16. KARYAMU MILIKKU

1513 Words
Amarah di Balik Pintu Terkunci. ​Setelah Metia dan Rasty keluar dari ruangan dengan perasaan menang, Marcel bangkit dari sofa. Ia tidak pergi, melainkan mengunci pintu ruangan Alma dan menarik tirai otomatis hingga ruangan itu menjadi remang-remang. ​"Tadi itu sangat memalukan, bukan?" tanya Marcel, suaranya kini terdengar sangat rendah dan berbahaya. ​"Kenapa kau diam saja, Marcel? Kau membiarkan mereka menginjak-injak ku!" Alma melempar pita ukurnya ke lantai, air matanya akhirnya tumpah. ​"Aku ingin kau sadar di mana posisimu, Alma! Di depan mereka, kau bukan siapa-siapa. Hanya di depanku kau punya arti," Marcel menyambar pinggang Alma, menariknya dengan kasar hingga d**a mereka bertabrakan. ​Marcel tidak menunggu jawaban. Ia mengangkat Alma dan mendudukkannya di atas meja kerja yang dipenuhi sketsa gaun. Ia merobek blus kerja Alma hingga kancingnya berhamburan menimpa sketsa-sketsa itu. ​"Kau ingin aku membelamu? Maka bayar harganya malam ini!" geram Marcel. ​Ia membuka ritsleting celananya dengan gerakan liar. Kejantanan miliknya yang sudah menegang maksimal tampak menuntut kepatuhan Alma. Marcel memisahkan paha Alma lebar-lebar, membiarkan wanita itu terekspos sepenuhnya di bawah lampu meja yang temaram. ​"Tadi Rasty bilang kau ahli saat berlutut, kan? Sekarang tunjukkan padaku," perintah Marcel, suaranya serak karena nafsu yang memuncak. ​Marcel tidak membiarkan Alma berlama-lama. Ia langsung menghujamkan miliknya ke dalam keintiman Alma yang masih terasa pedih akibat tekanan emosional tadi. ​"Ahhhh! Marcel! Ahhh!" Alma memekik, kepalanya terdongak, menatap bayangan mereka di dinding kaca. ​Penetrasi itu terasa sangat kasar dan penuh amarah. Marcel seolah ingin menghapus jejak kata-kata Rasty dengan kekuatan fisiknya. Ia bergerak dengan tempo yang sangat cepat, setiap dorongannya membuat meja kerja itu bergeser dan menjatuhkan komputer serta peralatan jahit Alma. ​"Katakan! Siapa yang memiliki tubuhmu saat kau berlutut di depan mereka?!" tanya Marcel sambil mencengkeram rambut Alma, memaksanya menatap matanya yang gelap. ​"Kau ... ahhh ... hanya kau, Marcel! Ahhh, kumohon ... hancurkan aku!" jerit Alma. Dalam keputusasaannya, rasa sakit hati itu berubah menjadi gairah yang masokis. Ia ingin Marcel menghancurkannya agar ia tidak perlu lagi merasakan hinaan dunia luar. ​Marcel mempercepat hentakannya, suaranya pecah menjadi geraman binatang buas. Ia mengangkat kaki Alma dan melilitkannya ke lehernya, memberikan penetrasi yang paling dalam hingga Alma merasa rahimnya bergetar. Saat puncak o*****e yang dahsyat menghantam mereka berdua, Marcel menyemburkan benihnya yang melimpah ke dalam diri Alma dengan erangan panjang yang penuh kemenangan. ​Marcel melepaskan diri, merapikan kembali setelan jasnya seolah tidak terjadi apa-apa. Ia melihat Alma yang masih terbaring lemah di atas meja kerja yang berantakan, di antara sketsa-sketsa gaun yang kini ternoda oleh cairan mereka. ​"Bersihkan dirimu. Dan selesaikan sketsa gaun Metia sebelum sore ini," ucap Marcel dingin. Ia mengambil pita ukur Alma yang jatuh di lantai dan meletakkannya kembali di atas d**a Alma yang terbuka. ​"Kau membiarkan mereka menghinaku hanya agar kau bisa memiliki alasan untuk melakukan ini padaku, kan?" tanya Alma dengan suara yang nyaris hilang. ​Marcel berhenti di depan pintu, menoleh sedikit tanpa perasaan bersalah. "Dunia ini keras, Alma. Aku hanya sedang melatih mu agar kau tahu bahwa satu-satunya perlindunganmu adalah aku. Jika kau ingin mereka berhenti, jadilah milikku yang paling patuh." ​Marcel keluar menuju kantornya, meninggalkan Alma yang meringkuk di atas meja kerjanya. Alma menatap sketsa gaun untuk Rasty yang kini kotor dan robek. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: di gedung megah ini, ia bukan lagi seorang desainer. Ia adalah alat pemuas bagi Marcel dan samsak penghinaan bagi keluarganya. Dan sang "Pejantan 21" itu baru saja menunjukkan bahwa perlindungannya memiliki harga, yang lebih mahal daripada harga dirinya sendiri. *** ​Lampu fluorescent di ruang kerja Alma adalah satu-satunya cahaya, yang masih menyala di lantai eksekutif Lion Group. Waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Jari-jari Alma yang halus kini dipenuhi luka tusukan jarum yang kecil dan memerah. Di sudut ruangan, dua orang pria berbadan tegap, anak buah pilihan Marcel, berdiri mematung seperti patung penjaga, mengawasi setiap gerak-gerik Alma bahkan saat ia hanya ingin meneguk segelas air. ​Alma sedang menggarap detail payet pada gaun Rasty. Setiap tusukan benang terasa seperti beban berat yang menghimpit bahunya. Ia lelah, bukan hanya secara fisik, tapi secara jiwa. ​"Nona Alma, Tuan Marcel akan tiba dalam lima menit. Pastikan meja desain Anda bersih dari peralatan tajam," suara salah satu penjaga itu terdengar dingin. ​Alma tidak menjawab. Ia hanya menatap nanar pada gunting kain di depannya. Ia merasa bukan lagi seorang desainer, melainkan mesin jahit bernapas yang dikurung dalam akuarium kaca. ​Pintu otomatis berdesis terbuka. Marcel masuk dengan kemeja hitam, yang kancing atasnya terbuka, menampakkan kilatan kalung perak di d**a bidangnya. Wajahnya tampak segar, kontras dengan wajah Alma yang pucat dan layu. ​"Belum selesai juga?" Marcel mendekat, jemarinya menyapu kain sutra mahal yang sedang dikerjakan Alma. ​"Detail payet ini butuh ketelitian, Marcel. Aku sudah bekerja selama 18 jam tanpa henti. Bisakah aku pulang dan melanjutkannya besok?" tanya Alma dengan suara parau. ​Marcel menarik kursi Alma, memaksanya berputar menghadapnya. "Kau tidak akan pulang sampai gaun ini layak untuk dipakai oleh keluarga Lion. Dan jangan lupa, kau punya 'tugas tambahan' malam ini." ​"Marcel, kumohon ... aku sangat lelah," rintih Alma. ​"Lelah mu akan hilang setelah aku menyentuhmu," Marcel menarik pita pengukur yang melingkar di leher Alma dan menggunakannya untuk menarik wajah wanita itu mendekat. ​Marcel mulai menciumi leher Alma, sementara tangannya merayap masuk ke bawah rok kerja Alma yang ketat. Alma mencoba mendorong d**a Marcel, namun pria itu justru mempererat pelukannya. ​"Hentikan, Marcel! Lihat ini!" Alma menunjuk sketsa-sketsa dan detail jahitan yang ia kerjakan dengan darah dan air mata. "Aku menghabiskan seluruh energiku untuk menciptakan keindahan ini. Tapi bagimu, semua ini hanya alasan untuk mengurungku, bukan?" ​"Ini adalah investasi, Alma. Dan aku suka melihat investasiku bekerja keras." ​"Katakan padaku sejujurnya," suara Alma bergetar hebat. "Kau menghargai karyaku atau hanya tubuhku, Marcel? Apa kau pernah melihatku sebagai desainer, atau aku hanya pemuas nafsu yang kebetulan bisa menjahit?" ​Marcel berhenti sejenak, menatap mata Alma dengan pandangan gelap yang sulit dibaca. "Karyamu bagus, Alma. Itulah yang membuatmu mahal. Tapi tubuhmu... tubuhmu adalah candu yang tidak bisa ku beli di galeri mana pun. Jadi, jangan minta aku memilih." ​Tanpa peringatan, Marcel menyapu semua peralatan jahit, kotak jarum, dan botol payet dari atas meja desain yang luas. Suara benda-benda jatuh ke lantai berdentang keras di kesunyian malam. Ia mengangkat Alma dan membaringkannya di atas meja kayu yang dilapisi kain beludru itu. ​"Tuan, kami akan menunggu di luar," ucap para penjaga itu dengan patuh sebelum pintu tertutup rapat. ​"Marcel, jarum-jarum itu ... ah!" Alma memekik saat Marcel merobek pakaian dalamnya dengan satu sentakan kasar. ​"Biarkan jarum-jarum itu menjadi saksi betapa liar kau malam ini," geram Marcel. Ia membebaskan kejantanannya yang luar biasa menegang sempurna, urat-uratnya berdenyut menuntut hak. ​Marcel membuka paha Alma lebar-lebar di atas meja desain. Ia tidak memberikan foreplay yang lembut.Pria itu langsung menghujamkan miliknya dengan satu sentakan kuat yang membuat meja itu bergeser. ​"Ahhhh! Marcel! S-sakit ... ahhh!" Alma mencengkeram pinggiran meja, punggungnya melengkung menerima invasi Marcel yang tiba-tiba. ​"Rasakan ini, Alma! Ini adalah bayaran untuk setiap jam kerjamu!" Marcel memacu gerakannya dengan tempo yang brutal. Setiap hantaman Marcel mengenai titik terdalam Alma, menciptakan sensasi antara nyeri dan nikmat yang meledak-ledak. ​Marcel mencium bibir Alma dengan kasar, menekan lidahnya masuk seolah ingin menghisap seluruh napas wanita itu. Tangannya meremas p******a Alma dengan tenaga yang kuat, meninggalkan jejak jari yang memerah di atas kulit putihnya. ​"Sebut namaku! Katakan siapa yang memberimu perintah!" perintah Marcel di tengah desahan napasnya yang memburu. ​"Marcel ... ahhh ... Tuan Marcel! Lebih dalam ... ahhh, kumohon!" Alma kehilangan akal sehatnya. Tekanan kerja dan frustrasi emosionalnya meleleh menjadi gairah yang haus akan d******i. Ia melilitkan kakinya ke pinggang kekar Marcel, mendorong dirinya sendiri agar penetrasi itu semakin dalam. ​Meja desain itu berguncang hebat, suara gesekan kulit dan desahan napas memenuhi ruangan. Marcel semakin menggila, ia mengangkat tubuh Alma dan menyandarkannya ke dinding kaca satu arah yang menghadap ke arah koridor kantor. ​"Lihat ke luar, Alma. Bayangkan jika penjagamu melihat betapa jalangnya desainer kebanggaan mereka ini di tanganku," bisik Marcel jahat. ​"Tidak ... ahhh ... Marcel! Ahhh!" Alma mencapai puncaknya dengan jeritan tertahan, tubuhnya bergetar hebat saat cairan hangat Marcel menyembur masuk memenuhi rahimnya, memberikan sensasi penuh yang menyesakkan. ​Beberapa saat kemudian, Marcel melepaskan diri dan merapikan pakaiannya dengan santai, sementara Alma masih tergeletak lemas di atas meja desain yang berantakan. Cairan sisa gairah mereka menetes mengenai salah satu sketsa gaun Rasty. ​"Bersihkan mejamu. Dan pastikan gaun itu selesai besok pagi pukul tujuh. Jika tidak, penjagamu akan membawamu ke ruang bawah tanah untuk 'lembur' yang lebih lama lagi," ucap Marcel tanpa perasaan. ​Ia berjalan menuju pintu, namun berhenti sebentar. "Satu lagi, Alma. Jangan pernah tanyakan lagi apa aku menghargai karyamu. Karyamu adalah milikku karena kau adalah milikku. Titik." ​Pintu tertutup. Alma memejamkan mata, membiarkan air matanya jatuh mengenai kain sutra yang kini ternoda. Di lantai eksekutif yang mewah ini, ia menyadari bahwa kreativitasnya hanyalah bentuk p********n lain. Ia adalah seniman yang dirantai, dan karyanya hanyalah dekorasi untuk sangkar emas yang dibangun oleh sang "Pejantan 21".
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD