20. HADIAH BERACUN

1306 Words
Marcel, tanpa pemanasan, ia langsung menghujamkan miliknya ke dalam keintiman Alma yang masih terasa sempit karena ketegangan. ​"Ahhhh! Marcel! S-sakit ... ahhh!" Alma memekik, tangannya mencengkeram tepian meja rias hingga jemarinya memutih. ​"Kau sangat ketat, Alma! Apa kau cemburu karena aku menciumnya tadi?" Marcel memacu gerakannya dengan tempo yang sangat brutal. Setiap hantaman kerasnya membuat cermin di depan mereka bergetar. ​Marcel mencium leher Alma dengan rakus, meninggalkan tanda merah keunguan tepat di atas urat nadinya. "Katakan! Siapa yang sebenarnya memilikimu?! Katakan namaku di depan cermin ini!" ​"Marcel ... ahhh ... Tuan Marcel! Aku milikmu! Ahhh, kumohon ... lebih dalam!" Alma meracau, air matanya jatuh membasahi dadanya yang terekspos. Dalam rasa sakit hati yang luar biasa, hanya rasa perih dari penetrasi Marcel yang bisa mengalihkan pikirannya dari ciuman Marcel pada Rasty tadi. ​Marcel mempercepat tempo, suaranya pecah menjadi geraman binatang buas. Ia mengangkat kaki Alma dan melilitkannya ke bahunya, memberikan penetrasi yang paling dalam hingga Alma merasa rahimnya dihantam habis-habisan. ​"Ahhh! Ahhh! Marcel ... aku akan mati! Ahhh!" ​Di saat puncak o*****e yang dahsyat menghantam, Marcel menyemburkan benihnya yang melimpah ke dalam diri Alma dengan erangan panjang yang memenuhi ruangan kedap suara itu. *** Keputusan di Tengah Kehancuran. ​Setelah badai gairah itu mereda, Marcel berdiri dengan angkuh, merapikan kembali pakaiannya dan menyisir rambutnya ke belakang. Ia melihat Alma yang masih terkapar lemas di atas meja rias, di antara pecahan kaca dan parfum. ​"Bersihkan dirimu. Kita akan kembali ke apartemen melalui pintu belakang," ucap Marcel dingin. ​Alma tidak menjawab. Ia menatap pantulan dirinya di cermin yang retak. Di balik binar matanya yang hancur, sebuah api baru mulai menyala. Ia sudah cukup menjadi boneka. Ia sudah cukup menjadi asisten yang dipermalukan. ​Malam itu, di dalam mobil yang membawanya pulang, Alma diam-diam merogoh kantong kecil di tasnya. Ia menyentuh kartu nama kecil yang diberikan Erik minggu lalu. Ini saatnya, pikirnya. ​"Kau memenangkan media malam ini, Marcel," bisik Alma dalam hati sambil menatap profil samping Marcel yang tampak seperti malaikat namun berhati iblis. "Tapi kau akan kehilangan segalanya saat fajar tiba." ​Marcel yang merasa diperhatikan, hanya menggenggam tangan Alma dengan kuat, tidak menyadari bahwa wanita di sampingnya sedang merencanakan kematian bagi "Alma" yang lama agar bisa lahir kembali di tanah yang jauh. *** ​Malam setelah konferensi pers pertunangan itu terasa sangat sunyi di apartemen utama Marcel. Alma berdiri di balkon, menatap lampu-lampu Jakarta yang berkedip seperti permata yang berserakan. Namun, baginya, setiap cahaya itu adalah mata-mata yang mengawasi geraknya. ​Langkah kaki yang berat dan berwibawa mendekat. Marcel berdiri di belakangnya, tidak lagi mengenakan jas, hanya kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka lebar. Ia meletakkan sebuah kotak beludru kecil, bukan berisi perhiasan, melainkan sebuah kunci perak dengan kartu akses berwarna emas. ​"Itu untukmu," suara Marcel terdengar rendah di telinga Alma. "Unit penthouse di Sudirman Suites. Atas namamu sendiri. Anggap saja itu bonus karena kau sudah bersikap 'manis' di depan media tadi siang." ​Alma menatap kunci itu dengan pandangan kosong. "Bonus? Kau pikir ini apa, Marcel? Uang tutup mulut karena aku harus melihatmu mencium Rasty di depan seluruh dunia?" ​Marcel membalikkan tubuh Alma, mencengkeram bahunya. "Itu adalah kebebasan dalam sangkar yang lebih besar, Alma. Kau tidak perlu lagi tinggal di sini jika tidak mau. Kau punya tempatmu sendiri, tapi kau tetap milikku. Aku ingin kau nyaman saat aku datang mengunjungimu." ​"Kau memberiku rumah agar kau bisa menjadikanku simpanan yang lebih 'rapi'? Agar Rasty tidak curiga saat kalian sudah menikah nanti?" Alma tertawa sumbang, air matanya jatuh tanpa suara. "Kau sungguh murah, Marcel. Kau membeli ku berkali-kali, tapi kau tidak pernah benar-benar memilikiku." ​"Tutup mulutmu!" Marcel menyentak Alma, wajahnya memerah karena amarah yang tersinggung. "Wanita lain akan merangkak di kakiku untuk mendapatkan unit itu. Dan kau? Kau malah menghinaku?" **" ​Konfrontasi dan Pengkhianatan Tersembunyi. ​"Aku bukan wanita lain!" Alma berteriak, mendorong d**a Marcel. "Simpan kuncimu. Simpan apartemen mu. Aku tidak butuh apa pun darimu kecuali namaku kembali!" ​Marcel menyeringai dingin. Ia menarik paksa tangan Alma, meletakkan kunci itu di telapak tangannya dan menutup jemari Alma dengan kuat hingga pinggiran kunci itu menekan kulitnya. "Kau akan menerimanya. Dan kau akan menungguku di sana besok malam. Jika tidak, aku akan memastikan ayahmu dipindahkan ke panti jompo paling kumuh yang bisa kutemukan." ​Alma memejamkan mata. Ancaman itu selalu sama, namun selalu berhasil menghancurkannya. Di balik kepasrahannya, Alma meraba saku roknya. Di sana, tersembunyi sebuah kartu memori kecil berisi jadwal pengamanan pelabuhan yang baru saja dikirimkan Erik melalui ponsel rahasianya. ​Marcel melihat keraguan di mata Alma dan menganggapnya sebagai tanda takluk. Gairahnya yang meledak setelah seharian berpura-pura menjadi tunangan yang sempurna untuk Rasty kini menuntut pelampiasan. ​"Kau terlalu banyak bicara malam ini, Alma. Kau butuh sesuatu untuk membungkam mulut indah mu itu," geram Marcel. ​Ia menyambar gaun tidur sutra yang dikenakan Alma, merobeknya dari bagian kerah hingga pinggang dalam satu sentakan kasar. Alma memekik saat dadanya yang polos terekspos pada udara malam yang dingin di balkon. ​"Marcel, jangan di sini ... orang bisa melihat dari gedung seberang!" ​"Biarkan mereka melihat bagaimana 'Pejantan 21' menghukum miliknya!" Marcel membuka celananya, membebaskan kejantanannya yang mencerminkan emosinya yang liar. ​Ia mengangkat Alma, mendudukkannya di atas pagar balkon yang tinggi dan dingin. Kaki Alma menjuntai di ketinggian lantai 45, sementara punggungnya hanya ditahan oleh lengan kokoh Marcel. ​"Ahhhh! Marcel! Takut ... aku takut jatuh!" rintih Alma. ​"Kau tidak akan jatuh selama kau memelukku dengan kuat!" Marcel langsung menghujamkan miliknya ke dalam keintiman Alma tanpa pemanasan. Penetrasi itu terasa begitu dalam dan menghentak, membuat Alma menjerit dan mencengkeram leher Marcel dengan erat. ​Marcel memacu gerakannya dengan tempo yang sangat brutal. Setiap hantaman kerasnya membuat pagar balkon yang terbuat dari kaca dan baja itu bergetar. Alma merasakan sensasi pusing antara ketinggian yang mematikan dan nikmat yang menghancurkan kewarasannya. ​"Katakan namaku! Katakan kau menyukai hadiah ini!" perintah Marcel sambil menggigit bahu Alma, meninggalkan bekas gigi yang memerah. ​"Marcel ... ahhh ... Marcel! Cepat ... ahhh, kumohon ... jangan lepaskan aku!" Alma meracau, air matanya bercampur dengan peluh gairah. Ia merasa seperti sedang berada di ujung maut, dan anehnya, hanya Marcel yang bisa membuatnya merasa tetap berpijak pada bumi. ​Hentakan Marcel semakin menggila, napasnya memburu seperti binatang buas. Saat puncak o*****e yang dahsyat menghantam, Marcel menyemburkan benihnya yang panas dan melimpah ke dalam diri Alma dengan erangan panjang yang memenuhi udara malam di ketinggian itu. *** ​Setelah badai mereda, Marcel menurunkan Alma dan menyelimutinya dengan jubah mandinya sendiri. Ia mencium kening Alma, sebuah kecupan yang terasa seperti racun bagi Alma. ​"Tidurlah. Besok supir akan membawamu ke apartemen barumu," ucap Marcel sebelum berjalan masuk ke kamar mandi dengan langkah puas. ​Alma berdiri diam, menatap kunci perak di tangannya. Ia berjalan menuju tempat sampah di pojok balkon, namun ia berhenti. Ia berjalan menuju tepi balkon, menatap ke bawah ke arah jalanan yang jauh. ​Dengan gerakan cepat, ia melemparkan kunci apartemen mewah itu ke kegelapan. Ia mendengar suara ting kecil saat kunci itu menghantam atap kanopi di bawah, lalu jatuh ke selokan yang kotor. ​"Aku tidak butuh rumah darimu, Marcel," bisik Alma parau. "Karena aku tidak akan pernah ada di sana besok malam." ​Ia masuk ke dalam, membersihkan dirinya, dan menunggu sampai Marcel tertidur lelap. Di bawah remang lampu kamar, ia mengeluarkan ponsel rahasianya. ​To: Erik "Dia memberiku apartemen baru sebagai alibi. Pengamanannya akan sedikit longgar besok karena dia harus makan malam dengan keluarga Rasty. Jemput aku jam sembilan malam di belakang butik. Aku siap." ​Alma mematikan ponsel itu, menyembunyikannya kembali, dan berbaring di samping pria yang telah menghancurkan hidupnya. Ia menatap punggung Marcel yang tegap, menyadari bahwa ini mungkin malam terakhir ia menghirup aroma pria ini. Antara benci dan ketergantungan yang menyakitkan, Alma memejamkan mata, bersiap untuk taruhan nyawa yang akan ia lakukan esok hari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD