Di malam yang terasa semakin dingin bagi Alma.
"Aku tidak menginginkannya, Marcel," ucap Alma sambil meletakkan kalung itu kembali ke tangan Marcel.
Kemarahan Marcel tersulut. Ia menyambar lengan Alma, menyeretnya menuruni tangga menuju dek kolam renang yang luas. Suara air yang tenang kontras dengan napas mereka yang memburu.
"Kau menolak pemberianku? Kau ingin menunjukkan bahwa kau masih punya harga diri?" Marcel menghimpit Alma ke pilar batu di tepi kolam.
"Harga dirimu hanyalah ilusi, Alma. Satu-satunya alasan kau masih berdiri tegak adalah karena aku mengizinkannya!"
"Maka hancurkan saja aku sekarang! Kenapa kau membawaku ke sini? Kenapa kau memberiku perhiasan jika kau hanya melihatku sebagai b***k?!" jerit Alma.
"Karena aku tidak bisa berhenti memikirkan mu!" Marcel membentak balik, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Alma.
"Aku benci bagaimana kau menatapku seolah aku adalah monster, padahal kaulah yang membuatku menjadi monster karena obsesi ini!"
Marcel tidak bisa lagi menahan gejolak amarah dan nafsu yang bercampur menjadi satu. Ia meraup bibir Alma dengan ciuman yang haus, kasar, dan penuh keputusasaan. Alma mencoba memberontak, memukul d**a bidang Marcel, namun pertahanannya runtuh saat tangan Marcel merobek gaun hitamnya hingga ia berdiri polos di bawah sorotan lampu kolam yang remang.
"Marcel ... tidak ... jangan di sini," rintih Alma, namun tubuhnya mulai merespons sentuhan panas Marcel.
"Aku akan melakukannya di mana pun aku mau!" Marcel membuka celananya dengan gerakan liar, membebaskan kejantanannya yang menegang sempurna, urat-uratnya berdenyut mencerminkan emosinya yang meledak.
Ia mengangkat tubuh Alma, mendudukkannya di tepian kolam yang licin, membiarkan kaki Alma menjuntai ke dalam air dingin sementara bagian tengah tubuh mereka bertemu dalam panas yang membakar.
"Ahhhh! Marcel!" Alma memekik saat Marcel langsung menghujamkan miliknya ke dalam keintiman Alma tanpa foreplay yang lembut. Penetrasi itu terasa begitu dalam, menyentuh titik paling rentan dalam diri Alma.
"Katakan kau membutuhkanku! Katakan!" perintah Marcel sambil memacu gerakannya dengan tempo yang brutal.
Alma menangis. Air matanya jatuh dan bercampur dengan air kolam. Ia membenci kenyataan bahwa meski hatinya terluka, tubuhnya justru mendamba setiap hantaman keras dari Marcel. Ia membenci bagaimana pria ini bisa menghancurkannya sekaligus membuatnya merasa hidup di saat yang sama.
"Aku ... ahh ... aku membencimu, Marcel! Aku membencimu!" jerit Alma sambil mencengkeram bahu Marcel, kukunya meninggalkan bekas luka gores yang memerah.
"Benci aku sesukamu, tapi jangan pernah lepaskan aku!" Marcel mempercepat hentakannya. Suara kulit yang beradu dan cipratan air kolam menciptakan irama yang liar. Ia mengangkat kaki Alma dan melilitkannya ke pinggangnya, membuat penetrasi itu mencapai rahim Alma, memberikan sensasi penuh yang membuat Alma hampir pingsan karena kenikmatan yang menyiksa.
"Ahhh! Ahhh! Marcel ... hancurkan aku! Ahhh!" Alma meracau dalam isak tangisnya. Ia menyadari sebuah kenyataan pahit jika telah terjebak dalam Stockholm Syndrome yang mematikan. Ia membenci perlakuan Marcel, namun ia membutuhkan perlindungan dan kehadiran pria ini lebih dari apa pun di dunia ini.
Marcel menggeram seperti binatang buas, kepalanya terkubur di leher Alma, menghisap kulitnya hingga meninggalkan tanda merah yang baru. Saat puncak o*****e yang dahsyat menghantam mereka berdua di bawah langit malam, Marcel menyemburkan benihnya yang melimpah ke dalam diri Alma dengan erangan panjang yang penuh dengan rasa posesif.
***
Sisa Gairah yang Pahit.
Beberapa saat kemudian, Marcel membiarkan tubuh mereka tetap menyatu, hanya suara napas yang memburu yang terdengar. Ia menarik wajah Alma yang basah oleh air mata, memaksa wanita itu menatap matanya.
"Jangan pernah menolak pemberianku lagi. Apapun yang kuberikan padamu adalah tanda bahwa kau aman di bawah sayapku," bisik Marcel, suaranya kini kembali tenang namun tetap mendominasi.
"Aman?" Alma tersenyum pahit dengan bibir yang bengkak.
"Kau adalah badai itu sendiri, Marcel. Bagaimana aku bisa merasa aman di dalam pusat badai?"
Marcel tidak menjawab. Ia hanya mengangkat Alma dari tepian kolam dan membawanya masuk ke dalam vila, mengabaikan kotak perhiasan mahal yang masih tergeletak di lantai marmer, terabaikan. Malam itu, di tengah kemewahan yang menyesakkan, Alma menyadari bahwa pelarian adalah hal yang mustahil. Ia telah menjadi bagian dari Marcel, dan Marcel telah menjadi candu yang akan menghancurkannya perlahan-lahan.
***
PANGGUNG PENGHINAAN
Ballroom Hotel Grand Hyatt Jakarta malam itu disulap menjadi istana emas yang menyilaukan. Ribuan lilin kristal menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya pada gaun-gaun haute couture dan setelan jas jutaan dolar milik kaum elit negeri ini. Ini adalah malam ulang tahun ke-50 Lion Group panggung di mana kekuasaan dan kasta dipamerkan tanpa malu.
Namun bagi Alma, malam ini adalah neraka yang didekorasi dengan bunga lili. Ia tidak berdiri di karpet merah. Ia berdiri di belakang panggung yang sempit, di antara tumpukan koper make-up dan kabel-kabel lampu. Ia mengenakan seragam hitam polos, dengan kotak jahit kecil yang melingkar di pinggangnya.
"Alma! Cepat ke sini! Ekor gaun Nona Rasty tersangkut!" teriak salah satu panitia.
Alma berlari kecil menghampiri Rasty yang sedang bersiap di balik tirai besar. Rasty tampak memukau dengan gaun emas hasil rancangan Alma, gaun yang dijahit Alma dengan darah dan air mata.
"Lama sekali kau, jalang!" bentak Rasty pelan agar tidak terdengar ke depan. "Lihat ini, payetnya ada yang longgar. Perbaiki sekarang, berlututlah!"
Alma berlutut di lantai yang kotor oleh debu panggung. Di depan sana, ia bisa mendengar suara pembawa acara memanggil nama Marcel Lion. Tepuk tangan bergemuruh.
Lampu sorot tiba-tiba bergeser. Musik waltz yang megah mulai mengalun. Melalui celah tirai, Alma melihatnya. Marcel, dengan tuksedo hitam yang membuatnya tampak seperti dewa Yunani, melangkah ke tengah lantai dansa. Ia mengulurkan tangannya pada Rasty yang baru saja melangkah keluar dari balik tirai.
"Dansa yang indah, Marcel," bisik Rasty yang suaranya tertangkap oleh mikrofon clip-on.
Mereka berdansa. Marcel memutar tubuh Rasty dengan sempurna. Lampu sorot mengikuti setiap gerakan mereka, sementara Alma tetap berada di bayang-bayang, dipaksa memegangi ekor gaun Rasty dari balik kain tirai agar tidak terinjak saat Rasty berputar di tepi panggung.
"Lihat mereka, Alma," bisik Metia yang tiba-tiba muncul di samping Alma di kegelapan belakang panggung.
"Itulah tempat Marcel. Di bawah cahaya, bersama wanita yang setara dengannya. Sedangkan kau? Kau hanya bayangan yang bertugas menjaga agar gaun istrinya tetap cantik."
Alma menggigit bibirnya hingga berdarah. Ia menatap Marcel. Untuk sesaat, mata mereka bertemu di antara celah kain. Marcel menatapnya dingin, tanpa ekspresi, lalu kembali tersenyum pada Rasty.