Metia menyipitkan mata, menatap kalung di leher Alma.
"Kalung yang menarik, sepertinya itu bukan dari koleksi desainer lokal rendahan. Siapa yang membelikannya untukmu?" selidik Metia kembali.
Sebelum Alma sempat menjawab, suara riuh rendah dari pintu masuk mengalihkan perhatian semua orang.
"Itu dia! Marcel datang!" seru salah satu tamu.
Marcel Lion melangkah masuk dengan wibawa yang luar biasa. Jas buatan Alma membungkus tubuh gagahnya dengan sempurna, namun bukan itu yang membuat napas Alma berhenti. Di lengan Marcel, melingkar tangan seorang wanita cantik dengan gaun merah menyala yang sangat berani.
"Siapa wanita itu?" Siska berbisik kaget.
"Itu Rasty Tigor," jawab Metia dengan nada penuh kemenangan.
"Putri tunggal pemilik Tigor Group. Kolega bisnis terpenting suami saya. Cantik, kaya, dan yang paling penting ... sederajat."
Marcel berjalan menuju tengah ruangan, di mana puluhan kamera paparazzi sudah menunggu. Ia berhenti tepat di depan mikrofon, wajahnya tetap kaku dan dingin, namun tangannya merangkul pinggang Rasty dengan posesif.
"Selamat malam semuanya," suara bariton Marcel menggema.
"Terimakasih sudah hadir di ulang tahun ke-50 Lion Group. Malam ini, selain merayakan kesuksesan perusahaan, saya ingin memperkenalkan seseorang yang spesial bagi saya dan keluarga besar Lion."
Marcel menatap Rasty sejenak, lalu kembali ke arah media.
"Ini Rasty Tigor. Wanita yang selama ini mengisi hari-hari saya dan akan menjadi partner resmi saya di masa depan."
Kilatan flash kamera menggila. Tepuk tangan meriah membahana di seluruh ruangan.
_
Tertikam dalam diam. Alma merasa bumi di bawah kakinya runtuh. Empat tahun, empat tahun ia menjadi satu-satunya wanita di ranjang Marcel, dan hanya dalam satu detik, ia dihapuskan seolah tak pernah ada.
"Luar biasa!" seru Mr. Lion Senior yang baru saja bergabung.
"Marcel, kau benar-benar tahu cara memilih pasangan. Rasty, kau terlihat sangat mempesona malam ini."
"Terimakasih, Om," jawab Rasty dengan suara manja yang dibuat-buat.
"Jas Marcel juga sangat bagus. Siapa desainer yang membuatnya? Aku ingin dia membuatkan sesuatu yang lebih mewah untukku nanti."
Metia tertawa sinis sambil melirik Alma yang berdiri hanya beberapa meter dari sana.
"Hanya desainer biasa, Sayang. Teman kuliah Marcel. Tapi jangan khawatir, untuk pertunangan kalian nanti, kita akan pesan dari Paris langsung."
Rasty melirik ke arah Alma, menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Oh, jadi ini desainer itu? Lumayan. Tapi sepertinya seleranya terlalu ... sederhana untuk level kita."
Marcel tidak mengatakan sepatah kata pun. Matanya sempat bertemu dengan mata Alma yang berkaca-kaca, namun ia segera memalingkan wajah, kembali menatap kamera dengan raut kaku yang tak terbaca. Tidak ada pembelaan juga tidak ada perlindungan.
"Mbak Alma ... kita pergi saja dari sini," bisik Siska yang merasa iba melihat atasannya dihina secara halus.
Alma menarik napas panjang, menelan semua rasa pahit yang merambat di tenggorokannya.
"Ya, Sis, tugas kita sudah selesai, ini bukan tempat orang-orang seperti kita. Mereka sangat mahal dan hampir sempurna. Kamu tahu Sis, di hadapan mereka aku bukanlah siapa-siapa," ucap Alma sambil menahan air matanya.
Saat semua orang mengerumuni Marcel dan Rasty untuk memberikan selamat, Alma perlahan mundur. Ia melepas nametag vendor yang menggantung di dadanya dan meletakkannya di atas meja pelayan.
"Kau mau ke mana?" Sebuah suara rendah menghentikannya di dekat pintu keluar. Itu adalah salah satu sepupu Marcel yang sombong.
"Saya ada urusan lain, Sir," jawab Alma singkat.
"Tunggu, kau tidak mau melihat pengumuman pertunangan mereka secara resmi?" tanyanya kembali penuh ejekan.
"Tidak perlu, saya sudah melihat cukup banyak malam ini," jawab Alma pelan dengan suasana hati buruk.
Alma melangkah keluar dari ballroom, meninggalkan kebisingan dan kemewahan yang kini terasa menjijikkan. Di lorong hotel yang sepi, ia berhenti sejenak, menyentuh kalung di lehernya, lalu dengan sentakan kuat, ia memutus rantai emas itu hingga butiran berliannya berserakan di lantai.
"Aku mencintaimu, kamu milikku!"
_
Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, Alma hanya menatap ke luar jendela. Air matanya tidak jatuh, namun hatinya terasa seperti dicabik-cabik.
"Siska," panggil Alma pelan.
"Ya, Mbak?" Ada yang bisa ku bantu?" tanya Siska dengan raut wajahnya khawatir akan bosnya itu.
"Berapa sisa kontrak kerja kita dengan Lion Group?"
"Dua bulan lagi, Mbak. Untuk seragam divisi multimedia dan pemetaan."
"Selesaikan semuanya dalam satu bulan. Kirim semua desain melalui email. Aku tidak mau ada pertemuan fisik lagi, baik dengan Marcel maupun keluarganya."
"Tapi Mbak, bagaimana dengan sisa pembayarannya?"
"Aku tidak peduli," suara Alma mengeras. "Dunia ini benar-benar gila, Sis. Kasta dan tahta ... itulah agama mereka. Aku bodoh karena sempat berpikir aku bisa menjadi pengecualian di mata Marcel."
Alma mengepalkan tangannya.
"Dua bulan, Sis. Setelah itu, aku akan menghilang. Aku akan membawa Ayah pindah, entah ke Bali atau kembali ke Paris. Aku akan memastikan Marcel Lion tidak akan pernah bisa menemukan 'mangsa' lamanya lagi."
Malam itu, di bawah langit Jakarta yang mendung, Alma menyadari bahwa kecantikan dan bakatnya tidak akan pernah cukup untuk menembus dinding es keluarga Lion. Ia bukan pasangan, ia hanya aksesori. Dan malam ini, aksesori itu telah dibuang demi emas yang lebih berkilau.
_
Kantor desainer Alma yang biasanya hangat kini terasa seperti lemari es. Alma duduk di balik meja kerjanya, menatap layar komputer dengan mata yang lelah namun tajam. Saat pintu kaca kantornya terbuka tanpa diketuk, ia sudah tahu siapa yang datang dari aroma musk dan aura berat yang mengikutinya.
Marcel Lion berdiri di sana. Masih dengan setelan jas mahalnya, namun raut wajahnya terlihat lebih gelap dari biasanya.
"Keluar!" perintah Marcel pada Siska yang sedang merapikan kain di sudut ruangan.
Siska melirik Alma dengan cemas. Alma hanya mengangguk pelan.
"Keluar saja, Sis! Berikan kami waktu lima menit. Hanya lima menit."
Setelah pintu tertutup, Marcel melangkah mendekat, meletakkan kedua tangannya di meja Alma, menghimpit ruang gerak wanita itu.
"Kenapa kau tidak menjawab teleponku? Dan apa-apaan surat pengunduran diri dari proyek multimedia itu?" tanya Marcel dengan suara rendah yang mengancam.
Alma tidak mendongak. "Semua sudah jelas di surat itu, Sir. Saya melimpahkan sisa teknis pada asisten saya. Desain sudah final. Kontrak kita akan berakhir secara administratif bulan depan."
"Jangan panggil aku sir'!"bentak Marcel.
"Kau tahu aku melakukannya untuk menenangkan Dady dan para pemegang saham. Rasty hanya pion bisnis, Alma. Kau tahu siapa yang sebenarnya kuinginkan di ranjangku."
Alma mendongak, tertawa hambar yang menyakitkan.
"Di ranjangmu? Ya, hanya di sana tempatku, kan? Di depan kamera, kau menggandeng Rasty. Di depan keluarga, kau membiarkan aku dihina. Aku muak, Marcel. Pergi sekarang atau aku panggil keamanan."
"Kau tidak akan berani," desis Marcel. Ia merampas ponsel di meja Alma dan membantingnya ke sofa.
"Aku belum selesai denganmu."
"Bodoh amaaaat, aku lelaaaah, capeeek," teriak Alma histeris.
_
Malam itu, Alma berharap bisa beristirahat, namun harapannya pupus saat ia menemukan Marcel sudah menunggu di depan pintu apartemennya. Pria itu tampak berantakan, bau alkohol samar tercium dari napasnya.
"Buka pintunya, Alma!" ucap Marcel kasar.
"Pergi, Marcel! Kau sudah punya tunangan! Pergi ke Rasty! Biarkan aku tenang sesaat," hardik Alma penuh rasa kesal.
"Aku tidak butuh Rasty! Aku butuh kau!" Marcel mendorong pintu saat Alma mencoba menutupnya. Kekuatan fisik Marcel yang jauh di atas Alma membuatnya berhasil merangsek masuk.
Di dalam apartemen yang sempit namun rapi itu, keributan pecah. Alma mencoba mendorong Marcel keluar, namun pria itu justru mencengkeram kedua pergelangan tangan Alma dan menguncinya ke dinding.
"Lepaskan aku, b******k! Kau pikir kau bisa datang dan pergi sesukamu karena kau kaya?" teriak Alma, air mata kemarahan mulai jatuh.
"Aku memberimu segalanya, Alma! Kalung itu, uang untuk ayahmu, koneksi untuk bisnismu! Apa yang kurang?" Marcel berteriak tepat di depan wajah Alma, matanya merah karena emosi yang tak terkendali.
"Aku tidak butuh semua itu. Aku benci kamu Marcel. Kau tidur denganku lalu dia yang engkau puji rangkul didepan umum. Pernakah engkau ada membelaku sedikit saja, saat mereka menghinaku di umum, bahkan dihadapanmu," ungkap Alma lalu meneteskan air matanya.
"Yang kurang adalah rasa hormat! Kau tidak pernah menganggap ku manusia, Marcel! Aku hanya boneka pemuas nafsumu yang berukuran jumbo itu! Aku benci setiap kali kau menyentuhku!"
Kata-kata benci itu seolah menyulut sumbu ledak di kepala Marcel. Sebagai pria yang selalu dipuja dan mendapatkan apa pun, penolakan Alma adalah hinaan terbesar bagi egonya yang setinggi langit.
"ALMAAAA ...."