi maka dia sedang tidak ingin diganggu jadi jangan mengetuk kaca kandangnya.”
“Saya mengerti.”
Saat Langit keluar dari dalam kamar rawatnya, Binar langsung menghela napas lega. Hah, dia sepertinya harus menyiapkan diri karena mungkin dia harus memberitahu Langit pada keesokan harinya.
****