6. PERMATA YANG HILANG

1523 Words
Kemarahan yang liar dan pengekangan secara berlebihan yang dilakukan Marcel sungguh telah melewati batas. Namun, semakin Alma membencinya semakin gadis itu terbelenggu. ​"Benci? Kau bilang benci?" Marcel menyeringai iblis dengan mata mulai memerah. "Iya, aku sangat membencimu Marcel. Kamu memang aktor hebat, disini merengek bucin sedangkan di umum aku engkau jadikan sampah. Bagaimana engkau memuji Rasty, menciumnya, memeluknya. Ciiih, aku jijik melihat kelakuan munafikmu itu Marcel. Kenapa tidak segera lepaskan aku saja. Toh, masih banyak di luaran sana pria yang menunggu cintaku bukan sekedar tubuhku," keluh Alma dengan tatapan kesal dihadapan Marcel. "Mari kita lihat seberapa besar kebencianmu saat kau mendesah di bawahku," ucap Marcel sambil memberi kecupan di bibir Alma. ​Marcel menyentak tubuh Alma, melemparkannya ke atas tempat tidur. Alma mencoba merangkak kabur, namun Marcel menangkap kakinya dan menariknya kembali. Kekakuan Marcel berubah menjadi keganasan yang liar. ​"Jangan sentuh aku! Aku bersumpah akan melaporkanmu!" jerit Alma sebisanya. ​"Laporkan saja! Siapa yang akan percaya pada desainer miskin yang sudah empat tahun menjadi simpananku?" Marcel mulai menindih tubuh Alma, mengabaikan jeritan wanita candu Marcel itu. ​Aktor ternama itu mencium leher Alma dengan kasar, bukan dengan cinta, melainkan dengan keinginan untuk berkuasa. Tangannya merobek blus Alma hingga kancing-kancingnya berhamburan di lantai entah kemana. ​"Kau milikku, Alma. Sampai aku bilang selesai, kau tidak boleh pergi!" tegas Marcel lion kembali. "Kau bisa mengusai tubuhku tapi tidak hatiku, iblis!" jawab Alma dengan napas sesak. ​Marcel membuka ikat pinggangnya dengan cepat. Hasratnya yang meluap bercampur dengan amarah membuat kejantanannya menegang dengan ukuran yang mengintimidasi. Dia tidak peduli lagi pada kelembutan. Ia hanya ingin menghukum Alma atas keberaniannya untuk pergi. ​"Tolong ... jangan seperti ini, Marcel. Kembalilah ke Rasty, dia cantik, pintar, kaya raya, putri semata wayang konglomerat, berwibawa bukan sampah seperti diriku," isak Alma, suaranya melemah karena rasa takut dan lelah. ​Namun, singa yang sedang terluka egonya itu tidak lagi memiliki belas kasihan. Marcel memaksakan kehendaknya, memasuki Alma dengan satu hentakan yang sangat kasar, mengabaikan rasa sakit yang dirasakan wanita itu. Di tengah pergulatan yang menyakitkan itu, Marcel terus membisikkan kata-kata posesif yang mengerikan. ​"Sebut namaku, sayang. Desahkan! Katakan kau milikku! Tidak ada pria lain di luaran sana yang bisa memilikimu!" ucap Marcel sambil menindih tubuh Alma. Wanita berambut panjang itu hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan tubuhnya diguncang oleh badai amarah Marcel. Hatinya sudah mati. Malam ini, ia menyadari bahwa pria yang dicintai selama empat tahun ini, benar-benar tidak lebih dari seorang monster yang terbungkus wajah tampan dan harta melimpah ​ ​Setelah tempur mereda, Marcel bangkit dengan nafas tersengal. Ia melihat Alma yang tergeletak diam dengan tatapan kosong ke langit-langit, pakaiannya hancur, dan sudut bibirnya sedikit berdarah. ​Rasa bersalah sempat melintas di mata biru-hitamnya, namun ego Lion segera menutupinya. Ia merapikan pakaiannya, mengambil dompet, dan melemparkan beberapa lembar uang ratusan ribu ke atas kasur, sebuah tindakan penghinaan yang paling dalam. ​"Jangan pernah berpikir untuk menghilang, Alma. Besok, aku ingin kau ada di kantor pusat jam sembilan pagi. Jika tidak, aku pastikan perusahaan keluargamu hancur dalam semalam." ​Marcel melangkah keluar, membanting pintu apartemen dengan keras hingga getarannya terasa ke seluruh ruangan. ​Alma tetap diam dalam posisinya. Ia tidak menangis lagi. Tangannya perlahan meraih uang yang berserakan itu, lalu meremasnya dengan kuat. ​"Kau salah, Marcel," bisik Alma pada kesunyian malam selain untuk mengobati ayahku, sebenarnya aku mulai jatuh hati padamu. Aku mencintaimu Marcel. Didalam dirimu terdapat kelembutan dan cinta yang engkau sembunyikan dari sikap Arogan," batin Alma sambil menatap langkah kepergian Marcel. "Tapi disisi lain kau baru saja memberiku alasan terakhir untuk benar-benar mati darimu." _ ​Pagi itu, Jakarta tampak abu-abu di mata Alma. Ia berdiri di depan cermin, memoles concealer tebal untuk menutupi memar di sudut bibirnya dan lebam di lehernya akibat amarah Marcel semalam. Tubuhnya pegal, namun sudah mati rasa. Ia mengenakan setelan blazer formal yang sangat tertutup, menyembunyikan semua jejak kehancurannya. ​"Mbak, semua dokumen penjualan butik sudah siap. Teman Mbak, Maya, sudah mentransfer uang mukanya," bisik Siska saat mereka berjalan memasuki lobi gedung Lion Group. ​"Bagus Sis, tolong simpan sisanya di rekening Ayah. Pastikan tiket pesawat kita untuk nanti malam tidak bisa dilacak," jawab Alma datar dengan raut wajah sedih. ​Langkah Alma terhenti tepat sebelum mencapai deretan lift eksekutif. Di sana, di bawah lampu lobi yang terang, Marcel Lion berdiri dengan gagahnya. Namun, ia tidak sendiri. Rasty Tigor sedang melingkarkan lengannya di leher Marcel, menarik pria itu ke dalam ciuman panas yang sengaja dipamerkan di depan publik terutama saat Alma melintasi mereka. ​Marcel melihat Alma dari sudut matanya. Bukannya melepaskan Rasty, ia justru memperdalam ciuman itu, seolah ingin menunjukkan pada Alma bahwa dirinya bisa memiliki siapa saja setelah kejadian memuakkan semalam. ​"Mbak ... jangan dilihat," Siska mencoba menarik lengan Alma. ​Alma tidak berpaling. Ia menatap pemandangan itu dengan mata dingin. Sakit? Tentu saja. Rasanya seperti jantungnya diperas hingga kering. Namun, rasa sakit itu justru menjadi bahan bakar terakhir bagi niatnya untuk pergi. "Aku hanya simpanan, Marcel. Tak lebih, jadi jangan berharap apa-apa, Alma," batin gadis itu sambil menundukkan kepalanya. ​Pintu lift terbuka. Marcel melepaskan Rasty, lalu menatap Alma dengan angkuh saat mereka berpapasan masuk ke dalam lift yang sama. ​"Selamat pagi, desainer," sapa Rasty dengan nada mengejek, sambil merapikan lipstiknya yang berantakan. "Kau terlihat ... pucat. Kurang tidur?" tanya Rasty sambil tersenyum licik. ​"Selamat pagi, saya hanya ingin segera menyelesaikan rapat hari ini," jawab Alma tanpa emosi. ​Marcel yang berdiri di sudut lift hanya diam, matanya terus mengintimidasi Alma, mencari jejak kehancuran di wajah wanita itu. Namun, ia hanya menemukan kekosongan. _ ​Di ruang rapat, keluarga besar Lion dan tim multimedia sudah menunggu. Alma berdiri di depan, mempresentasikan hasil akhirnya dengan sangat detail. Suaranya stabil, profesional, seolah tidak pernah terjadi apa-apa antara dia dan pria yang duduk di kursi utama itu. ​"Ini adalah rancangan final untuk seragam divisi multimedia. Bahan yang digunakan adalah smart-fabric yang tahan air namun tetap elegan. Semua pola sudah saya serahkan ke vendor produksi," jelas Alma sambil menunjuk layar proyektor. ​"Bagaimana dengan bagian jas saya?" tanya Marcel, suaranya berat dan penuh tuntutan. ​"Semua sudah selesai sesuai revisi terakhir anda, Sir. Tidak akan ada lagi perubahan," jawab Alma tegas tanpa menatap mata Marcel. ​"Kau bicara seolah-olah kau tidak akan mengawasi produksinya, Alma," sahut Metia dari kursi samping. ​Alma menutup laptopnya. "Benar, Bu Metia. Perusahaan saya telah resmi beralih kepemilikan mulai hari ini. Siska akan menjadi penanggung jawab transisi selama satu bulan ke depan. Saya pribadi menyatakan tugas saya selesai hari ini," jelas gadis itu datar. ​Ruangan menjadi hening. Marcel berdiri dengan kasar hingga kursi di belakangnya berderit. "Apa maksudmu?" bentak Marcel arogan. ​"Saya mengundurkan diri sepenuhnya dari industri ini, Sir. Saya butuh waktu untuk fokus pada kesehatan keluarga saya," ucap Alma sambil menatap lurus ke mata biru-hitam Marcel. ​"Kau tidak bisa melakukan itu sepihak! Kita punya kontrak!" bentak Marcel. ​"Kontraknya atas nama perusahaan, bukan pribadi. Dan perusahaan saya tetap menjalankan kewajibannya melalui pimpinan baru. Secara profesional, tidak ada masalah," balas Alma tenang berusaha mengontrol emosinya. ​Setelah rapat bubar dengan suasana tegang, Alma bergegas menuju parkiran. Namun, langkahnya dihentikan oleh sebuah mobil hitam yang sudah menunggu di area gelap basemen. Seorang pria keluar dari mobil itu, Erik, mantan kekasih Alma saat SMA yang kini bekerja di kedutaan. ​"Semua sudah siap, Alma? Paspor dan visa Ayahmu sudah di tanganku," kata Erik dengan wajah serius. ​"Terimakasih, Erik. Aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi." ​"Dia monster, Alma. Kau harus pergi sebelum dia menyadari rencanamu. Aku akan mengantarmu ke bandara lewat jalur VIP agar tidak terdeteksi manifes publik." ​"Aku hanya perlu mengambil Ayah di rumah sakit sekarang," ujar Alma lirih. _ ​ ​Di kantornya, Marcel merasa ada yang tidak beres. Perasaan posesifnya berteriak bahwa ada sesuatu yang besar yang sedang disembunyikan Alma. Ia mencoba menelepon ponsel Alma berkali-kali, namun hanya terdengar suara operator. ​"Sialan!" Marcel membanting ponselnya ke dinding. ​Ia memanggil asistennya. "Cari tahu di mana Alma sekarang! Pergi ke rumahnya, ke butiknya, ke mana saja!" teriak sang aktor idaman itu. ​"Maaf Sir, tapi butik Nona Alma sudah ditutup. Papan bertuliskan dijual sudah terpasang sejak tadi pagi," lapor sang asisten dengan gemetar. ​Marcel tertegun dan jantungnya berdegup kencang karena ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Pria itu berlari menuju parkiran, memacu mobilnya seperti orang gila menuju apartemen Alma. Namun, saat ia sampai di sana, apartemen itu kosong. Tidak ada baju di lemari, tidak ada parfum di meja rias. Hanya ada selembar uang ratusan ribu, uang yang ia lemparkan semalam, yang diletakkan di tengah tempat tidur dengan catatan kecil di atasnya. ​"Kastamu terlalu tinggi untuk disentuh, Marcel. Dan aku terlalu berharga untuk menjadi simpananmu. Jika dipaksa untuk diteruskan, maka kita akan selalu saling menyakiti. Berbahagialah bersama Rasty dan kini engkau tak butuh simpanan lagi. Selamat tinggal!" ​"ALMA!!!" raung Marcel, suaranya menggema di apartemen yang kosong itu. ​Pemuda bermata tajam itu jatuh terduduk di lantai, meremas kertas itu hingga hancur. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang Pejantan Mr. Lion menyadari bahwa kekuasaan dan kejantanan yang ia banggakan tidak bisa menahan wanita yang jiwanya telah dia hancurkan sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD