19. PERTUNANGAN

1245 Words
​Musik berhenti. Marcel mengambil mikrofon dari atas podium. Suasana menjadi hening seketika. ​"Malam ini, di ulang tahun emas Lion Group, saya ingin berbagi kebahagiaan yang lebih besar," suara bariton Marcel menggema, berwibawa dan tak terbantahkan. "Saya secara resmi mengumumkan pertunangan saya dengan Rasty kencana. Pernikahan kami akan dilangsungkan tiga bulan dari sekarang sebagai penyatuan dua dinasti terbesar di negeri ini." ​Gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai meledak. Rasty memeluk Marcel dengan bangga. Di saat yang sama, Alma yang berdiri tepat di belakang tirai, dipaksa oleh protokol untuk tetap memegangi ekor gaun Rasty agar wanita itu tampak sempurna saat difoto oleh ratusan wartawan. ​Alma merasa dunianya runtuh. Ia adalah desainer gaun itu. Dia adalah wanita yang menghabiskan malam-malam panas di pelukan pria itu, namun di sini, ia hanya berfungsi sebagai penopang kain sutra untuk wanita yang akan dinikahi Marcel. ​Setelah acara formal selesai, Marcel memberikan isyarat mata yang sudah sangat dikenal Alma. Marcel berjalan menuju ruang panel listrik yang terisolasi di belakang panggung utama, tempat yang bising dengan suara mesin namun sangat sunyi dari jangkauan tamu. ​Alma masuk dengan air mata yang sudah mengering, digantikan oleh amarah yang membara. Begitu pintu tertutup, ia langsung menyerang Marcel dengan pukulan di dadanya. ​"Kau b******n! Kau mengumumkannya di depanku?! Kau memaksaku memegang gaunnya saat kau melamarnya?!" jerit Alma parau. ​Marcel menyambar kedua pergelangan tangan Alma, menguncinya ke dinding panel yang bergetar. "Aku sudah bilang padamu, Alma! Ini adalah bisnis! Ini adalah tuntutan keluarga!" ​"Lalu aku apa?! Aku ini apa bagimu?!" ​"Kau adalah canduku! Kau adalah satu-satunya hal yang membuatku sanggup menjalani sandiwara ini!" Marcel mencium Alma dengan brutal. Ciuman itu tidak mengandung kemanisan, melainkan keputusasaan dan nafsu yang gelap. ​Marcel merobek seragam pelayan Alma, mengekspos tubuhnya di tengah ruangan yang panas oleh mesin-mesin listrik. "Kau ingin tahu siapa pemilik mu? Bahkan saat aku memakai cincin di jari Rasty, kau adalah satu-satunya yang bisa membuat darahku mendidih!" ​Marcel membuka ritsleting celananya. Kejantanan 21 cm miliknya sudah menegang maksimal, berdenyut keras mencerminkan emosinya yang tidak stabil. Ia mengangkat tubuh Alma, menghimpitnya pada mesin panel yang hangat dan bergetar. ​"Marcel, tidak ... mereka bisa mendengar ...." ​"Biarkan mereka mendengar! Biarkan seluruh dunia tahu bahwa di balik kesempurnaan pestaku, aku sedang menghancurkan mu!" Marcel langsung menghujamkan miliknya ke dalam keintiman Alma tanpa ampun. ​"Ahhhh! Marcel! Ahhh!" Alma memekik, suaranya tenggelam dalam deru mesin. Penetrasi itu terasa sangat dalam dan menyakitkan, namun memberikan kepuasan yang gila. Alma merasakan getaran mesin panel merambat ke punggungnya, bersatu dengan hentakan keras Marcel yang tak terbendung. ​Marcel bergerak dengan tempo yang sangat liar, setiap dorongannya seolah ingin menghukum Alma karena telah membuatnya merasa bersalah. Ia mencengkeram rambut Alma, menariknya ke belakang agar ia bisa melihat wajah Alma yang dipenuhi campuran antara air mata dan gairah. ​"Katakan! Siapa yang berada di dalam tubuhmu sekarang?! Aku atau pengumuman itu?!" geram Marcel. ​"Kau ... ahhh ... hanya kau, Marcel! Hancurkan aku! Ahhh!" Alma meracau. Ia melilitkan kakinya ke pinggang Marcel, menuntut setiap inci dari kejantanan pria itu untuk mengisi kekosongan hatinya yang baru saja hancur. ​Hentakan Marcel semakin menggila, keringat bercucuran di antara tubuh mereka yang bersatu di ruangan sempit itu. Saat puncak o*****e yang dahsyat menghantam, Marcel menyemburkan benihnya yang melimpah ke dalam rahim Alma dengan erangan panjang yang penuh kemenangan sekaligus penderitaan. ​Marcel melepaskan Alma, membiarkan wanita itu merosot ke lantai di antara kabel-kabel besar. Ia merapikan kembali tuksedonya, memasang kembali raut wajah sang CEO yang dingin seolah tidak terjadi apa-apa. ​"Kembali ke belakang panggung. Rapikan dirimu. Rasty butuh bantuannya untuk mengganti baju pesta kedua," ucap Marcel tanpa menoleh. ​Alma menatap punggung Marcel yang tegap. Di jari manis pria itu, sebuah cincin emas putih kini melingkar, tanda pertunangannya dengan Rasty. ​"Kau baru saja memberikan hidupmu pada wanita lain, Marcel. Tapi kau tetap menuntut tubuhku. Kau benar-benar monster," bisik Alma. ​Marcel berhenti di pintu, menatap pantulan Alma di cermin panel yang kusam. "Aku monster yang kau cintai, Alma. Dan jangan lupa, gaun pesta kedua Rasty harus tampak lebih sempurna dari yang pertama. Kerjakan tugasmu." ​Marcel keluar menuju keriuhan pesta, meninggalkan Alma yang meringkuk di lantai ruang mesin yang panas. Malam itu, di tengah kemegahan ulang tahun Lion Group, Alma menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar simpanan. Ia adalah tumbal bagi kejayaan kasta Lion, dan "Pejantan 21" itu baru saja menunjukkan bahwa cintanya adalah penjara yang paling mewah sekaligus paling kejam di dunia. *** ​Lampu blitz kamera menyambar-nyambar seperti petir di dalam ballroom hotel bintang lima tempat konferensi pers pertunangan Marcel Lion diadakan. Ratusan wartawan berdesakan, berebut mendapatkan sudut terbaik dari pasangan paling fenomenal tahun ini. ​Di atas panggung, Marcel duduk dengan angkuh, menggandeng jemari Rasty yang berkilau karena cincin berlian 5 karat. Namun, di sudut panggung yang sedikit gelap, berdiri seorang wanita dengan kepala menunduk. Alma. ​Ia mengenakan setelan hitam kaku, kedua tangannya memegang tas Hermès milik Rasty dan beberapa berkas kontrak. Ia bukan lagi desainer; ia adalah properti yang sedang dipamerkan kekalahannya. ​"Marcel, bagaimana perasaanmu setelah meresmikan hubungan dengan putri keluarga Kencana?" tanya seorang wartawan. ​Marcel tersenyum, tipe senyum yang sering ia gunakan di depan layar lebar. "Ini adalah penyatuan dua visi besar. Rasty bukan hanya calon istriku, dia adalah rekan jiwaku." ​Rasty tertawa manja, lalu melirik ke arah belakang panggung. "Alma, tolong ambilkan air mineral dari tas. Aku haus setelah menjawab banyak pertanyaan." ​Alma melangkah maju ke bawah sorotan lampu. Ia harus berlutut di samping kursi Rasty untuk mengambilkan botol air. Saat itulah, ratusan kamera menangkap gambarnya, wanita yang pernah digosipkan dekat dengan Marcel kini menjadi pelayan bagi tunangannya. ​"Cukup, Sayang. Biarkan asisten mu beristirahat," ucap Marcel tiba-tiba. Ia menarik Rasty mendekat, lalu di hadapan semua kamera, ia mengecup kening Rasty dengan lembut dan lama. ​Cekrek! Cekrek! ​Lampu blitz meledak-ledak. Hati Alma terasa seperti diremas oleh tangan besi. Di balik kecupan itu, mata Marcel sempat melirik ke arah Alma, sebuah tatapan dingin yang seolah berkata, Lihat, ini adalah tempatmu yang sebenarnya. ​Setelah sesi tanya jawab selesai, Rasty berjalan menuju ruang ganti VIP dengan langkah sombong. "Taruh tasku di sana, Alma. Dan jangan lupa, nanti malam aku ingin kau menyiapkan gaun tidurku di apartemen Marcel." ​"Baik, Nona," jawab Alma dengan suara yang nyaris tidak terdengar. ​"Oh, Marcel, kau sangat hebat tadi," Rasty mengecup bibir Marcel sebelum keluar ruangan untuk menemui ibunya, Metia, di lobi. ​Begitu pintu ruang ganti tertutup dan hanya menyisakan Marcel dan Alma, suasana yang semula penuh kepura-puraan berubah menjadi mencekam. Marcel melepas dasinya dengan kasar, matanya menyala dengan gairah yang terpendam selama acara tadi. ​"Kau melihatnya, kan? Kau melihat betapa dunia menyukai kami?" tanya Marcel sambil mendekati Alma yang sedang mematung di sudut ruangan. ​"Kau menghancurkan ku, Marcel. Kau membawaku ke sini hanya untuk menjadikanku bahan tertawaan media," isak Alma. ​"Aku membawaku ke sini agar kau tahu bahwa tidak ada tempat bagimu untuk lari! Dunia hanya tahu aku milik Rasty, tapi kau ... hanya kau yang tahu apa yang bisa kulakukan padamu di balik pintu ini!" ​Marcel menyambar pinggang Alma, mengangkatnya dengan kasar dan mendudukkannya di atas meja rias yang dipenuhi cermin dan lampu-lampu rias yang panas. Botol-botol parfum mahal terjatuh dan pecah, menebarkan aroma wangi yang menyesakkan. ​"Marcel, jangan di sini! Wartawan masih ada di luar!" ​"Biarkan mereka mendengar! Aku ingin mereka tahu bahwa 'Sang Singa' sedang menandai miliknya yang paling berharga!" Marcel merobek rok kerja Alma dengan satu sentakan kuat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD