Malam di kawasan Menteng terasa lebih lembap dari biasanya. Alma menyelinap keluar dari butik melalui pintu belakang, mengenakan trench coat panjang dan topi yang menutupi sebagian wajahnya. Jantungnya berdegup kencang, setiap bayangan pohon yang bergoyang di bawah lampu jalan, membuatnya hampir berteriak. Ia tahu, di gedung Lion Group sana, Marcel mungkin sedang memeriksa GPSnya, namun Alma telah meninggalkan ponsel utamanya di atas meja jahit yang menyala, berpura-pura sedang lembur. Alma masuk ke sebuah gang sempit yang diapit bangunan tua. Di sana, sebuah motor besar hitam sudah menunggu. "Alma?" suara itu rendah, penuh kecemasan. "Erik ...," Alma menghambur ke pelukan pria itu, satu-satunya orang yang masih ia percayai di dunia yang dikuasai Marcel. Erik segera menarik Alma ke sud

