Pagi itu, butik eksekutif di lantai 30 Lion Group dipenuhi dengan aroma ketegangan. Alma berdiri dengan mata sembap dan jemari yang dibalut plester. Di hadapannya, sebuah manekin mengenakan gaun sutra berwarna champagne dengan ribuan payet kristal yang ia jahit tangan selama tiga hari tanpa tidur. Itu adalah karya adiluhung, sebuah bukti bahwa meski tubuhnya dipenjara, bakatnya tetap merdeka.
Pintu ganda ruangan itu terbuka lebar. Metia Lion masuk dengan langkah anggun yang mengintimidasi, diikuti oleh Rasty dan beberapa staf senior perusahaan. Marcel berada di posisi paling belakang, wajahnya sedingin es, memperhatikan situasi dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Sudah selesai, Alma?" tanya Metia, suaranya halus namun menyimpan bisa.
"Sudah, Nyonya. Sesuai permintaan Anda," jawab Alma lirih.
Metia mendekati gaun itu, berpura-pura memeriksa detail jahitan di bagian pinggang. Tiba-tiba, dengan gerakan yang sangat cepat dan disengaja, Metia menarik salah satu untaian benang utama dan menyayatkan cincin berliannya yang tajam ke permukaan kain sutra tersebut.
Sret!
Kain sutra mahal itu robek besar, dan ratusan kristal berhamburan ke lantai seperti butiran air mata.
"Apa yang Anda lakukan?!" teriak Alma, refleks maju selangkah.
"Apa yang AKU lakukan?" Metia berbalik dengan wajah penuh amarah yang dibuat-buat.
"Lihat sampah ini! Kau bilang ini kain terbaik? Jahitan mu rapuh, Alma! Kau sengaja ingin mempermalukan ku di depan tamu-tamu internasional nanti malam dengan gaun yang bisa robek hanya karena sentuhan kecil?"
"Itu tidak mungkin! Anda sengaja merobeknya dengan cincin Anda!" Alma membela diri, suaranya bergetar hebat.
"Beraninya kau menuduhku!" Metia melangkah maju dan ...
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Alma, hingga wajahnya tertoleh ke samping. Suara tamparan itu menggema di ruangan yang luas tersebut, membuat para staf yang menonton menahan napas.
"Kau hanyalah wanita rendahan yang dipungut Marcel dari jalanan!" bentak Metia di depan semua orang.
"Kau tidak tahu cara melayani bangsawan. Kau pikir dengan sedikit bakat menjahit kau bisa sejajar dengan kami? Kau tidak lebih dari sekadar pelayan yang tidak becus!"
Rasty tertawa mengejek di samping Metia.
"Sudah kubilang, Marcel, seleranya sangat murahan. Lihatlah, dia bahkan tidak bisa menjaga kualitas jahitan untuk calon ibu mertuaku."
Alma menoleh ke arah Marcel, berharap pria itu akan bicara. Namun, Marcel hanya berdiri mematung. Matanya menatap tajam ke arah pipi Alma yang mulai memerah, namun mulutnya tetap bungkam. Keheningan Marcel adalah luka yang lebih dalam daripada tamparan Metia.
"Bersihkan kekacauan ini, Alma. Dan jangan harap kau akan mendapatkan izin untuk makan atau istirahat sampai kau memperbaiki kerusakan ini dari nol," ucap Metia sebelum melenggang pergi bersama rombongannya.
Setelah semua orang pergi dan pintu terkunci otomatis, Marcel mendekati Alma yang masih bersimpuh di lantai, memunguti kristal-kristal yang berhamburan.
"Bangun," perintah Marcel, suaranya rendah dan penuh tekanan.
"Kau diam saja ...," bisik Alma tanpa melihat ke arahnya.
"Kau melihat ibumu menamparku dan kau hanya diam seperti patung."
Marcel menyambar lengan Alma, memaksanya berdiri dan menghimpitnya ke dinding kaca.
"Jika aku membelamu di depan mereka, Metia akan semakin menggila, Alma! Kau ingin aku melakukan apa? Menampar ibuku sendiri?"
"Setidaknya jangan biarkan mereka merendahkan ku seperti itu!"
"Dunia ini memang rendah, Alma! Dan kau harus terbiasa!" Marcel mencengkeram wajah Alma, ibu jarinya mengusap pipi yang merah bekas tamparan itu dengan kasar namun protektif.
"Hanya aku yang boleh menyakitimu. Hanya aku."
Gairah yang dipicu oleh amarah meledak dalam diri Marcel. Ia mencium Alma dengan sangat brutal, seolah ingin menghapus bekas tamparan Metia dengan bibirnya. Ia merobek blus kerja Alma, membuat kancing-kancingnya berhamburan menyatu dengan kristal-kristal di lantai.
"Marcel, jangan di sini ... staf masih ada di luar ...," rintih Alma.
"Biarkan mereka mendengar betapa nikmatnya asisten, yang mereka hina ini di bawah kendaliku!" Marcel mengangkat tubuh Alma, mendudukkannya di atas manekin yang tadi mengenakan gaun robek itu.
Ia membuka ritsleting celananya dengan gerakan liar. Kejantanan miliknya sudah menegang maksimal, urat-uratnya berdenyut menuntut pelampiasan. Tanpa foreplay, Marcel langsung menghujamkan miliknya ke dalam keintiman Alma yang masih terasa pedih dan emosional.
"Ahhhh! Marcel! Ahhh!" Alma memekik, tangannya mencengkeram bahu kekar Marcel, mencari pegangan di tengah badai nafsu pria itu.
Penetrasi itu terasa sangat dalam dan penuh kekuatan, seolah Marcel ingin menanamkan eksistensinya ke dalam jiwa Alma yang sedang hancur. Marcel bergerak dengan tempo yang sangat cepat, setiap dorongannya membuat manekin itu bergoyang dan mengeluarkan suara berderit yang nyaring.
"Katakan! Siapa yang bisa melindungi mu selain aku?!" tanya Marcel sambil menciumi leher Alma dengan gigitan-gigitan kecil yang panas.
"Kau ... ahhh ... hanya kau, Marcel! Ahhh, kumohon ... jangan tinggalkan aku!" Alma meracau, air matanya bercampur dengan peluh gairah. Dalam keadaan terhina seperti ini, ironisnya hanya sentuhan kasar Marcel yang membuatnya merasa memiliki tempat untuk bersembunyi dari kekejaman Metia.
Marcel membalikkan tubuh Alma, menekannya ke dinding kaca satu arah yang menghadap ke koridor kantor tempat para staf masih lalu lalang. "Lihat ke sana, Alma. Mereka menghinamu, tapi mereka tidak tahu bahwa saat ini kau sedang kumiliki dengan begitu hebat. Kau milikku, bukan milik tamparan ibuku!"
"Ahhh! Ahhh! Marcel ... hancur ... aku akan hancur! Ahhh!"
Hentakan Marcel semakin menggila, napasnya memburu seperti singa yang baru saja memenangkan pertarungan. Saat puncak o*****e yang dahsyat menghantam mereka, Marcel menyemburkan benihnya yang panas dan melimpah ke dalam diri Alma dengan erangan panjang yang memecah keheningan ruangan tersebut.
Beberapa saat kemudian, Marcel melepaskan diri dan merapikan pakaiannya. Ia mengambil selembar cek dari sakunya, menuliskan angka yang fantastis, lalu menyelipkannya di belahan d**a Alma yang masih terbuka.
"Gunakan ini untuk membeli bahan baru. Dan jangan pernah menangis lagi di depan orang lain. Air matamu hanya milikku," ucap Marcel dingin sebelum berbalik pergi.
Alma merosot ke lantai, di antara kain sutra yang robek, kristal yang hancur, dan cairan sisa gairah Marcel. Pipinya masih terasa panas karena tamparan Metia, namun hatinya jauh lebih panas karena perlakuan Marcel. Ia menyadari satu hal, di gedung megah ini, tamparan dan belaian hanyalah dua sisi dari mata uang yang sama, sebuah alat untuk memastikan bahwa ia tetap menjadi b***k dalam sangkar emas.
***
Vila pribadi Marcel di kawasan perbukitan terpencil itu, tampak seperti istana kaca, yang melayang di atas kabut. Sunyi, mewah, dan terisolasi, ciri khas Marcel yang selalu ingin memisahkan dunianya dari gangguan orang lain. Setelah insiden tamparan di kantor, Marcel membawa Alma pergi dari Jakarta tanpa penjelasan, hanya meninggalkan perintah pada asistennya untuk membatalkan semua jadwal syutingnya.
Malam itu, Alma berdiri di tepi balkon, menatap air kolam renang yang berkilau di bawah cahaya bulan. Ia mengenakan gaun sutra hitam tipis yang melambai ditiup angin malam.
"Pakai ini."
Suara berat Marcel memecah kesunyian. Ia berdiri di belakang Alma, memegang sebuah kotak beludru merah kecil. Tanpa menunggu persetujuan, ia membukanya, menampakkan sebuah kalung berlian dengan mata zamrud besar yang berkilau tajam.
Marcel melingkarkan kalung itu di leher Alma.
"Ini adalah zamrud Colombian. Hanya ada beberapa di dunia. Harganya cukup untuk membangun sepuluh butik seperti milikmu."
Alma merasakan dinginnya logam itu menyentuh kulitnya, namun hatinya justru terasa membeku. Ia meraih pengait kalung itu dan melepaskannya dengan tangan gemetar.
"Aku tidak menginginkannya, Marcel," ucap Alma sambil meletakkan kalung itu kembali ke tangan Marcel.
Marcel mengernyit, rahangnya mengeras.
"Apa kau bilang? Wanita lain akan berlutut untuk mendapatkan ini. Ini caraku meminta maaf atas kejadian di kantor."
"Maaf?" Alma tertawa sumbang, matanya mulai berkaca-kaca.
"Kau pikir tamparan ibumu bisa dihapus dengan batu berkilau ini? Kau pikir harga diriku bisa kau beli dengan zamrud? Aku butuh perlindunganmu sebagai manusia, Marcel, bukan sebagai barang koleksi yang kau hias dengan permata!"
"Jangan sombong, Alma! Kau sudah menandatangani kontrak itu. Kau milikku!"
"Tubuhku, Marcel! Kau memiliki tubuhku secara legal, tapi jangan harap kau bisa membeli rasa hormatku dengan ini!" Alma melempar kotak perhiasan itu ke lantai marmer hingga suaranya bergema nyaring.