4. UKURAN YANG PRESISI

1159 Words
Di ruang kerjanya ​Alma berusaha tetap profesional meski jantungnya berpacu. "Macet Jakarta tidak peduli pada siapa aku bekerja, Marcel. Bisa kita mulai? Aku punya janji dengan klien lain setelah ini." ​Marcel mendekat, aura dominannya memenuhi ruangan. "Batalkan klien lain itu, Alma! Kau milikku untuk sisa hari ini." ​"Aku bekerja untuk perusahaan keluargaku, bukan hanya untukmu," balas Alma sambil mengeluarkan pita ukur. "Berdiri tegak. Aku perlu memastikan revisi pada bagian bahu dan d**a jasmu." ​Marcel berdiri di depan cermin besar, sementara Alma mulai melingkarkan pita ukur di bahu bidang pria itu. Kedekatan ini sangat menyiksa. Alma bisa merasakan panas tubuh Marcel dan aroma sandalwood yang maskulin. ​"Berapa ukurannya?" tanya Marcel, matanya menatap pantulan Alma di cermin. ​"Seratus sepuluh sentimeter untuk lingkar d**a. Kau tampak lebih kekar dari bulan lalu. Apa kau menambah porsi latihanmu?" ​"Aku hanya butuh pelampiasan untuk rasa frustasi ku," jawab Marcel pendek. Tangannya tiba-tiba menangkap pergelangan tangan Alma saat wanita itu hendak mengukur lingkar pinggangnya. "Kenapa tanganmu gemetar, Alma?" tanya Marcel dengan senyum menyeringai. ​"Aku ... aku hanya butuh kopi," kilah Alma, mencoba menarik tangannya. ​"Kebohongan yang buruk. Kau gemetar karena aku menyentuhmu." Marcel menarik Alma hingga punggung wanita itu menempel di dadanya yang telanjang. "Katakan, apa kau masih memikirkan pembicaraan Metia di kantor kemarin?" ​Alma menghela napas, menyerah untuk meronta. "Dia benar, Marcel. Aku hanya desainer yang kau sewa. Di acara ulang tahun perusahaan nanti, semua orang akan bertanya siapa aku. Dan aku tidak punya jawaban yang pantas." ​"Kau tidak butuh jawaban untuk mereka. Kau hanya butuh aku," bisik Marcel di telinga Alma. ​Alma berbalik dengan cepat, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari d**a Marcel. "Sampai kapan, Marcel? Empat tahun. Kita sudah melewati masa balas budi itu sejak lama. Hutangku sudah lunas. Operasi Ayah sudah lama selesai." ​"Jadi kau ingin berhenti?" Mata Marcel menyipit, berubah menjadi sangat dingin. "Kau ingin pergi dan mencari pria lain yang tidak bisa memuaskanmu seperti aku?" ​"Ini bukan soal kepuasan fisik, Marcel! Ini soal harga diri! Aku lelah menjadi rahasiamu. Aku lelah melihatmu di berita dengan aktris lain sementara aku hanya wanita yang kau panggil ke hotel saat kau sedang penat!" ​Marcel tertawa sinis, langkahnya mendesak Alma hingga wanita itu terpojok ke meja kerja marmer. "Kau tahu aturannya sejak awal, Alma. Kita tidak bermain perasaan. Aku tidak bisa memberimu nama Lion." ​"Lalu kenapa kau posesif?!" teriak Alma. "Kenapa kau membela aku di depan Metia? Kenapa kau menyuruh sopir mu mengawasi ku? Jika ini hanya soal seks, biarkan aku pergi setelah proyek jas ini selesai!" ​"Karena tidak ada yang boleh menyentuhmu selain aku!" Marcel memukul meja di samping kepala Alma dengan keras. "Kau pikir aku tidak tahu ada desainer muda dari perusahaan saingan yang mencoba mengajakmu makan malam minggu lalu?" ​Alma tertegun. "Kau memata-matai ku?" ​"Aku menjaga asetku, Alma. Dan kau ... kau adalah satu-satunya hal di dunia ini yang tidak bisa kubeli dengan uang Dady, tapi aku memilikinya dengan caraku sendiri." _ ​Napas Marcel memburu. Amarah dan gairah bercampur menjadi satu. Ia meraih pita ukur yang melingkar di leher Alma dan menariknya pelan, memaksa Alma mendongak. ​"Kau ingin tahu kenapa aku begitu kaku? Karena jika aku membiarkan sedikit saja perasaan masuk, aku akan menghancurkan mu, Alma. Keluarga Lion bukan tempat untuk wanita lembut sepertimu. Metia akan memakanmu hidup-hidup." ​"Aku lebih kuat dari yang kau kira," bisik Alma, air mata mulai menggenang di sudut matanya. ​"Benarkah?" Marcel merunduk, mencium kening Alma dengan lembut yang sangat kontras dengan kemarahannya tadi. "Tunjukkan padaku betapa kuatnya kau." ​Tangan Marcel beralih ke ritsleting gaun kerja Alma. Dengan satu gerakan ahli, gaun itu merosot. Di bawah lampu kristal apartemennya, Marcel kembali menjelajahi wilayah yang telah ia kuasai selama empat tahun terakhir. ​"Ukur aku, Alma," perintah Marcel serak, membimbing tangan Alma ke arah kejantanannya yang sudah menegang di balik celana kainnya. "Buktikan bahwa hanya kau yang bisa menangani ukuran ini." ​Alma mendesah pasrah saat ia merasakan kekuatan pria itu. Kejantanan yang selalu membuatnya kewalahan sekaligus ketagihan. Di atas meja kerja yang penuh dengan cetakan biru proyek multimedia keluarga Lion, pakaian mereka berserakan. ​"Marcel ssshhh ... ahh ... kau selalu ... jahat," rintih Alma saat Marcel memasukinya dengan satu hentakan kuat yang membuatnya harus mencengkeram bahu Marcel agar tidak jatuh. ​"Aku memang jahat," gumam Marcel, gerakannya liar dan penuh tuntutan. "Tapi kau mencintai kejahatan ini, bukan? Kau tidak akan menemukan singa lain yang bisa merobek mu seperti aku." ​Suara Alma kembali memenuhi ruang apartemen yang dingin itu. Kali ini bukan karena tuntutan pekerjaan atau revisi desain, melainkan karena konfrontasi fisik yang selalu menjadi cara mereka menyelesaikan masalah. Di tengah gairah yang membara, Alma menyadari satu hal pahit, ia mungkin bisa membuatkan jas yang paling pas untuk tubuh Marcel, tapi dirinya tidak akan pernah bisa membuatkan tempat bagi dirinya di hati pria itu yang terbungkus es. Terlebih lagi CEO itu terlalu tinggi baginya. "Sadar Alma, sadar!" _ ​Dua jam kemudian, Marcel duduk di sofa dengan segelas whisky di tangan, sudah kembali rapi dengan kemeja barunya. Alma merapikan rambutnya di depan cermin, mencoba menghilangkan jejak-jejak percintaan liar mereka. ​"Revisi bahunya sudah selesai," ucap Alma datar, suaranya masih sedikit serak. "Aku akan mengirimkan jas finalnya tiga hari lagi ke kantormu." ​"Jangan kirim asisten mu. Kau yang harus mengantarnya sendiri," perintah Marcel tanpa menoleh. _ ​"Aku sibuk, Marcel," jawab Alma kesal sambil kembali fokus menatap keluar jendela. ​"Aku tidak menerima kata tidak. Dan satu lagi," Marcel berdiri, berjalan mendekati simpanannya itu. ​"Sebagai desainer pilihanku," jawab Marcel dingin, kembali ke mode aktornya yang kaku. "Sekarang .pergilah. Supirku sudah di bawah!" ​Alma keluar dari apartemen itu dengan perasaan campur aduk. Ia tahu, perhiasan itu adalah cara Marcel menandai wilayahnya lagi. Sebuah borgol emas yang indah namun tetaplah sebuah borgol. _ ​Lampu kristal di Grand Ballroom Hotel Lion berkilauan, memantulkan kemewahan yang napas. Alma berdiri di sudut ruangan dengan gaun hitam elegan yang ia desain sendiri, sederhana namun berkelas. Di lehernya melingkar kalung pemberian Marcel, beban yang kini terasa seperti jerat mencekik. ​"Mbak, jas Mr. Marcel benar-benar jadi pusat perhatian. Semua media memotretnya," bisik Siska, sang asisten, dengan wajah bangga. ​Alma hanya tersenyum tipis. "Itu tujuannya, Sis. Kita dibayar untuk itu." ​Tiba-tiba, langkah kaki yang angkuh mendekat. Metia, dengan gaun emas yang mencolok, berdiri di depan Alma dengan tatapan meremehkan. ​"Oh, kau di sini, desainer," sapa Metia dingin penuh kebencian. "Jas Marcel cukup lumayan. Tapi aku harap kau tahu tempatmu malam ini. Jangan terlalu sering berkeliaran di dekat area keluarga inti." ​"Saya di sini hanya untuk memastikan tidak ada masalah teknis pada pakaian keluarga, Bu Metia," jawab Alma sambil berusaha tetap tenang. ​Metia menyipitkan mata, menatap kalung di leher Alma. "Kalung yang menarik, sepertinya itu bukan dari koleksi desainer lokal rendahan. Siapa yang membelikannya untukmu?" selidik Metia kembali. ​Sebelum Alma sempat menjawab, suara riuh rendah dari pintu masuk mengalihkan perhatian semua orang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD